IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

Gus Miftah: Pemerintah Terlalu Santai kepada HTI

Rabu 11 September 2019 15:30 WIB
Bagikan:
Gus Miftah: Pemerintah Terlalu Santai kepada HTI
KH Miftah Maulana Habiburrahman saat mengisi Tabligh Akbar Peringatan Hari Lahir Yayasan Ar Rahman di Kabupaten Pringsewu, Lampung, Selasa, 11/9. (Foto: NU Online/Muhammad Faizin)
Pringsewu, NU Online
KH Miftah Maulana Habiburrahman atau yang tenar dipanggil Gus Miftah mengajak seluruh umat Islam untuk mengedepankan kasih sayang terhadap sesama dalam kehidupan bersama di tengah-tengah masyarakat. Ia mengingatkan agar tidak gampang menilai orang salah dan berdosa seakan-akan ia sendiri tidak pernah berbuat dosa.
 
"Jangan jadi hakim (tapi) jadilah penasihat. Kita ini sering menjadi jaksa atas kesalahan orang lain namun menjadi hakim bagi kesalahan diri sendiri," ungkap Pengasuh Pesantren Ora Aji Sleman, Jogjakarta yang sering berdakwah kepada para kaum marjinal ini, Selasa (11/9) malam di Kabupaten Pringsewu, Lampung.
 
Gus Miftah mengungkapkan bahwa ketika ada orang yang selalu ingin mencari kesalahan orang lain, hal itu sebenarnya menunjukkan kehidupannya sedang tidak bahagia. Justru kebahagiaan didapat oleh orang yang dicari kesalahannya.
 
"Jika kesalahannya saja dicari, berarti tenang saja, banyak kebaikan yang dimiliki," tegas kiai muda NU kelahiran Lampung ini.
 
Fenomena suka menyalahkan dengan misi tertentu saat ini juga terkadang didasarkan pada hal yang bukan bersifat substantif. Dengan dasar yang hanya ikut-ikutan dari broadcast di media sosial, seseorang dengan mudahnya menghakimi orang lain salah.
 
"Ada orang yang mengatakan Yasin boleh, Yasinan nggak boleh. Tahlil boleh, tahlilan nggak boleh. Shalawat boleh, shalawatan nggak boleh," ia memberi salah satu contoh.
 
"Yasin itu belum dibaca. Kalau sudah dibaca namanya Yasinan. Tahlil itu belum dibaca, kalau sudah dibaca tahlilan. Shalawat belum dibaca kalau sudah dibaca namanya shalawatan. Masa gara-gara 'an' tidak boleh. Ini bahaya," lanjutnya memberi pencerahan.
 
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini pun muncul kelompok yang gampang menyalahkan ideologi bangsa yang sudah disepakati dan merupakan ikhtiar para ulama dan pendiri bangsa. Contohnya kelompok HTI ingin mengganti sistem negara dengan ideologi khilafah.
 
Padahal paham khilafah ini sudah tertolak di berbagai negara di penjuru dunia. Kelompok ini menggunakan isu agama untuk kepentingan mereka dengan propaganda memecah belah para tokoh agama, ulama dan para habaib.
 
"Musuh negara sudah terangan mengusik NKRI. HTI sudah bubar tapi manusianya masih ada. Pemerintah terlalu santai terhadap kelompok ini. Padahal negara lain keras dengan menangkap para pimpinannya," katanya.
 
Gus Miftah pun menegaskan bahwa ideologi Pancasilalah yang paling tepat digunakan berdasar fakta betapa majemuknya bangsa Indonesia. Pancasila mampu menyatukan berbagai suku bangsa di tanah air menjadi satu negara. Tidak seperti kawasan eropa yang memiliki satu suku bangsa namun berdiri di atas banyak negara.
 
Kehadiran Gus Miftah ke Pringsewu ini dalam rangkan Tabligh Akbar Peringatan Hari Lahir Yayasan Ar Rahman yang bekerjasama dengan PCNU, Banom, dan Lembaga NU Kabupaten Pringsewu. Kegiatan yang dilaksanakan di Lapangan Kantor Pemda Pringsewu ini dihadiri sekitar 10 ribu jamaah.
 
Hadir pada acara yang juga dibarengkan dengan Peringatan Muharram 1441 H ini, Bupati Pringsewu KH Sujadi, Wakil Bupati H Fauzi, Rais syuriyah PCNU KH Ridwan Syuaib, Ketua PCNU Pringsewu KH Taufikurrahim, Ketua MUI Kabupaten Pringsewu H Hambali dan para ulama di Pringsewu. 
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Zunus Muhammad
 
Bagikan:

Baca Juga

Rabu 11 September 2019 21:45 WIB
Belasungkawa Mentan Amran untuk Bapak Bangsa
Belasungkawa Mentan Amran untuk Bapak Bangsa
Mentan Amran Sulaiman (dua dari kiri)
Jakarta, NU Online
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya Presiden RI ke-3 Prof Bacharuddin Jusuf Habibie pada Rabu (11/9) petang.
 
Amran mengaku terpukul karena Habibie merupakan sosok panutan yang menjadi guru besar bagi bangsa Indonesia. Selain itu, Habibie  memperjuangkan modernisasi pembangunan.
 
"Pertama, Inallilahi wainalillahi rojiun saya menyampaikan duka yang mendalam atas wafatnya bapak bangsa yang sangat mencintai Indonesia. Kedua, tentu kepergian beliau sangat meninggalkan kesedihan bagi saya dan seluruh rakyat Indonesia," ujar Amran, Rabu malam.
 
Di mata Amran, sosok yang akrab disapa BJ Habibie ini adalah tokoh bangsa yang sudah berjasa besar bagi Indonesia karena mengharumkan negara di daratan dunia. Amran juga mengaku bangga karena Habibie berasal dari Sulawesi Selatan, tempat di mana Amran dilahirkan dan dibesarkan.
 
Dalam rilis yang diterima NU Online, Amran datang bersama Ketua MA Hatta Ali dan sejumlah tokoh lainya. Kemudian nampak hadir di antarnya Wakil Presiden terpilih KH Ma'ruf Amin. 
 
"Berduka cita sedalam-dalamnya dengan meninggalnya bapak Profesor Baharuddin Jusuf Habibie sebagai Presiden ketiga. Dimana hal yang mengesankan dari beliau ini, beliau sangat memperhatikan. Dan selama beliau tidak menjabat tetap aktif untuk keutuhan bangsa dan negara," tutup Hatta.
 
Presiden BJ Habibie meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto pada Rabu petang. Ia meninggal karena sakit yang dideritanya sejak lama dan mulai dirawat sejak 1 September 2019.
 
Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj menyampaikan belasungkawa atas meninggalkan Presiden ketiga Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie. Pernyataan belasungkawa tersebut seperti terlihat dalam video yang diterima NU Online, Rabu (11/9) malam.
 
"Innallahi wainna ilaihi rajiun. Kami atas nama seluruh warga Nahdlatul Ulama di mana pun berada mengucapkan duka yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Presiden Indonesia yang ketiga, yaitu Profesor Doktor Insinyur BJ Habibie dengan tenang," kata Kiai Said dalam video tersebut.
 
Menurut Kiai Said, almarhum BJ Habibi adalah sosok yang sangat cerdas dan jenius. "Beliau adalah orang yang sangat cerdas dan jenius yang diakui dunia internasional," lanjutnya.
 
BJ Habibi, kata Kiai Said, telah berhasil mengangkat nama baik bangsa Indonesia dengan kecerdasan dan kemampuannya. Oleh karena itu, Pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Jakarta Selatan itu mengajak masyarakat untuk mendoakan almarhum.
 
Editor: Abdul Muiz
Rabu 11 September 2019 20:40 WIB
Kiai Said: BJ Habibie Angkat Nama Baik Indonesia di Dunia Internasional
Kiai Said: BJ Habibie Angkat Nama Baik Indonesia di Dunia Internasional
Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj (Foto: NU Online/Suwitno)
Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj menyampaikan belasungkawa atas meninggalkan Presiden ketiga Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie. Pernyataan belasungkawa tersebut seperti terlihat dalam video yang diterima NU Online, Rabu (11/9) malam.
 
"Innallahi wainna ilaihi rajiun. Kami atas nama seluruh warga Nahdlatul Ulama di mana pun berada mengucapkan duka yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Presiden Indonesia yang ketiga, yaitu Profesor Doktor Insinyur BJ Habibie dengan tenang," kata Kiai Said dalam video tersebut.

Menurut Kiai Said, almarhum BJ Habibi adalah sosok yang sangat cerdas dan jenius. "Beliau adalah orang yang sangat cerdas dan jenius yang diakui dunia internasional," lanjutnya.
 
BJ Habibi, kata Kiai Said, telah berhasil mengangkat nama baik bangsa Indonesia dengan kecerdasan dan kemampuannya. Oleh karena itu, Pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Jakarta Selatan itu mengajak masyarakat untuk mendoakan almarhum.

"Semoga arwahnya diterima oleh Allah dan mendapatkan ampunan-Nya. Segala amal baiknya diterima, segala kesalahannya diampuni dan ditempatkan di tempat yang sidiq di sisi Allah dengan penuh kebahagiaan dan kedamaian. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'aafihi wa'aafihi wa'fu 'anhu waj'alil jannata matwaahu," Kiai Said mendoakan.
 
Sebagaimana diketahui, BJ Habibie wafat usai mendapat perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (11/9) pukul 18.05 WIB. Pendiri Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) itu meninggal pada usia 83 tahun.

Prof Dr Ing H Bacharuddin Jusuf Habibie, lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936. Selain sebagai Presiden ketiga RI, Habibie juga pernah menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi pada tahun 1978 hingga Maret 1998.

Habibie memperistri Hasri Ainun Besari pada 12 Mei 1962 di Rangga Malela, Bandung, Jawa Barat. Sebelumnya, istri BJ Habibie, Ainun  yang lahir di Semarang, Jawa Tengah, 11 Agustus 1937 meninggal di München, Jerman, 22 Mei 2010 pada umur 72 tahun.
 
Kisah BJ Habibi dan Ainun, serta masa-masa mereka meniti karir dan rumah tangga telah difilmkan dengan judul Habibie & Ainun dan dirilis pada tanggal 20 Desember 2012. 
 
Pewarta: Husni Sahal
Editor: Kendi Setiawan
Rabu 11 September 2019 19:29 WIB
Nahdliyin Sampaikan Belasungkawa atas Meninggalnya BJ Habibie
Nahdliyin Sampaikan Belasungkawa atas Meninggalnya BJ Habibie
Presiden ke-3 Republik Indonesia, Ir H Bacharuddin Jusuf Habibie meninggal dunia di usia 83 tahun. (Ilustrasi: NU Online/Aceng Danta)
Jakarta, NU Online 
Presiden ke-3 Republik Indonesia, Ir H Bacharuddin Jusuf Habibie meninggal dunia usai mendapat perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (11/9) pukul 18.05 WIB. Pendiri Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) itu meninggal di usia 83 tahun.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan belasungkawa atas wafatnya pria kelahiran Pare-Pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 silam itu.

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun. Selaku pribadi maupun atas nama warga NU saya turut berduka mendalam atas wafatnya Pak BJ Habibie,” tutur Ketua PBNU, H Robikin Emhas,  Rabu (11/9).

“Semoga segala salah-khilaf beliau diampuni oleh Allah SWT, amal ibadahnya diterima dan segenap keluarga yang ditinggal tabah,” sambung Robikin.
 
Robikin menilai BJ Habibie sebagai sosok yang demokratis. Kecerdasan yang melekat pada diri almarhum telah menempatkan bangsa Indonesia diperhitungkan di level dunia.
 
“Sebagai bangsa kita sangat kehilangan Pak BJ Habibie. Beliau adalah seorang negarawan yang demokratis. Sosok yang kecerdasannya telah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional,” katanya.

Robikin juga melihat tokoh peraih The US Academy of Engineering ini sebagai sosok sederhana dan rendah hati. “Pak Habibie juga merupakan figur teladan dalam kehidupan keluarga. Kita dan generasi muda layak meneladaninya,” tandas Robikin.

BJ Habibie menjadi Presiden ke-3 setelah sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden. Ia mengantikan Presiden Soeharto yang menyatakan mundur pada 21 Mei 1998. Presiden Habibie menjabat sejak 21 Mei 1998 hingga 20 Oktober 1999, atau hanya sekitar 1 tahun lebih lima bulan. 

Setelah meletakkan jabatannya sebagai Presiden dan digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), BJ Habibie pun kembali menjadi warga negara biasa, ia kembali bermukim di Jerman walaupun biasa juga pulang ke Indonesia.

Editor: Zunus Muhammad

 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG