IMG-LOGO
Daerah

Dosen Unwaha Jombang Ubah Limbah Tahu Jadi Biogas


Rabu 11 September 2019 17:30 WIB
Bagikan:
Dosen Unwaha Jombang Ubah Limbah Tahu Jadi Biogas
Unwaha Jombang edukasi warga olah limbag tahu jadi biogas
Jombang, NU Online
Kabupaten Jombang punya masalah serius dengan limbah tahu. Hal ini karena banyaknya industri tahu yang tidak mengolah limbah cair dan cenderung lebih sering membuangnya ke sungai.
 
Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang memiliki pabrik tahu paling banyak. Hampir semua pengusaha rumahan tersebut membuang limbahnya ke sungai. Efeknya, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai mengalami pencemaran air sumur dan bau menyengat dari sungai.
 
Sebagai contoh industri tahu di Jombang terdapat di Dusun Bapang, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Jogoroto. Pabrik ini sudah berproduksi sejak tahun 2002 dan kini diajari memanfaatkan limbah.
 
Mayoritas pengusaha tahu beralasan keterbatasan dana dan tidak tersedia teknologi pengolahan limbah untuk industri kecil. Pembuangan limbah ini karena pengusaha tidak melihat kemanfaatan pengolahan limbah cair, tingkat kesadaran masyarakat terhadap lingkungan hidupnya masih rendah.
 
Mengingat industri tahu merupakan industri dengan skala kecil, maka membutuhkan instalasi pengolahan limbah dengan perangkat sederhana, biaya operasional murah, dan memiliki nilai ekonomis serta ramah lingkungan.
 
Hal itu di ungkap anggota Lembaga Peneliti dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur Suci Prihatiningtyas melakukan sosialisasi kepada pengusaha tahu untuk memanfaatkan limbah cair tahu sebagai biogas. 
 
Menurutnya, penemuan timnya berupa biogas yang bersumber dari limbah tahu akan sangat bermafaat, selain untuk menekan pencemaran lingkungan juga bisa dipakai untuk memasak dan merebus kedelai.
 
"Biogas merupakan gas yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik termasuk di antaranya kotoran hewan dan manusia, limbah domestik (rumah tangga), dan limbah hasil produksi. Kandungan utama dalam biogas adalah gas metana dan karbondioksida," katanya, Selasa (10/9).
 
Dikatakan, dalam proses pembuatan biogas ini pihaknya membutuhkan waktu sekitar 3-4 minggu. Biogas yang dihasilkan dari proses fermentasi dapat digunakan sebagai pengganti LPG yang dapat menyalakan kompor untuk memasak. Penemuan ini sudah diuji coba berkali-kali dan tidak ada masalah dengan masakan yang menggunakan gas dari limbah tahu ini.
 
"Kita berharap penemuan ini menciptakan dan mendorong kepedulian warga dalam menjaga konservasi lingkungan sekitarnya, dan limbah tahu yang selama ini dibuang ke sungai bisa menghasilkan gas dan digunakan untuk memasak dan keperluan lainnya," tambahnya.
 
Suci juga mengatakan, pihaknya kini juga sedang melakukan beberapa penelitian dalam bidang lain. Namun saat ditanya penelitian dalam bidang apa ia meminta bersabar. Hasil penelitian akan diumumkan jika sudah berhasil dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.
 
Pihaknya dalam beberapa tahun terakhir gencar melalukan penelitian sesuatu yang berkaitan dengan hajat masyarakat banyak. Hal ini sebagai kelanjutan dari tugas seorang intelektual yang harus mengabdikan diri kepada masyarakat. Menjadi penggerak kehidupan masyarakat menuju lebih baik.
 
Beberapa penemuan yang sudah dihasilkan yaitu pengurangan kandungan nikotin dalam tembakau, penemuan jamur yang bisa menyuburkan tanah bekas tambang batu bara dan beberapa jenis bibit unggul. 
 
"Diharapkan hasil penelitian ini dapat diterapkan oleh seluruh warga dan merasakan manfaatnya dan ini bersifat gratis," pungkasnya.
 
Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Abdul Muiz
 
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG