Santri Saat Ini Harus Ahli Agama dan Miliki Daya Saing

Santri Saat Ini Harus Ahli Agama dan Miliki Daya Saing
Foto bersama Kasubdit Instruktur Lembaga Pelatihan Swasta, Kasie Penyelenggara BLK Surakarta, asessor dan instruktur di Aula BLK Surakarta. (Foto: NU Online/A Rifqi H)
Foto bersama Kasubdit Instruktur Lembaga Pelatihan Swasta, Kasie Penyelenggara BLK Surakarta, asessor dan instruktur di Aula BLK Surakarta. (Foto: NU Online/A Rifqi H)
Surakarta, NU Online
Uji kompetensi bagi calon instruktur di Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) telah usai. Seluruh asessor telah menuliskan rekomendasinya. 
 
Menurut Archi Julianto yang menjadi penguji teknis, proses uji kompetensi yang ada di kelompoknya berjalan lancar. 
 
"Kalau di kelompok saya jumlahnya 8 orang untuk BLK Komunitas. Alhamdulillah berjalan lancar. Sudah sesuai dengan ekspektasi saya sebagai asessor," kata Archi, Kamis (12/9).
 
Karena itu dia berharap hasil yang keluar dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) sesuai dengan rekomendasi yang tertera. Diterangkan lebih lanjut, uji kompetensi pada dasarnya sebuah penilaian atas pelatihan yang sudah dilalui. 
 
"Apakah skill bahasa Inggris dengan skema frontliner sesuai dengan BNSP atau belum? Jadi diharapkan dengan kompetensi yang ada lewat uji kompetensi melalui LSP sebagai tangan panjang BNSP bisa memberikan sertifikasi yang riil sesuai standar," ungkapnya.
 
Dengan kompetensi tersebut, lanjutnya, para instruktur jebolan Dikdas BLK Surakarta tidak dipertanyakan kompetensinya. "Jadi sesuai standar. Harapannya nanti mereka bila ditugaskan menjadi instruktur sesuai dengan kompetensi yang mereka miliki. Jadi lebih mantab dan peserta didiknya sesuai dengan harapan BLK Komunitas tersebut," tuturnya.
 
Hal senada dikatakan, Zainal Muttaqin, asessor penguji metodologi menyatakan tidak menemukan kendala yang berarti pada 8 orang peserta yang diujinya. 
 
"Saya merekomendasikan kompeten," katanya, Kebetulan di kelasnya banyak yang sudah terjun di dunia pendidikan, lanjutnya.
 
Mereka pada umumnya sudah pernah mengajar, baik di sekolah formal maupun informal. Kelebihan lain, terdapat peserta yang berprofesi kepala sekolah, dan dosen. Sehingga dalam praktik presentasi berjalan dengan baik.
 
Priyo Harmoko, asesor penguji metodologi kelompok selanjutnya juga tidak menemukan kendala yang berarti dan memberikan rekomendasi kompeten. 
 
"Peserta mampu dan menguasai tentang bagaimana untuk menjadi seorang pelatih atau seorang instruktur. Walaupun untuk unit kompetensi belum terlalu familiar," tegasnya.
 
Namun, sambungnya, dalam pelaksanaan sudah cukup memadai dan kompeten sebagai pemberi materi atau seorang instruktur. Menurutnya, akan lebih baik bila di masa mendatang terdapat up grading atau pembelajaran lanjutan dan sejenisnya untuk meningkatkan kemampuan metodologi instruktur. Karena itu ia berharap para peserta dapat menjadi instruktur yang kompeten dan menghasilkan ilmu bermanfaat.
 
Sedikit berbeda, Sudigdo, menemukan kendala saat mengajar dan menguji teknis. Sebagai seorang instruktur pada prinsipnya ia harus siap menghadapi audiens. Dia menilai harapan yang dibangun oleh kementrian terhadap program tersebut sebagai peningkatan sumber daya manusia secara menyeluruh, termasuk di kalangan santri.
 
"Disamping memiliki pengetahuan di bidang agama, juga memiliki kompetensi untuk bersaing di dunia kerja," ujarnya.
 
Lebih lanjut, Digdo menjelaskan, saat ini dunia kerja membutuhkan pekerja yang kompeten sesuai bidangnya. Karena itu semua lini pelatihan harus diuji dan sesuai dengan standar nasional yang ditentukan BNSP. 
 
 
Pewarta: A Rifqi H
Editor: Ibnu Nawawi
 
BNI Mobile