Jangkauan Luas dan Murah, Gunakan Media Sosial untuk Syiar

Jangkauan Luas dan Murah, Gunakan Media Sosial untuk Syiar
Sejumlah narasumber Workshop & Pelatihan Jurnalistik dan Kesusastraan di UIJ. (Foto: NU Online/panitia)
Sejumlah narasumber Workshop & Pelatihan Jurnalistik dan Kesusastraan di UIJ. (Foto: NU Online/panitia)
Jember, NU Online
Terbukanya akses media soial yang begitu luas, perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin. Salah satunya untuk syiar Islam. Sebab media sosial mempunyai jangkauan yang cukup luas di samping biayanya murah.
 
Demikian disampaikan oleh Wakil Ketua Pengurus Cabang  (PC) Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia atau Lesbumi Jember, Jawa Timur, Muhammad Levand. 
 
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Workshop & Pelatihan Jurnalistik dan Kesusastraan di aula Walisongo Universitas Islam Jember (UIJ), Selasa (17/9).
 
Menurutnya, mahasiswa dan generasi muda Islam NU perlu malakukan penetrasi dakwah di media sosial. Hal itu untuk mengimbangi dakwah serupa yang telah lama dikembangkan oleh kelompok radikal dengan narasi yang penuh propaganda.
 
"Ini penting kita lakukan agar masyarakat tidak terjerumus ke jalan yang salah," katanya.
 
Oleh karena itu, katanya, memahami dan mempelajari keterampilan tulis-menulis itu penting agar tulisan mudah dicerna  oleh pembaca. Lebih dari itu, penyampaian yang bagus dengan susunan bahasa  yang bagus pula, lebih menarik masyarakat untuk  membacanya meskipun kontennya boleh jadi sesat dan berbahaya.
 
"Jadi, memang betapa pentingnya penyajian kalimat dan pemilihan bahasa yang bagus. Ada tulisan yang sesungguhnya isinya jelek tapi karena dibungkus dengan bahasa yang menawan, maka tanpa terasa orang membacanya sampai tuntas," terangnya.
 
Dirinya menambahkan bahwa Islam sangat memperhatikan bidang tulis-menulis. Ini bisa dilihat dari surat dalam al-Qur’an yakni al-Qalam yang berarti pena. 
 
Selain itu, juga ada perintah untuk membaca. Objeknya bisa berupa al-Qur'an, tanda-tanda alam dan sebagainya. 
 
Dan dalam perintah membaca itu, otomatis secara implisit  terdapat perintah untuk menulis. "Sebab bagaimana kita bisa membaca kalau tidak ada tulisan," ungkapnya.
 
Sementara itu, Dekan Fakultas Agama Islam UIJ, Jazuli berharap agar peserta workshop yang merupakan mahasiswa baru itu, tidak hanya  menyibukkan diri dengan mata kuliah dan kegiatan internal kampus lainnya tapi juga peduli dengan kegiatan tulis-menulis. Sebab bagaimananpun, keterampilan tulis-menulis, sangat dibutuhkan oleh mahasiswa karena memang banyak tugas yang terkait dengan itu.
 
"Jangan jadi mahasiswa aneh. Kan aneh jika mahasiswa tak bisa menulis," ungkapnya.
 
Pria asal Sukowono, Kabupaten Jember tersebut menegaskan bahwa mahasiswa UIJ merupakan kader-kader NU yang kelak diharapkan dapat  mewarnai jagat pergumulan diskusi-diskusi keagamaan, baik di media sosial maupun ruang-ruang publik. 
 
Karena itu, katanya, mahasiswa UIJ tidak hanya dibekali dengan materi kuliah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) namun juga dikengkapi dengan pelatihan dan bimbingan dialog keagamaan.
 
"Kita tidak boleh minder dengan siapapun kita berhadapan. Kita punya ilmu dan punya bekal yang lain," jelasnya.
 
Workshop tersebut diikuti oleh 100 mahasiwa baru Fakultas Agama Islam UIJ. 
 
 
Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi
 
BNI Mobile