IMG-LOGO
Humor

Habibie Presiden Ketujuh?

Senin 16 September 2019 12:5 WIB
Bagikan:
Habibie Presiden Ketujuh?
Ilustrasi BJ Habibie. (via firar.id)
Siang itu cuaca di Kabupaten Parepare, Sulawesi Selatan mencapai 35 derajat celcius. Cukup menyengat kulit bagi siapa saja yang sedang beraktivitas di luar lapangan.

Kondisi tersebut dirasakan betul oleh murid-murid madrasah ibtidaiyah di sebuah desa di kabupaten tersebut.

Untuk mendinginkan suasana kelas, seorang guru bernama Pak Andi menyampaikan pertanyaan kepada anak-anak didiknya itu.

"Anak-anak, bapak mau bertanya, almarhum BJ Habibie merupakan Presiden RI ke berapa?"

"Ketiga pak guruuuuuu...," jawab murid-murid serentak.

Di tengah kekompakan menjawab pertanyaan itu, ada jawaban lain dari murid bernama Deni. Terdengar sekali perbedaan jawaban Deni dari teriakannya. Dia mengatakan, "Ketujuh pak guruuuuuu."

Sontak semua murid termasuk Pak Andi memandang Deni dengan penasaran. Pak guru mengambil kebijakan untuk menanyai Deni lebih lanjut.

"Deni, coba sebutkan satu persatu Presiden Indonesia?" tanya Pak guru.

"Pertama Soekarno pak guru."

"Lalu?”

"Suharto pak guru."

"Lalu?"

"Suharto, Suharto, Suharto, Suharto, baru Habibie pak guru,” jawab Deni. (Ahmad)
Tags:
Bagikan:

Baca Juga

Rabu 11 September 2019 20:15 WIB
Ibu Pertiwi Itu Apa?
Ibu Pertiwi Itu Apa?
Ilustrasi. (Foto: Antara)
Suatu madrasah di sebuah desa di Sumenep Madura sedang melaksanakan belajar mengajar. Di sudut kelas Pak Jalil sedang mengisi mata pelajaran Kewarganegaraan.

Pak Jalil membuka pelajaran dengan menanyakan kepada murid-muridnya tentang arti ibu pertiwi.

“Ulfi, coba kamu jelaskan ibu pertiwi itu apa?” tanya Pak Jalil kepada Ulfi.

“Ibu pertiwi adalah ibundaku,” jawab Ulfi lantang.

“Jawabanmu bagus sekali,” ujar Pak Jalil memberikan apresiasi.

“Sekarang kamu Ali, coba kamu terangkan ibu pertiwi itu apa menurutmu?” Pak Jalil bertanya lagi.

“Ibu pertiwi adalah emaknya Ulfi, Pak” jawab Ali. (Ahmad)
Jumat 6 September 2019 17:0 WIB
Ger-geran Kiai Wahab dalam Rapat Masyumi
Ger-geran Kiai Wahab dalam Rapat Masyumi
KH Abdul Wahab Chasbullah. (Ilustrasi: Tirto)
Sekitar tahun 1948 awal, Dewan Pengurus Pusat Masyumi mengadakan musyawarah hingga beberapa hari untuk menentukan sikap menerima atau tidak pinangan Bung Hatta kepada Masyumi untuk bergabung di kabinet.

Kabinet tersebut hendak melaksanakan hasil Perjanjian Renville yang selama ini merugikan bangsa Indonesia sehingga Masyumi menerima pinangan Bung Hatta.

Di tengah musyawarah, KH Wahab Chasbullah mengusulkan agar Masyumi menerima pinangan Bung Hatta. Kiai Wahab berpikir, bagaimana Masyumi hendak mempengaruhi kebijakan jika tidak masuk kabinet? Masukan Kiai Wahab mendapat tentangan dari KH Raden Hadjid (Muhammadiyah).

Namun, Kiai Raden Hadjid bisa menerima usulan dan pendapat Kiai Wahab dengan menyampaikan agar kelak anggota DPP Masyumi yang diangkat menjadi menteri di Kabinet Hatta supaya mengikrarkan janji, tidak cukup hanya berniat dalam hati untuk terus berkomitmen menolak Perjanjian Renville.

Terkait niat ini, Kiai Wahab menjelaskan salah satu Hadits Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan, “Ista’inu  ‘ala injaahil hawaiji bil kitmaan...” (HR Imam Thabrani dan Baihaqi). Artinya, mohonlah pertolongan kepada Allah tentang keberhasilan targetmu dengan jalan merahasiakannya. Sebab itu cukup dengan niat dalam hati,” jelas Kiai Wahab.

“Tapi niat mereka harus dinyatakan agar saudara-saudara yang bakal menjadi menteri itu berjanji di hadapan kita, tidak cukup dinyatakan dalam hati,” tanggap Kiai Hadjid.

“Ooh...jadi saudara menghendaki niat itu diucapkan?” Kiai Wahab mengulurkan pancingan.

“Ya, supaya disaksikan kita-kita ini,” ujar Kiai Hadjid tegas.

“Mana bisa...? Niat harus diucapkan...? Mana haditsnya tentang talaffudz bin niyyaat...(melafazkan niat atau mengucapkan niat)?” ucap Kiai Wahab.

“Ggggggrrrrr....” hadirin di forum yang tadinya sempat tegang menjadi cair dengan candaan Kiai Wahab kepada Kiai Raden Hadjid yang juga ikut mesam-mesem. (Fathoni)

*) Disarikan dari KH Saifuddin Zuhri, "Berangkat dari Pesantren" (LKiS, 2013)
Selasa 3 September 2019 14:30 WIB
Gara-gara Saling Menyamar
Gara-gara Saling Menyamar
Borgol (ilustrasi: Media Indonesia)
Menyamar merupakan salah satu strategi polisi untuk menangkap pelaku kriminal. Penyamaran ini dilakukan polisi salah satunya dalam kasus jual beli narkoba.

Dalam suatu daerah yang marak penyebaran narkoba, polisi bergerak melakukan penyamaran. Polisi bernama Baron menyamar sebagai calon pembeli.

Dengan mengendarai sepeda motor, Baron menuju tempat jual beli narkoba di sepanjang pertokoan sepi di malam hari.

Di lokasi tersebut, Baron langsung menemukan penjual narkoba. Transaksi pun dimulai. Baron menyiapkan segala sesuatu untuk menangkap si penjual narkoba itu.

Dengan sigap, Baron melakukan penangkapan. Tapi dia terkejut, si penjual narkoba juga melakukan gerakan yang sama, yaitu menangkap.

“Saudara saya tangkap!” ucap Baron, polisi berpangkat sersan satu ini.

“Anda pun saya tangkap!” kata si penjual mengejutkan Baron.

“Loh?” Baron terheran-heran.

Ternyata keduanya seorang polisi yang sama-sama sedang menyamar pembeli dan penjual narkoba. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG