IMG-LOGO
Nasional

Puluhan Pesantren Ikuti Pelatihan Dasar Instruktur Kemnaker RI


Senin 9 September 2019 22:30 WIB
Bagikan:
Puluhan Pesantren Ikuti Pelatihan Dasar Instruktur Kemnaker RI
Sebagian peserta BLKK pesantren di Surakarta. (Foto: NU Online/A Rifqi H)
Surakarta, NU Online
Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) disebut sebagai sebuah terobosan baru Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Republik Indonesia dalam meningkatkan peran pondok pesantren. Dalam programnya, pondok pesantren yang telah diverifikasi dapat menerima bantuan gedung dan peralatan serta bahan dari kementerian. 
 
Menariknya, sumber daya manusia dari pesantren mengikuti pendidikan dan pelatihan dasar (Dikdas) instruktur. Seperti yang diikuti 16 santri pondok pesantren asal Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur yang mengikuti Dikdas Bahasa.
 
Selama 47 hari mereka mendapatkan pelatihan untuk menjadi instruktur bahasa Inggris.
 
Salah seorang intruktur, Dillyana Krismianingrum mengatakan BLKK sebagai sesuatu terobosan baru yang menarik dalam dunia pelatihan. 
 
"BLK Komunitas itu salah satu inovasi baru dalam pelatihan. Dan saya kira itu bagus untuk mengembangkan pesantren," kata Dilliyana seusai memaparkan materi di BLK Surakarta, Jalan Bhayangkara No.38, Panularan, Kecamatan Laweyan Surakarta, Senin (9/9).
 
Mrs Dillyana, sapaan akrabnya, melanjutkan, BLKK pesantren akan mampu meningkatkan peran pesantren dalam memperluas lapangan pekerjaan. Selain itu, dapat membantu para santri maupun masyarakat sekitar yang dirasa kurang atau tidak dapat menikmati pendidikan formal yang tinggi.
 
Lebih lanjut, instruktur yang mengajarkan telephoning ini mengungkapkan kendala yang dialami dalam mengajar para santri. 
 
"Karena latar belakang pendidikan yang berbeda-beda, jadi tidak bisa disama-ratakan metode mengajarnya," ucapnya. 
 
Oleh sebab itu, dalam mendidik para santri ia mengaku membutuhkan kecermatan tersendiri. 
 
"Jadi butuh pengayaan yang ekstra bagi yang mampu dan memberikan pembinaan bagi yang kurang mampu mengikuti pelajaran," bebernya.
 
“BLKK merupakan masa depan santri untuk lebih percaya diri menjadi seorang entrepreneur. Selain itu, pesantren menjadi lebih luas cakupannya. Wala tansa nashibaka minaddunya, yakni jangan lupakan kehidupan duniamu," kata Alfanuha Yushida dari Pesantren Zahrotul Jannah Kabupaten Kulonprogo. 
 
Menurutnya, perlu ada jejaring antar BLKK pesantren, sehingga antar pesantren bisa mengirimkan santri untuk mengikuti pelatihan sesuai minat di BLKK yang ada di jejaring itu. 
 
“Dengan adanya hal tersebut, santri tak akan susah payah menyesuaikan kultur dalam BLKK, sebab memiliki basis yang sama,” tandasnya.
 
Perlu diketahui, 16 BLK Komunitas pesantren Jawa Tengah yang terfokus pada bahasa Inggris di antaranya Pesantren Darussalam Kembaran, Kabupaten Banyumas, Fathul Huda, Desa Sidorejo Sayung, Kabupaten Demak, Hidayatul Mubtadiien Kalibening, Kota Salatiga, dan AI-Muttaqien Pancasila Sakti Karanganom, Kabupaten Klaten.
 
Juga Pesantren Al l'anah Kabupaten Blora, Al-Hikmah Kabupaten Blora, Darur Ridwan Al Fadholi, Desa Ngablak, Kabupaten Pati, Nahdlatut Thalibin Kabupaten Pati, Sabilunnajah Desa Penjalin, Kabupaten Kendal.
 
Sedangkan pesantren dari Jawa Timur terdapat Pesantren Falahul Muhibbin, Desa Watugaluh, Kabupaten Jombang, Manbaul Huda Desa Banjararum, Kabupaten Tuban, At-Tanwir Desa Talun, Kabupaten Bojonegoro, Cemerlang An-Najach Kabupaten Jombang, Al-Maali Dukuh Slembi, Kabupaten Bojonegoro, serta Hidayatulloh Kecamatan Pule, Kabupaten Trenggalek. 
 
 
Pewarta: A Rifqi Hidayat
Editor: Ibnu Nawawi
 
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG