IMG-LOGO
Nasional

Hancurnya Suriah Awalnya karena Berita Hoaks


Ahad 15 September 2019 09:30 WIB
Bagikan:
Hancurnya Suriah Awalnya karena Berita Hoaks
UNESCO menyebut Masjid Umayyah di Aleppo ini sebagai "salah satu masjid paling indah di dunia Muslim". Situasi perang membuat situs bersejarah ini hancur. (Ilustrasi: Reuters)
Kota Banjar, NU Online
M Najih Arromadloni salah seorang santri yang pernah mengenyam pendidikan di Suriah menceritakan kondisi terkini negara tersebut dalam keadaan hancur lebur. Padahal semenjak tahun 2009 saat dirinya mulai hidup di sana untuk kuliah, kondisinya sangat makmur, indah, dan damai.
 
Namun, sejak tahun 2011 dirinya mengisahkan bahwa dengan masuknya faham khilafah ke Suriah dibarengi dengan awal munculnya sosial media kehancuran dimulai dengan maraknya berita hoaks.
 
"Sejak Maret 2011 semua keindahan tersebut berubah drastis dengan munculnya gelombang khilafah memasuki Suriah," cerita Gus Najih panggilan akrabnya  kepada ratusan hadirin yang mengikuti kegiatan Halaqah dan bedah buku dalam rangka menyemarakkan Muharaman 1441 H, Haul ke-22 KH Abdurochim, dan Masyayikh Ma'had yang berlangsung di Pesantren Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Jumat (13/9).
 
Dikatakan, hal yang sangat memprihatikan menurut Gus Najih bahwa warga di sana yang sudah terpapar oleh faham khilafah tidak segan-segan membunuh orang yang dianggap kafir. Bahkan, anak-anaknya diajarkan untuk membenci orang yang tidak sepemahaman dengan dirinya bahwa darahnya halal.
 
"Mereka ketika membunuh tidak mempunyai rasa sedih, bahkan anak-anak mereka sejak kecil sudah diajarkan menganggap orang yang dibunuh adalah kafir," paparnya.
 
Saat ini, di Indonesia sedang menjalar virus Hijrah, bahkan sebagian kaum milenial juga sudah ada yang terpapar. Gus Najih menerangkan bahwa ketika hijrah karena Allah dan kembali ke jalan yang benar merupakan sebuah hidayah. Namun, dirinya menyesalkan apabila hijrah malah menjadi orang yang beringas dan dengan mudah mengkafirkan orang yang tidak sepaham dengan dirinya.
 
"Sekarang sedang menjalar virus hijrah, tapi hijrahnya dari nakal menuju radikal, sehingga setelah hijrah mereka malah mengkafir-kafirkan orang lain," terangnya.
 
Lebih lanjut, kaum yang kerap disebut dengan kaum radikal tersebut kerap ditemukan banyak kekeliruan dalam memahami khilafah. Padahal kalau ditelusuri dengan teliti, khilafah jilid kedua tidak ada dasar yang kuat.
 
"Khilafah tidak mempunyai dasar dalam Al-Qur'an dan Hadits," tuturnya.
 
Gus Najih dalam kesempatan tersebut mengajak kepada ratusan hadirin untuk senantiasa membentengi diri dari faham radikal. Karena pada faktanya bukan keindahan yang akan didapat, namun kehancuran sebuah negara yang dihasilkannya apabila warga negaranya dengan masif terpapar virus radikal.
 
Dikatakan, sebagai umat Islam yang baik tentunya akan selalu menjaga kedamaian dalam negara tempat kelahirannya, karena sudah diajarkan oleh para ulama bahwa menjaga negara merupakan ibadah yang mempunyai pahala banyak.
 
"Menjaga negara adalah ibadah, pahalanya sangat besar, karena tanpa menjaganya kita tidak bisa melaksanakan ibadah dengan tenang," tegas Gus Najih.
 
Menjadi warga Negara Indonesia harusnya selalu bersyukur, karena semuanya bisa kita dapatkan dengan mudah. Bahkan, dengan keanekaragaman yang ada kita tetap bisa hidup bergandengan.
 
"Di negara konflik, jangankan menjalankan ibadah lima waktu, mau menjalankan shalat Jumat saja mereka menunggu pengumuman dari pemerintah bahwa masjid yang akan digunakan aman dari bom," pungkasnya. 
 
Kontributor: Wahyu Akanam
Editor: Abdul Muis
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG