IMG-LOGO
Daerah

NU Jateng Amanahkan LPBHNU Perjuangkan Keadilan bagi Rakyat

Ahad 15 September 2019 21:30 WIB
Bagikan:
NU Jateng Amanahkan LPBHNU Perjuangkan Keadilan bagi Rakyat
Koordinasi PW LPBHNU Jawa Tengah. (Foto: NU Online/A Rifqi H)
Semarang, NU Online
Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Jawa Tengah mengadakan rapat koordinasi, musyawarah kerja dan sarasehan.
 
Kegiatan dipusatkan di gedung Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, Jalan dr Cipto, No. 180, Karangtempel, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, Ahad, (15/9).
 
Ketua PW LPBHNU Jateng, Ahmad Robani Albar saat dimintai keterangan mengatakan, saat ini terdapat 6 kasus perdata, dan 10 kasus pidana yang ditangani. "Yang sudah daftar resmi ada 16 kasus, yang sudah selesai baru 5 kasus. Sisanya masih proses," katanya.
 
Dicontohkannya, saat ini LPBHNU tengah menangani kasus sengketa tanah warga dengan pihak bank. Kasus lain, tentang keabsahan suatu yayasan dan masjid yang muncul kepengurusan ganda. 
 
"Saat ini masih mediasi," ungkapnya. Biasanya kendala yang dihadapi kedua belah pihak merasa paling benar, dan susah diajak kompromi, lanjutnya.
 
Karena itu, proses jalan tengah yang mesti dicapai menjadi lebih lama. Sebab, para kiai selalu berpesan untuk mengedepankan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah agar tidak memutus hubungan. 
 
"Dalam hal ini terutama dalam kasus sengketa kepengurusan," ungkpanya.
 
Selain itu, pihaknya juga menangani beberapa kasus pertanahan yang berupa makam. Dijelaskannya, kepengurusan tanah kuburan tersebut milik umum satu versi dan versi lain mengatakan milik salah satu keturunan atau keluarga. 
 
"Kasus sengketa kepengurusan tanah makam, yang satu disahkan oleh hierarki instansi keturunan yaitu keraton, yang satunya lagi oleh pejabat pemerintah kelurahan atau desa," ungkapnya.
 
Saat disinggung tentang data advokat NU, Robani menjawab, pihaknya memang tidak melakukan pendataan. Namun saat ini yang dilakukan dalam bentuk pendekatan dan masukan dari jejaring organisasi khusus advokat. 
 
Lebih lanjut Robani menjelaskan keanggotaan di LPBHNU.  Bahwa PW LPBHNU Jateng yang diSKkan dan dilantik ada 74 orang. Saat ini ada 72 anggota, dan ada 60an simpatisan yang ikut bergabung.
 
Anggota LPBH, lanjutnya, merupakan orang yang dalam kesehariannya berprofesi sebagai advokat. Sementara yang dimaksud simpatisan adalah orang yang bukan dari unsur pengacara, namun dalam kesehariannya bergerak di bidang advokasi. 
 
"Jadi, di kepengurusan kami itu ada pengurus, ada anggota dan ada simpatisan," jelasnya.
 
Lebih dari itu, dia mengakui saat ini telah menginformasikan pada para kader NU yang tergabung di berbagai organisasi advokat untuk ikut bergabung dalam LPBHNU. 
 
Bila telah mampu, akan mengumpulkan advokat NU di semua kabupaten dan kota yang ada di Jawa Tengah. "Tujuannya agar bisa mendirikan lembaga sendiri yang berlabel NU  dan mengadakan ujian secara mandiri," bebernya.
 
Diakuinya, maksud utama kegiatan rapat koordinasi memang mengarah pada para pangacara NU agar bisa dilaksanakan Pendidikan Kader Penggerak NU khusus advokat. 
 
"Agar menjadi kader yang militan dan paham NU," ucapnya.
 
Selain itu, dirinya juga mengungkapkan target pendirian organisasi di semua kabupaten dan kota. 
 
"Kedua, kita tekankan untuk mendirikan LPBHNU di kabupaten atau kota. Karena baru ada 16 cabang sudah diSKkan dan buktinya sudah dikirim ke kami, lainnya ada yang sudah memiliki SK tapi belum dikirim ke kami," tegasnya.
 
Meski demikian, dirinya juga belum tahu secara pasti akan ada tidaknya SK kepengurusan terhadap sebagian cabang lain sebab belum melakukan konfirmasi tentang keabsahannya. 
 
Target ketiga dari rapat tersebut, terangnya, mengurus proses legal formal organisasi advokat NU sehingga dapat mengakses Kanwil Kemenkumkam.
 
Di tengah masyarakat, dirinya juga mengingatkan tentang bahaya paham radikal yang mana ciri utamanya gemar menganggap salah pihak lain, merasa paling benar dan gemar membid'ahkan amalan pihak lain. 
 
Terpisah, Ketua PWNU Jateng, KH Mohamad Muzammil saat dimintai keterangan mengungkapkan harapannya, agar LPBHNU ikut memperjuangkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. 
 
"Karena Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil. Berbuat adil itu lebih dekat pada takwa," tuturnya.
 
Selain itu, lanjutnya, juga dengan suka rela menumbuh kembangkan kesadaran hukum. “Termasuk menumbuhkan pemahaman dan kesadaran tentang kewajiban dan hak-hak sebagai warga negara,” pungkasnya.
 
 
 
Pewarta: A Rifqi Hidayat
Editor: Ibnu Nawawi
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 15 September 2019 23:30 WIB
Universitas Trunojoyo Madura Gelar Penguatan Wawasan Kebangsaan 
Universitas Trunojoyo Madura Gelar Penguatan Wawasan Kebangsaan 
Rektor UTM memberikan sambutan pada acara Pendidikan dan Pelatihan Penguatan Wawasan Kebangsaan. (Foto: NU Online/Abdullah Hafidi)
Bangkalan, NU Online
Universitas Trunojoyo Madura atau UTM dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bangkalan, Jawa Timur menjalin kerja sama. Kali ini dengan menggelar Pendidikan dan Pelatihan Penguatan Wawasan Kebangsaan. 
 
KH Muhammad Makki Nasir selaku Ketua PCNU Bangkalan mengemukakan bahwa Madura merupakan kawasan potensial yang sangat penting dalam perputaran perekonomian dunia, khususnya tambang minyak, gas, dan sumber daya mineral lain. 
 
“Maka tidak heran bila akhir-akhir ini secara berantai, kerukunan warga Madura diuji dengan upaya-upaya provokatif memecah belah persatuan,” katanya, Sabtu (14/9).
 
Menurutnya, ada premis kuno disebutkan kalau ingin menguasai Indonesia maka kuasai pulau Jawa, kalau ingin menguasai Jawa maka kuasai Jawa Timur. 
 
“Nah di sini, Madura secara geopolitik nasional merupakan daerah potensi yang sangat urgen dalam perputaran perekonomian Indonesia, bahkan dunia,” ulas Wakil Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Bangkalan tersebut.
 
Kiai yang juga dipercaya menjadi Ketua Koordinator Daerah Nahdlatul Ulama (Korda NU) Madura Raya ini menjelaskan di tengah suasana tersebut masyarakat Madura harus bersatu. 
 
"Madura harus mampu bersatu, dan semua elemen masyarakat khususnya ulama, pemerintah, dan akademisi harus saling menopang antar satu sama lain,” katanya. Karena sekecil apapun peran yang dilakukan akan sangat membantu dalam menopang sebuah pembangunan, lanjutnya.
 
Terkait Nahdlatul Ulama, KH Muhammad Makki Nasir memastikan komitmen warga dan pengurusnya terhadap keberadaan wawasan kebangsaan yang dimiliki. “Bisa dipastikan bahwa NU tidak diragukan lagi atas sifat nasionalismenya," tegasnya.
 
Demikian juga, Pengasuh Pondok Pesantren Falahun Nashiri, Sennenan, Bangkalan tersebut sangat berharap agar di UTM dibangun gedung khusus dengan nama KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.
 
"Harapan PCNU, UTM memiliki gedung khusus yang diberi nama Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid. Agar masyarakat tahu bahwa ada peran besar Gus Dur di kampus ini, dan juga agar melekat pada generasi penerusnya," tandasnya disambut tepuk tangan undangan.
 
H Muh Syarif menyampaikan harapan agar NU selaku organisasi masyarakat (Ormas) yang memperjuangkan penanaman nilai Islam Ahlussunah Waljamaah mampu menjadi rahmat bagi alam semesta.
 
"Apa yang menjadi harapan kita semua, Islam Aswaja an-Nahdliyah akan mampu menjadi rahmatan lil alamin," kata Rektor UTM tersebut.
 
Dirinya juga mengemukakan bahwa usai Pendidikan dan Pelatihan Penguatan Wawasan Kebangsaan perlu dilakukan tindak lanjut dari rancangan rencana yang telah dibuat. 
 
“Hal itu agar dapat dirasakan oleh masyarakat khususnya sekitar kampus," ungkapnya di gedung Rektorat UTM.
 
Muh Syarif melanjutkan ke depan, kerja sama perlu ditingkatkan kembali. “Saya bagian dari keluarga besar NU Bangkalan, sejak masa kepemimpinan Kiai Cholil AG," tandasnya.
 
Pendidikan dan Pelatihan Penguatan Wawasan Kebangsaan diikuti sejumlah dosen di luar UTM ini dibagi menjadi beberapa kelompok. Mereka membuat program Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang nantinya akan digunakan sebagai bagian dari pengabdian masyarakat.
 
Pelatihan kemudian diakhiri dengan penandatanganan nota kesepahaman antara kampus ini dengan PCNU Bangkalan.
 
 
Pewarta: Abdullah Hafidi
Editor: Ibnu Nawawi
 
Ahad 15 September 2019 23:0 WIB
Tujuh Pesantren di Pekalongan Kembangkan Agribisnis Ternak Ayam
Tujuh Pesantren di Pekalongan Kembangkan Agribisnis Ternak Ayam
kunjungan Dinas Kesehatan untuk melihat lokasi dan proses pembuatan kandang ayam di Pesantren Anwarul Mubarok Medono, Kota Pekalongan
Pekalongan, NU Online
Program Kelompok Santri Tani Milenial (KSTM) saat ini sedang digencarkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) menjadi langkah nyata dalam meningkatkan minat generasi muda terhadap dunia pertanian serta menghadirkan wirausahawan baru bidang pertanian.
 
Merespons hal tersebut, Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) Kota Pekalongan menunjuk 7 pesantren yang tergabung dalam Kelompok Santri Petani Milenial KSTM) di Kota Pekalongan untuk mengajukan usulan bisnis ternak ayam ke Kementan. 
 
KSTM dari beberapa pesantren di Kota Pekalongan ini siap menumbuhkembangkan minat santri di bidang ternak ayam. Hal ini disampaikan Kepala Dinperpa Kota Pekalongan, Agus Jati Waluyo. 
 
Menurutnya, peluang bisnis ternak ayam di Kota Pekalongan mulai dilirik kaum milenial. Bahkan bisnis tersebut merambah ke kalangan santri, selain belajar ilmu agama dan ilmu negara juga belajar ilmu hidup sebagai bekal untuk menjadi wirausaha usai mondok. 
 
“Pemerintah Kota Pekalongan tentu sangat mendukung peluang bisnis ternak melalui program KSTM ini dengan harapan dapat mendongkrak perekonomian di Kota Pekalongan,” tutur Jati.
 
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Ilena Palupi menjelaskan, saat ini tujuh KSTM sudah memulai mengerjakan pembuatan kandang ayam. Selain itu masing-masing KSTM mendapatkan bantuan bibit ayam 500 ekor, biaya kandang, pakan, dan obat obatan hewan.
 
"Selama proses pemeliharaan, ketujuh pesantren akan mendapatkan bimbingan secara berkala dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Pekalongan," ungkapnya.
 
Sekretaris Pengurus Cabang Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Kota Pekalongan, H Kholil, kepada NU Online, Ahad (15/9) mengatakan, Di Kota Pekalongan saat ini ada tujuh pesantren yang menerima program dari Kementan berupa budidaya ternak ayam Buras (bukan ras). 
 
"Ada tujuh pesantren yang menerima yakni Pesantren Syafi'i Akrom, Pesantren Qur'an Buaran, Pesantren Sirajut Thalibin Pringlangu, Pesantren Anwarul Mubarok Medono, Pesantren Al-Arifiyah Kebulen, Pesantren Manbaul Falah Sampangan, dan Pesantren Darul Islah Panjang Wetan," jelasnya. 
 
Dikatakan, saat ini ketujuh pesantren sudah mulai mempersiapkan lokasi dan pembuatan kandang ayam. Setelah semuanya siap, baru dari pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian dan Pangan akan menyerahkan bibit ayam, pakan, dan obat-obatan.
 
RMINU Kota Pekalongan berharap, program pemberdayaan santri melalui KSTM bisa menghasilkan santri yang tidak saja mendapatkan ilmu dari pesantren saja, akan tetapi juga ilmu mengelola peternakan yang nantinya bisa menjadi bekal setelah pulang dari pesantren.
 
"Saya sangat mendukung upaya pemerintah dalam upaya pemberdayaan santri, khususnya pembelajaran pengeloaan peternakan ayam," ucap Kholil.
 
Program Kelompok Santri Tani Milenial (KSTM) ini tidak hanya di Kota Pekalongan saja, akan tetapi di beberapa daerah juga menggelontorkan program yang sama sebagai tindak lanjut dari kerjasama PBNU dengan Kementerian Pertanian.
 
Pewarta: Abdul Muis
Editor: Musthofa Asrori
Ahad 15 September 2019 22:30 WIB
Pembelajaran Amtsilati di Sekolah Ini Terbaik se-Madura
Pembelajaran Amtsilati di Sekolah Ini Terbaik se-Madura
Perwakilan SMP Madinatul Akhlaq Bangkalan sebagai yang terbaik bagi metode Amtsilati. (Foto: NU Online/pribadi)
Bangkalan, NU Online
Ada sejumlah metode cara membaca cepat kitab kuning. Di Indonesia ditemukan ada puluhan model dan terbukti efektif dalam membimbing santri agar memeiliki kecepatan dalam membaca dan memahami kitab kuning. Salah satunya adalah metode Amtsilati.
 
Prestasi membanggakan diukir oleh Sekolah Menengah Pertama (SMP) Madinatul Akhlaq. Sekolah yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Al-Ibrahimy, Konang, Bangkalan, Jawa Timur tersebut adalah yang terbaik dalam pembelajaran Amtsilati atau metode cepat bisa baca kitab kuning.
 
Penghargaan diberikan karena SMP Madinatul Akhlaq sebagai penyelenggara metode Asmtsilati terbaik se-Madura yang meliputi empat kabupaten yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.
 
“Penghargaan ini diumumkan saat acara silaturahim dan pelatihan peningkatan mutu pembelajaran Amtsilati se-Madura. Dan ada ratusan ustadz dan guru Amtsilati yang hadir pada acara tersebut,” kata Ustadz Humaidi, Ahad (15/9).
 
Koordinator pelaksanaan pembelajaran metode Amtsilati di SMP Madinatul Akhlaq ini bersyukur akan hasil kinerja positif yang diraih.
 
“Bahkan selain pembelajaran Amtsilati terbaik, SMP Madinatul Akhlaq juga telah melaksanakan program pascaamtsilati sebagai kelanjutannya,” ungkapnya.
 
Dalam pandangannya, capaian tersebut sebagai kerja kolektif seluruh komponen yang ada di pesantren dan sekolah.
 
“Alhamdulillah, ini bukan hanya hasil kerja keras saya, tapi juga hasil kerja keras seluruh anggota tim. Saya hanya kebetulan diamanahi sebagai koordinator,” katanya merendah.
 
Menurutnya, yang tidak kalah penting dari raihan tersebut adalah  juga peran dari pengurus Darusy Syifa' Pondok pesantren Al-Ibrahimy Sumuringin Konang.
 
“Karena kiai dan ustadz di pesantren inilah yang terlibat penuh dalam pelaksanaan program, serta dukungan yang luar biasa dari pihak sekolah,” terangnya.
 
Pemberian penghargaan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Al-Falah Sumberwaru, Pamekasan.
 
Turut hadir beberapa pengurus senior Pondok Pesantren Darul Falah Bangsri Jepara Jawa Tengah yang merupakan pondok penggagas metode Amtsilati di bawah asuhan KH Taufiqul Hakim.
 
 
Editor: Ibnu Nawawi
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG