Bagi Habibie, Pesantren Tidak Semata Tempat Dakwah

Bagi Habibie, Pesantren Tidak Semata Tempat Dakwah
Kiai Mutawakkil di hadapan santri dan jamaah usai shalat ghaib dan tahlil untuk BJ Habibie. (Foto: NU Online/Ali Ya'lu)
Kiai Mutawakkil di hadapan santri dan jamaah usai shalat ghaib dan tahlil untuk BJ Habibie. (Foto: NU Online/Ali Ya'lu)
Probolinggo, NU Online
Wafatnya Presiden ketiga BJ Habibie menjadi kabar duka bagi Indonesia. Sejumlah penghormatan dilakukanb sebagai bentuk kehilangan yang demikian mendalam. Bendera setengah tiang juga diperintahkan dikibarkan selama tiga hari sebagai bentuk kehilangan.
 
Hal serupa dilakukan ribuan santri dan simpatisan Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Pajarakan, Probolinggo, Jawa Timur. Mereka menggelar shalat gaib dan doa bersama, Kamis (12/9) malam. 
 
Doa bersama tersebut dipimpin oleh Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, KH M Hasan Mutawakkil Alallah yang diawali dengan shalat maghrib berjamaah dan dilanjutkan doa bersama di Masjid Jami' Albarokah pesantren setempat. Jamaah yang hadir larut dalam bacaan kalimat thayyibah dan doa untuk almarhum BJ Habibie.
 
Setelah doa dipanjatkan, Kiai Mutawakkil, sapaan akrabnya langsung memberikan sambutan di hadapan hadirin. Dirinya bercerita tentang Presiden Habibie yang pernah datang ke pondok itu. Kedatangan presiden ketiga tersebut dalam sebuah acara nasional beberapa puluh tahun lalu.
 
Dalam ceritanya, Kiai Mutawakkil nampak salut kepada Presiden Habibie yang tidak hanya cerdas dalam intelektual. Ia mengakui kecerdasan spiritual BJ Habibie sangat kuat. Hal tersebut dibuktikan dengan kiprah pemikirannya kepada pesantren.
 
"Konsep pemikiran BJ Habibie kepada pesantren memang sangat besar. Bahkan beliau mengakui bahwa pesantren ini bukan hanya tempat berdakwah. Melainkan situs sejarah yang harus dilestarikan," ungkap Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur tersebut. 
 
Kiai yang pernah diamanahi sebagai Ketua PWNU Jatim dua periode ini berharap, pengabdian Presiden BJ Habibie selama hidupnya dari sisi intelektual, agama, dan keluarga, menjadi ibadah yang membawanya menjadi husnul khatimah. 
 
Kiprahnya selama mengabdi untuk negeri demikian bermakna dan membekas sehingga sejumlah anak muda menjadikan Habibie sebagai salah seorang idola.
 
Demikian pula yang melekat dari sosoknya adalah sebagai ayah dan suami yang demikian perhatian kepada anak dan istri. Oleh sebab itu, teladan yang telah diberikan almarhum layak untuk dijadikan pegangan.
 
"Yang saya akui juga, kesetiaan cinta Bapak Habibie pada istrinya Ainun sangat luar biasa," tandasnya. 
 
 
Pewarta: Ali Ya'lu
Editor: Ibnu Nawawi
 
BNI Mobile