IMG-LOGO
Nasional

Yenny Wahid: Pendekatan Militeristik Harus Dihentikan

Ahad 15 September 2019 0:0 WIB
Bagikan:
Yenny Wahid: Pendekatan Militeristik Harus Dihentikan
Zanuba Arifah Chafsoh alias Yenny Wahid saat menerima pemuda asal Papua di kediaman Ciganjur, Jakarta, Jumat (13/9) (Foto: Abdullah Nuri)
Jakarta, NU Online
Pendekatan militeristik penyelesaian berbagai persoalan, harus dihentikan. Bukan hanya di Papua, tetapi juga di seluruh wilayah Indonesia. Pemerintah tidak boleh terus-menerus mengirim pasukan dengan alasan pertimbangan keamanan. Sebaliknya, pemerintah harus melakukan pendekatan dengan cara lain.
 
Zanuba Arifah Chafsoh yang biasa disapa Yenny Wahid menegaskan hal itu saat menerima para tamu pemuda dan mahasiswa asal Papua di Ciganjur, Jakarta, Jumat (13/9).
 
Menurut Yenny, pemerintah mestinya lebih banyak mendengarkan suara dari rakyat Papua, bukan hanya bertindak berdasarkan kepentingan elit saja.  

Lebih dari itu, Yenny berharap dapat tercipta poros ketiga sebagai solusi bagi riil bagi perjuangan Papua. "Jadi bukan hanya yang sini ngotot begini, yang situ ngotot begitu. Bila terus saling ngotot maka tak akan ada solusi," kata Yenny.

Menurut Yenny poros ketiga inilah yang bisa menawarkan solusi konkret bagi perdamaian di Papua. Dan, bila ada yang menginisiasi poros ketiga ini, dirinya bersama keluarga siap mendukung. 

"Saya berharap Teman-teman Papua inilah yang bisa menawarkan solusi jalan tengah atau the third way. Saya siap mendukung bersama keluarga dan teman-teman," tutur Yenny.
 
Lebih lanjut, Yenny menjelaskan bahwa perjuangan rakyat Papua mungkin masih akan panjang. Tetapi perjuangan yang paling mungkin adalah perjuangan memajukan masyarakat Papua agar mampu bersaing secara sejajar dengan masyarakat Indonesia lainnya. 
 
"Orang Papua bisa sukses di mana saja seluruh wilayah Indonesia. Orang Papua bisa menjadi Gubernur Jakarta, Jawa Tengah, atau Presiden Indonesia. Ini dijamin oleh konstitusi," terang Yenny.
 
Pewarta: Syaifullah Amin
Editor: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 15 September 2019 21:0 WIB
Sebelum Peperangan, Suriah Negara Indah dan Makmur
Sebelum Peperangan, Suriah Negara Indah dan Makmur
Gus Najih (tengah)
Kota Banjar, NU Online
Sebelum terjadinya peperangan, Suriah salah satu negara memiliki peradaban yang sangat tua, makmur, dan indah. Hal tersebut disampaikan oleh M Najih Arromadloni saat mengisi acara Halaqah dan Bedah Buku dalam rangka menyemarakan Muharaman 1441 H, Haul ke-22 KH Abdurochim, dan Masyayikh Ma'had yang berlangsung di Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo, Jumat (13/9).
 
Gus Najih sapaan akrabnya mengakui keindahan Suriah lantaran pernah mengenyam pendidikan di sana. Dijelaskan olehnya bahwa Suriah menjadi salah satu negara yang tidak memiliki hutang kepada negara lain.
 
"Suriah dulu negara makmur, negara yang tidak punya hutang, Peradabannya tinggi dan alamnya indah," jelasnya.
 
Bahkan, saking amannya di sana ketika ada seorang perempuan yang keluar pada malam hari tidak perlu khawatir jikalau ada yang mengganggu ataupun menjahatinya, hal demikian sudah biasa.
 
"Suriah dulu wanita kalau keluar malam itu sudah biasa, tidak khawatir, karena di sana sangat aman," tuturnya kepada ratusan peserta yang menghadiri kegiatan bedah buku.
 
Saat ini, keindahan tersebut hanyalah tinggal cerita. Dikisahkan oleh Gus Najih bahwa sejak Maret 2011 kekacauan di negara yang makmur tersebut dimulai dengan maraknya faham khilafah.
 
"Sejak Maret 2011 semua keindahan tersebut berubah drastis dengan munculnya gelombang khilafah memasuki Suriah," kisahnya dengan mimik wajah yang bersedih.
 
Dirinya menceritakan bahwa tahun 2011 merupakan awal mulanya muncul yang namanya sosial media dan menyebarnya berita hoaks yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.
 
"Waktu itu awal munculnya media sosial, masih banyak yang awan akan hal itu, sehingga penyebaran hoaks sangat mudah," paparnya.
 
Sebagai kaum terpelajar, Gus Najih mengajak kepada seluruh hadirin untuk melawan mereka, kaum radikal dengan cara mereka juga. Karena apabila didiamkan tidak menutup kemungkinan di Negara Kesatuan Republik Indonesia juga akan terkena dampaknya.
 
"Saya juga akan melawan mereka dengan hal yang sama," ajaknya. 
 
Kontributor: Wahyu Akanam
Editor: Abdul Muiz
Ahad 15 September 2019 19:45 WIB
Habib Luthfi: Mbah Maimoen 'Hamlul Bala’ fi Indonesia'
Habib Luthfi: Mbah Maimoen 'Hamlul Bala’ fi Indonesia'
Habib Luthfi bin Yahya di Sarang Rembang, Jateng
Rembang, NU Online
Rais 'Aam Idarah Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Yahya menyebut maqam KH Maimoen Zubair sebagai pelindung Indonesia dari bala’ (hamlul bala’). 
 
Demikian itu disampaikan oleh Habib Luthfi dalam peringatan 40 hari wafatnya KH Maimoen Zubair di kompleks Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Sabtu (14/9).
 
Habib Luthfi menceritakan ketika Rasulullah SAW didatangi oleh malaikat Jibril dan malaikat Izrail. Ketika itu Rasul bertanya bagaimana rasanya sakaratul maut. Kemudian doa terakhir Rasul adalah supaya semua beban sakit umatnya ditimpakan kepadanya, untuk menunjukkan bagaimana tanggung jawab seorang Rasul dan pimpinan terhadap umatnya.
 
Waratsah ini telah sampai kepada para pewarisnya, jangan dikira orang-orang yang seperti Mbah Maimoen itu dikiranya orang merdeka, tidak. Ada khusushiyah dan beban umat dipundaknya dan dibawa mati oleh beliau,” tutur Habib Luthfi.
 
Ketua Forum Sufi Dunia ini menjelaskan bagaimana yang satu auliya menanggung bala’nya umat. Sedangkan di bagian lain ada yang memiliki himayah-himayah yang luar biasa. Termasuk tugas Mbah Maimoen Zubair ini yang hamlul bala’ fil Indonesia, itu tugas beliau. Beruntunglah orang yang pernah mau mengambil ilmu dari beliau, walau bi harfan. Allahu yanfa’una bibarkatihim.
 
“Dari situ kita juga bayangkan bagaimana perjuangan yang dibawa beliau, yakni dengan berkiblat kepada waliyyut tis’ah (Wali Songo). Kita tidak usah jauh-jauh mengambil contoh yang ada di Baghdad, Yaman. Cukup itu yang ada di Indonesia itu sudah komplit maqamnya,” tegas Habib Luthfi.
 
Cucu Habib Hasyim bin Yahya ini juga memaparkan bahwa untuk wali yang tingkatannya Qutbil Ghauts sendiri ada lebih dari 80 orang di Indonesia. Seperti Maulana Makhdum Ibrahim bin Sayid Rahmatillah atau biasa disebut Sunan Bonang yang terkenal sulthanul auliya’ fi Jawa. Kemudian Maulana Hasyim (Sunan Drajat), dan Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
 
“Ketiga itu himayatul Indonesia, payungnya Indonesia. Sampai sekarang payungnya Indonesia dipegang oleh beliau bertiga. Dan diteruskan regenerasi-regenerasi, belum Quthb-quthb lain yang setelah beliau. Yang di Jawa Timur, Jawa Tengah atau Jawa Barat, banyak sekali,” imbuhnya.
 
Habib Luthfi kemudian melontarkan refleksi kepada jamaah yang hadir bahwa orang-orang yang sekarang jadi ulama, kiai itu sudah enak. Tapi apakah kita tidak pernah berpikir, ketika eyangnya Mbah Maimoen Zubair pertama kali masuk Sarang ini.
 
“Apa dianggapnya wali-wali dahulu enak seperti kita sekarang ini? Menghadapi orang yang belum ngerti beriman, belum ngerti caranya bersuci. Yang dihadapi masih separuh telanjang dan sebagainya. Dengan sabar beliau itu selalu mengharapkan orang itu baik di hadapan Allah SWT,” jelasnya.
 
Habib Luthfi berpesan agar kita semua jangan menjadi orang yang madakhil qubur. Yaitu golongan yang bisanya hanya memuji ketika wali tersebut sudah wafat. Tetapi menyangsikan sebagian perilaku wali tersebut ketika wali itu masih hidup. 
 
“Untung kita tidak menangi Sunan Kalijaga, yang mungkin saja akan banyak dari kita yang tidak percaya kalau beliau itu wali sebab metode dakwahnya dan sebagainya,” paparnya.
 
Habib Luthfi kemudian kembali mengajak seluruh hadirin untuk berefleksi. Menggugah ingatan bahwa kenikmatan hidup beragama sekarang ini merupakan jasa para wali terdahulu, jasa orang-orang seperti Mbah Maimoen.
 
“Tapi kemana sekarang Mbah Maimoen-Mbah Maimoen itu. Maka, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menumbuhkan Mbah Maimoen-Mbah Maimoen baru yang bisa menentramkan umat, menyatukan umat, meneduhkan umat, dan seterusnya,” tandas Habib Luthfi mengakhiri.
 
 
Kontributor: Farid
Editor: Abdul Muiz
Ahad 15 September 2019 15:30 WIB
Unusa Gelar Diklat Penguatan bagi Ratusan Kepala Sekolah di Magetan
Unusa Gelar Diklat Penguatan bagi Ratusan Kepala Sekolah di Magetan
Kuliah umum kepala sekolah se-Kabupaten Magetan oleh Unusa. (Foto: NU Online/Unusa)
Magetan, NU Online
Pendidikan yang bermutu sangat membutuhkan tenaga pendidik profesional yang mempunyai peran strategis dalam pembentukan pengetahuan keterampilan dan karakter peserta didik. Menjadi tenaga pendidik yang profesional akan terwujud bila ada upaya untuk meningkatnya ada peran serta dan dukungan dari kepala sekolah.
 
Karena pentingnya bentuk keprofesionalan seorang kepala sekolah, 549 kepala sekolah dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Magetan mengikuti kuliah umum. Kegiatan dalam rangka diklat penguatan kepala sekolah Lembaga Penyelenggara Diklat (LPD) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). 
 
Kegiatan ini menghadirkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia (RI) periode 2009-2014, Mohammad Nuh. Kepala Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LP2KS) Kemendikbud RI, Nunuk Suryani, Bupati Magetan, Suprawoto. Juga tampil moderator, Achmad Jazidie selaku Rektor Unusa.
 
Mohammad Nuh mengungkapkan agar kepala sekolah dan guru hendaknya mendidik sesuai zamannya. Hal ini sangat penting, karena dengan penyesuaian zaman, maka anak akan bisa beradaptasi dengan lingkungannya. 
 
“Jangan sampai, seorang guru atau kepala sekolah membuat kebijakan yang tidak sesuai dengan zamannya. Yang harus dilakukan adalah menjadikan murid-murid sebagai orang pemungkin,” katanya, Ahad (15/9).
 
Seorang pemungkin, dalam pandangannya akan bisa menggapai impiannya. “Dan memiliki prestasi yang melejit," ungkapnya saat memberikan materi di Pendopo Surya Graha Kabupaten Magetan.
 
Mohammad Nuh menambahkan, menjadi pendidik adalah profesi yang sangat mulia. Tak ada profesi yang paling menguntungkan baik dilihat dari sisi dunia maupun akhirat, selain profesi pendidik.
 
"Menjadi pendidik adalah bentuk pengabdian yang tiada batasnya. Sehingga hanya manusia-manusia tertentu saja yang dipilih oleh langit untuk terjun dan bermain peran sebagai pendidik," tambahnya.
 
Sama halnya dengan Mohammad Nuh, narasumber kedua mengajak kepada seluruh kepala sekolah untuk menjadi seseorang yang profesional dalam mengatur sebuah sekolah. 
 
Nunuk Suryani mengungkapkan kegiatan penguatan kompetensi kepala sekolah ini merupakan kegiatan yang strategis dan penting khususnya bagi para kepala sekolah. Karena bagi para kepala sekolah yang telah diangkat dan belum memiliki sertifikat nasional, perlu dikuatkan. 
 
"Oleh karena itu harapannya bagi para kepala sekolah yang mengikuti kegiatan ini benar-benar mau belajar, mau berubah dan mau meningkatkan kompetensi dalam rangka untuk mengembangkan sekolah lebih baik," ungkap perempuan yang saat ini menjabat sebagai Ketua LPPKS Kemendikbud RI. 
 
Guru besar UNS ini berharap secara keseluruhan kepala sekolah di Kabupaten Magetan kompetensinya akan merata sehinga nantinya tidak ada sekolah yang tidak unggul. Sehingga nantinya setelah mengikuti kegiatan ini, para kepala sekolah yang lulus akan mendapatkan sertifikat nasional.
 
"Nantinya lebih semangat dan berpacu bersaing berkompetisi untuk mengembangkan sekolah mereka masing-masing sehingga seluruh sekolah yang ada di Magetan menjadi unggul yang nantinya dapat menghasilkan tamatan yang berkualitas," pungkasnya. 
 
 
Editor: Ibnu Nawawi
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG