IMG-LOGO
Nasional

Kembangkan Pupuk Organik, Alumni Pesantren Annuqayah Ini Jual Produknya hingga Afrika

Senin 16 September 2019 4:0 WIB
Bagikan:
Kembangkan Pupuk Organik, Alumni Pesantren Annuqayah Ini Jual Produknya hingga Afrika
Ahmad Mursyid Rois berada di gudang tempat ia memperoduksi pupuk organik. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Jember, NU Online 
Pekerjaan tidak selamanya sesuai dengan bidang pendidikan. Ada kalanya pekerjaan yang ditekuni jauh melenceng dari ilmu yang didapat. Itulah yang terjadi pada Ahmad Mursyid Rois. Lelaki kelahiran Jember, 12 Januari 1971 ini, sebetulnya lebih pas sebagai ustadz karena lulusan pesantren, tepatnya Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep, Madura. Namun keinginannya yang kuat untuk membantu petani di bidang pupuk, membuat arah hidupnya ‘menyimpang’ dari hasil ilmu yang ditimbanya selama 5 tahun di pesantren. Hingga akhirnya ia menjadi pembuat pupuk organik.
 
“Begitu saya pulang dari pondok, saya melihat pupuk kok agak sulit didapat oleh petani. Padahal, pupuk sangat dibutuhkan. Pupuk seperti dipermainkan,” tukasnya kepada NU Online di kediamannya, Dusun Sumberpinang, Desa Karangharjo, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember Jawa Timur, Ahad (15/9).
 
Namun yang membuat Mursyid, sapaan akrabnya, semakin terpacu untuk membuat pupuk organik adalah karena petani begitu cinta kepada urea, yang notbene merupakan pupuk kimia. Masyarakat sudah urea minded, begitu katanya. Padahal dalam jangka panjang, pemakaian pupuk kimia akan menghilangkan kesuburun tanah. Jadi itulah sesungguhnya misi besar yang diemban oleh Mursyid dalam bergelut dengan pupuk organik.
 
“Kalau tanah sudah tak subur, mau ditanami apapun tidak bagus. Kalau orang mengatakan (nyanyian) tongkat kayu dan batu jadi tanaman, itu karena tanah kita subur. Tapi kalau tidak subur, bisa sebaliknya, tanaman akan jadi tongkat dan batu,” lanjutnya.
 
Misi mulia Mursyid itu dimulai tahun 1991 dengan membuat pupuk organik dalam skala industri rumahan. Karena hasilnya cukup menguntunngkan bagi petani dengan harga yang terjangkau, usaha pupuk yang dilakukan Mursyid berlanjut hingga beberapa tahun kedepan. Baginya, membuat pupuk organik tidaklah sulit. Sebab, bahan bakunya cukup  banyak tersedia, apalagi di desa.
 
“Tinggal kita mau atau tidak, kan itu masalahnya,” jelasnya.
 
Mursyid tidak semata-mata tekun dalam bergelut dengan pupuk organik, tapi juga inovatif. Tahun 2006, ayah dari 5 anak itu menelurkan produk baru dengan nama AZENSA. Dalam waktu tak terlalu lama,  pupuk organik merk AZENSA  mendapat respons baik dari  kalangan petani. Selain dijual dalan bentuk jadinya yang dikemas dengan sak berukurun 40 kilogram, juga disediakan kemasan kecil berupa ‘biang’ AZENSA.
 
“Kalau ada yang beli yang sudah instan,  ya tinggal nabur saja. Kalau sukanya beli campurannya (biang), ya monggo. Tinggal nyampur sendiri dengan pupuk kandang. Kita kasih tahu cara nyampurnya, ukurannya berapa dan sebagainya,” ulasnya.
 
Sukses dengan produk AZENSA, Mursyid menerbitkan produk lagi di tahun 2015. Ia memberi nama produknya Bio NAGA 45 SL. Selain diklaim sebagai pengembangan dari AZENSA, pupuk jenis ini merupakan konsentrat pupuk cair dengan kombinasi fitohormon alami dan agensia hayati pemacu pertumbuhan tunas. Dapat merangsng perakaran, memacu pembungaan dan pertumbuhan buah di luar musim untuk buah naga dan holtikultura lainnya. 
 
“Ini pupuk ramah lingkungan. Buah yang dihasilkan bebas residu kimia, dan otomatis meningkatkan harga jual buah. Bio NAGA 45 SL legal secara hukum, ada ijin dari Kementan, dan sebagainya,” ucapnya.
 
Usaha yang dilakukan Mursyid rupanya dipantau oleh pemerintah. Buktinya, tahun 2017, ia mendapatkan  penghargaan dari Kementerian Ristekdikti RI berupa Peringkat III Anugerah Iptek Labdha Kretya. Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka Hari Kebangkitan Teknologi Nasional. 
 
Pemasaran pupuk organik buatan Mursyid yang diproduksi oleh CV Karomah Tani Jember itu menggunakan jaringan antarkonsumen. Sehingga tak heran jika konsumen menghubungi langsung kepada Muryid untuk memesan pupuk organik yang dihasilkannya. Mereka berasal dari Jawa Timur seperti Lumajang, Tulungagung, Ponorogo, Banyuwangi, dan Jember sendiri. Ada juga konsumen dari Pekanbaru, Riau, bahkan Afrika.
 
“Yang dari Afrika itu, tahu produk saya setelah saya menjadi narasumber dalam sebuah acara terkait budidaya kurma di Bogor beberapa waktu. Mereka minta sample dengan keterangan bahasa Inggris dan Spanyol, dan sudah saya kirim, mereka oke. Untuk sementara, mereka minta kiriman 1 ton biang Bio NAGA 45 SL,” urainya.
 
Biang yang dimaksud adalah bakteri pengurai hormon dan  pembelah sel. Biang itu nanti dicampur dengan pupuk organik yang memang sudah tersedia di negara mereka. Harga perkilogramnya adalah Rp100.000. Dikatakannya, selain menyediakan Bio NAGA 45 SL dalam bentuk biang, Mursyid juga memproduksi pupuk yang sudah jadi dengan harga beragam, mulai dari Rp40.000 hingga Rp600.000/kilogram.
 
“Tiap hari pasti ada yang beli, mulai dari setengah kwintal hingga 1 ton. Memang agak  mahal (Rp600.000), karena kegunaannya sama dengan pupuk kimia, tapi isinya adalah organik,” ungkapnya.
 
Murysid berharap agar usahanya dalam memproduksi pupuk organik mendapat dukungan dari semua pihak. Pasalnya, ini bukan sekadar cerita orang jua-beli  pupuk tapi terkait dengan keinginan pemerintah –dan kita semua-- untuk menekan seminimal mungkin penggunaan pupuk kimia. Kenyataannya, meski pemerintah sudah berusaha sedemikian rupa untuk mengubah kebiasaan petani dalam menggunakan pupuk kimia, diantaranya dengan menjual pupuk kimia yang dipaketkan dengan pupuk organik, namun  kebiasaan itu tak juga sirna. Pupuk kimia masih dicari meski kadang sulitnya setengah mati.
 
Masyarakat memang harus terus dibangun kesadarannya untuk beralih ke pupuk organik. Sebab pupuk kimia, tidak sekadar mengancam tergerusnya kesuburan tanah, tapi juga berbahaya terhadap kesehatan manusia akibat mengkonsumsi buah yang dihasilkan oleh pupuk tersebut. Dan, Mursyid telah berkontribusi untuk merubah pola pikir petani yang cenderung urea minded,  betapapun kecilnya.   
 
 
Pewarta: Aryudi AR
Editor: Zunus Muhammad
Bagikan:

Baca Juga

Senin 16 September 2019 23:45 WIB
Sikap PBNU terkait Karhutla: Selamatkan Indonesia dari Asap
Sikap PBNU terkait Karhutla: Selamatkan Indonesia dari Asap
Ketum PBNU, KH Said Aqil Siroj (tengah) menunjukkan pernyataan sikap PBNU terkait kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia (Foto: NU Online/Husni Sahal)
Jakarta, NU Online 
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan keprihatinan atas terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat sekitar, tapi juga ke negeri jiran.  
 
Berdasarkan data sipongi kebakaran hutan dan lahan, sepanjang Januari-15 September 2019 telah terjadi kebakaran seluas 328 ribu hektar di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut mencapai 64 persen dari luas karhutla sepanjang tahun lalu. Adapun karhutla pada tahun ini terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 108 ribu hektar, Riau seluas 49 ribu hektar, dan Kalimantan Tengah 45 ribu hektar.
 
"Kewajiban untuk memelihara alam serta lingkungan bukan hanya kewajiban sebagai warga negara, akan tetap hal ini merupakan bagian dari seruan agama," ungkap Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Gedung PBNU, Jakarta, Senin (16/9).  
 
Kiai Said mengutip pesan Nabi Muhammad Saw dalam hadits:
الناس شركاء في ثلاث الماء والناروالكلاء.
 
Didampingi Sekretaris Jendera Helmy Faishal Zaini, Sekretaris NU Care-LAZISNU Abdur Rouf, dan Ketua LPBI PBNU Ali Yusuf, Kiai Said membacakan poin-poin sikap PBNU terkait karhutla. Mencermati kondisi karhutla tersebut, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menegasakan:

Pertama, kepada pemerintah harus melakukan law enforcement atau penegakan hukum serta mengusut tuntas akar penyebab serta aktor di balik kebakaran hutan yang terjadi.

Kedua, harus ada langkah-langkah pemadaman dan penanggulangan yang efektif dan sistematis, termasuk penanggulangan dampak kebakaran yang menyasar kepada warga dan juga dampak lingkungan dan ekosistem fauna yang ada.

Ketiga, Pemerintah harus segera membangun ruang-ruang aman atau yang biasa disebut dengan safe house dan juga memperbanyak layanan kesehatan di daerah terdampak asap. Bahkan, jika diperlukan pemerintah juga harus siap melakukan tindakan evakuasi terhadap warga yang terdampak karhutla jika situasi mengharuskan tidakan tersebut. 

Keempat, kepada pihak-pihak terkait, terutama pada perusahaan swasta yang memiliki lahan di lokasi karhutla harus bertanggungjawab untuk menanggulangi persoalan ini.  

Kelima, kepada masyarakat, mari bersama-sama membangun solidaritas sosial untuk menghadapi bencana ini. Kita harus berkomitmen untuk meyatukan pemahaman bahwa kebakaran hutan yang terjadi adalah bagian dari perusakan lingkungan dan tidak boleh terjadi lagi di Indonesia. 

Keenam, dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan, terutama menjaga udara yang bersih dan sehat, PBNU mengajak masyarakat untuk bersama-sama menggalakkan penanaman tanaman dan pohon dimulai dari sekitar rumah, lingkungan sekitar dan menghindari kegiatan yang menyebabkan polusi udara.

Ketujuh, Nahdlatul Ulama telah menurukan tim relawan NU Peduli untuk secara sistematis membantu menanggulangi kebakaran hutan, terutama dalam kerja-kerja kemanusiaan, termasuk dalam melakukan upaya pemadaman dan pembagian masker.
 
Selanjutnya, PBNU melalui NU Peduli akan mendirikan pelayanan kesehatan termasuk safe house di beberapa titik di daerah terdampak karhutla.
 
"Nahdlatul Ulama juga menginstruksikan kepada pengurus dana warga NU untuk melaksanakan shalat istisqo’, memohon pertolongan kepada Allah Swtuntuk segera diturunkan hujan agar kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan segera berakhir," kata Kiai Said.
 
Pewarta: Abdullah Alawi
Editor: Kendi Setiawan
Senin 16 September 2019 21:45 WIB
Lokakarya Pesantren Sehat LK PBNU di Indramayu
Lokakarya Pesantren Sehat LK PBNU di Indramayu
Lokakarya pesantren sehat LK PBNU di Indramayu, Jawa Barat (Foto: NU Online/Fanshury Abdillah)
Indramayu, NU Online 
Setelah sukses dengan kegiatan Lokakarya Pesantren Sehat di Cirebon. Lembaga Kesehatan (LK) PBNU bersama Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI kembali menggelar kegiatan Lokakarya Pesantren Sehat dengan melibatkan pesantren di wilayah Indramayu, Jawa Barat.
 
Kegiatan ini berlangsung pada 13-15 September 2019 diikuti pimpinan dan santri dari empat pesantren. Keempat pesantren tersebut adalah Cadang Pinggan Sukagumiwang, As-Syarifiyah Patrol, Hidayatut Thalibin Pasekan, Miftahul Huda Juntinyuat, dan Raudlatul Muta’allimin Singaraja. Selain itu turut hadir pula Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Puskesmas Penanggungjawab, dan pemerintah desa masing-masing pesantren. 
 
Kegiatan lokakarya bertujuan untuk melatih dan mendorong terlaksananya program pesantren sehat.  Setelah mendapat materi tentang langkah dan tahapan pembentukan pesantren sehat, peserta melakukan kunjungan lapangan yakni ke Pesantren Cadang Pinggan, Sukagumiwang Indramayu. Para peserta melakukan Survei Mawas Diri (SMD) dan observasi lingkungan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan pesantren yang dipimpin oleh KH Abdul Syakur Yasin.
 
Irmawati Pasaribu, selaku Kasie Sarana dan Prasarana Promosi Kesehatan, Kemekes RI dan juga pemateri utama kegiatan ini menyampaikan dalam paparannya bahwa pelaksanaan pesantren sehat mesti mendapat dukungan dari berbagai pihak.
 
"Tidak terbatas pada pimpinan pesantren, santri dan puskesmas setempat, tapi juga pihak-pihak lain yang terkait seperti pemerintah desa, departemen agama, NGO, swasta dan mitra potensial lainnya," katanya.
 
Irma mendukung pesantren untuk bisa bekerjasama dengan pihak lain diluar pesantren dalam mensukseskan dan mewujudkan pesantren sehat di daerah masing-masing.
 
Karnali, kuwu Desa Patrol menanggapi bahwa sudah menjadi tugas pemerintah desa untuk melakukan pemberdayaan masyarakat yang ada di wilayahnya, termasuk pesantren. Dengan peraturan sekarang yang ada, desa memiliki kewenangan untuk mengelola dana yang diberikan oleh pemerintah dan mengembangkan potensi masyarakat yang ada di daerahnya sesuai nomenklatur yang ada.

Kegiatan lokakarya pesantren sehat yang dilaksanakan di Indramayu merupakan bagian dari rangkaian roadshow lokakarya program pesantren sehat di beberapa daerah di Jawa Barat dan Jawa Timur yang diselenggrakan oleh LK-PBNU dan Kemenkes RI. Kegiatan ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama oleh seluruh peserta untuk mewujudkan dan mensukseskan program Pesantren Sehat.
 
Kontributor: Fanshury Abdillah
Editor: Kendi Setiawan 
 
Senin 16 September 2019 19:45 WIB
'Kemnaker Menyapa' di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
'Kemnaker Menyapa' di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
'Kemnaker Menyapa' di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, (Foto: Kemnaker)
Yogyakarta, NU Online
Kementerian Ketenagakerjaan mengingatkan perguruan tinggi agar membuat kurikulum dengan metode bermuatan adaptif yang menyiapkan mahasiswa responsif dan survive. Dengan itu, mahasiswa siap menghadapi tantangan di luar dan menjadi pemenang di era kompetisi revolusi industri 4.0.
 
"Generasi muda khususnya mahasiwa/i harus memiliki jiwa petarung, sikap optimistis, berpikir positif dan bekerja keras dalam menghadapi persaingan di masa mendatang," kata Staf Ahli Bidang Ekonomi dan SDM Kemnaker Aris Wahyudi dalam kegiatan 'Kemnaker Menyapa' di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Selasa (10/9),
 
Aris mengatakan saat ini di era revolusi industri semuanya sudah digitalisasi dan digital disruption. Keadaan yang awalnya agak mengacaukan dan mengagetkan semua masyarakat, karena mengakibatkan adanya jabatan/ pekerjaan hilang. 
 
"Tapi jangan terlalu khawatir nanti akan ada jenis-jenis pekerjaan baru,  yang penting terus meningkatkan segala kemampuannya agar tidak tergilas perkembangan teknologi dan informasi," katanya.
 
Aris Wahyudi menambahkan data BPS Februari 2019, angkatan kerja Indonesia saat ini berjumlah 136 juta orang dengan jumlah penganggur 6,82 juta orang (5,01 persen). 
 
Untuk mempercepat penurunan angka pengangguran di daerah-daerah, Kemnaker memperbanyak bursa kerja (job fair) dengan melibatkan partisipasi Pemda, swasta, lembaga pendidikan dan stakeholder lainnya.
 
"Bahkan dalam kesempatan ini juga diadakan job fair di bursa kerja khusus hasil kerja sama Kemnaker, Disnakertrans DIY, dan bursa kerja khusus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Semoga kegiatan ini bisa dimanfaatkan secara optimal oleh para pencari kerja maupun pemberi kerja di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya," katanya.
 
Karo Humas Kemnaker, Soes Hindharno mengatakan 'Kemnaker Menyapa' digelar untuk meningkatkan sosialisasi dan pelayanan informasi kegiatan, program kerja, kebijakan pemerintah di bidang ketenagakerjaan kepada civitas akademika dengan tujuan untuk mewujudkan kesadaran mahasiswa akan arti pentingnya pemahaman bidang ketenagakerjaan. 
 
"Diharapkan kegiatan 'Kemnaker Menyapa' ini dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman civitas akademika dan kebijakan pemerintah khususnya di bidang ketenagakerjaan," ujar Soes Hindharno.
 
Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Yudian Wahyudi berharap civitas akademika UIN Sunan Kalijaga memanfaatkan  program sosialisasi dan informasi Kemnaker secara sungguh-sungguh untuk mempersiapkan masa depan yang gemilang.
 
"Mudah-mudahan setelah ini banyak yang dapat informasi ketenagakerjaan yang bisa dimanfaaatkan secara optimal dan banyak yang dapat pekerjaaan di masa datang. Ini berkah namanya silaturahim," ujar Rektor.
 
Kegiatan sosialisasi ketenagakerjaan dengan lembaga non-pemerintah ini dihadiri Staf Ahli Hubungan Kerja Sama Internasional, Suhartono; Pengantar Kerja Utama, Heri Sudarmanto; Direktur Persyaratan Kerja, Siti Junaedah; Direktur Bina Standarisasi Kompetensi dan Pelatihan Kerja, Sukiyo; dan 400 peserta yang berasal dari Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) dan civitas akademika UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
 
 
Red: Kendi Setiawan
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG