IMG-LOGO
Daerah

Keunggulan Lembaga Pendidikan NU Harus Ditingkatkan

Ahad 15 September 2019 17:0 WIB
Bagikan:
Keunggulan Lembaga Pendidikan NU Harus Ditingkatkan
Kajian Sabtu Pahing Pergunu Driyorejo, Gresik, Jatim. (Foto: NU Online/M Jauhari Utomo)
Gresik, NU Online
Tantangan pendidikan Nahdlatul Ulama saat ini tidaklah ringan. Di samping membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai, yang paling dituntut adalah bagaimana tenaga pengajar bisa profesional saat di sekolah. Hal tersebut penting agar keberadaan lembaga pendidikan NU bisa memiliki keunggulan dibandingkan dengan yang lain.
 
Penegasan ini disampaikan Ketua Pengurus Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Timur, H Sururi. Pesan disampaikan pada kegiatan pengajian rutin Sabtu Pahing yang diselenggarakan di gedung Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Driyorejo, Gresik.
 
Menurutnya, para guru untuk meningkatkan profesionalitas dan mendalami jiwa Aswaja an-Nahdliyah. Karena menjadi guru profesional sangat penting untuk menunjang pengetahuan anak didik. Juga mendalami jiwa Aswaja an-Nahdliyah dijadikan dasar dalam mengamalkan keilmuan yang dimiliki agar selalu terarah.
 
"Yang kita butuhkan saat ini adalah professionalitas sebagai kader guru NU agar tidak kalah cakap dengan guru lain. Nah, Aswaja an-Nahdliyah ini kita jadikan dasar sebagai penguat sekaligus penangkis pengaruh dari luar untuk anak-anak didik kita semua,” ujar H Sururi dengan semangat.
 
Sedangkan KH Makruf Khozin yang juga sebagai pemateri menekankan poin penting menjadi seorang guru dan memberikan amalan yang disampaikan. 
 
"Bapak dan ibu, ini saya ada amalan yang diambil dari kajian kitab Adabul Alim wal Muta'alim yakni, membaca Fatihah sebanyak 41x kemudian membaca doanya surat Al-fatihah ini dibaca sebanyak 3 kali,” kata Ketua Pengurus Wilayah Aswaja NU Center Jawa Timur tersebut.
 
Sejurus kemudian, Kiai Makruf Khozin membacakan doa yang bisa diamalkan sebelum maupun setelah shalat subuh.
 
"Manfaat dari mengamalkan doa tersebut adalah keluarganya ditata oleh Allah. Kedua, ekonominya ditata oleh Allah dan ketiga, keturunannya ditata oleh Allah,” kata alumnus Pesantren Ploso, Kediri tersebut.  Tidak berhenti sampai di situ, bagi yang istikamah mengamalkan, khususnya para guru, maka murid-muridnya juga ditata oleh Allah SWT, lanjutnya. 
 
Kegiatan ini diselenggarakan seluruh anggota Pergunu Driyorejo. Mulai dari kepala sekolah, wakil, guru dan tenaga administratif yang ada di bawah koordinasi Lembaga Pendidikan Ma'arif NU. 
 
Sedangkan kitab yang dikaji yakni Adabul 'Alim wal Muta'alim yang merupakan karya Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari. Kitab karya pendiri Nahdlatul Ulama tersebut dipilih sebagai kitab kajian karena sangat relevan dengan kebutuhan Pergunu yang saat ini sedang melanjutkan perjuangan di bidang pendidikan. 
 
Pada kesempatan lain, Sulistiyo selaku Ketua Majelis Wakil Cabang Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Driyorejo mengatakan, acara ini telah rutin diadakan setiap bulan yang ditepatkan pada hari Sabtu Pahing. 
 
"Untuk waktunya kita semua bersepakat hari itu, tidak pernah berubah. Tapi pematerinya kita jadwalkan dari beberapa unsur NU. Alhamdulillah ini wujud kami sebagai kader NU dan semoga istiqamah" tutur Kepala MI Kesamben itu.
 
Pewarta: M Jauhari Utomo
Editor: Ibnu Nawawi
 
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 15 September 2019 23:30 WIB
Universitas Trunojoyo Madura Gelar Penguatan Wawasan Kebangsaan 
Universitas Trunojoyo Madura Gelar Penguatan Wawasan Kebangsaan 
Rektor UTM memberikan sambutan pada acara Pendidikan dan Pelatihan Penguatan Wawasan Kebangsaan. (Foto: NU Online/Abdullah Hafidi)
Bangkalan, NU Online
Universitas Trunojoyo Madura atau UTM dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bangkalan, Jawa Timur menjalin kerja sama. Kali ini dengan menggelar Pendidikan dan Pelatihan Penguatan Wawasan Kebangsaan. 
 
KH Muhammad Makki Nasir selaku Ketua PCNU Bangkalan mengemukakan bahwa Madura merupakan kawasan potensial yang sangat penting dalam perputaran perekonomian dunia, khususnya tambang minyak, gas, dan sumber daya mineral lain. 
 
“Maka tidak heran bila akhir-akhir ini secara berantai, kerukunan warga Madura diuji dengan upaya-upaya provokatif memecah belah persatuan,” katanya, Sabtu (14/9).
 
Menurutnya, ada premis kuno disebutkan kalau ingin menguasai Indonesia maka kuasai pulau Jawa, kalau ingin menguasai Jawa maka kuasai Jawa Timur. 
 
“Nah di sini, Madura secara geopolitik nasional merupakan daerah potensi yang sangat urgen dalam perputaran perekonomian Indonesia, bahkan dunia,” ulas Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Bangkalan tersebut.
 
Kiai yang juga dipercaya menjadi Ketua Koordinator Daerah Nahdlatul Ulama (Korda NU) Madura Raya ini menjelaskan di tengah suasana tersebut masyarakat Madura harus bersatu. 
 
"Madura harus mampu bersatu, dan semua elemen masyarakat khususnya ulama, pemerintah, dan akademisi harus saling menopang antar satu sama lain,” katanya. Karena sekecil apapun peran yang dilakukan akan sangat membantu dalam menopang sebuah pembangunan, lanjutnya.
 
Terkait Nahdlatul Ulama, KH Muhammad Makki Nasir memastikan komitmen warga dan pengurusnya terhadap keberadaan wawasan kebangsaan yang dimiliki. “Bisa dipastikan bahwa NU tidak diragukan lagi atas sifat nasionalismenya," tegasnya.
 
Demikian juga, Pengasuh Pondok Pesantren Falahun Nashiri, Sennenan, Bangkalan tersebut sangat berharap agar di UTM dibangun gedung khusus dengan nama KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
 
"Harapan PCNU, UTM memiliki gedung khusus yang diberi nama Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid. Agar masyarakat tahu bahwa ada peran besar Gus Dur di kampus ini, dan juga agar melekat pada generasi penerusnya," tandasnya disambut tepuk tangan undangan.
 
H Muh Syarif menyampaikan harapan agar NU selaku organisasi masyarakat (Ormas) yang memperjuangkan penanaman nilai Islam Ahlussunah Waljamaah mampu menjadi rahmat bagi alam semesta.
 
"Apa yang menjadi harapan kita semua, Islam Aswaja an-Nahdliyah akan mampu menjadi rahmatan lil alamin," kata Rektor UTM tersebut.
 
Dirinya juga mengemukakan bahwa usai Pendidikan dan Pelatihan Penguatan Wawasan Kebangsaan perlu dilakukan tindak lanjut dari rancangan rencana yang telah dibuat. 
 
“Hal itu agar dapat dirasakan oleh masyarakat khususnya sekitar kampus," ungkapnya di gedung Rektorat UTM.
 
Muh Syarif melanjutkan ke depan, kerja sama perlu ditingkatkan kembali. “Saya bagian dari keluarga besar NU Bangkalan, sejak masa kepemimpinan Kiai Cholil AG," tandasnya.
 
Pendidikan dan Pelatihan Penguatan Wawasan Kebangsaan diikuti sejumlah dosen di luar UTM ini dibagi menjadi beberapa kelompok. Mereka membuat program Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang nantinya akan digunakan sebagai bagian dari pengabdian masyarakat.
 
Pelatihan kemudian diakhiri dengan penandatanganan nota kesepahaman antara kampus ini dengan PCNU Bangkalan.
 
 
Pewarta: Abdullah Hafidi
Editor: Ibnu Nawawi
 
Ahad 15 September 2019 23:0 WIB
Tujuh Pesantren di Pekalongan Kembangkan Agribisnis Ternak Ayam
Tujuh Pesantren di Pekalongan Kembangkan Agribisnis Ternak Ayam
kunjungan Dinas Kesehatan untuk melihat lokasi dan proses pembuatan kandang ayam di Pesantren Anwarul Mubarok Medono, Kota Pekalongan
Pekalongan, NU Online
Program Kelompok Santri Tani Milenial (KSTM) saat ini sedang digencarkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) menjadi langkah nyata dalam meningkatkan minat generasi muda terhadap dunia pertanian serta menghadirkan wirausahawan baru bidang pertanian.
 
Merespons hal tersebut, Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) Kota Pekalongan menunjuk 7 pesantren yang tergabung dalam Kelompok Santri Petani Milenial KSTM) di Kota Pekalongan untuk mengajukan usulan bisnis ternak ayam ke Kementan. 
 
KSTM dari beberapa pesantren di Kota Pekalongan ini siap menumbuhkembangkan minat santri di bidang ternak ayam. Hal ini disampaikan Kepala Dinperpa Kota Pekalongan, Agus Jati Waluyo. 
 
Menurutnya, peluang bisnis ternak ayam di Kota Pekalongan mulai dilirik kaum milenial. Bahkan bisnis tersebut merambah ke kalangan santri, selain belajar ilmu agama dan ilmu negara juga belajar ilmu hidup sebagai bekal untuk menjadi wirausaha usai mondok. 
 
“Pemerintah Kota Pekalongan tentu sangat mendukung peluang bisnis ternak melalui program KSTM ini dengan harapan dapat mendongkrak perekonomian di Kota Pekalongan,” tutur Jati.
 
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Ilena Palupi menjelaskan, saat ini tujuh KSTM sudah memulai mengerjakan pembuatan kandang ayam. Selain itu masing-masing KSTM mendapatkan bantuan bibit ayam 500 ekor, biaya kandang, pakan, dan obat obatan hewan.
 
"Selama proses pemeliharaan, ketujuh pesantren akan mendapatkan bimbingan secara berkala dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Pekalongan," ungkapnya.
 
Sekretaris Pengurus Cabang Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Kota Pekalongan, H Kholil, kepada NU Online, Ahad (15/9) mengatakan, Di Kota Pekalongan saat ini ada tujuh pesantren yang menerima program dari Kementan berupa budidaya ternak ayam Buras (bukan ras). 
 
"Ada tujuh pesantren yang menerima yakni Pesantren Syafi'i Akrom, Pesantren Qur'an Buaran, Pesantren Sirajut Thalibin Pringlangu, Pesantren Anwarul Mubarok Medono, Pesantren Al-Arifiyah Kebulen, Pesantren Manbaul Falah Sampangan, dan Pesantren Darul Islah Panjang Wetan," jelasnya. 
 
Dikatakan, saat ini ketujuh pesantren sudah mulai mempersiapkan lokasi dan pembuatan kandang ayam. Setelah semuanya siap, baru dari pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian dan Pangan akan menyerahkan bibit ayam, pakan, dan obat-obatan.
 
RMINU Kota Pekalongan berharap, program pemberdayaan santri melalui KSTM bisa menghasilkan santri yang tidak saja mendapatkan ilmu dari pesantren saja, akan tetapi juga ilmu mengelola peternakan yang nantinya bisa menjadi bekal setelah pulang dari pesantren.
 
"Saya sangat mendukung upaya pemerintah dalam upaya pemberdayaan santri, khususnya pembelajaran pengeloaan peternakan ayam," ucap Kholil.
 
Program Kelompok Santri Tani Milenial (KSTM) ini tidak hanya di Kota Pekalongan saja, akan tetapi di beberapa daerah juga menggelontorkan program yang sama sebagai tindak lanjut dari kerjasama PBNU dengan Kementerian Pertanian.
 
Pewarta: Abdul Muis
Editor: Musthofa Asrori
Ahad 15 September 2019 22:30 WIB
Pembelajaran Amtsilati di Sekolah Ini Terbaik se-Madura
Pembelajaran Amtsilati di Sekolah Ini Terbaik se-Madura
Perwakilan SMP Madinatul Akhlaq Bangkalan sebagai yang terbaik bagi metode Amtsilati. (Foto: NU Online/pribadi)
Bangkalan, NU Online
Ada sejumlah metode cara membaca cepat kitab kuning. Di Indonesia ditemukan ada puluhan model dan terbukti efektif dalam membimbing santri agar memeiliki kecepatan dalam membaca dan memahami kitab kuning. Salah satunya adalah metode Amtsilati.
 
Prestasi membanggakan diukir oleh Sekolah Menengah Pertama (SMP) Madinatul Akhlaq. Sekolah yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Al-Ibrahimy, Konang, Bangkalan, Jawa Timur tersebut adalah yang terbaik dalam pembelajaran Amtsilati atau metode cepat bisa baca kitab kuning.
 
Penghargaan diberikan karena SMP Madinatul Akhlaq sebagai penyelenggara metode Asmtsilati terbaik se-Madura yang meliputi empat kabupaten yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.
 
“Penghargaan ini diumumkan saat acara silaturahim dan pelatihan peningkatan mutu pembelajaran Amtsilati se-Madura. Dan ada ratusan ustadz dan guru Amtsilati yang hadir pada acara tersebut,” kata Ustadz Humaidi, Ahad (15/9).
 
Koordinator pelaksanaan pembelajaran metode Amtsilati di SMP Madinatul Akhlaq ini bersyukur akan hasil kinerja positif yang diraih.
 
“Bahkan selain pembelajaran Amtsilati terbaik, SMP Madinatul Akhlaq juga telah melaksanakan program pascaamtsilati sebagai kelanjutannya,” ungkapnya.
 
Dalam pandangannya, capaian tersebut sebagai kerja kolektif seluruh komponen yang ada di pesantren dan sekolah.
 
“Alhamdulillah, ini bukan hanya hasil kerja keras saya, tapi juga hasil kerja keras seluruh anggota tim. Saya hanya kebetulan diamanahi sebagai koordinator,” katanya merendah.
 
Menurutnya, yang tidak kalah penting dari raihan tersebut adalah  juga peran dari pengurus Darusy Syifa' Pondok pesantren Al-Ibrahimy Sumuringin Konang.
 
“Karena kiai dan ustadz di pesantren inilah yang terlibat penuh dalam pelaksanaan program, serta dukungan yang luar biasa dari pihak sekolah,” terangnya.
 
Pemberian penghargaan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Al-Falah Sumberwaru, Pamekasan.
 
Turut hadir beberapa pengurus senior Pondok Pesantren Darul Falah Bangsri Jepara Jawa Tengah yang merupakan pondok penggagas metode Amtsilati di bawah asuhan KH Taufiqul Hakim.
 
 
Editor: Ibnu Nawawi
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG