IMG-LOGO
Nasional

Warek UI: Pendidikan Karakter Hari Ini Perlu Pemikiran Kritis

Kamis 19 September 2019 1:30 WIB
Bagikan:
Warek UI: Pendidikan Karakter Hari Ini Perlu Pemikiran Kritis
Foto: NU Online/Syakir
Jakarta, NU Online
Pendidikan karakter menjadi hal yang diusung dalam kurikulum pendidikan terbaru. Wakil Rektor Universitas Indonesia Bambang Wibawarta mengatakan bahwa dalam pendidikan karakter sangat diperlukan pemikiran kritis.

“Yang diperlukan adalah critical thinking (pemikiran kritis),” katanya saat menjadi narasumber pada diskusi pendidikan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Rabu (18/9).

Hal ini, menurutnya, penting mengingat ada kekhawatiran terjadinya hegemoni akibat dari konsumsi media sosial yang berlebihan dari para pelajar saat ini yang tergolong dalam generasi Z sebagai digital native.

“Tidak perlu khawatir. Yang paling penting kita mempunyai critical thinking daya kritis dan juga pemahaman terhadap media,” katanya dalam diskusi bertema Mendorong Pendidikan Berkarakter demi Terwujudnya SDM Unggul itu.

Daya kritis dalam pendidikan karakter juga, katanya, harus dibarengi dengan nilai-nilai yang terinternalisasi dalam diri melalui budaya. Sebab, lanjutnya, berbicara karakter tidak akan bisa lepas dengan budaya sebagai sebuah kekuatan lunak yang diam-diam memberikan pengaruh besar terhadap diri manusia.

“Kalian di sini, di IPNU diajari nilai-nilai banyak yang bersandingan bersinggungan dengan nilai-nilai yang masuk bersama dengan kekuatan lunak tadi. Jadi kekuatan lunak (budaya) ini adalah mau tidak mau berkaitan dengan kita,” kata guru besar susastra Universitas Indonesia itu.

Namun, sering kali hal pengetahuan hanya sebatas informasi yang diketahuinya, tetapi tidak terinternalisasi dalam diri sehingga tidak mewujud menjadi perilaku. Ia mencontohkan tak sedikit orang yang mengetahui bahwa berkendara melawan arah di jalan tidak diperbolehkan, tetapi tetap dilakukan dengan berbagai alasan.

Melihat fakta demikian, Bambang menyatakan bahwa memang perlu dilatih. Sebab, nilai karakter tidak terlihat. Produk darinya adalah tingkah laku.

“Nilai-nilai itu adanya di bawah, nggak kelihatan. Yang keluar adalah tingkah laku, produknya praktiknya dan bagaimana itu bisa menjadi perilaku atau praktik harus ada strateginya harus dilatih dan seterusnya,” jelasnya.

Selain Bambang, diskusi yang diikuti oleh puluhan kader IPNU itu juga dihadiri oleh Direktur Eksekutif Mata Air Muhammad A Idris dan Pemerhati Pendidikan sekaligus Sekretaris Umum PP IPNU Mufarrihul Hazin.
 

Pewarta: Syakir NF
Editor: Alhafiz Kurniawan
Bagikan:
Kamis 19 September 2019 19:30 WIB
Ini Penjelasan Logo Hari Santri 2019
Ini Penjelasan Logo Hari Santri 2019
Logo Hari Santri 2019 karya Muhammad Ainun Na’im (@mas_naim).
Jakarta, NU Online
Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Al-Islamiyyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU) sebagai penyelenggara Sayembara Logo Hari Santri 2019 menjelaskan bahwa logo Hari Santri 2019 terbentuk dari kata “santri” yang ditulis aksara Arab. Kata “santri” membentuk sebuah logo yang menggambarkan kobaran api.

Kobaran api pada logo karya Muhammad Ainun Na’im (@mas_naim) menunjukkan semangat menyala kalangan santri dalam mengamalkan fatwa Resolusi Jihad NU dan semangat mereka dalam memelihara keutuhan NKRI demi mewujudkan Indonesia makmur dan sejahtera.

“Logo terdiri atas komposisi sejumlah warna. Gradasi warna biru dan hijau merupakan citra kesuburan dan kemakmuran Indonesia dengan kekayaan alam baik di laut maupun di darat,” kata salah satu dewan juri Sayembara Logo Hari Santri 2019, M Alfu Niam, mengutip ulang gagasan pembuat logo, kepada NU Online, Rabu (18/9).

Adapun warna emas, lanjutnya, yang menjadi titik pada logo itu menyiratkan santri sebagai generasi emas bangsa Indonesia dan penjaga tradisi keislaman dan keindonesiaan. “Warna emas dalam logo berjumlah lima titik yang menandai lima rukun Islam sebagai simbol keislaman dan menandai lima sila dasar negara sebagai simbol keindonesiaan,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui, RMI NU telah mengumumkan juara sayembara logo atas nama Muhammad Ainun Na’im (@mas_naim). Juara sayembara berhak mendapatkan hadiah senilai Rp 5 juta.

Pihak panitia akan memberikan hadiah kepada Muhammad Ainun Na’im senilai Rp 5 juta berupa uang tunai sebesar Rp 3 juta dan suvenir senilai Rp 2 juta. Pihak panitia menjadikan karya pemenang sebagai logo Hari Santri 2019.

Pemilihan juara dilakukan setelah melalui sejumlah tahapan yang telah ditentukan oleh panitia. Pemilihan juara sayembara logo oleh dewan juri yang terdiri atas lima orang ini didasarkan pada pertimbangan dengan kriteria penilaian yang juga telah ditentukan. Perlu diketahui, ada 233 orang yang mengikuti Sayembara Logo Hari Santri 2019.

“Logo (pemenang) menjadi logo Hari Santri 2019 oleh PP RMI NU yang berlaku secara nasional. Keputusan tersebut final dan tidak bisa diganggu gugat serta mengikat,” kata dewan juri Sayembara Logo Hari Santri 2019, Hatim Gazali.

Kriteria penilaian dewan juri mencakup unsur keunikan, kesederhanaan, kemudahan untuk diingat, kesesuaian logo dengan tema dan karakter, aplikatif, hitam dan putih serta fleksibel pada semua warna, dan timeless/keabadian.

“Banyak sekali logo yang bagus. Ini menunjukkan santri merupakan generasi yang kreatif. Tetapi kita sebagai dewan juri harus menentukan siapa juaranya,” kata Hatim.

Untuk mengunduh logo Hari Santri 2019 dengan kualitas tinggi, silahkan klik tautan berikut: https://drive.google.com/file/d/0B3S2oUKMQ1Mjdmc1R3pfRWZtbVVQYnhidG1rVTVaLU1nVnRZ/view?usp=drivesdk

Pewarta: Alhafiz Kurniawan
Editor: Muchlishon
Kamis 19 September 2019 16:30 WIB
Tiga Masalah Kepemudaan Perlu Jadi Perhatian Media Online
Tiga Masalah Kepemudaan Perlu Jadi Perhatian Media Online
Stafsus Menpora Bidang Kemitraan dan Komunikasi, Zainul Munasichin membuka Lokakarya Kontribusi Media Online dalam Merawat Kebhinekaan Bangsa di Jakarta, Kamis (19/9). (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Jakarta, NU Online
Tak bisa dipungkiri bahwa pemuda merupakan masa depan bangsa. Namun, pemuda tak sunyi dari masalah. Setidaknya ada tiga persoalan yang mendera pemuda saat ini.
 
"Tiga masalah tersebut perlu menjadi perhatian para jurnalis agar ikut berperan serta dalam mengatasinya," kata Kepala Biro Hukum dan Humas Kemenpora RI Sanusi saat menjadi narasumber dalam lokakarya Kontribusi Media Online dalam Merawat Kebhinekaan Bangsa di Hotel Aone, Jakarta, Kamis (19/9).
 
Ketiga persoalan itu, pertama, terkait degradasi moral dan nasionalisme. Tidak sedikit pemuda yang tergerus cintanya terhadap Tanah Air. Mereka kering nasionalismenya. Di sisi lain, terdapat pemuda yang moralnya rapuh.
 
"Yang begini ini juga menjadi tanggung jawab media online untuk memberikan pencerahan agar generasi muda bangkit nasionalisme dan moralnya," terang Sanusi.
 
Kedua, terkait narkoba. Sudah menjadi rahasia umum bahwa narkoba di Indonesia telah merangsek ke berbagai elemen masyarakat, termasuk kalangan pemuda. Bahkan, merujuk data BNN (Badan Narkotika Nasional) tahun 2018 pengguna narkoba sebagian besar adalah kalangan pemuda.
 
Peran media online (daring), kata dia, salah satunya adalah mensosialisasikan bahaya narkoba. Meskipun bahaya narkoba sudah tidak henti-hentinya disuarakan oleh berbagai kalangan, namun media online mempunyai jaringan (pembaca) yang luas sehingga pesannya sampai kepada generasi muda.
 
"Kita berharap pemuda bisa selamat dari pengaruh narkoba," ucap mantan pegawai Kementerian Hukum dan HAM ini.
 
Ketiga, terkait dengan LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender). Menurut Sanusi, persoalan ini tidak bisa dianggap sepele karena karena kasus LGBT sudah semakin tampak di masyarakat. Bahkan, sering terjadi kasus pidana yang melibatkan asmara sesama jenis.
 
"Itu harus segera diatasi. Tentu saja kita berharap bantuan media online," tandasnya.
 
Sanusi menegaskan, yang paling mengkhawatirkan dari persoalan pemuda adalah terkait dengan narkoba dan radikalisme. Narkoba sudah jelas daya rusaknya. Pemuda yang terpapar narkoba sudah cukup mengerikan.
 
Sementara radikalisme, para pemuda juga tak sedikit terpapar ideologi berbasis kekerasan itu. Bahkan, sejak lama radikalisme menyasar perguruan tinggi.
 
"Itu harus jadi perhatian kita semua. Jumlah pemuda saat ini sekitar 60 juta. Bayangkan jika narkoba dan radikalisme sudah melanda mereka," pungkasnya.
 
Lakakarya (workshop) yang dibuka oleh Staf Khusus Menpora Bidang Kemitraan dan Komunikasi, Zainul Munasichin, tersebut diikuti sekitar 40 pegiat media online. Mereka berasal dari perwakilan sejumlah media online keislaman moderat.
 
 
Pewarta: Aryudi AR
Editor: Musthofa Asrori
Kamis 19 September 2019 15:0 WIB
Penasihat Presiden Mesir: Kasih Sayang Kunci Agama
Penasihat Presiden Mesir: Kasih Sayang Kunci Agama
Penasihat Presiden Mesir Usamah Mahmud al-Azhari berbicara pada kuliah umum di Auditorium Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, di Ciputat Tangsel, Rabu (18/9).
Tangerang Selatan, NU Online
Pemikiran ekstrem memunculkan narasi yang begitu keras. Hal demikian perlu diimbangi dengan wacana kasih sayang. Penasihat Presiden Mesir Usamah Mahmud al-Azhari menyampaikan bahwa kasih sayang itulah menjadi kunci.
 
“Kunci agama adalah akhlak kasih,” katanya saat menjadi narasumber pada kuliah umum Fakultas Dirasat Islamiyah di Auditorium Harun Nasution, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Jalan Ir H Juanda No.95, Kota Tangerang Selatan, Banten, Rabu (18/9).
 
Ia menyampaikan sebuah hadis tentang kasih sayang, al-rahimuna yarhamuhum al-Rahman, irhamu man fi al-ardli, yarhamkum man fi al-samai, Yang Maha Pengasih mengasihi orang-orang yang penuh kasih, maka kasihilah orang di bumi, Dzat yang di langit pun akan mengasihi kalian.
 
Hadis tersebut merupakan yang pertama kali didengar dari gurunya. Hadis tersebut juga didengar pertama kali dari gurunya, terus bersambung hingga Imam Zakariya al-Anshari, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, sampai pada sumber utamanya, yakni Nabi Muhammad saw. “Inilah kalimat inti kenabian,” kata Syekh Usamah.
 
Lebih dari itu, ia juga menyampaikan bahwa Rasulullah diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, wa maa arsalnaka illa rahmatan lil alamin. Artinya, kata Syekh Usamah, Nabi tidak saja diutus bagi orang-orang Muslim, ataupun ahli kitab, atau hanya manusia saja. Tetapi, untuk semua yang terdapat di alam semesta. Hal tersebut harus dijaga dan disebarkan. “Jagalah ini dan sebarkanlah,” tegasnya.
 
Selain itu, ayat pertama dalam Al-Qur’an juga berbicara tentang kasih sayang, yakni pada lafal basmalah di surat al-Fatihah. “Juga karena al-Qur'an dalam ayat pertama fatihah itu basmalah,” ucapnya dalam kuliah umum dengan tema Moderatisme Al-Azhar dalam Menghadapi Pemikiran Ekstrem.
 
Kuliah umum ini juga dihadiri oleh Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Hj Amani Burhanuddin Umar Lubis, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum sekaligus Rektor Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta Prof Chuzaemah Tahido Yanggo, dan Duta Besar Republik Arab Mesir untuk Indonesia Ahmed Amr Ahmed Moawad.
 
Kegiatan ini diikuti oleh ratusan mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan alumni Universitas Al-Azhar.
 
 
Pewarta: Syakir NF
Editor: Musthofa Asrori
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG