IMG-LOGO
Daerah

Jangkauan Luas dan Murah, Gunakan Media Sosial untuk Syiar

Rabu 18 September 2019 14:30 WIB
Bagikan:
Jangkauan Luas dan Murah, Gunakan Media Sosial untuk Syiar
Sejumlah narasumber Workshop & Pelatihan Jurnalistik dan Kesusastraan di UIJ. (Foto: NU Online/panitia)
Jember, NU Online
Terbukanya akses media soial yang begitu luas, perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin. Salah satunya untuk syiar Islam. Sebab media sosial mempunyai jangkauan yang cukup luas di samping biayanya murah.
 
Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua Pengurus Cabang  (PC) Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia atau Lesbumi Jember, Jawa Timur, Muhammad Levand. 
 
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Workshop & Pelatihan Jurnalistik dan Kesusastraan di aula Walisongo Universitas Islam Jember (UIJ), Selasa (17/9).
 
Menurutnya, mahasiswa dan generasi muda Islam NU perlu malakukan penetrasi dakwah di media sosial. Hal itu untuk mengimbangi dakwah serupa yang telah lama dikembangkan oleh kelompok radikal dengan narasi yang penuh propaganda.
 
"Ini penting kita lakukan agar masyarakat tidak terjerumus ke jalan yang salah," katanya.
 
Oleh karena itu, katanya, memahami dan mempelajari keterampilan tulis-menulis itu penting agar tulisan mudah dicerna  oleh pembaca. Lebih dari itu, penyampaian yang bagus dengan susunan bahasa  yang bagus pula, lebih menarik masyarakat untuk  membacanya meskipun kontennya boleh jadi sesat dan berbahaya.
 
"Jadi, memang betapa pentingnya penyajian kalimat dan pemilihan bahasa yang bagus. Ada tulisan yang sesungguhnya isinya jelek tapi karena dibungkus dengan bahasa yang menawan, maka tanpa terasa orang membacanya sampai tuntas," terangnya.
 
Dirinya menambahkan bahwa Islam sangat memperhatikan bidang tulis-menulis. Ini bisa dilihat dari surat dalam al-Qur’an yakni al-Qalam yang berarti pena. 
 
Selain itu, juga ada perintah untuk membaca. Objeknya bisa berupa al-Qur'an, tanda-tanda alam dan sebagainya. 
 
Dan dalam perintah membaca itu, otomatis secara implisit  terdapat perintah untuk menulis. "Sebab bagaimana kita bisa membaca kalau tidak ada tulisan," ungkapnya.
 
Sementara itu, Dekan Fakultas Agama Islam UIJ, Jazuli berharap agar peserta workshop yang merupakan mahasiswa baru itu, tidak hanya  menyibukkan diri dengan mata kuliah dan kegiatan internal kampus lainnya tapi juga peduli dengan kegiatan tulis-menulis. Sebab bagaimananpun, keterampilan tulis-menulis, sangat dibutuhkan oleh mahasiswa karena memang banyak tugas yang terkait dengan itu.
 
"Jangan jadi mahasiswa aneh. Kan aneh jika mahasiswa tak bisa menulis," ungkapnya.
 
Pria asal Sukowono, Kabupaten Jember tersebut menegaskan bahwa mahasiswa UIJ merupakan kader-kader NU yang kelak diharapkan dapat  mewarnai jagat pergumulan diskusi-diskusi keagamaan, baik di media sosial maupun ruang-ruang publik. 
 
Karena itu, katanya, mahasiswa UIJ tidak hanya dibekali dengan materi kuliah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) namun juga dikengkapi dengan pelatihan dan bimbingan dialog keagamaan.
 
"Kita tidak boleh minder dengan siapapun kita berhadapan. Kita punya ilmu dan punya bekal yang lain," jelasnya.
 
Workshop tersebut diikuti oleh 100 mahasiwa baru Fakultas Agama Islam UIJ. 
 
 
Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi
 
Tags:
Bagikan:

Baca Juga

Rabu 18 September 2019 22:30 WIB
Inspirasi Novel 'Zonis' dari Maraknya Peredaran Narkoba di Aceh
Inspirasi Novel 'Zonis' dari Maraknya Peredaran Narkoba di Aceh
Novel 'Zonis' karya Sekretaris LTN NU Aceh, Syamsul Bahri (foto: NU Online/Syamsul Bahri)
Banda Aceh, NU Online
Sekretaris LTN NU Aceh, Syamsul Bahri baru saja menerbitkan sebuah novel. Zonis, Suatu Awal di Panteue, disebut-sebut telah ditulisnya sejak tahun 2017. Namun karena kesibukan studi dan mengajar di STISNU Aceh dan tugas kulia, novel tersebut baru bisa selesai tahun ini.
 
"Novel ini sudah saya mulai sejak tahun 2017. Namun karena tugas kuliah S3 baru sekarang bisa terbit," ujarnya, Selasa (17/9).
 
Di Aceh jarang seorang akademisi menulis karya fiksi. Sosok Syamsul Bahri adalah seorang penulis aktif, tulisannya berbentuk artikel ataupun buku.
 
Ia punya alasan mengapa menulis karya fiksi. "Dalam dunia akademisi kita berkutat dengan karya ilmiah. Padahal ada hal-hal yang tidak bisa kita sampaikan dalam dunia nyata. Namun, bisa kita sampaikan secara fiktif dalam novel. Kita bisa mengeksplorasi imajinasi kita seluas-luasnya. Untuk itulah saya tulis Zonis ini," ungkapnya.
 
Novel Zonis terinspirasi dari maraknya peredaran narkoba di Aceh. Dalam novel dikisahkan bagaimana seorang Abu, yaitu tokoh kampung di kota Meureudu, Aceh, harus berhadapan dengan geng bandar narkoba. Warga kampung tidak ada yang berani menegur para pemuda mabuk ganja. yang sudah merajalela. Sehingga, ikut memengaruhi anak-anak sekolah. Tapi, Abu punya prinsip sendiri.
 
"Ada satu slogan persaudaraan rahasia yang menjadi prinsip hidup Abu dalam novel ini. Abu memegang prinsip tujuan kita diutuskan ke muka bumi ini adalah untuk memberantas kedzaliman, itulah prinsip Abu. Ya, dalam novel saya jelaskan semua. Sehingga beliau pun memiliki banyak musuh. Beberapa orang GAM ikut memusuhinya," kata Syamsul serius.
 
Dengan ketebalan 284 halaman, Zonis diterbitkan oleh LSAMA Aceh. Syamsul mengatakan, novelnya cocok dibaca umur remaja dan dewasa. Namun bagaimana sosok Zonis yang diceritakan dalam novel ini?
 
"Banyak orang mengira novel ini mengulas tentang zionis, yang identik dengan perkumpulan rahasia kaum Yahudi. Anggapan ini tidak bisa dipungkiri, artinya bisa saja terjadi, karena nama Zonis dekat dengan Zionis. Tinggal tambah huruf i. Makanya banyak orang beranggapan ini novel Zionis. Zonis, dalam novel ini adalah anak Abu. Dia seorang remaja yang hidup di tengah konflik, dan peredaran ganja cukup besar," paparnya.
 
Ia pun berpromosi. "Saya pikir jika ingin tahu cerita tentang Zonis sebaiknya baca novel ini sampai selesai ya. Cocok untuk remaja kita maupun orang tua," katanya.
 
Red: Kendi Setiawan
Rabu 18 September 2019 21:30 WIB
Dies Natalis Ke-32 IBN Tegal Kaji Kesetaraan Gender
Dies Natalis Ke-32 IBN Tegal Kaji Kesetaraan Gender
Profesor Nazarudin Umar mengisi Dies Natalis IBN Tegal.
Tegal, NU Online
Tanggal 16 September 2019, Institut Agama Islam Bakti Negara (IBN) Tegal Jawa Tengah menapaki usia ke-32. Sebagai perguruan tinggi keislaman swasta, IBN termasuk perguruan tinggi tertua di Jawa Tengah. IBN merupakan salah satu kampus yang berafiliasi dengan LPT NU di Jawa Tengah.
 
Di Usianya yang ke-32, IBN melaksanakan studium general sebagai rangkaian peringatan Dies Natalis, Selasa (17/9) di Halaman Kampus IBN Tegal.
Rektor IBN, H Badrodin mengatakan dengan hadirnya dosen-dosen muda yang produktif, IBN semakin matang dalam kajian-kajian keislaman di wilayah regional, nasional maupun internasional.
 
"Kami kampus Aswaja dengan delapan prodi. Kami merupakan instrumen untuk melaksanakan keberislaman yang salah satunya bervisi kesetaraan gender," ujarnya.
 
Menurutnya, hal ini pula yang menjadi latar belakang studium general mengusung tema Perguruan Tinggi Keislaman sebagai Basis Penafsiran Teks Bervisi Kesetaraan Gender.
 
"Di tengah ramainya tren kajian gender, IBN berikhtiar memberikan penyegaran wawasan dengan menghadirkan profesor, ulama yang expert di bidangnya, Profesor Dr KH Nasarudin Umar, MA," lanjutnya.
 
Dalam paparannya, Nazarudin Umar menjelaskan pentingnya PTKI menjadi garda depan dalam studi-studi keislaman. Salah satunya harus berisi kesetaraan jender. Ini tidak lain karena hingga saat ini masih banyak kalangan yang justru menggunakan ayat-ayat israiliyat sebagai argumentasi keilmuannya.
 
"IBN harus menjadi salah satu kampus yang memperkaya diri dengan kajian-kajian tafsir," tegasnya.
 
Dalam pandangan Nasarudin, perempuan masih saja dilegitimasi sebagai yang separo dibanding laki-laki. Imbasnya, dalam konteks yang lebih luas, masih banyak perempuan yang tidak bisa menduduki posisi strategis di wilayah publik. Ini semua mengharuskan mahasiswa dan dosen harus pula menguasai ilmu bahasa untuk mengetahui tafsir Al-Qur'an.
 
"Al-Qur'an mengamanatkan kesetaraan. Perbedaan itu ada, tetapi tidak boleh ada pembedaan," lanjutnya.
 
Nazarudin berpesan kepada mahasiswa agar tidak terburu-buru menghakimi fenomena keberagamaan di masyarakat dengan bidah, syirik, dan kafir. Mahasiswa harus jeli mengkajinya terlebih dahulu.
 
Dalam acara tersebut juga dilaksanakan anugerah dosen berprestasi di kalangan IBN Tegal. Sebagai dosen berprestasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam adalah, H Royani; Zaki Mubarok sebagai dosen berprestasi Fakultas Syariah dan Ushuludin; dan H M Sobirin sebagai dosen berprestasi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Kependidikan.
 
Red: Kendi Setiawan
Rabu 18 September 2019 20:0 WIB
Bupati Tegal Sebut Keluarga Pesantren Utama Bagi Anak
Bupati Tegal Sebut Keluarga Pesantren Utama Bagi Anak
Bupati Tegal lepas balon pada acara manasik haji usia dini (Foto: NU Online/Nurkhasan)
Tegal, NU Online
Peran orang tua dalam tumbuh kembang anak sangatlah penting. Untuk menyiapkan anak Indonesia yang sehat, unggul dan berakhlak mulia juga dimulai sejak dini melalui pendampingan orang tua. 
 
Masa depan bangsa yang gemilang tidak akan tercapai tanpa adanya generasi unggul. Di mana generasi unggul itu tidak akan terwujud tanpa peran orang tua yang hebat dalam mengasuh anak. 
 
Pernyataan tersebut disampaikan Bupati Tegal, Jawa Tengah Hj Umi Azizah pada acara pembukaan Gebyar Manasik Haji Anak Usia Dini Peserta Didik TK Se-Kabupaten Tegal, di Lapangan Pemda setempat, Rabu (18/9).
 
“Keluarga adalah pesantren utama bagi anak. Karena bagaimanapun keluarga adalah rumah belajar bagi anak dalam mengenal ilmu agama, kasih sayang dan membentuk karakter dimana orang tua adalah mahaguru bagi anak-anaknya,” kata Umi.
 
Ketua Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Kabupaten Tegal itu sangat mendukung kegiatan manasik haji ini. Karena menurut Umi, selain sebagai media menanamkan nilai-nilai dan ajaran Islam, juga memraktikkan hafalan doa dan mendorong anak agar dapat lebih banyak beraktivitas dan berekspresi. 
 
"Penanaman nilai-nilai relijius pada usia dini hal yang sangat penting. Meski ibadah haji dan rukun Islam lainnya baru wajib jika yang bersangkutan sudah masuk usia baligh," tandasnya.
 
Dijelaskan, manasik juga berfungsi sebagai sarana bersosialisasi, berinteraksi, bermain secara mendidik, bermain mencerdaskan dan menyenangkan.
 
“Berikan kesempatan pada anak didiknya untuk menyimak setiap materi yang disampaikan pemandu. Kepada para pembimbing manasik haji, saya harap berikan arahan tentang ritual ibadah haji yang mudah dimengerti dan tata cara manasik atau cara mengerjakannya yang benar,” ujarnya.
 
Kepada NU Online, Ketua Panitia Martuti menyampaikan bahwa kegiatan manasik haji ini dilakukan selama dua hari pada Rabu-Kamis, (18-19/9) diikuti seluruh TK yang terdapat di Kabupaten Tegal.
 
"Kegiatan terbagi menjadi dua tahap, hari pertama 9 kecamatan begitupun dengan hari kedua,” terang Martuti. 
 
Ia menambahkan, kegiatan yang diselenggarakan oleh Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) ini mengangkat tema pendidikan keluarga, karena keluarga merupakan pendidikan paling utama. 
 
Kontributor: Nurkhasan
Editor: Abdul Muiz
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG