IMG-LOGO
Esai

Gundala dan Pesta Budaya Pop Indonesia

Senin 9 September 2019 16:15 WIB
Bagikan:
Gundala dan Pesta Budaya Pop Indonesia
Ilustrasi: Gundala karya Erel Maatita (Sumber: artstation.com)
Oleh Muhammad Daniel Fahmi Rizal
 
Beberapa hari ke belakang, masyarakat Indonesia diramaikan dengan film superhero garapan Joko Anwar. Gundala judulnya. Film yang mulai rilis 28 Agustus kemarin itu mengisahkan seorang anak manusia bernama Sancaka yang bisa mengeluarkan petir dari tubuhnya. Film ini laris manis. Belum genap seminggu penayangan, penonton sudah melebihi satu juta. Sebuah pencapaian yang layak diapresiasi. Walau bukan yang pertama, film ini mengusung genre yang segmentasi penikmatnya cenderung tidak banyak yakni genre superhero. Tidak semua penonton film menyukai genre superhero. Biasanya perfilman Indonesia diramaikan dengan film romansa atau horor. Ini ada film superhero lokal hadir, dan dalam waktu kurang dari seminggu penontonnya melebihi satu juta. Tentu saja ini adalah sebuah prestasi yang layak dikenang.
 
Saya, sebagai salah satu penikmat superhero Gundala, akan menuliskan bagaimana film Gundala meramaikan budaya populer Indonesia. Sebelum panjang lebar menulis tentang Gundala, saya akan memberikan sebuah pengakuan terlebih dahulu. Gundala adalah superhero Indonesia favorit saya. Dulu ketika mengerjakan tugas akhir kuliah, saya menggunakan karakter Gundala sebagai objek penelitian, lebih tepatnya Gundala dalam sebuah pementasan teater. Saya sendiri mengagumi Pak Hasmi, si pencipta Gundala, baik sebagai seorang komikus dan seniman panggung. Maka dari itu, mungkin di beberapa bagian tulisan ini ada sedikit aroma emosional. Anggap saja itu bentuk kecintaan dan apresiasi saya terhadap Gundala.
 
Saya mendengar Gundala akan difilmkan di tahun 2014. Ketika itu, saya melihat langsung Hanung Bramantyo dan Erik Thohir bersama di panggung Popcon, sebuah pagelaran budaya pop di Jakarta, mengabarkan bahwa film Gundala akan dibikin. Namun sayang, karena satu dan lain hal yang saya juga tidak tahu lebih lengkapnya, film Gundala versi Hanung tidak berhasil terlaksana.
 
Kemudian berpindah ke Joko Anwar. Senang sekali mendengar proyek ini kembali berjalan, terutama ketika mendengar Joko Anwar yang bertanggung jawab memproduksinya. Tentu masih segar dalam ingatan bagaimana Joko mengelola Pengabdi Setan menjadi sebuah film yang bagus dan mendapat sambutan begitu positif. Bagi saya, Joko cukup menjadi jaminan kualitas film Gundala kelak.

Waktu berjalan. Saya sedikit mendengar Gundala sedang proses produksi. Saya tetap duduk tenang dan berharap yang terbaik. Ketika film Gundala memasuki masa promosi, tim Bumilangit dan Screenplay Picture melakukan sebuah acara. Acaranya bertajuk fan art. Siapapun boleh menggambar karya mereka yang bertemakan Gundala. Nanti pihak Bumilangit dan Screenplay akan mengundi siapa yang karyanya bisa ditampilkan di premiere film Gundala.

Sembari berjalannya waktu, banyak kawan-kawan komikus saya yang membagikan fan art mereka. Melihat antusiasme yang mulai naik, saya iseng-iseng buka tagar #gundalafanart di Instagram. Betapa kagetnya saya. Yang ikut fan art Gundala sudah mencapai seribu pengkarya lebih! Tidak hanya para artist muda, kawan-kawan artis senior juga ramai membuat Gundala dengan berbagai pose. Saya lihat, dari artis profesional yang karyanya sudah berharga mahal sampai mereka yang baru belajar menggambar turut serta meramaikan tagar #gundalafanart. Style gambarnya pun beragam, mulai dari yang kartun sampai yang realis, dari yang bergaya western sampai manga, semua aktif membuat fan art Gundala. Tidak hanya medium gambar. Gundala fan art juga dibikin dalam lukisan pasir, anyaman, daur ulang kancing bekas, sepatu, bahkan kue bolu juga ada! Dari sini saya sudah menarik kesimpulan, ternyata mereka yang menunggu film Gundala sudah sebegini banyaknya.

Belum cukup dengan fan art, tim produksi film Gundala juga mengajak pemusik untuk membuat lagu tribute Gundala. Seperti yang diperkirakan, banyak juga band yang ikut di kompetisi ini. Kualitas mereka tidak bisa diremehkan. Ada lebih dari 500 lagu masuk! Tim produksi akhirnya memilih tujuh lagu pilihan. Salah satu lagu yang cukup saya ingat berjudul Hail Gundala karya Glosalia. Lagunya keras nan menghentak bagai dentuman petir.

Sudah? Belum! Meramaikan hari-hari sebelum Gundala tayang, tim produksi menggelar kontes hitung mundur. Karya yang dipakai boleh menggunakan medium apa saja. Ada yang menggunakan animasi pendek, ada yang menggunakan gambar, dan ada pula yang menggunakan video lawak. Ingat dua anak kecil yang “hei main, yuk!” kemudian kaget dengan suara petir? Video yang memeable itu diedit jadi Sancaka yang bikin kaget dua anak tadi.

Selain karya-karya di atas, ada juga art book atau buku yang berisi ilustrasi-ilustrasi film Gundala yang dibuat Caravan Studio. Ada juga statue atau patung Gundala bikinan Resinkid Studio. Sepanjang masa promo, kita disajikan dengan karya-karya hebat yang bertemakan Gundala. Mereka yang membuat bahkan banyak yang tidak berafiliasi dengan Bumilangit selaku pemegang hak cipta Gundala. Itu artinya Gundala begitu dicintai. Banyak orang yang dengan senang hati ikut merayakan pesta kemunculan Gundala.

Dan ketika hari penayangan tiba, saya buru-buru membeli tiket untuk menonton. Saya pilih jam penayangan pertama pada hari pertama di salah satu gedung bioskop di kota saya. Hati saya deg-degan, menunggu superhero favorit saya muncul dalam film. Saya sudah membuang jauh-jauh ekspektasi agar lebih bebas ketika menonton. Saya tahu, Gundala ini adalah Gundala versi Joko Anwar dan tim kreatif lain, bukan versi orisinal seperti yang dibikin Pak Hasmi di awal.

Lepas dari gedung bioskop, saya mixfeeling. Gundala yang saya saksikan sama sekali baru. Konsep cerita dan karakter yang disajikan beda betul dengan bayangan saya dahulu. Maka dari itu, butuh waktu agak banyak untuk saya menyimpan kenangan Gundala yang baru ini ke dalam benak. Hal-hal yang mengganjal saya pastinya ada, seperti adegan pertarungan di beberapa bagian yang kurang maksimal, atau beberapa bagian cerita yang terasa bertumpuk karena konfliknya satu sama lain banyak terkait. Tapi saya mafhum saja, bagi saya Gundala yang sekarang ini lebih dari cukup.

Saya lihat di media sosial, beragam sekali kesan tentang film Gundala. Ada yang merasa kurang di beberapa bagian. Ada yang puas sekali dengan Gundala yang baru. Ada penikmat baru yang memberikan komentar. Ada juga penggemar lama yang turut bahagia masa kecilnya seolah kembali. Menurut saya wajar saja komentarnya ada yang positif dan negatif. Diskusi yang terlontar di media sosial malah membuat orang semakin memperbincangkan Gundala. Itu artinya, menurut saya Gundala belum selesai berpesta.

Setelah film Gundala tayang, sekarang ganti Bumilangit menerbitkan komik Gundala. Sebelum penayangan Gundala, Bumilangit menerbitkan kembali komik Gundala Putra Petir versi 1969. Setelah penayangan film, Bumilangit ganti menerbitkan komik Gundala versi adaptasi film. Komik ini digawangi Oyasujiwo sebagai penulis dan Ardian Syaf sebagai pencil artis. Komiknya mengambil plot yang tidak diceritakan dalam film. Di sini dieksplorasi bagaimana Pengkor sebagai penjahat mengumpulkan anak-anak asuhnya. Komik ini terasa benar kualitasnya. Dari sisi cerita, dimensi psikologis tokoh dibangun betul. Kalau di film kita lihat tokohnya lewat begitu saja, di sini dijelaskan latar belakang dan konflik masa lalu apa yang menimpa mereka. Gambarnya jangan ditanya. Kualitas Ardian Syaf memang jempolan. Walaupun sempat diiringi isu boikot karena penciller-nya pernah terafiliasi dengan sebuah aksi politik, namun komik Gundala tetaplah laris manis. Beberapa hari pascaterbit, tersiar kabar komik Gundala sedang dicetak ulang. Ini kembali menjadi bukti betapa orang-orang suka pada Gundala. Apa yang menjadi perdebatan di masa lalu bisa dikesampingkan untuk bersama merayakan Gundala.

Rasanya di tulisan ini saya juga perlu menyebutkan bentuk apresiasi lain Gundala yang menurut saya cukup terbatas penikmatnya. Setelah menikmati Gundala dengan berbagai macam rupa, akan hadir pula buku biografi Hasmi Pencipta Legenda Gundala karya jurnalis dan kolektor komik Henry Ismono. Kali ini agak berbeda, buku ini tidak diterbitkan oleh Bumilangit tapi Metha Studio dari Yogyakarta. Saya merasa perlu menuliskan ini karena buku ini bersinggungan langsung dengan almarhum Pak Hasmi.

Di tahun 2016, ketika saya mengerjakan tugas akhir perkuliahan, saya sempat bertemu Mas Henry, begitu saya akrab menyapa penulis biografi ini. Mas Henry ketika itu bercerita, dia sedang menyiapkan buku tentang Pak Hasmi. Dia sudah beberapa kali menawarkan buku ini kepada penerbit, namun banyak yang tidak menerima. Alasan para penerbit saat itu, “menerbitkan komik saja susah, apalagi cerita pembuat komik.” Kata Mas Henry, ketika itu beliau bilang hambatan tersebut kepada Pak Hasmi. Pak Hasmi berkata, “Mungkin cerita saya ini baru bakal diterima setelah saya tidak ada.”

Sampai setelah Pak Hasmi meninggal dunia di tahun 2017, naskah buku yang sudah jadi tersebut mengendap, menunggu ada penerbit yang mau mempublikasikan. Menjelang pemutaran film Gundala, buku ini hampir menemui meja produksi. Sayang karena satu dan lain hal, buku ini masih gagal untuk diterbitkan. Mas Henry sempat berkabar, dia akan mengambil keputusan untuk menerbitkan buku ini sendiri. Ketika langkah tersebut diambil, tiba-tiba secercah harapan hadir. Metha Studio, sebuah penerbit komik yang rajin menerbitkan komik Indonesia dengan skup pembaca klasik, berkenan bekerja sama untuk menerbitkan buku ini.

Mas Henry mengabari saya. Karena saat itu saya ada di sekitar Yogyakarta, saya menawarkan diri untuk membantu sedikit proses akhir editing dan layouting buku tersebut. Kami akhirnya sepakat bertemu di daerah Muntilan, Magelang. Selama dua hari penuh saya ikut proses finishing buku ini agar mendarat mulus di percetakan. Saya baca dan saya lihat sendiri, bagaimana Mas Henry secara padat mengungkap sosok Pak Hasmi. Mungkin tidak banyak yang tahu, Pak Hasmi ini aktif sekali di dunia teater. Almarhum tumbuh bersama kelompok Teater Stemka di Yogyakarta. Berawal dari grup lawak, kemudian teater, lalu penulis naskah, sampai aktor televisi dan film layar lebar pernah beliau jalani. Pak Hasmi juga adalah murid sebuah padepokan silat. Latar belakang ini turut mewarnai karya Gundala-nya. Kalau silat, beliau tuangkan di 1000 Pendekar. Kalau teater, salah satunya ada di Gundala Cuci Nama. Ketika itu Gundala masuk menyeruak ke sebuah panggung pementasan. Mas Henry juga memasukkan sisi personal yang cukup emosional dari Pak Hasmi; asmara. Hasmi yang terkenal itu ternyata sering gagal dalam urusan asmara. Kegagalan demi kegagalan sempat memantiknya untuk membuat komik Gundala yang berjudul Pengantin Buat Gundala. Harapannya, setelah “menikahkan Gundala”, Hasmi juga akan merasakan pernikahan.
 
Ketika redaktur NU Online menawarkan kepada saya untuk menulis tentang Gundala, ada sedikit kebimbangan dalam diri saya. Sebagai insan industri kreatif, saya sedikit banyak mengetahui bagaimana kawan-kawan saya banting tulang mewujudkan film Gundala. Sebagai fans, saya menyimpan ekspektasi tertentu pada film ini. Terlebih saya sempat sedikit mengedit penerbitan buku biografi Pak Hasmi, saya merasa mungkin tulisan yang bakal saya bikin nanti terasa emosional.

Namun, saya kembali berefleksi tentang apa yang terjadi pada film Gundala setahun ini. Berbagai macam perayaan telah dilaksanakan. Ribuan karya-karya kreatif dengan berbagai maca medium turut mendampingi proses tayangnya film Gundala. Selesai filmnya tayang, orang masih ramai memperbincangkannya, mempertanyakan plot tertentu yang belum tersampaikan atau punya peluang untuk dieksplorasi. Masyarakat yang menonton pun menembus lapisan umur. Filmnya memang untuk 13 tahun ke atas. Namun, ada saja penonton kecil yang turut menyaksikan film ini. Dari anak kecil sebagai penikmat baru, sampai orang dewasa sebagai penikmat lama, ramai-ramai menunggah foto keseruan mereka menonton film Gundala.

Saya kagum dengan apa yang terjadi. Saya merasa keramaian ini sepertinya belum pernah terjadi sebelumnya. Saya dengan yakin menyebut kemeriahan film Gundala sebagai Pesta Budaya Pop Indonesia. Mungkin tidak mudah membuat serta mengulang pesta ini. Tapi kita tunggu saja, semoga keramaian ini bakal hadir kembali dalam perayaan superhero lain. Saya, walaupun hanya sekadar penonton, turut bangga berada di pusaran keramaian ini. Karena saya ngefans dengan Pak Hasmi. Karena saya suka sama Gundala.
 
 
Penulis adalah Santri dan Penikmat Budaya Pop. Tumbuh besar di Demak, Jawa Tengah
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 1 September 2019 12:20 WIB
Sekarang Kita Hijrah dari Mana ke Mana?
Sekarang Kita Hijrah dari Mana ke Mana?
Ilustrasi: lukisan DSAR, Al-Muhajiru, 35 x 25 cm, black ink on art paper, 2019.
Oleh Didin Sirodjudin AR
 
المهاجر من هجر ما نهى الله عنه.
 
Artinya, "Al-Muhajiru (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan larangan Allah," (HR Al-Bukhari dan Muslim).

***

Tekanan terhadap umat Islam as-sabiqunal awwaluna semakin berat. Kaum Quraisy Makkah tambah menindas dengan beragam penyiksaan yang menambah penderitaan di mana-mana. Menghadapi krisis gawat ini, Rasulullah SAW mengambil tindakan dengan menghijrahkan beberapa pengikutnya yang posisinya masih lemah.

Hijrah gelombang pertama (di tahun ke-5 kerasulan) menuju Abessinia atau Habasyah, diikuti 15 orang (10 laki2 dan 5 perempuan) termasuk Usman bin Affan dan istrinya Ruqayah, putri Rasulullah. Mereka lalu kembali setelah beberapa bulan karena mendapat informasi bahwa Makkah sudah aman. Situasi di Kota Makkah ternyata semakin kacau dan gawat. Teror kaum musyrikin tambah menjadi-jadi yang berujung dibuatnya undang-undang pemboikotan terhadap kaum muslimin.

Tindakan musuh sudah semakin kalap dan kejam. Maka, untuk gelombang kedua Rasulullah menyarankan kepada para sahabatnya hijrah lagi ke Abessinia. Kali ini diikuti 101 orang (83 laki2 dan 18 perempuan) di bawah pimpinan Ja‘far bin Abi Thalib. Jumlah tersebut melebihi separuh kaum muslimin pada waktu itu. Tapi, dari sini pula Negus, Raja Abessinia masuk Islam karena terkesan oleh Ja‘far dan rombongannya.

Teror Kaum Quraisy semakin sadis, bahkan menargetkan pembunuhan Rasulullah. Maka, untuk gelombang ketiga, hijrah massal dilaksanakan pada kali ini menuju Yasrib (yang kelak menjadi Madinatunnabi  atau Madinah), diikuti Rasulullah sendiri. Nabi SAW tiba di Madinah pada tanggal 8 Rabiul Awwal/20 September 622 M.

Hijrah terbesar ini bukan lagi pilihan atau sukarela dari anjuran Rasulullah, tetapi langsung perintah Allah untuk menghindari intrik-intrik kejahatan musuh-musuh Islam. Hijrah Nabi ke Madinah bukan kekalahan, melainkan strategi "kemenangan yang ditangguhkan" untuk menyukseskan misi dakwah. Dan ternyata, hijrah jadi starting point of the Islamic era atau titik awal kesuksesan dakwah dan kebangkitan dunia Islam.

Sangat menarik, peristiwa hijrah Nabi ini menjadi dasar inspirasi ditemukannya sistem penanggalan bulan (قمرية) yang dikenal sebagai Tahun Hijriyah, pengimbang kalender matahari (شمسية) Miladiyah atau Masehi yang sudah ada sebelumnya. Apabila perhitungan tanggal matahari/Masehi dimulai dari jam 00.00 tengah malam, maka awal tanggal Hijriyah dimulai dari waktu Maghrib.

Jumlah hari tahun Hijriyah lebih sedikit 11 hari setiap tahunnya dibandingkan tahun Masehi. Tahun Hijriyah ditentukan oleh Khalifah Umar pada tahun 17 H/638 M. Uniknya, prolog kisah dimulai ketika Abu Musa Al-Asy'ari yang menjabat Gubernur Basrah menerima surat dari Khalifah Umar bin Khattab yang tidak mencantumkan tanggal (hari, bulan, tahun).

Dalam surat balasan kepada Khalifah Umar, Abu Musa antara lain menulis, "Surat Tuan yang tidak memakai tanggal itu sudah saya terima......" Kalimat singkat itu dirasakan Umar sebagai "cubitan" sehingga membuka pikirannya untuk mencari dan menetapkan penanggalan atau kalender Islam untuk surat-menyurat dan urusan-urusan resmi negara.

Dalam musyawarah dengan para staf dan penasihatnya, ada yang usul agar titik tolaknya dihitung dari hari lahir Rasulullah atau Perang Badar 17 Ramadhan 2 H. Usulan yang lain, dimulai dari turunnya wahyu pertama atau hari pengangkatan beliau sebagai Rasul. Akhirnya, usulan yang disepakati bersama adalah saran Ali bin Abi Thalib yang menetapkan dimulainya penanggalan tahun Hijriyah dari hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah, sebab sejak waktu itulah mulai terbentuknya kekuatan Islam yang riil.

Apakah kita juga harus hijrah? Masih kah relevan menerapkan cara hijrah muslimin Makkah dulu? Tentu, lebih dari sekadar relevan. Sebagaimana Rasulullah hijrah menghindari musuh agama yang berkomplot, maka sesungguhnya musuh-musuh kita yang beragam di zaman sekarang lebih dahsyat, yang  mewajibkan kita untuk hijrah. Musuh-musuh kita yang licin itu adalah:

1)    Cinta dunia (حب الدنيا) yang berlebihan dan tak terkendali sehingga lupa daratan. Padahal

حب الدنيا رأس كل خطيئة

Artinya, "Cinta dunia adalah biang segala kesalahan."

2)    Hawa nafsu yang selalu dituruti (هوى متبع). Padahal, apa yang didapat dari memperturutkan hawa nafsu? Nabi Yusuf mengatakannya:

إن النفس لأمارة بالسوء

Artinya, "Sungguh, hawa nafsu benar-benar menyuruh kepada kejahatan."

3)    Setan gaib (yang sanggup lari mengikuti aliran darah) yang malah dijadikan sekutu, padahal setan seharusnya dilawan:

إن الشيطان لكم عدو فاتخذوه عدوا

Artinya, "Sesungguhnya setan itu musuhmu, maka jadikan dia musuh!"

4)    Setan manusia yang lebih berbahaya. Asal selalu berbisik dan memprovokasi mengajak kepada  kejahatan, manusia dan jin macam begini adalah setan:

من شرالوسواس الخناس الذي يوسوس في صدورالناس من الجنة والناس

Artinya "... dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi, yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia."

Oya, jadi kita harus hijrah dari mana dan ke mana?

Bila melihat kepada catatan perjuangan Rasulullah yang berujung kepindahan atau hijrahnya ke Madinah dengan tujuan utamanya "meninggalkan situasi yang buruk untuk mencari situasi baru yang  lebih baik", atau seperti sabda beliau bahwa "Orang yang berhijrah adalan orang yang meninggalkan larangan Allah,"  maka setidaknya ada empat pelabuhan yang bisa dijadikan titik tolak hijrah kita, yaitu:

1) Pertama, من الشرك إلى التوحيد (dari syirik kepada tauhid) dengan menyingkirkan sesembahan kepada berhala dan setan, memberantas praktik perdukunan sampai sikap menuhankan harta, tahta, jabatan, wanita dan serba benda yang lain. Semuanya disterilkan dan  dikembalikan "hanya untuk Allah Yang Maha Esa".

2) Kedua, من الكفرإلى الإيمان (dari kekufuran kepada iman) dengan meneguhkan keyakinan kepada rukun iman yang enam dan meninggalkan "sikap selalu membangkang" terhadap perintah Allah.

3) Ketiga, من الجاهلية إلى الإسلام (dari jahiliyah kepada Islam), yakni meninggalkan adat-adat jahiliyah yang busuk seperti: musuh-musuhan, dendam,  bertengkar, iri dengki, takabur, buruk sama tetangga, tidak menghormati keluarga atau tamu, berkhianat, menggunting dalam lipatan, dan tidak toleran. Semuanya diubah dengan selalu menjunjung perilaku dan akhlak yang Islami. Sesuaikan dengan norma-norma ajaran agama (Islam).

Keempat, من الظلمات إلى النور  (dari kegelapan kepada cahaya). Keluarlah dari tempat gelap yang membutakan, yakni "amalan tanpa tuntunan", perbuatan bid'ah, atau ibadah tanpa ilmu. Lihatlah cahaya Islam dan iman sebagai way of life yang mencerahkan dan selalu memberi harapan.
 
 

Didin Sirojuddin AR adalah Pengurus Lembaga Kaligrafi (Lemka). Kini ia mengajar di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Rabu 28 Agustus 2019 20:25 WIB
Dua Kisah Haji Kaya Pelit
Dua Kisah Haji Kaya Pelit
Ilustrasi (ist)
Oleh Abdullah Alawi

Haji Broom atau Haji Sapu Bersih muncul dalam tulisan James C. Scott. Saya membaca buku itu dalam terjemahan bahasa Indonesianya beberapa tahu silam. Jadi banyak lupanya. Namun, nama haji di buku itu wataknya, dan beberapa tokoh lain, masih lumayan ingat. Buku tersebut berjudul Senjatanya Orang-orang Kalah. 

Di dalam bab pertama buku ini mengupas tentang perang kelas. Scott kemudian memunculkan tokoh-tokoh yang ditemuinya selama penelitian di negeri jiran Malaysia. Tokoh-tokoh itu, bagi Scott dianggap mewakil kelas kaya dan miskin. 

Scott memunculkan Haji Broom sebagai perwakilan kelas kaya yang mengakumulasi keuntungan dari seluruh penduduk desa melalui penguasaan tanah. Namun sayang, penguasaan tanah itu sebagian besar diperoleh dengan jalan jalan yang tidak terhormat dan menipu warga dengan jerat bunga hutang yang mencekik leher petani miskin.

Pengamat mengomentari penelitian Scott ini dinilai berhasil dalam mengupas fakta sifat menonjol sejarah Melayu di daerah Sendaka dan Muda (termasuk ke dalam wilayah Kedah), bahwa negara tidak sepenuhnya berhasil hadir sebagai mekanisme yang efektif untuk mengeksploitasi kaum tani.

Tokoh lain yang dimunculkan Scott adalah Razak. Ia adalah kebalikannya dari Haji Broom. Razak adalah petani miskin yang kebetulan dalam cerita Scott belum lama mendapat musibah kematian seorang anaknya. Razak tak mampu memberikan pertolongan dengan membawanya ke rumah sakit. Nah, Haji Broom yang meskipun sudah berhaji, pergi ke Tanah Suci Mekkah dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW, tidak terketuk hatinya untuk menolong anak Razak. 

Dari situlah kemudian muncul perlawanan-perlawanan simbolik dari petani miskin kepada orang kaya yang sombong, tak mau menolong dan pelit. Perlawanan tersebut bersifat diam-diam dan simbolik atau disebut dengan resistensi. Justru dengan perlawanan terbuka, para petani miskin itu akan kalah. Contoh perlawanan simbolik itu adalah menggosipkan haji itu di warung kopi dan kalau bekerja tidak terlalu serius, yaitu mengulur-ulur pekerjaan supaya berlangsung lama. 

Hal serupa terjadi di Sukabumi Selatan dengan munculnya istilah haji arni untuk orang kaya yang pernah melaksanakan ibadah haji tapi watakanya yang sombong, pelit, kedekut, koret, buntut kasiran. Saya tidak pernah mendapatkan penjelasan asal-usul tentang haji tersebut. Dan kapan istilah itu muncul. Orang Sukabumi selatan sendiri tidak tahu karena istilah sudah hadir di tengah-tengah mereka. Yang jelas, menurut saya, istilah itu adalah jejak perlawanan orang miskin kepada orang kaya yang sudah berhaji. 

Pada perkembangan selanjutnya, haji arni menjadi senjata yang meluas. Ia sering “ditembakkan” tidak hanya kepada orang yang sudah berhaji, tapi kepada siapa pun orang kaya yang berwatak haji arni alias pelit. Lebih jauh lagi, istilah haji arni disematkan kepada oleh anak-anak kecil untuk “menembak” temannya yang tak mau berbagi dalam hal apa pun.

Tendangan Tersembunyi untuk Para Haji

Ratusan ribu haji Indonesia sedang dalam proses pulang ke Tanah Air. Mereka akan kembali lagi ke kampung halamannya masing-masing, kepada keluarganya, dan tetangga-tetangganya. Mereka biasanya akan mendapat panggilan haji mengawali namanya. Mendapat tambahan huruf H di depan namanya saat diundang tetangga dan koleganya. Sebuah penghormatan kepada mereka karena telah mampu melaksanakan rukun Islam kelima. 

Namun, ingatlah masyarakat itu punya mata dan telinga dan pengharapan. Masyarakat memberikan gelar tersebut tidak cuma-cuma, melainkan menuntut konvensasi. Sebetulnya konvensasi tersebut bukan tanpa dasar. Di dalam masyarakat Sunda misalnya, berangkat haji disebut munggah haji.

Munggah artinya naik. Naik dalam hal ini, saya tafsirkan secara fisik dan nonfisik. Naik secara fisik adalah seorang yang naik haji dari Indonesia dipastikan naik pesawat terbang atau zaman dulu naik kapal laut. Sementara nonfisik adalah naik secara rohani, yaitu harapan agar perangai dan frekuensi ibadah seorang yang melaksanakan ibadah haji lebih baik dibanding sebelum berangkat.  

Sebetulnya, pengguanaan kata munggah tersebut sama sebangun atau ada kemiripannya atau ada rujukannya dari dalam ajaran Islam sendiri. Di dalam Islam terdapat istilah haji mabrur, yaitu kategori bagi seseorang yang perilakunya setelah melaksanakan ibadah haji lebih baik daripada sebelumnya. Amal ibadahnya baik wajib maupun sunah meningkat daripada sebelumnya. Tak hanya itu, juga baik perangainya kepada keluarga dan tetangganya. Paling tidak, sepulang berhaji setara dengan ketika ia berangkat. 

Sebaliknya, ada pula haji mardud, ibadah dan perangai seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji justru mundur atau lebih buruk daripada sebelum berangkat. Jika sebelum berhaji sering ke masjid, setelah berhaji malah tidak pernah atau jarang. Dalam hal ini, di masyarakat Sunda ada sebutan tersendiri yaitu haji dulmajid atau haji yang kedul (malas) ke masjid. 

Tentu saja masyarakat berharap haji-haji kita yang baru kembali dari Tanah Suci itu merupakan haji mabrur, haji yang munggah secara fisik dan rohani karena masyarakat akan mendapatkan konvensasinya baik secara fisik maupun rohani pula. Jika sebaliknya, haji yang baru kembali itu akan mendapatkan nasib seperti haji broom dan haji arni atau bisa jadi ada kategori haji baru untuk menjulukinya.

Masyarakat selalu punya cara dan memiliki perbendaharaan istilah yang tak terbatas untuk menjulukinya. Setelah julukan itu ditemukan, maka masyarakat akan melakukan tendangan tersembunyi kepada muka para haji. Tendangan itu dilakukkan di warung kopi atau kumpul-kumpul informal lainnya. Ini merupakan sebuah tendangan yang susah diklarifikasi, ditertibkan dan dihentikan.
 

Penulis adalah Wartawan NU Online
Senin 26 Agustus 2019 14:33 WIB
Banser dan Pesta Pora Akun Bodong
Banser dan Pesta Pora Akun Bodong
Barisan Ansor Serba Guna (Banser).
Oleh Abdullah Alawi

Tahun lalu, Barisan Ansor Serbaguna atau Banser menjadi perbincangan hangat karena insiden pembakaran bendera yang mirip lambang organisasi yang dilarang pemerintah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Kejadian di sebuah kecamatan kabupaten Garut itu menjadi isu nasional berhari-hari.
 
Semua orang yang tidak suka Banser dan NU, turun ke gelanggang, melalui media sosial dengan segala macam sumpah serapah. Namun, tak sedikit pula yang membela Banser melalui media yang sama. Perang tagar pun tak bisa dihindarkan.  

Malam tadi, Ahad 25 Agustus, kembali Banser trending topic di Twitter dengan tagar #BubarkanBanser. Sang kreator tagar tersebut seolah ingin puas, sehingga menggunakan huruf-huruf kapital agar orang yang baru bangun tidur pun awas melihatnya. Tagar tersebut hingga pagi berikutnya, saat penulis terakhir kali melihatnya, ada ratusan ribu yang berpartisipasi. 

Namun, menurut penulis, ada beberapa perbedaan dengan trending topic tahun lalu. Banser yang diserang melalui tagar bermula dari insiden yang dilakukan anggota Banser sendiri. Kali ini Banser diserang akibat ulah anggota organisasi lain yang melakukan penyerangan terhadap Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya. Banser yang menjaga asrama tersebut justru ketiban getahnya. 

Kedua, kejadian tahun lalu perbincangan di media sosial melibatkan partisipasi orang-orang yang termakan disinformasi yang dilakukan akun-akun bodong. Saat ini modelnya serupa, tapi karena basis kasusnya tidak terlalu jelas, tidak terlalu menyedot perhatian masyarakat. Jadi kali adalah momentumnya masyarakat akun bodong.  

Untuk kasus tuntutan rakyat Papua, saya mencari tahu, apa penyebabnya sampai tagar itu menjadi viral, dan konon trending topic dunia. Saya pun mencari tahu dengan membuka akun-akun yang menulis tagar itu. Ternyata bermula dari berita media daring yang menulis tujuh tuntutan warga Papua dengan narasumber seorang anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Papua Yorrys Raweyai.  

Saya kemudian menulis nama tersebut di Google, maka ketemulah berita-berita terbaru yang terkait dia. Pertama, yang dimuat Tempo.co dengan judul Tuntutan Pembubaran Banser NU, Yorrys Raweyai Jelaskan Detilnya. Ketika membuka berita tersebut, saya tak mendapatkan penjelasan apa pun kenapa Banser harus dibubarkan. Bahkan, di teks berita yang menjadi populer nomor satu di media tersebut, di paragraf terakhir, Banser disebut tidak terlibat dengan pengepungan asrama mahasiswa di Surabaya. 

Kedua, saya baca beritar di Liputan6.com yang berjudul Masyarakat Sorong dan Manokwari Minta 7 Tuntutan Ini ke Pemerintah. Di dalam berita tersebut, pada poin ketiga, ada tuntutan agar Banser dibubarkan. Namun, kembali saya tidak mendapatkan penjelasan apa pun terkait permintaan tersebut.

Belakangan, ketika tagar itu melambung tinggi, media daring cnnindonesia.com mengunggah tentang bantahan Yorrys Raweyai dengan judul: Yorrys Raweyai Bantah Terkait Tuntutan Pembubaran Banser. Saya kutip bantahan dia sebagai berikut: 

"Bukan saya. Itu tertulis, saya enggak tahu. Saya tadi ditelepon juga. Itu kan ada sumber berita siapa tuh yang kirim-kirim, saya juga terima," ucap Yorris kepada CNNIndonesia.com, Minggu (25/8).

Lanjutan berita tersebut adalah, Yoris mengatakan dirinya mendapat selebaran mengenai tujuh poin tuntutan masyarakat Sorong. Kendati begitu, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti siapa sumber yang menulis dan mengirim selebaran tersebut.

Berita ini sebetulnya memperkuat isi berita Tempo.co yang di paragraf awal pun berisi penjelasan bahwa permintaan membubarkan Banser NU bukan dari dirinya, tapi dari rakyat Sorong. Namun, lagi-lagi saya tak mendapatkan penjelasan kenapa rakyat Sorong menuntut pembubaran Banser.      

Pertanyaannya sekarang, kenapa tuntutan yang tidak begitu jelas tersebut begitu ramai dirayakan di Twitter? Adakah dari ribuan pengguna akun tersebut, secuil pintu untuk membuka dan mempertanyakan kembali kebenaran berita tersebut?  Tidak mungkin karena mereka robot. Jadi, tagar itu pesta poranya akun robot. 

Saya jadi ingat Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Deni Ahmad Haidar, ketika bertemu tahun lalu. Menurut dia, saat ini pamor Banser layaknya selebritis yang selalu diperhatikan gerak-geriknya. Tentu saja yang memperhatikan menandakan dua hal, yakni cinta dan benci. Kalau cinta, ketika ada anggota Banser berprestasi, misalnya, turut senang atau bangga dan mengabarkan kepada yang lain. Tapi, kalau ada anggota Banser keliru, dia mengingatkan.

Sebaliknya, kalangan yang membenci, saat mendengar Banser berprestasi atau melakukan kebaikan, ia mencibir atau diam. Namun, ketika mendengar melakukan sesuatu yang dianggapnya keliru, menjadi makanan empuk untuk menghakimi beramai-ramai.

Setahu saya, Banser tidak pernah menyatakan diri sebagai organisasi malaikat. Sebagaimana umumnya organisasi lain, tentu angota dan pengurusnya punya kekurangan dan kesalahan. Sesuatu yang dianggap keliru pun, seharusnya bukan menjadi ajang untuk saling menjatuhkan dan bully, tapi saling memperbaiki diri dengan mengedepankan tabayun.

Nah, ini mereka mem-bully Banser terkait Papua dengan dasar yang belum jelas. Padahal jika dicari akar masalah yang terdekat ini, yakni pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya, Banser sama sekali tidak terlibat. 

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, sebagaaimana dilansir NU Online, menyatakan ada upaya mengadu domba antara Banser dengan rakyat Papua. Namun, ia yakin upaya itu akan sia-sia karena Banser dan rakyat Papua selama ini selalu bersahabat. Buktinya, ketika ormas lain mengepung asrama Papua, Banser menjaganya.
 
 
Penulis adalah Redaktur NU Online
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG