IMG-LOGO
Cerpen

Akhir September

Ahad 15 September 2019 12:0 WIB
Bagikan:
Akhir September
Ilustrasi banglanang.blogspot.com
Oleh Abdullah Alawi
 
Di dalam kamar kost 3x4 yang nyaris tak pernah rapi, yang masa kontraknya habis tanggal 10 September, sambil tengkurap, dia menghitung, mengira-ngira, beberapa orang yang jadi target. Di pikirannya muncul beberapa nama, Asep, Abun, Bowo, Acil, Luqman. Dia mendata nomor-nomor telepon yang bisa dihubunginya, kenalannya atau saudaranya. 

Itu jalan paling waras sebelum awal Oktober, setelah kenyataannya dia cuma bisa menggondol uang dua ratus lima puluh ribu rupiah dari kampungnya. Uang itu didapat sudah habis-habisan, jual ini jual itu. Pinjam sana pinjam sini. Sementara dia harus membayar tujuh ratus lima belas ribu rupiah. Berarti tinggal lima ratus ribu lagi. Dari mana uang sebanyak itu selain pinjam. Mau minta bantuan ke pamannya yang tinggal di Tangerang? Ah, tak mungkin. Dia kapok ke sana. Saudara-saudara dan sepupunya pun jarang ke sana. Mereka gentar sama isterinya. Ogah dikasih muka masam. Mau pinjam ke pamannnya yang di Condet? Ah, dia bukannya tak mau membantu, tapi apa mau dikata.

Dulu, katanya SPP tidak pernah naik di kampusnya karena selalu diganjal oleh demo mahasiswa yang lumayan radikal, revolusioner sisa-sisa ruh angkatan 98 masih ngendon. Tapi itu dulu, kini angkatannya menjadi lambang ketertundukan. Mereka tak peduli sama masalah-masalah seperti itu. Mereka telah ditertibkan, dinormalisasikan untuk kemudian ditundukkan. Dan inilah yang diinginkan oleh birokrasi kampus.

Sambil tengkurap, dia membayangkan saat ayahnya meminjam uang sambil menekurkan muka, tapi dia cuma mendapatkan jawaban seperti ini,

“Sudah kuduga sebelumnya,” kata Mbah Karta sambil mengisap rokok kretek Djarum Coklat. “Kalau tak punya duit kenapa berani-berani menguliahkan anak? Pak Oding saja yang punya penggilingan padi dan luas sawahnya kelabakan nguliahin si Ruslan. Aplagi kamu. Jangan mimpilah. Hidup ini harus realistis!”

“Saya tak perlu penjelasan yang panjang lebar tentang itu, tapi sekarang bisa tidak pinjam uang buat menambah uang semesteran si Jalu?”

“Duitnya sudah digondol sama si bungsu buat masuk sekolah favorit di kota.”

“Jadi, tak bisa?”

“Ya.”

Ada kemirisan yang melunyah-lunyah saat dia mendengar cerita ayahnya. Cerita itu begitu menohok rabunya, menampar mukanya. Dadanya terasa sesak. Darahnya seperti ada yang mengaduk-aduk. Isi kepalanya seperti ada yang menekan-nekan. Benaknya pengap penuh sesak. Wajah ayahnya, ibunya, Mbah Karta, melintas-lintas. Dia telah mengorbankan perasaan ayahnya, menjual harga diri ibunya. Dia ingin rasanya hengkang ambil langkah seribu dari dunia perkuliahan yang membikinnya sakit hati. Jadi sarjana pun tak ada jaminan. Sarjana banyak yang nganggur. Dia harus berdesak-desakkan dengan mereka menambah pengangguran. Tapi niatnya itu ditolak mentah-mentah sama ibunya.

“Sudah kepalang tanggung Jalu, satu petak kebun telah melayang. Sawah sudah digadaikan. Kamu kan sekarang sudah semester lima. Berarti kamu tinggal beberapa semester lagi. Sebentar lagi kamu jadi sarjana. Kalau jadi sarjana, nanti mudah cari  kerja. Kalau putus di tengah jalan, pasti tetangga kita tak kurang soraknya.”

Terasa mual dia mendengar kata ‘sarjana’ yang diucapkan ibunya. Entah kenapa kata itu seperti telah terpencil jauh-jauh di benak kepalanya. Kenapa juga urusan kuliah dihubung-hubungkan dengan masalah kerja. Apalagi jurusan yang digelutinya tidak ada sangkut-pautnya dengan dunia kerja. Tapi dia menyadari logika ibunya mungkin seperti itu. Dia jadi merasa bersalah kenapa dulu memaksakan diri ingin kuliah. Dia merasa bersalah sampai saat ini masih belum mampu membiayai kuliah sendiri. Dia hanya mengisap keringat ayahnya sampai sebesar ini seperti kapitalis menghisap buruh tak henti-hentinya.

Memang kuliah hanyalah untuk kelas sosial tertentu. Dari dulunya memang begitu, ditentukan oleh status sosial. Pada masa-masa kolonial hanyalah anak-anak bangsawan dan juragan-juragan yang bisa sekolah. Ironisnya itu tak jauh berbeda dengan sekarang. Orang yang bisa mengenyam bangku perguruan tinggi senantiasa didukung oleh status sosial tertentu. Orang miskin harus (di)singkir(kan). Dia harus tetap saja jadi subordinat. Subaltern. Orang miskin hanyalah diatasnamakan oleh wakil-wakilnya di parlemen, didefinisikan, diarahkan untuk kemudian ditundukkan oleh struktur yang sulit dilintasi. Jika hidup itu berputar kadang di atas kadang di bawah, jangan katakan padanya! Katakan saja pada orang lain. Putaran-putaran itu tak berlaku baginya.

Akhirnya dapat juga dia mengmpulkan uang sehingga genap tujuh ratus lima belas ribu rupiah. Sebenarnya dia mau menunda pembayaran, tapi birokrasinya rumit luar biasa. Disuruh menemui pak ini kemudian disuruh menemui bu itu. Disuruh membikin pernyataan ini, bikin surat itu. Menunggu lama pak anu yang sedang asyik ngobrol dengan tamunya, tamu penting, kemudian disuruh menemui bu anu. Lempar sana lempar sini yang akhirnya pak Pudek bilang,

“Sekarang sudah tidak ada lagi kebijakan penundaan pembayaran. Usahakan dululah sampai akhir pembayaran. Paling juga ada emergency pada hari terakhir pembayaran. Kamu harus menemui Pak Purek.”

“Jadi tak bisa, Pak?” tanyanya seolah tak percaya atas apa yang didengarnya.

“Bukan tak bisa. Tapi usahakan dululah sebelum akhir pembayaran. Masih ada empat hari lagi.”

Dia pergi meninggalkan Pak Pudek yang super sibuk yang sulit ditemui itu. Dia merasa kasihan juga padanya yang selalu padat jadwalnya. Dia mungkin tamu yang tiada arti baginya. Dia berjalan menuruni tangga darurat dengan kaki yang lemas. Dia malas turun lewat lift yang tak terlalu dipentingkannya. Terlalu mewah buatnya. Sekali turun saja mahal biaya operasionalnya. Cuma dia merasa semakin hebat kampusnya semakin rumit birokrasinya. Semakin cantik kampusnya, tapi berbanding terbalik dengan kesejahteraan mahasiswanya. Atau itu mungkin perasaan dia saja sementera teman-temannya tidak. Semoga dia saja yang punya perasaan begitu.

Dari si Acil dia dapat pinjam dua ratus ribu. Itu pun duitnya buat beli komputer. Setelah menceritakan keadaannya dengan panjang lebar sejelas-jelasnya layaknya seorang diplomat negara dunia ketiga mengemis ke IMF, Acil mengabulkan juga.

“Tapi kapan kamu mau bayar, Jal? Sorry, soalnya aku membutuhkan banget itu komputer. Aku malas ngetik di rental mulu. Banyak virus.”

Dia tertegun. Dia tahu bahwa dia tak tahu kapan dia punya uang. Dia tak bisa membayangkan dan memperkirakannya. Dia tak bisa menentukannya. Tapi seolah-olah ada yang  menggerakan lidahnya, dia bilang juga.

“Akhir September. Ya, akhir September.” Seperti tak disadarinya kata-kata itu meluncur seperti pesawat tempur tanpa dia bisa mengendalikannya. Tapi dia malu untuk menjilat ludah yang telah dikeluarkannya. Tiba-tiba tubuhnya menggigil seperti Muhammad yang didatangi Jibril di goa Hira. Tapi dia tak punya Khadijah untuk menyelimuti tubuhnya. Dia tak punya Waraqah bin Naufal untuk menerangkan kedatangan Jibril. Tapi  dia jelas- jelas tak didatangi Jibril. Tapi dia menggigil….

“Kenapa kamu, Jal?”

Kontan saja pertanyaan itu membuatnya kaget.

“A…akhir September, Cil, akhir September,” untuk kedua kalinya kata-kata  yang tak diinginkannya itu meluncur, seperti ada yang menggerakkan lidahnya. Dia tertegun lagi.

“Ya sudah. Aku tunggu akhir September. Aku percaya sama ente.”

Dari si Asep teman sedaerahnya yang bekerja di koperasi, dia dapat pinjaman seratus ribu rupiah. Kalau dalam keadaan mepet begitu, teman yang tak begitu akrab pun didatanginya. Dia mencoba menggali empati temannya. Dia melakukan hal yang sebenarnya dibencinya. Tapi mau apalagi. Dalam keadaan seperti itu, meminjam adalah hal yang paling waras untuk mempertahankan kuliahnya. Soal malu dan harga diri lupakan dulu sebentar. Padahal kalau dipikir-pikir apa yang dicarinya di bangku kuliah. Sama ingin ijazah. Ingin ada potret yang berpakaian toga di ruang tamu rumahnya.

“Aku cuma bisa minjemin seratus ribu,” kata Asep. Soalnya kemarin aku habis beli tetraloginya si Pram.

“Tetraloginya si Pram?” Tanyanya terperengah bercampur gembira karena dia pernah mendengar nama besar buku karya Pram yang tak terbeli itu. Dia terperengah karena karena mahalnya buku karya pulau Buru itu. Dia gembira karena bakatnya sebagai peminjam buku bisa disalurkan. Si Anjung pernah bercerita, kalau sudah baca buku itu, sejarah Indonesia selesai. Dan, kalau baca buku-buku lain terasa hambar. Meski begitu, tetap saja dia tak bisa membayangkannya.

“Tapi sekarang belum bisa dipinjemin,”  kata si Asep seperti memahami urat yang tebelit di mukanya sebagai bakat seorang peminjam yang tangguh.

Omongan tu sebenarnya menohok batok kepalanya dan menelanjangi isinya. Tapi dia mengakuinya.

“Akhir September ya, Sep,” katanya. Lagi-lagi kata itu keluar tanpa diinginkannya. Padahal Asep tak menanyakannya. Kata-kata itu keluar begitu saja persis ketika ditanya si Acil. Seperti ada titah yang tak diketahuinya. Kemudian tubuhnya menggigil. Bulu tengkuknya berdiri. Itu di luar pengetahuannya. Yang dia tahu adalah, bahwa dia tidak tahu kapan punya uang.

Dua ratus lima puluh ribu ditambah dua ratus ribu ditambah seratus ribu jumlahnya lima ratus lima puluh ribu. Berarti untuk genap menjadi tujuh ratus lima belas ribu adalah seratus enam puluh lima ribu lagi. 

Kemarin dia mendatangi si Luqman. Tapi dia juga sama kalut mikirin SPP.

“Jalu, Jalu, mana gue punya duit. Gue juga semester ini babak belur,” katanya. “Aneh juga ya, kuliah ya kuliah, tapi yang dipusingin SPP. Bukannya mata kuliah. Buku-buku tak terbeli. Kost-an naik terus. Biaya hidup semakin mahal. Apalagi nanti BBM naik ke ubun-ubun. Mampus!”

“Ini jakarta, Bung. Kata orang, ibu kota lebih kejam dari pada ibu tiri.”

“Ah, elu bisa aja.”

“Tapi emang bener kan?”

“Iya sih.”

“Jadi nggak bisa, Man?”

“Entarlah kalau gue udah jadi koruptor. Makanya elu jangan dulu lulus.”

“Sialan!”

Dia terus mendatangi teman-temannya, kenalannya, atau siapa saja yang kira-kira bisa meminjamkan duitnya. Dia bersafari dari kost ke kost seperti pejabat masa orde baru. Mula-mula dia bertanya tentang ini tentang itu, dari hal-hal yang ringan sampai masalah negara, dari pemikiran tokoh hingga demo mahasiswa, kemudian ujung-ujungnya kepada masalah pembayaran dan akhirnya dia sampai pada kata, bisa pinjam uang nggak, buat nambahin SPP? Kontan saja itu membuat yang diajak bicara menjadi meringis seperti disengat tawon. Si Bowo, si Ikin, si Kairin dal lain-lain pernah merasakan sengatan tawon itu. Dia pernah mendatangi kawannya ketika di kampung yang sekarang bekerja di Tanah Abang, tapi dia juga sekarang lagi pahit. Dia pernah mendatangi kawan temannya yang tak begitu akrab, tapi dia mendapatkan jawaban yang tidak mengenakkan. Dia pernah mendatangi kawan dari teman kawannya, tapi mereka juga berhati-hati meminjamkan duit pada orang yang tak begitu akrab. Pedih juga dia rasakan ke sana ke mari cuma mau pinjam uang. Tapi mau apa lagi, ini mungkin jalan yang paling masuk akal.

Tepat pada hari terakhir pembayaran, uang itu bisa genap tujuh ratus lima belas ribu rupiah. Hasil dari pinjaman teman waktu di SMA-nya yang sebenarnya buat pembayaran kost, kurangnya ditambah oleh teman sekamarnya. Tentu saja dengan mengatakan dia akan membayarnya akhir September. Kata-kata yang tak pernah dikehendakinya itu selalu saja muncul. Tubuhnya menggigil. Dia menggadaikan akhir September.

Dadanya terasa lega, napasnya terasa plong, gedung kampusnya yang angkuh itu terlihat lagi, meski dia merasakan mukanya semakin tebal, seperti muka badak mungkin. Persetan dengan muka tebal. Persetan dengan muka badak. Persetan! Yang jelas sekarang adalah, bahwa dia masih bisa mempertahankan kemahasiswaannya. Peduli amat mahasiswa apa. Mahasiswa gotong royong, mahasiswa karbitan, mahasiswa dodol, agent of chang, agent of status quo. Untuk sementara, dia tidak memusingkan pelabelan-pelabelan semacam itu. Yang membuatnya pusing adalah: pembayaran. Yang lain tidak!

Waktu terus menggerogoti tanggal seperti rayap memangsa kayu keropos. Agustus habis, September pun datang. Dan September pun sekarang sudah hampir berakhir. Akhir September! Dia melewati tanggal demi tanggal bulan September dengan menggigil seperti ketika dia meminjam uang dari temannya. Akhir September menagih janji. Kata-kata yang diucapkannya menjadi bumerang. Senjata makan tuan. Dia tak bisa membayangkan uang dari mana. Dia tak bisa membayangkan muka teman-temannya dan kata-katanya. Barang-barangnya sudah dikeluarkan sama ibu kostnya karena masa kontraknya sudah ludes. Ada uang ada kostan, tak ada uang maka enyahlah. Barang-barangnya yang cuma sedikit, dia titipkan di temannya yang lain yang tak sempat dipinjami duitnya. Dia sekarang nomaden seperti di zaman batu.

Sekarang kuliah sudah aktif, tapi dia belum berani memasuki kelas yang merasa bukan haknya. Anak-anak baru begitu cerianya setelah melewati propesa. Mereka menanggalkan pakaian seragamnya yang telah lama mengekangnya. Tapi sekarang mereka mengahadapi penyeragaman bentuk lain, penyeragaman pemikiran dan ideologi. Tapi yang jelas sekarang mereka adalah, m-a-h-a-s-i-s-w-a. Pak dosen sudah membusa di depan kelas. Mahasiswa tekantuk-kantuk di belakang atau menjadi pendengar setia. Tapi ada sedikit pertanyaan dan perdebatan untuk membuktikan bahwa kelas itu sedang ada proses: kuliah.

Teman-temannya yang lain sekarang sibuk diskusi dan membikin makalah di forum studi. Badan Eksekutif Mahasiswa mempersiapkan seminar. Organisasi-organisasi mahasiswa sibuk mempersiapkan aksi menolak kenaikan harga BBM. Sementara tema-temannya yang lain sibuk mengejarnya.  

“Mana akhir Septembermu, Jalu???!!!”
 
 
Ciputat, September 2005
 
Penulis adalah Nahdliyin, tinggal di Bandung

 
Bagikan:

Baca Juga

Sabtu 31 Agustus 2019 17:30 WIB
Dalil Penggali Lubang
Dalil Penggali Lubang
Lukisan Tukang Gali" karya Sudjana Kerton (lukisanku.id)
Oleh Abdullah Alawi 
 
Orang-orang masih berkutat dengan selimut di tempat tidur sebab dingin pagi di pedusunan kampung itu membuat mereka enggan menjemput hari. Tapi lain lagi dengan Jalu. Ia sudah mengambil pacul yang terletak di pojok dapur rumahnya. Beberapa saat, tangannya mengusap-usap dorannya yang sudah mengilap saking seringnya bersentuhan dengan telapak tangannya. Hampir tiap hari dia tak jauh dari benda itu di kebun atau di sawah. 

Kemudian dia pergi ke kebunnya setelah makan singkong bakar dan menghabiskan segelas kopi yang disuguhkan isterinya. Pacul dipanggulnya di pundak kanan. Di mulutnya terselip rokok kretek. Maka berhamburanlah asap yang acak kesana kemari dari mulutnya beradu dengan udara pagi. 

Ketika sampai di kebunnya, pacul itu langsung diayunkan ke tanah. Dia menggali. 

”Buat apa kamu menggali?” kata suara yang bersumber dari arah belakangnya.

”Untuk membikin lubang. Apa kamu tidak lihat?” jawabnya tanpa menoleh dari arah mana suara itu datang. Dia sudah hapal suara itu. Suara Sabri. Pemilik kebun di samping kebunnya. Sementara tangannya masih terus mengayunkan pacul. Menggali lubang.

”Buat apa lubang itu?”

“Yang jelas bukan untuk menguburmu.”

“Hmmm..., kalau bukan untuk menguburku, sekali lagi aku tanya, buat apa lubang itu?”

“Buat menanam pisang. Dan sekarang kamu jangan lanjutkan pertanyaan buat apa aku menanam pisang? Karena akan lelah aku menjawabnya. Kemungkinan-kemungkinannya terlalu banyak. Kalau aku menanam pohon pisang dan kemudian misalnya dia tumbuh dan menjadi besar, akan banyak kegunaan-kegunaan dan kemungkinannya. Daunnya bisa dipakai untuk pepes ikan, bungkus lontong, atau untuk bungkus apa saja yang bisa dibungkus oleh daun pisang. Gedebognya bisa dipakai tempat menancapnya anak wayang dalam pertunjukan wayang golek. Bisa juga dijadikan alas untuk memandikan orang mati. Jantungnya bisa dimakan kalau disayur. Getah yang diambil dari bonggolnya, katanya, bisa dijadikan obat saluran kencing atau disentri. Dan kamu pun tahu kalau membikin rumah, setandan pisang sering digantungkan bersama geugeus padi. Apalagi kalau sudah berbuah, buah itu bisa dimakan sendiri, dijual, dicuri, dimakan codot, atau bahkan busuk di pohon tanpa sepengetahuanku. Belum lagi kemungkinan-kemungkanan lain yang aku sendiri tak bisa mengabsennya 
satu per satu karena aku akan kelelahan. Oh ya, dan katanya lagi...”

“Sudah, sudah...!” Sabri memotong.

Tapi Jalu melanjutkan, ”Atau bahkan aku hanya menggali tanah ini. Dan tidak jadi menanam pisang karena aku keburu sakit atau mati. Atau aku berubah pikiran kemudian menggantinya dengan menanam pepaya, misalnya. Atau kalau pun aku sempat menamnya, bisa jadi tiba-tiba musim kemarau. Pisang yang kutanam tak bisa bertahan hidup. Apalagi kalau nanti dia telah tumbuh, menjadi besar. Aku tidak tahu apakah dia berbuah atau tidak, karena aku tak bisa membuahinya. Kewajibanku adalah, menanamnya bukan membuahinya. Aku cuma punya harapan agar dia berbuah. Ya, cuma sekadar harapan. Tak lebih!”

“Tapi kau telah menjawabnya sendiri semuanya. Dengan lengkap pula. Katanya kamu kelelahan. Bukankah itu telah menguras energimu? Kau telah bertanya dan sekaligus menjawab. Dua perbuatan. Masih mending kalau aku yang bertanya, dan kau cuma mejawab. Lagi pula kamu seolah yakin bahwa aku akan menanyakan manfaat pisang yang kau sebutkan tadi yang sebenarnya tak kuperlukan. Bukankah ada juga kemungkinan-kemungkinan lain selain itu. Misalnya, aku tidak bertanya lagi, dan aku langsung pergi. Atau hanya diam sambil merokok memperhatikan kamu menggali. Dan, kemungkinan-kemungkinan lain yang aku sendiri tidak mungkin mengurainya satu per satu karena aku juga takut kehabisan energi seperti kamu.”
***
Dan pisang yang ditanam Jalu itu tumbuh dan berkembang dengan cepat. Batangnya gemuk, daunnya hijau muda, dan mulus. Jalu memeliharanya dengan telaten. Dia menumpuk jerami yang sudah hampir membusuk di sekitar pohon pisang supaya air tidak cepat menguap. Hampir tak pernah terkena penyakit semacam ulat yang menyerang daun. Daun-daun kering yang sudah menjuntai karena tua dia tebas dengan golok. Ternyata musim kemarau yang dibayangkan dalam kemungkinan Jalu tidak datang. Hujan masih tetap turun meski sesekali. Padahal seharusnya sudah musim kemarau total menurut ahli prakiraan cuaca di BMG dan yang dituliskan pada pelajaran-pelajaran sekolah dasar. Dan kalau sudah lama membusuk bisa menjadi pupuk untuk kesuburan pisang. Sekarang setandan buah pisang masih muncul dari sela-sela pangkal pelepah daun. Buahnya besar-besar. Tinggal menunggu matang. 

“Bagaimana kalau pisang ini aku tawarkan pada tengkulak pisang? Pisang sebagus ini pasti dia mau. Duitnya bisa diambil sebagian sekarang,” kata Sabri sambil menyorongkan sebatang rokok kretek. Jalu langsung menerima dan kemudian membakarnya.

"Aku belum bisa menentukannya. Aku takut nanti tidak sesuai dengan kenyataan. Bisa jadi nanti malam, esok atau lusa, tiba-tiba ada angin puting beliung yang menghantam pohon ini hingga tumbang. Buahnya tanggal berpencaran dari tandan. Seperti semula, terlalu banyak kemungkinan-kemungkinannya. Lagi pula aku tidak suka jual-beli semacam itu.” 

Sabri terdiam sambil menghisap rokok kemudian memain-mainkan asapnya, “Ini pisang apa namanya?” tanyanya.

“Aku tidak tahu apa nama pisang ini. Aku hanya menanam dan tak sempat menanyakan pada siapa pun termasuk kepada orang yang memberi benih pisang ini. Aku tak sempat membayangkan sebelumnya bahwa suatu hari nanti akan ada orang yang bertanya mengenai nama pisang ini. Seandainya aku tahu akan ada yang bertanya seperti yang kau tanyakan tadi, pasti aku akan menanyakannya pada pemberi benih atau pada orang lain. Dalam pikiranku waktu itu yang penting menanam, kemudian memeliharanya, merawatnya, memberinya pupuk. Tak sempat memikirkan prihal namanya. Maafkan aku tak bisa menjawab pertanyaanmu.”

Sabri tersenyum kecut. Tapi dia berkata lagi, “Bagaimana kalau kamu sendiri yang menamainya. Ini kan pisang kamu. Jadi terserah kamu untuk menamainya. Misalnya kamu sebut saja pisang Jalu. Kamu akan terkenal. Pisang Jalu akan menjadi pembicaraan. Kalau aku yang menanmnya, aku juga mungkin akan menamainya Pisang Sabri.”

“Aku belum berpikir ke arah sana. Tentang hal ini, aku akan membicarakannya dengan pemberi benih pisang. Nanti akan aku beri tahu kamu hasilnya.”
***
“Sekarang kemana pisang ini?” tanya Sabri.

“Aku tidak tahu. Sama sekali tidak tahu! Ketika aku datang ke sini, buah pisang telah lenyap. Sementara gedebognya tidak runtuh. Di luar kebiasaan dalam prihal mengambil buah pisang. Di pangkalnya tidak ada bekas goresan golok atau sekurangnya benda tajam. Entah dengan cara apa si pencuri mengambilnya. Aku tidak tahu. Soal buah pisang ini, aku anggap saja dia bukan milikku. Sudah aku bilang sejak awal, aku tidak bisa menentukan akhir dari pisang ini. Kemungkinannya terlalu banyak. Tapi aku sudah bahagia karena aku bisa memeliharanya sampai besar. Sampai berbuah. Sebelumnya aku tidak pernah membayangkannya. Soal sampai ke mulutku atau tidak, atau sampai aku jual atau tidak, itu masalah lain.” 

Tiba-tiba Jalu menghunus golok. Sinar matahari beradu dengan ketajamannya.

“Lalu, sekarang apa yang kamu lakukan pada pohon sudah tanpa buah ini?”

“Aku mau menebangnya. Karena sepengetahuanku, pisang itu hanya berbuah untuk satu kali selama hidupnya.”

“Apakah tidak ada kemungkinan lain? Seperti sebelumnya yang begitu banyak kemungkinan,” tanya Sabri sambil mengasongkan sebatang rokok. Rokok kretek. Jalu langsung menerimanya. Kemudian Sabri menyalakan sebatang korek api. Jalu menyelipkan rokok itu di mulutnya. Nyala korek api di tangan Sabri membakar ujung rokok itu. Lalu Jalu menghisapnya dalam-dalam. Asap berhamburan di mukanya. Tapi itu tak jadi perhatiannya. Sabri melempar batang korek api yang sebagiannya sudah jadi arang.   

“Maksudnya bagaimana pertanyaanmu tadi?” Jalu balik bertanya.

“Misalnya, siapa tahu pisang ini mau berbalas budi kepada tuannya yang menanam, memelihara, memberi pupuk dan merawatnya hingga besar kemudian dia berbuah untuk kedua kalinya. Kemudian...”

“Belum tentu juga buah itu menjadi milikku, atau katakanlah bisa aku makan. "Jalu memotong kalimat Sabri, "tapi baiklah kalau kemungkinan itu ada, agar aku tak mati penasaran, aku tidak jadi menebang pisang ini. Meski sebenarnya tidak cerita ada pisang yang berbuah dua kali. Akan aku biarkan semaunya. Apakah dia berbuah lagi atau tidak, terserah dia. Atau mau mati membusuk pun dalam keadaan berdiri, terserah dia. Cuma sekarang aku mau memelihara anak pisang ini sampai besar. Menyiangi rumput di sekitarnya. Seperti aku memperlakukan pada ibunya dulu. Kewajibanku hanya memeliharanya. Berbuah atau tidak, sampai ke mulutku atau tidak, itu bukan kewajibanku. Karena banyak yang masuk ke mulut kita,  bukan kita yang menanam. Bahkan kita tidak pernah tahu asal-usul makanan itu. Tidak ada yang tahu persis tentang segala sesuatu. Tanah ini, pisang ini, dan bahkan aku sendiri.”

Sabri menggaguk-angguk. 

Kemudian Sabri pulang sambil senyum-senyum. Kembali dia mencabut sebatang rokok dari bungkusnya. Pisang Jalu yang sudah matang itu dia jual ke tengkulak dengan harga mahal. Dia mengambilnya dengan memakai tangga tadi malam. Dia bisa merokok untuk beberapa hari ke depan...
Ciputat, 2005
 
 
Penulis adalah Nahdliyin kelahiran Sukabumi, Jawa Barat
 
Ahad 28 Juli 2019 17:0 WIB
Sentimentalisme Orang Kalah
Sentimentalisme Orang Kalah
Lukisan karya Stephen Mitchell "The Lost Trail" (1stdibs.com)
Katanya aku ini adalah seorang pemenang. Aku adalah  pemenang dari jutaan sperma yang disusupkan ayah ke rahim ibuku, membuahi ovumnya. Aku bersama jutaan temanku berjuang keras membuahi. Aku berhasil. Sementara teman-temanku musnah. Kalah. Akulah pemenang. Aku pemenang di alam rahim. Ketika lahir pun aku menjadi pemenang dari perjudian nyawa yang rentan bagi seorang bayi. 

Tapi setelah lahir, kekalahan demi kekalahan dimulai. Aku tidak bisa menentukan diri sendiri. Aku tak bisa menamakan diriku sendiri. Nama yang kupakai –dan juga nama-nama orang lain- adalah nama yang pernah dipakai oleh orang-orang lain sebelumnya. Dan orang-orang sebelumnya itu memakai nama yang mirip atau bahkan sama dengan orang-orang sebelumnya pula. Begitu seterusnya. Ad infinitum. Aku tidak bisa mengucapkan kata-kataku sendiri karena kata-kata itu adalah kata-kata bikinan orang lain yang lebih dulu lahir. Aku tidak bisa melakukan perbuatanku sendiri karena perbuatan itu telah jauh dilakukan orang lain yang lebih dulu lahir dariku. Dan, jika ada keinginanku untuk melakuakan sesuatu yang berbeda, orang-orang sebelumku telah mengantisipasinya dengan norma. Yang tidak mengikutinya akan diberi label oleh orang-orang. Aku hanya mengulang dan mencontoh perbuatannya. Hidupku hanya mengulang orang lain. Aku tidak bisa menentukan diriku sendiri. Maka mungkin tak salah -mungkin juga tidak benar– jika aku menyimpulkan hidup ini hanya pengulangan-pengulangan belaka. Tentu saja orang lain boleh sepakat dan tidak sepakat denganku. Aku tidak bisa menentukan diri sendiri sepenuhnya.  Cuma sebagian kecil saja yang bisa kutentukan.

Aku melihat ibuku sedang menampi beras yang baru saja digiling di belakang rumahku. Dia kemudian memunguti antahnya kemudian dikumpulkan untuk makanan ciak yang bergerombol bersama induknya. “Bu, kenapa aku dilahirkan sedangkan aku tidak memintanya? Aku ingin masuk lagi di perut ibu, atau menjadi sperma ayah lagi. Aku tidak ingin keluar,” kataku sambil duduk di atas lesung samping ibuku. 

Ibu berhenti menampi  sebentar. Mukanya menatap ke arahku dengan tatapan yang tak kumengerti maksudnya. “Heh, Jalu kamu jangan berkata begitu. Doraka. Pemali. Itu sudah ada yang mengaturnya,” ibuku membentak. 

“Tapi aku tidak minta dilahirkan. Aku tidak ingin lahir. Kenapa aku dilahirkan tanpa perstujuanku sendiri sedang aku tidak bisa memilih.” 

Tiba-tiba ibu mlemparkan segenggam beras ke arah mukaku sambil berteriak. “Jaluuuuu…..tobatlah!!!”  Ibuku mencak-mencak. Aku kabur sebelum ibu bertambah marah.

Aku mendekati ayah yang sedang duduk di kursi di beranda. Di sela jari tangannya terselip sebatang rokok. Dia mengisapnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya ke udara dengan nikmatnya. Di sampingnya ada secangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Dia menyeruput air kopi itu kemudian meletakkan di tempat semula. 

“Ayah, kenapa kau semprotkan spermamu ke rahim ibu, tanpa kau minta persetujuan dariku? Ayah sembarangan dan seenaknya saja menyemprotkan sperma. Setelah lahir kau seenaknya menamaiku Jalu. Aku tidak mau nama itu. Sekarang aku ingin kembali menjadi spermamu. Biarkanlah teman-temanku yang lahir. Aku tak sanggup.”

Ayah melotot dengan dahi berkerut. Dia kemudian melemparkan air kopi yang masih panas itu ke mukaku. Aku langsung ambil langkah seribu sebelum marah ayah bertambah.

Aku melihat orang yang sedang menggembala puluhan itik di sawah basah yang jeraminya sudah busuk belum dibajak. Dia memakai topi khas di film-film koboy, tangannya menggenggam cemeti panjang. Aku mendekatinya dari belakang. Mengendap-endap. Tanpa suara. Kemudian menendang bokongnya hingga terjatuh. Aku mengambil segenggam lumpur dan menyumbatkan ke mulutnya hingga dia tidak bisa berteriak meminta tolong. 

Kemudian aku memperkosa itik itu satu per satu hingga teler. Si gembala itu hanya memperhatikanku dengan tak bisa berbuat apa-apa sambil menahan rasa sakitnya. Tidak lama kemudian itik-itik itu bertelur masing-masing satu buah. Kemudian telur itu aku pecahkan satu per satu di hadapan si gembala itu. Kemudian aku berjingkrak-jingkrak karena hasratku terpenuhi. Aku orgasme bersama itik-itik itu. Terima kasih, ya itik.

Aku melihat isteri tetanggaku sedang menjemur kutang dan pakaiannya di depan rumahnya. Kemudian dia menjemur celana dalam bekas senggama tadi malam bersama tetangganya ketika suaminya ronda malam dan anak-anaknya tertidur pulas. Di celana dalam itu ada bekas spermanya. Kemudian aku datang ke hadapannya. 

“Kamu serong tadi malam bersama tetanggamu kan?” 

Dia kaget penuh ketakutan. Wajahnya pucat. Aku mengambill kutang itu dan merebut celana dalam yang hendak dijemur itu. Aku memakai kutang dan celana dalam itu di hadapannya. Matanya terbelalak. Mulutnya ternganga. Aku pergi.

Aku melihat anak-anak SD sedang belajar di ruangan kelas yang berdebu yang langit-langitnya sudah pada bolong. Mereka khusu dan tampak ketakutan di hadapan guru yang garang. Guru adalah teror bagi anak-anak itu. Aku masuk ke kelas itu dan merebut kapur tulis yang digenggam guru itu. Aku menghapus segala yang telah ditulisnya di papan tulis tersebut. Aku mengusir dia keluar. Aku ingin membebaskan anak-anak itu dari penjara yang dinamai sekolah oleh orang tuanya. 

Aku berkata begini kepada anak-anak yang masih di dalam kelas dan terbengong-bengong,” Anak-anak, sekarang silakan duduk dengan sesuka hatimu, sebisa kamu. Yang mau keluar silakan keluar, yang mau tetap duduk silakan duduk atau apa pun terserah kalian”. 

Anak-anak itu tidak ada yang keluar, tetapi mereka tidak tegang lagi. 

“Besok kalian tidak usah memakai pakaian seragam. Pakai saja pakaian yang kamu miliki dan kamu sukai. Atau tidak berpakaian pun tidak apa-apa. Terserah kalian.”

Kemudian aku menulis seperti ini di papan tulis itu, “Wati memperkosa Budi.” “Iwan mencekik ayah.” “Ibu meminum nasi.” “Andi dipukul anjing.” 

Kemudian aku melanjutkan, “2x3=40 10:12=32,5  4+5=O.”

Aku pergi ke sebuah rumah ibadah. Rumah ibadah yang bagus namun jarang diisi. Aku menggulung karpet penutup lantai keramiknya. Kemudian aku berak di setiap keramik itu sepuas-puasnya. Aku naik ke mimbar seperti seorang yang mau menyampaikan khotbah di hadapan ribuan jemaah. Kemudian aku menyalakan sebuah mikropon di mimbar itu. Aku kentut di mikropon itu berkali-kali.

Aku pergi ke sebuah warung untuk membeli jarum dan benang sambil telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Orang-orang sepanjang jalan melihatku dengan pandangan aneh. 

“Buat apa jarum dan benang itu?” tanya pemilik warung terheran-heran melihatku telanjang. 

“Buat menjahit mulutmu,” jawabku. Aku melihat mukanya pucat. Tubuhnya menggigil. Dia terkencing-kencing. Padahal aku hendak menjahit celanaku yang bolong di selangkangannya. 

Ketika sampai di rumah, aku tidak langsung menjahit celanaku. Aku mengambil gunting dari laci lemariku dan kemudian aku menggunting kemaluanku.

Tentu saja aku tidak melakukan semua itu. 
 
 
 
Sukabumi, 14 Maret  2005
 
Penulis adalah Nahdliyin kelahiran Sukabumi, kini tinggal di Bandung
Ahad 21 Juli 2019 9:0 WIB
Ajengan Muda
Ajengan Muda
"kyai Nasirun" lukisan karya Nasirun
Oleh Warsa Suwarsa 
 
Tahun 1943, kiai muda itu bersama istrinya pindah ke kampungku. Karena sebagai kiai, warga setempat menyambutnya dengan baik. Di pinggir mesjid ada sebuah lahan kosong, orang-orang kampung pun mengusulkan agar di lahan itu dibangun sebuah rumah, tempat kiai muda dan istrinya tinggal. Namun dengan alasan sederhana, kiai muda itu menolaknya, lahan kosong itu lebih baik digunakan untuk kepentingan masyarakat, misalkan  dibangun sebuah kobong  atau pondok pesantren. 

Waktu itu, di kampungku memang belum ada pondok pesantren, anak-anak dan para  remaja mengaji setelah Maghrib di surau atau di mesjid besar. Bangunan surau dan mesjid pun masih bida dikatakan sangat sederhana, dindingnya mengandalkan bilik bambu, panggung dengan lantai talupuh  di depannya ada kolam besar yang biasa digunakan orang-orang berwudlu atau mandi, airnya dari selokan dan sangat jernih.

Kiai muda dan istrinya datang bertepatan dengan awal musim cocok tanam. Keadaan kampungku dikelilingi oleh areal persawahan cukup luas. Jika dilihat dari atas seolah kampungku hanya berupa titik kecil ditengah lautan sawah. Sepanjang jalan tanah merah berderet pohon-pohon besar tumbuh di pinggirnya. Udara sudah pasti sangat sejuk, meskipun sampai bulan ini hujan belum turun juga. Ini sudah memasuki bulan November, para petani sering menatap langit di malam hari, seharusnya bulan ini bahkan bulan sebelumnya hujan sudah harus turun. Tapi entahlah, hujan belum juga turun. Jalan tanah merah itu meneburkan debu apalagi jika angin bertiup cukup kencang.

Pada pohon-pohon besar, pada dahan-dahan yang tertutup rimbunnya dedaunan, meski pun di siang hari akan terlihat lelawa bergelantungan, beristirahat. Malam akan semakin gelap karena rimbun dedaunan dan rapatnya batang pepohonan, benar-benar menutup kampungku. Jika purnama datang, cahayanya akan berusaha menerobos melalui celah-celah rimbunnya dedaunan itu. Sehabis isya, anak-anak akan bermain di halaman rumah sambil menyanyikan: Bulantok… bulantok… bulan sagedé batok! . Hingga mereka disuruh tidur oleh orangtuanya atau ditakut-takuti; awas ada sandékala .

Dan kiai muda bersama istrinya menempati salah satu rumah Wak Erpol, benar.. orangtua sebagai tetua kampung itulah mempersilakan agar kiai muda dan istrinya menempati salah satu rumahnya. Kedatangan kiai muda dan istrinya itu pun pada dasarnya atas saran Wak Erpol. Wak Erpol pada suatu hari datang ke salah satu pondok pesantren di Utara Sukabumi, memohon kepada Kiai Sepuh agar mengirimkan salah satu santrinya untuk mengajar dan mendidik warganya. Maka disuruhlah Wak Erpol menemui kiai muda itu. Begitu, kedatangan kiai muda dan istrinya pun disambut hangat oleh Wak Erpol.

Di kampungku, sebetulnya sudah ada orang yang bisa mengaji kemudian mengajar anak-anak, namun pikiran Wak Erpol lebih maju. Jika hanya mengajar alif ba ta saja itu masih belum cukup. Sebab anak-anak dan remaja harus diberi ilmu tambahan lain, ilmu agama agar mereka memahami ajaran dengan benar. Dan pilihan Wak Erpol adalah dengan meminta langsung kepada Kiai Sepuh di Utara Sukabumi agar mengirim salah satu santrinya itu mengajarkan ilmu-ilmu agama di kampungnya.
***
Maghrib itu menjadi berbeda dengan maghrib sebelumnya atau maghrib-maghrib sebelum-sebelumnya. Mesjid besar dipenuhi oleh orang-orang, membawa anak-anak mereka. Menyerahkan sepenuhnya kepada kiai muda agar anak-anak mereka diajari ilmu agama dan apa pun itu namanya, paling tidak anak-anak itu ketika sudah memasuki akil baligh mengetahui bacaan-bacaan sholat dan bisa mengaji Quran. Lebih afdol lagi jika kemudian anak-anak mereka menguasai ilmu-ilmu agama seperti kiai muda memahami agama setelah sepuluh tahun mondok di pesantren Kiai Sepuh. Maka pada malam itu juga setelah maghrib hingga isya dimulailah pengajian. Anak-anak mengaji bahkan orangtua mereka pun ikut mengaji juga.

Kiai muda itu hanya mengajarkan beberapa hal kepada anak-anak, kecuali mengajar bacaan-bacaan sholat dan praktik wudlu, juga mengajarkan agar anak-anak menghormati orangtua mereka.  Dan kepada para orangtua, kiai muda itu berpesan agar membimbing anak-anak mereka. Itu saja.
***
Jepang telah memasuki Sukabumi pada tahun itu. Orang-orang kampung yang biasa pergi ke pusat kota ramai bercerita, di pusat kota telah dijaga oleh tentara-tentara Jepang, militer Jepang itu memakai topi dan di belakang topi seperti dipasang kain saputangan juga dilengkapi oleh senjata-senjata dengan bayonet terhunus di ujungnya. Orang-orang kampung itu sering ke pusat kota untuk berjualan ke pasar. Mereka tahu lebih awal berita-berita dan kejadian dari orang kampung lainnya. Kedatangan Jepang ke negara ini pun - mereka tahu lebih awal dan diceritakannya kembali kepada orang-orang di kampung.

Semua orang kampung tahu, Jepang adalah sahabat, rumpun Asia, bahkan menurut berita, mereka lah yang telah mengusir  kompeni dari Tanah Air ini. Ya, mereka meyakini Cahaya Asia itulah yang akan membawa negara ini ke alam yang lebih baik, kemerdekaan.

“Mereka pendek, sama dengan kita. Tapi matanya tajam seperti tidak mau diganggu. Cara berdirinya kaku, ya seperti pohon-pohon itu. Benar-benar dingin dan tidak bisa diusik..”Kata salah seorang dari mereka, berkata  sehabis Ashar di teras mesjid. “Tapi entahlah, mereka baik atau jahat, aku tidak tahu… mudah-mudahan saja benar, mereka datang ke negara ini untuk mengusir kompeni-kompeni itu..!”Lanjutnya.

“Menurut, Kiai?”

“Tidak tahu. Tapi pikiran Saya hanya pada satu hal. Kenapa mereka datang jauh-jauh ke negara ini kemudian mempersenjatai diri dan memiliki tekad kuat untuk mengusir kompeni.”Kata kiai muda. “Guruku pernah berpesan, dulu.. Kompeni datang ke negara ini dengan cara baik-baik, tapi pada akhirnya ketika kesempatan untuk berbuat jahat itu terbuka, mereka pun akhirnya melakukan juga kecurangan-kecurangan, perampokan rempah-rempah di daerah Timur, ya daerah Timur entah apa namanya.”

“Kita harus bagaimana, Kiai?”kata orang bernama Acun.

Kiai muda itu menatap Acun.

“Ya, biasa saja. Kang Acun lakukan tugas-tugas hidup. Itu saja. Mau melawan Kompeni atau ikut menjadi tentara Jepang?”

“Tidak, saya tidak mau perang. Saya lebih senang menjadi seorang petani penggarap sawah. Tahun kemarin Saya ditawari jadi tentara Hizbullah, istriku melarang. Ya karena Saya juga tidak senang perang maka saya menolak tawaran itu.”Acun membetulkan kopiah hitamnya.

“Dan takut istri!”Gumam Oo.

*** 
Satu minggu kemudian.

“Kiai, bisa tidak berdoa kepada Allah agar hujan segera diturunkan. Agar hasil pertanian orang-orang kampung ini tetap bagus seperti musim sebelumnya?”Seorang petani bertanya pada saat pengajian.

“Ya, berdoa saja agar hujan segera turun.”

“Saya tiap hari berdoa, Kiai. Kenapa hujan tidak turun juga ya?”

“Wah, Saya tidak tahu itu.”

Doamu tidak didengar Alloh!” kata salah seorang jama’ah.

“Iya, mana mungkin doamu didengar oleh Yang Kuasa, setiap mau menanam padi, kamu itu pasti ngukus  dan memberi sesaji dulu kepada Dewi Sri. Itu namanya menduakan Tuhan, syirik itu!”

“Benar, kiai? Jika Saya melakukan hal itu sebelum menanam padi menjadi penyebab ditolaknya doa?”

“Tidak tahu..”

“Lho, kiai kok banyak tidak tahunya. Kiai ini kan tinggi ilmu agamanya.”

“Saya tidak tahu, kenapa doa kamu belum dikabul. “

“Perbuatan Saya, tentang syirik itu gimana, Kiai.?”

“Itu budaya. Asal jangan dicampur-campur dengan keyakinan saja. Asal tidak diyakini saja kalau yang memberikan rejeki dan yang menumbuhkan padi itu adalah siapa tadi? Dewi apa?”

“Dewi Sri.. Dewi Sri Pohaci…”

“Ya.. itu…!”

“Jadi boleh?”

“Boleh.”

“Wekkk… boleh tahu!”Orang itu mencibiri teman di sampingnya.

“Bukankah itu musyrik, Kiai?”

“Siapa bilang?”

“Ya kata pengajian-pengajian di kota itu… katanya orang-orang di kampung yang masih suka membakar kemenyan ketika akan menanam padi itu perbuatan jahiliyyah apa itu, itu menyekutukan Alloh!”

“Karena di kota sudah jarang sawah.”

“Jadi, kalau ada sawah orang kota pun akan melakukannya juga!”

“Musyrik itu jika kita meyakini. Kalau tidak meyakini hanya sebatas menjaga kebiasaan kenapa salah?”

“Tapi dia ini meyakini Dewi Sri pemberi dan penumbuh pohon-pohon padi…!”

“Eh, itu dulu.. itu dulu.. sekarang mah tidak!”

“Kalau masalah budaya dan kebiasaan lakukan saja. Tidak perlu kita memperdebatkannya, masing-masing memiliki pandangan dan alasan. Tidak perlu diperdebatkan.”
*** 

Tentara Jepang, orang menyebutnya Jepun atau Dai Nippon masuk juga ke kampungku pada tahun itu. Mendatangi rumah tetua kampung, Wak Erpol. Ada juru alih bahasa. Pimpinan tertinggi Jepun di Jakarta, memberikan perintah agar seluruh warga negara menghormati Kaisar mereka setiap pagi, saat matahari terbit. Orang-orang Jepun memiliki keyakinan, Kaisar mereka merupakan turunan Dewa Matahari. Negara ini akan merdeka dengan satu sarat, memberikan penghormatan kepada Kaisar setiap pagi, melakukan seikerei. Tapi ada nada ancaman juga, jika tidak melakukannya, maka kemerdekaan yang didambakan itu akan terbuang dan terbang begitu saja.

Sore itu juga Wak Erpol mengumpulkan masyarakat di mesjid besar.

“Bagaimana menurut, Kiai?”Tanya Wak Erpol setelah menjelaskan kedatangan tentara Jepun siang tadi.

“Saya akan menceritakan sebuah kisah kepada para bapak.”Kata Kiai muda itu menarik nafas. “Dulu, di tanah Jerusalem ada seorang pemuda bernama Elia, kita menyebutnya Ilyas.”

“Oh, nabi Ilyas?”

“Ya, hidup sekitar 500 atau 600 tahun sebelum diutus nabi Isa. Raja pada saat itu bernama Ahab, dia memiliki istri cantik seorang wanita keturunan bangsa Fenisia, Libanon. Atas permintaan istrinya yang bernama Izebel, Ahab diwajibkan mengganti Tuhan bangsa Israel dengan Tuhan bangsa Fenisia, tuhan bangsa Fenisia bernama Baal, dewa yang memberikan hujan dan kesuburan kepada orang-orang Kanaan dan Fenisia. Karena kecintaannya kepada Izebel, Ahab menyetujuinya. Dia membuat aturan, menekan agar seluruh masyarakat menyembah Baal dalam bentuk patung. Ahab mengatakan, hari ini sampai seterusnya adalah hari berakhirnya tuhan Israel, Tuhan Israel telah mati dan digantikan oleh Tuhan Baal, dewa pemberi hujan dan kesuburan tanah.

“Tokoh-tokoh agama dan orang-orang yang mengaku dirinya sebagai nabi dan para utusan Tuhan diberi dua pilihan. Menyembah Baal atau mati dengan cara dipenggal atau dipanah jantungnya oleh pasukan kerajaan. Suatu hari, Ilyas mendatangi Ahab, kemudian mengingatkan untuk tidak mengganti Tuhan bangsa Israel dengan Baal. Karena bagi Ilyas, Tuhan adalah Tuhan, Dia tidak akan memerintahkan manusai untuk saling membunuh dan saling serang, Dia tidak akan pernah mati apalagi digonta-ganti. Hal ini menjadi alasan bagi Ahab dan Izebel untuk tidak memberikan pilihan kepada Ilyas kecuali kematian.

“Ilyas dikejar oleh tentara-tentara Raja Ahab. Ilyas tidak takut dengan kematian tapi masih khawatir apakah dia akan bisa menjalani hidup, umurnya baru 23 tahun, tentu suatu saat dia harus hidup normal, berkeluarga. Dia tidak pernah mengaku sebagai nabi dan utusan Tuhan, meminta kepada Tuhan agar dirinya dijadikan Nabi pun tidak pernah, tapi kenapa dia menjadi nabi. Ilyas sendiri tidak tahu. Maka, kematian itu pun menjadi bukan hal menakutkan bagi Ilyas, karena keyakinan terhadap Tuhan sangat kuat, Tuhan telah menancap dalam dirinya. Dan Ilyas pun hidup, bisa hidup seperti biasa hingga Raja Ahab ditaklukkan oleh Raja lainnya. Ilyas selamat kemudian menetap disebuah bukit sebelum kenabiannya dilanjutkan oleh Eliasa atau Ilyasa..”

“Jadi kita harus menolak paksaan seikerei tentara Jepun itu?”

“Ada dua pilihan, melakukan seikerei atau kita tidak merdeka, kan?”

“Benar.. jadi lebih baik kita tidak merdeka?”

“Kenapa kita takut tidak merdeka? Ilyas saja tidak takut dengan kematian?”

“Kita tidak akan pernah melakukan seikerei itu… dan jangan pernah melakukannya!”Kata Wak Erpol.

Dan seluruh masyarakat pun menyetujuinya. Mereka memiliki anggapan, tidak merasa merugikan juga menguntungkan orang-orang Jepun itu.
*** 

Satu minggu kemudian, Kiai muda bersama tetua kampung itu ditangkap oleh tentara Jepang. Mereka dikirim ke kamp konsentrasi penjara di daerah Ubrug dengan alasan telah menghasud masyarakat menentang kebijakan pimpinan tertinggi Jepang, mereka menolak melakukan seikerei. Penangkapan itu, dalam benak tentara-tentara Jepang akan meluluhlantakkan tekad orang-orang kampung. Dan pada malam itu juga, beberapa rumah dibakar oleh tentara Jepang, ada gadis-gadis yang dibawa secara paksa. Sebagian besar warga kampung menghindar dan mengungsi ke daerah-daerah pinggiran Sukabumi. Hingga keadaan aman kembali, saat matahari kembali bersinar di ufuk Timur. [ ]
 
Sukabumi, Oktober 2013
 
Catatan
Kobong = asrama santri
Talupuh (Sunda) = Lantai dari bamboo biasa digunakan untuk rumah panggung
Bulantok… bulantok… bulan sagedé batok adalah lagu tradisional anak-anak di tatar Sunda saat purnama
Sandekala = Hantu dalam mitos orang Sunda
Ngukus = Membakar kemenyan pada pedupaan

Penulis adalah Guru MTs-MA Riyadlul Jannah, Cikundul)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG