IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Menjaga KPK dari Upaya Pelemahan

Ahad 15 September 2019 17:45 WIB
Bagikan:
Menjaga KPK dari Upaya Pelemahan
Untuk mewujudkan harapan Indonesia jadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar kelima pada 2045, dibutuhkan sejumlah prasyarat, di antaranya bebas dari korupsi. (Ilustrasi: NU Online)
Rencana revisi UU Nomor 30 tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah diusulkan selama beberapa kali, tetapi baru kali ini lolos di DPR. Kita belum tahu bagaimana hasil akhir dari revisi yang dilaksanakan secara terburu-buru di masa akhir jabatan anggota parlemen ini. Selalu ada kontroversi terhadap usulan revisi ini. Pihak yang mengusulkan maupun yang menentangnya semuanya berargumen bahwa hal ini untuk memperkuat KPK.

DPR yang mengusulkan revisi beralasan, penguatan KPK dilakukan dengan mengubah sejumlah pasal dan sekaligus untuk melakukan pengawasan terhadap KPK karena selama ini lembaga super ini tidak ada yang mengontrolnya. Pihak yang kontra terhadap revisi ini berpendapat, revisi berpotensi untuk melemahkan KPK dalam upaya pemberantasan korupsi dengan mengubah sejumlah pasal yang akan mengebiri wewenang KPK. Salah satu pasal yang ramai diperbincangkan adalah soal izin penyadapan.

Sejak 2003 ketika KPK resmi berdiri hingga kini, terdapat 255 anggota DPR/DPRD, 110 kepala daerah, 27 menteri, dan kepala lembaga yang ditangkap oleh KPK. Lembaga ini diapresiasi sebagai badan dengan kinerja yang baik oleh publik atas kerja-kerja yang dilakukannya. Besarnya jumlah kasus korupsi ini tentu menimbulkan kengerian bagi banyak orang yang korupsinya terungkap dan kemudian terpaksa masuk penjara, kariernya berhenti, dan nama baiknya tercoreng. Ada kecurigaan dari pegiat antikorupsi bahwa usulan revisi yang datang dari DPR ini sarat kepentingan untuk melindungi diri mereka mengingat besarnya jumlah anggotanya yang terjerat kasus tersebut.
 
Indonesia merupakan negara dengan tingkat korupsi yang masih tinggi. Berdasarkan laporan Transparansi Internasional, indeks persepsi korupsi 2018 adalah 38 dari rentang nilai 0 sampai maksimal 100. Ini menunjukan bahwa korupsi di Indonesia masih merupakan persoalan serius yang dihadapi. Nilai kurang dari 50 menunjukkan bahwa korupsi masih terjadi dalam skala luas dalam berbagai bidang. Dari peringkat global, Indonesia berada pada urutan 89 dari 180 negara yang disurvei oleh Transparansi International. Skor terbaik tahun ini dipegang oleh Denmark dengan nilai 88.

Mengatasi korupsi bisa dilakukan dengan tindakan pencegahan dan penindakan. Apa yang muncul di media terkait dengan KPK lebih menonjol dengan tindakan penindakannya dengan sejumlah aksi tangkap tangan terhadap tokoh-tokoh publik yang kemudian dieksplose secara luas oleh media. Namun hal tersebut belumlah cukup untuk membuat Indonesia menjadi bersih dari perilaku koruptif.

Kerja keras KPK tersebut harus diapresiasi. Untuk sebuah tangkap tangan, dibutuhkan proses lama dan melibatkan tim tersendiri yang memantau orang-orang yang diindikasi akan melakukan korupsi. Strategi ini dilakukan karena sulitnya membuktikan korupsi yang dilakukan oleh pejabat publik atau orang-orang berpengaruh. Penyadapan menjadi alat KPK untuk melakukan tangkap tangan.

Ada pejabat yang mungkin menjadi takut untuk melakukan korupsi setelah melihat sejumlah penangkapan tersebut. Tetapi ada pula yang tetap nekad dan beranggapan yang tertangkap hanya bernasib sial saja. Karena itu tindakan pencegahan perlu diperkuat untuk mengurangi peluang munculnya kesempatan korupsi.

Perbaikan sistem menjadi kunci dalam upaya pencegahan korupsi. Masyarakat sesungguhnya akan menyesuaikan perilakunya dengan sistem yang dibuat. Langkah ini bukan hanya ranah KPK saja, tetapi melibatkan lembaga negara lainnya. Salah satu yang cukup diapresiasi masyarakat adalah sistem rekrutmen ASN yang menggunakan mekanisme ujian berbasis komputer. Pada masa lalu, isu mengenai mekanisme yang tidak transparan dalam perekrutan PNS santer sekali. Masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa karena semuanya berlangsung di bawah tangan. Namun kini situasinya jauh lebih baik. Peningkatan digitalisasi layanan publik terbukti mampu meningkatkan kualitas layanan sekaligus mengurangi penyalahgunaan wewenang. Hal ini bisa terus diperluas pada hal-hal lain yang selama ini belum tersentuh. 

Ranah korupsi semakin dipersempit pada hal-hal yang bisa diatur oleh pejabat yang berwenang. Ruang yang bisa dimainkan ada di bagian kebijakan yang sulit dikontrol oleh publik. Dan yang terlibat di dalamnya adalah para tokoh kunci. Yang menjadi perhatian publik saat ini adalah jual beli jabatan di lingkungan pemerintahan. Sekalipun sudah ada proses penilaian berdasarkan prestasi yang dicapai, tetapi keputusan akhir masih ditentukan oleh pejabat berwenang. Hal ini membuka ruang negosiasi antara mereka yang memiliki kuasa menentukan jabatan dan mereka yang menginginkannya. 
 
Dan tak kalah pentingnya adalah mendidik masyarakat untuk bertindak tegas terhadap perilaku koruptif. Ajakan untuk mendapatkan kemudahan melalui jalan belakang atau kemauan untuk menolak bahkan jika memungkinkan melaporkan tindakan korupsi akan membuat calon-calon pelaku korupsi berpikir ulang. Perilaku sebagian masyarakat yang permisif, yaitu terobsesi menjadi kaya secara instan tanpa peduli bagaimana cara mendapatkannya membuat perilaku korupsi seolah-olah ditoleransi. Atau memberi penghormatan pada orang kaya tanpa mempedulikan asal usul hartanya membuat adanya sikap pragmatis dan menghalalkan segala cara dalam mendapatkan harta.

Indonesia diramalkan menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar kelima pada 2045. Namun hal tersebut membutuhkan sejumlah prasyarat, salah satunya soal bebas dari korupsi. Tak ada negara menjadi kuat jika korupsinya masih merajalela. Inilah tugas berat seluruh anak bangsa untuk menyongsong masa depan yang cerah. Dan tantangan terdekat ini adalah mengawal proses revisi UU KPK. (Achmad Mukafi Niam)
 
 
Tags:
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 8 September 2019 22:15 WIB
Logo Baru sebagai Cerminan Visi Baru NU Online
Logo Baru sebagai Cerminan Visi Baru NU Online
Pilihan bentuk, warna, hingga slogan baru menjadi penanda langkah baru yang makin mantap dan lebih luas.
NU Online menandai visi baru untuk menjadi sumber rujukan utama informasi keislaman di Indonesia dengan meluncurkan logo baru, berupa logotype bertuliskan "NU Online" dan logogram berupa dua lingkaran yang satu bulat penuh sedangkan yang satu terpotong dengan warna hijau dan hitam. Lingkaran penuh merupakan nilai-nilai inti Islam yang harus tetap dijaga dan terus diperjuangkan Nahdlatul Ulama. Lingkaran yang terpotong merupakan sikap terbuka terhadap kreativitas dan inovasi baru dalam mengembangkan layanan informasi kepada masyarakat.
 
Dalam usianya yang ke-16 tahun, NU Online telah belajar banyak bagaimana mengelola layanan informasi. Dalam perjalanan waktu ini, media ini sudah menjadi rujukan dalam konten-konten keislaman terutama bagi warga NU. Mengingat luasnya cakupan segmen kelompok Islam yang ada di Indonesia, termasuk di dalamnya orang-orang yang tidak mengidentifikasi diri sebagai pengikut ormas tertentu, maka NU Online mencoba melayani kebutuhan konten-konten keislaman mereka. Namun semuanya masih berakar dalam tradisi keagamaan NU.
 
Hal tersebut diperkuat dengan moto baru, yaitu Beranda Islam Indonesia yang menegaskan bahwa NU Online ingin menjadi referensi pokok informasi keislaman di Indonesia dengan nilai-nilai moderat dan toleran. Terdapat banyak sekali kebutuhan pengetahuan keagamaan Muslim di Indonesia. Kelompok-kelompok yang tidak mengidentifikasi diri sebagai warga NU dalam banyak praktik ibadahnya juga sama dengan yang dijalankan oleh warga NU karena sama-sama mengikuti mazhab Syafiiyah. Dengan demikian, ajaran keagamaan yang dijalankannya serupa dengan warga NU. 
 
NU Online banyak menekankan pada sajian yang berkenaan dengan ajaran-ajaran dasar keislaman, seperti puasa, shalat, zakat, dan lainnya. Ini merupakan materi yang dibutuhkan oleh semua Muslim, terlepas dari aliran atau organisasi yang diikutinya.  Selama ini pendidikan agama bagi Muslim di Indonesia hanya mencakup materi sangat mendasar karena hanya diajarkan dua jam pelajaran setiap minggu di sekolah. Akibatnya, kebutuhan pengetahuan agama harus diperoleh dari sumber lain, dan yang paling mudah diakses kini adalah melalui internet. 
 
Warna keislaman di Indonesia di masa yang akan datang sangat ditentukan oleh rujukan yang dibaca oleh warganet saat ini. Jika ajaran-ajaran yang mengedepankan makna literal dan tekstual Islam mendominasi wacana keislaman di dunia maya maka dapat diperkirakan bahwa Islam yang mewarnai Indonesia akan demikian juga di masa mendatang. Hal ini tentu akan menjadi masalah bagi bangunan kebangsaan Indonesia yang penuh dengan keragaman. Karena itu, NU Online berusaha menjadikan Islam moderat tetap sebagai arus utama cara berkeislaman di Indonesia mengingat saat ini ada upaya masif dari kelompok tertentu untuk mengubah cara pandang beragama di Indonesia menjadi lebih ekskusif.  Dengan menyasar kelompok millennial dan generasi Z yang merupakan kelompok pengguna internet terbesar, maka perubahan pandangan tersebut berpotensi akan dibawa selama hidup mereka. 
 
Dalam konteks perluasan segmen pembaca ini, NU Online tidak mengurangi konten-konten tentang ke-NU-an yang selama ini sudah terkelola dengan baik seperti fragmen, pesantren, atau warta daerah yang kebanyakan berisi kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan NU. NU Online tentu akan tetap mempertahankan tulisan-tulisan yang menginspirasi warga NU dengan kisah-kisah sukses dari wilayah, cabang, atau bahkan individu tertentu dalam mengembangkan NU di daerahnya. Replikasi kisah sukses ini akan memungkinkan NU maju secara lebih cepat dan merata. Sebuah inovasi baru bisa datang dari mana saja, tidak selalu muncul dari daerah-daerah NU yang sudah mapan seperti di Jawa Timur atau Jawa Tengah. 
 
NU Online akan menambah produksi tulisan-tulisan yang ditujukan untuk segmen pembaca Muslim secara umum. Konten keagamaan sedemikian luasnya untuk dibahas sehingga tidak akan ada habisnya. Kisah hikmah atau teladan yang dilakukan oleh Rasulullah, sahabat, dan para ulama menjadi pesan moral keagamaan yang layak untuk diikuti oleh siapa saja, dari organisasi Islam apa saja, bahkan lintas agama. Konten seperti ini ditulis dan tersebar dalam banyak kanal untuk memberi panduan dalam berperilaku. Banyak hal bukan tentang benar atau salah tetapi terkait dengan baik atau buruk. Hal lain yang kami sajikan yang ditujukan untuk segmen Muslim yang lebih umum salah satunya adalah kanal fiqih perbandingan yang membahas satu persoalan dari berbagai mazhab fiqih. Ini untuk memperluas wawasan warganet dalam sebuah persoalan keagamaan. Dengan demikian, diharapkan mereka lebih terbuka dalam menerima perbedaan. 
 
Ide tentang pembuatan logo baru telah muncul pada awal 2018. Hal tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan lomba desain logo yang disebarkan kepada jaringan desainer di lingkungan Nahdlatul Ulama. Terdapat puluhan desain dikirimkan ke redaksi. Tim NU Online kemudian melakukan seleksi dari logo-logo yang masuk. Terpilihlah karya Hilal Nasrullah, aktivis komunitas Arus Informasi Santri (AIS) Nusantara yang juga merupakan santri di Pesantren Al Munawwir Krapyak. Logo tersebut lantas mengalami sedikit perbaikan dan penyesuaian. Terima kasih kepada para desainer yang telah berkontribusi menuangkan idenya. Selamat kepada Hilal yang telah mampu menerjemahkan visi baru NU Online dalam sebuah kreasi yang indah. (Achmad Mukafi Niam)
 
Ahad 1 September 2019 17:30 WIB
Ketika Agama Menghadapi Tantangan Sains dan Teknologi
Ketika Agama Menghadapi Tantangan Sains dan Teknologi
(Ilustrasi: via Linkedln)
Di beberapa negara maju, proporsi anggota masyarakat yang memeluk keyakinan agama semakin berkurang. Mereka lebih memercayai temuan-temuan dari sains dan teknologi sebagai pemberi pedoman kehidupan mereka sehari-hari. Agama semakin tersingkir perannya dalam memandu dan mengarahkan masyarakat sesuai dengan nilai-nilai yang dimilikinya.
 
Apakah masyarakat di negara-negara Muslim akan mengalami hal yang sama? Ini tentu sebuah pertanyaan yang perlu direnungkan dalam-dalam. Sejauh ini belum terlihat tren seperti itu. Bahkan di Indonesia terdapat kecenderungannya peningkatan ghirah berislam di kalangan kelas menengah dan terdidik. Agama dan ilmu pengetahuan sama-sama memiliki porsi penting dalam kehidupan sehari-hari Muslim Indonesia. 
 
Hubungan agama dan ilmu pengetahuan tak selalu seiring sejalan. Terdapat beberapa model hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan. Pertama, agama dan ilmu pengetahuan saling mendukung. Sejumlah ayat Al-Qur’an secara jelas menjelaskan sebuah fenomena ilmu pengetahuan salah satunya proses penciptaan manusia yang digambarkan jauh sebelum ilmu pengetahuan mampu menjelaskannya secara empiris. Tetapi di sisi lain, terdapat perbedaan pendapat mengenai  manusia pertama di bumi ini terkait dengan turunnya Nabi Adam dan teori evolusi yang dikembangkan oleh Darwin. 
 
Di Eropa, hubungan agama dan pengetahuan sempat mengalami masa-masa suram ketika agama memaksakan kebenarannya. Ilmuwan yang menemukan pengetahuan baru yang berbeda dengan tafsir para pemuka agama mengalami penindasan. Akhirnya hal ini memunculkan gerakan perlawanan berupa sekularisme yang memisahkan agama dengan kehidupan publik. Eropa menjadi maju dengan terbebaskannya para ilmuwan mengembangkan pengetahuannya.
 
Agama sifatnya transendental sedangkan ilmu pengetahuan bersifat empiris rasional yang dapat diuji kebenarannya. Ayat-ayat Al-Qur’an bersifat tetap, tetapi tafsirnya dalam mengalami kontekstualisasi sedangkan kebenaran ilmu pengetahuan bersifat relative. Sebuah teori masih dianggap benar jika belum ada teori baru yang membuktikan teori lama itu salah. Dalam beragama kita beriman tentang keberadaan tuhan tanpa mempertanyakan bukti-bukti empiris karena pancaindra manusia tidak mampu menjangkau hal-hal yang sifatnya adikodrati. Akal manusia terlalu terbatas untuk memahami kompeksitas jagad raya ini. Tapi bagi kelompok agnostic atau atheis, maka kebenaran ditunjukkan oleh fakta empiris dan rasionalitas. Kelompok ini menguasai perkembangan dan perubahan dunia. 
 
Agama dihadapkan pada tantangan tentang kemampuan manusia "menciptakan" hal-hal baru yang dulu hanya bisa dilakukan oleh Tuhan. Kloning sejumlah binatang sudah berhasil dilakukan. Dan dalam beberapa tahun ke depan, hasilnya akan semakin sempurna. Beberapa ilmuwan mungkin masih memandang penciptaan manusia sebagai wilayah tak tersentuh, tetapi beberapa orang memiliki kecenderungan untuk melanggar hukum. Mungkin untuk tujuan popularitas personal atau bagian dari kompetisi sebuah perusahaan atau negara. Dan jika ada satu yang berhasil menciptakan manusia super yang menjadikannya unggul, maka pihak lainnya akan berlomba-lomba mengarahkan sumberdayanya untuk melakukan riset guna meraih keunggulan. Adakah batas bagi ilmuwan untuk menciptakan sesuatu yang dinilainya bukan lagi ranah manusia? Ini pertanyaan sulit.
 
Perlombaan untuk meraih inovasi terbaru merupakan upaya meraih keunggulan baik bagi individu, korporasi, atau bahkan negara. Korporasi didirikan untuk meraih tujuan pencarian laba. Hal ini menyebabkan para eksekutifnya harus melakukan berbagai inovasi, yang tentu saja belum tentu sesuai dengan norma-norma agama atau masyarakat. Para pemimpin negara dipilih oleh rakyatnya untuk memperjuangkan kepentingan nasional. Agama bisa saja menjadi panduan dalam menentukan tujuan negara, tetapi bisa saja tujuan tersebut diarahkan pada hal-hal yang sifatnya sangat materialistik. Ketika tujuan besarnya materialistik, maka nilai-nilai agama bukan menjadi norma.
 
Terdapat beberapa pendekatan yang dilakukan di negara-negara Muslim. Pertama, pendekatan sekularisme dengan mengacu kepada keberhasilan Barat. Tapi upaya tersebut ternyata tidak berhasil. Turki dapat menjadi satu contoh. Beberapa yang mencoba menggunakan resep yang sama gagal karena adanya pertentangan yang kuat karena adanya kelompok yang menolak pemisahan agama dari ruang publik ini.   
 
Selain pendekatan sekularisasi yang ditawarkan, kelompok lain menawarkan alternatif dengan mencoba kembali mencontoh perilaku para salafushalih, yaitu generasi pertama pemeluk Islam yang terbukti mampu membawa Islam dalam kejayaannya. Mereka berusaha melakukan berbagai teladan perilaku Rasulullah dan para sahabatnya berasarkan riwayat hadits atau atsar.  Tapi bisakan perilaku seperti itu mampu mengalahkan perkembangan pengetahuan dan teknologi? Tampaknya pendekatan seperti itu juga kurang tepat. Tampaknya perlu pendekatan berbeda dengan mencoba memberi porsi tertentu sebagai ruang keagamaan dan porsi lain dalam ranah ilmu pengetahuan.
 
Sebagai umat Islam, kita meyakini agama memiliki keabadian dan akan memandu masyarakat, tetapi keyakinan saja tidak cukup. Bahwa dunia terus berubah yang menyebabkan para ahli agama harus terus mampu melakukan tafsir ulang yang kontekstual sesuai dengan zamannya. Pengalaman era kegelapan ketika agama memaksakan kebenarannya telah menyebabkan kerugian bagi semua pihak. Kayakinan bumi datar, misalnya, dengan menggunakan pendekatan agama yang sempat ramai baru-baru ini padahal sains telah membuktikan bahwa bumi bulat menjadikan banyak orang mengernyitkan dahi. 

Al-Qur’an memberi panduan dalam berbagai aspek kehidupan, tetapi tidak dalam tataran yang sangat teknis. Dan hal itu sangat tepat karena membuka ruang tafsir yang konteksual sesuai dengan zaman yang ada.  Kehidupan yang kita jalani sekarang ini dengan segala kemudahan teknologinya tak terbayangkan pada era beberapa abad sebelumnya. Mungkin saja beberapa abad yang akan datang, kehidupan sudah sedemikian jauh dengan imajinasi kita saat ini. Pertanyaannya, sejauh mana agama mampu memandu masyarakat? Ini tentu tergantung pada kemampuan para tokoh agama yang mampu menunjukkan bahwa agama memberi pencerahan sebagaimana ketika pertama kali muncul. Inilah yang perlu kita renungkan pada momen baru Hijriah 1441 ini. (Achmad Mukafi Niam)
Ahad 25 Agustus 2019 19:45 WIB
Memperluas Ruang Para Ahli Non-Agama di Lingkungan NU
Memperluas Ruang Para Ahli Non-Agama di Lingkungan NU
Keragaman keahlian dalam kepengurusan NU akan memunculkan banyak perspektif saat mengambil kebijakan tertentu yang menyangkut masyarakat. (Ilustrasi: NU Online/Mahbib)
Sebagai sebuah organisasi agama, sesuatu yang normal jika para aktivis yang menggerakkan dan menghidupi organisasi NU ini merupakan orang-orang yang memiliki latar belakang pengetahuan agama yang sangat kuat. Mereka adalah para ulama, kiai, ustadz, serta para aktivis yang memahami ilmu-ilmu agama dengan sangat baik dan kemudian mendakwahkan pengetahuannya untuk kebaikan bersama. Setelah para ahli ilmu agama, urutan selanjutnya adalah orang-orang berlatar belakang sosial humaniora.
 
Seiring dengan berkembangnya masyarakat dan semakin kompleksnya kehidupan, dakwah tidak cukup mengandalkan pengetahuan agama saja. Ada aspek-aspek lain yang menyertai untuk menunjang keberhasilan proses dakwah tersebut. Misalnya, menyampaikan pesan bahwa masyarakat perlu mengembangkan usaha perekonomian tidak cukup dengan dalil-dalil agama terkait dengan baiknya beraktivitas ekonomi dan kewirausahaan, melainkan harus mengarah sampai pada implementasinya seperti bagaimana produksi yang baik, pelayanan, pemasaran, pendanaan, dan lainnya. Masing-masing aspek tersebut memiliki disiplin ilmunya sendiri-sendiri yang harus ditekuni jika ingin menguasainya dengan baik. 
 
Keberadaan para ahli non-agama menjadi semakin penting ketika ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan cepat. Banyak kebijakan didasarkan pada riset untuk meningkatkan akurasi keberhasilannya. Kebijakan tidak lagi didasarkan pada perkiraan sebagaimana kebiasaan di masa lalu. Sulit untuk berhasil seorang kiai berceramah di mana-mana tentang haramnya riba tanpa memberikan solusi yang konkret soal persoalan pendanaan yang dihadapi umat.
 
Pendekatan multidisipliner ini juga relevan dalam organisasi agama. NU memaknai dakwah dan pemberdayaan masyarakat bukan sekedar menggelar ceramah di panggung, majelis taklim, atau kini di media sosial. Model ceramah seperti itu tidak akan memadai untuk melakukan perubahan karena sebauah transformasi ke arah baru membutuhkan tindakan nyata. Di sinilah para ahli non-agama mengambil peran seperti para ekonom, teknolog, ahli kesehatan, dan lainnya. 
 
Upaya untuk memperluas dakwah dalam berbagai perspektif ini dapat dilakukan dengan memberikan komposisi yang lebih luas para ahli non-agama dalam struktur kepengurusan NU dari tingkat pusat sampai ke daerah. Juga dalam kepengurusan di lingkungan badan otonom NU. Selama ini para pengurus yang berkiprah di NU sebagian besar berlatar belakang ilmu agama atau sosial humaniora lainnya. Mereka yang berlatar belakang sains atau teknologi masih minoritas.  Sebetulnya tak kurang warga NU yang memiliki keahlian bidang ini. Tinggal bagaimana memberikan afirmasi dalam kepengurusan agar mereka bisa mewarnai kebijakan dan program-program NU. Karena berlatar belakang keluarga NU, danyak di antaranya memiliki pengetahuan agama yang baik.
 
Keragaman keahlian dalam kepengurusan NU akan memunculkan banyak perspektif saat mengambil kebijakan tertentu yang menyangkut masyarakat. Hasilnya tentu akan semakin komprehensif jika dibandingkan dengan sekedar pendekatan agama atau sosial humaniora saja. Dan selanjutnya lebih memiliki kemungkinan berhasil diimplementasikan. Apalagi mengingat saat ini, domain teknologi semakin dominan dalam perkembangan kehidupan. Bahkan dalam konteks dakwah dalam bentuk orasi, penggunaan teknologi semakin penting. Para ustadz yang sukses berdakwah di media sosial menggunakan memanfaatkan keahlian para ahli dalam bidang penyiaran.
 
Sejauh ini sudah terdapat badan otonom Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) yang menjadi tempat berkumpulnya para intelektual NU. Mereka dapat memberikan masukan-masukan terhadap berbagai kebijakan NU di tingkat pusat maupun daerah, sesuai dengan tingkat kepengurusannya. Potensi besar yang sudah terkumpul ini waktunya untuk dimaksimalkan. Bisa saja para ahli tersebut secara proaktif memberi masukan terhadap kebijakan tertentu atau NU meminta mereka mengkaji isu tertentu.
 
Organisasi NU yang bergerak dalam bidang pengaderan seperti IPNU-IPPNU, PMII atau KMNU yang selama ini masih didominasi oleh pelajar atau mahasiswa dengan latar belakang ilmu agama dan sosial humaniora. Sudah waktunya mereka mengembangkan sayapnya untuk menggarap para pelajar dan mahasiswa di lingkungan ilmu-ilmu eksakta. Jika tidak, mahasiswa dari jurusan eksakta yang ingin belajar agama akhirnya diambil oleh kelompok-kelompok lain yang mengajarkan Islam tekstual. Akhirnya pandangan agamanya menjadi kaku karena memandang ilmu agama sebagaimana sains yang serba terukur dan pasti.
 
Demikian pula, santri-santri yang kini masuk ke perguruan tinggi dapat diarahkan untuk mengambil jurusan-jurusan non-agama atau sosial humaniora yang saat ini sudah sangat banyak yang memiliki kompetensi di bidang tersebut di lingkungan NU sementara bidang-bidang baru tersebut masih membutuhkan tenaga yang lebih banyak. Mereka harus terus didampingi selama belajar di perguruan tinggi agar tetap dekat dengan ajaran NU dan nantinya ketika selesai sekolah, tetap mengabdikan diri kepada umat dan masyarakat melalui NU. 
 
Hal yang sama juga harus diarahkan dalam pengembangan program studi di lingkungan perguruan tinggi Nahdlatul Ulama. Program terkait yang bersentuhan dengan teknologi perlu mendapatkan perhatian lebih banyak. Dalam sepuluh tahun terakhir, Nahdlatul Ulama mendirikan puluhan perguruan tinggi baru yang kini sedang dalam tahap pengembangan. 
 
Perubahan-perubahan ini mungkin saja menimbulkan ketidaknyamanan karena keluar dari zona nyaman kompetensi yang selama ini digeluti dan telah memiliki habitat bagus untuk berkembang. Tetapi hasilnya akan dinikmati 20-30 tahun ke depan ketika pelajar dan mahasiswa tersebut sudah menduduki posisi strategis di lembaganya berkarier atau sudah berhasil dalam berwirausaha. 
 
Ini merupakan strategi jangka panjang yang hasilnya tak dinikmati secara instan. Kelompok pengusung khilafah yang sempat berkembang juga menyasar para mahasiswa eksakta di beberapa universitas negeri favorit sebagai sarana dakwahnya 30-40 tahun lalu. Para aktivis khilafah yang mendominasi wacana saat ini telah direkrut sejak mahasiswa sehingga kini menjadi militan. Beberapa di antaranya kini masuk dalam institusi negara atau badan usaha milik negara dan mencoba mengubah ideologi negara. Insyaallah NU akan mampu melayani masyarakat dengan lebih baik melalui pelibatan para ahli dalam berbagai bidang. (Achmad Mukafi Niam)
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG