IMG-LOGO
Opini

Gus Dur dan Peneguhan Negara Bangsa

Kamis 19 September 2019 21:30 WIB
Bagikan:
Gus Dur dan Peneguhan Negara Bangsa
Lukisan Gus Dur karya Nabila Dewi Gayatri.
Oleh Fathoni Ahmad
 
Pergolakan dalam membangun negara dengan segala sistemnya telah mewarnai bangsa Indonesia dari masa ke masa. Hal itu terlihat ketika sejumlah kelompok berupaya melakukan pemberontakan agar sistem yang menjadi cita-citanya diterapkan di Indonesia. Namun, berkat briliannya para pendiri bangsa dengan pemikiran moderat dan terbuka membuat masyarakat Indonesia tetap bersatu sebagai sebuah negara bangsa dengan fondasi kokoh Pancasila.

Pancasila merupakan dasar negara untuk memperkuat negara bangsa (nation state). Hal ini terus diperjuangkan di antaranya oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) karena secara kultur dan kemajemukan, rakyat Indonesia lebih tepat untuk hidup bersama yang diikat oleh konsensus kebangsaan. Bukan negara agama, bukan juga negara yang memisahkan diri dari agama (sekuler). (Baca Nur Khalik Ridwan, Negara Bukan-Bukan: Prisma Pemikiran Gus Dur tentang Negara Pancasila, 2018)

Karena Indonesia bukanlah negara agama tetapi negara orang-orang beragama dan bukan pula negara sekuler, Almarhum KH Ahmad Hasyim Muzadi pernah melontarkan guyonan bahwa negara Indonesia adalah ‘negara yang bukan-bukan’.

Gus Dur merupakan tokoh Muslim yang banyak menginspirasi masyarakat Indonesia akan arti kebangsaan yang harus terus dijaga, dirawat, dan dimajukan demi kehidupan kemanusiaan yang lebih luas. Gus Dur bersama ulama-ulama pesantren juga menggagas penerimaan negara Pancasila di kalangan Muslim serta bangsa Indonesia sambil memberi catatan-catatan dan isi yang progresif.

Muktamar NU 1984 menjadi tonggak sejarah bagi NU, organisasi para kiai pesantren ini untuk kembali ke Khittah 1926. NU menegaskan diri sebagai Jam’iyyah Diniyyah Ijtima’iyyah (organisasi sosial keagamaan) sesuai amanat pendirian organisasi pada 1926, bukan lagi sebagai organisasi politik praktis.

Dalam Muktamar itu ada tiga komisi, salah satunya adalah Komisi Khittah yang membahas paradigma, gagasan dasar, dan konsep hubungan Islam dan Pancasila. Dua komisi lain membahas tentang keorganisasian yang dipimpin oleh Drs Zamroni dan Komisi AD/ART dipimpin oleh KH Tholhah Mansur. Dengan jumlah anggota rapat komisi yang cukup banyak, mereka membahas secara terpisah di tempat yang berbeda.

Gus Dur memimpin subkomisi yang merumuskan deklarasi hubungan Islam dan Pancasila. Salah seorang cucu Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari  (1871-1947) ini kemudian menunjuk lima orang kiai sebagai anggotanya, yaitu KH Ahmad Mustofa Bisri dari Rembang, KH Hasan dari Medan, KH Zahrowi, KH Mukafi Makki, dan dr Muhammad dari Surabaya.  (Baca KH Husein Muhammad, Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, 2015)

Gus Dur membuka rapat dengan bertanya kepada anggotanya satu per satu soal pendapatnya tentang hubungan Islam dan Pancasila. Mereka menyampaikan pandangannya terhadap satu per satu sila dalam Pancasila disertai sejumlah argumen keagamaannya. Gus Dur mendengarkan dan menyimak dengan penuh perhatian.

Pada dasarnya, Pancasila menurut para kiai dalam subkomisi ini tidak bertentangan dengan Islam, justru sebaliknya sejalan dengan nilai-nilai Islam. “Pancasila itu Islami,” simpul mereka seperti diungkapkan Gus Mus.

Usai mereka menjawab, Gus Dur berkata, “Bagaimana jika ini (Pancasila itu Islami, red) saja yang nanti kita sampaikan, kita deklarasikan di hadapan sidang pleno Muktamar?” tanya Gus Dur. Tanpa pikir panjang, mereka setuju, sepakat bulat, lalu rapat ditutup. “Al-Fatihah!” Menurut pengakuan Gus Mus, kala itu Gus Dur tersenyum manis, ya manis sekali.

Lalu Gus Mus memberikan kesaksian, “Gus Dur hebat sekali. Rapat untuk sesuatu yang mendasar dan pondasi bagi penataan relasi kehidupan berbangsa dan bernegara hanya diputuskan dalam waktu 10 menit! Sementara komisi yang lain rapat sampai berjam-jam bahkan hingga subuh untuk memutuskan pembahasan sesuai bidangnya masing-masing.”

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa Gus Dur melihat perlunya dikembangkan pemikiran untuk mencari nilai-nilai dasar bagi kehidupan bangsa. Nilai-nilai dasar itu bisa ditarik dari dua arah. Pertama, nilai-nilai agama dan kepercayaan, karena ajaran agama akan tetap menjadi referensi umum bagi Pancasila.

Kedua, bisa juga dilihat dengan cara bahwa agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan harus memperhitungkan eksistensi Pancasila sebagai ‘polisi lalu lintas’ yang akan menjamin semua pihak bisa menggunakan jalan raya kehidupan bangsa tanpa terkecuali.

Penulis adalah Redaktur NU Online
 
Bagikan:

Baca Juga

Ahad 15 September 2019 15:15 WIB
Salah Kaprah soal Istilah Makam dan Kuburan
Salah Kaprah soal Istilah Makam dan Kuburan
Dari mana asal usul istilah "kuburan" dan "makam". (Ilustrasi: Daily Sabah)
Oleh Halimi Zuhdy
 
“Ustadz, kuburan Nabi Ibrahim kok kecil sekali ya?” ungkap salah seorang jamah Umrah ketika baru pulang dari Makkah.
 
“Kuburan yang mana Pak? Apakah Bapak ke Kuburan Nabi Ibrahim?” saya bertanya kembali.
 
“Yang dekat Ka’bah itu ustadz, bukankah itu kuburan Nabi Ibrahim?” jawabnya dengan polos.
 
“Kuburan Nabi Ibrahim itu di kota Hebron Palestina, Bapak. Hebron (Hebrew) itu bahasa Ibrani yang berarti al-Khalil, sebuah gelar yang disematkan kepada Nabi Ibrahim,” sedikit saya jelaskan di mana Nabiyuna Ibrahim dikuburkan.
 
“Itu maqam bukan kuburan, Bapak. Maqam artinya tempat Nabi Ibrahim berpijak ketika membangun Ka’bah,” saya coba menjelaskan, tapi ia masih bengung.
 
***
 
Beberapa bulan yang lalu, penulis berkunjung ke Qal’ah (Benteng) Salahuddin al-Ayyubi yang berada di Daerah ‘Ajlun Yordania, orang-orang juga menyebutnya dengan Qal’ah Ajluan. Sebelum menaiki tangga pertama ada tulisan Maqam Nabi Khidir ‘alaihissalam. Ketika penulis berkunjung ke dekat tempat tersebut, salah seorang pengunjung yang dari Indonesia bertanya,
 
“Ustadz, apakah di tempat ini Nabi Khidir dikuburkan?” pertanyaan yang sebenarnya tidak butuh jawaban, karena Nabi Hidir dalam sejarah kenabian tidak pernah ditemukan kuburannya, karena beliau termasuk manusia yang ditangguhkan ajalnya oleh Allah (banyak iktilaf tentang ini).
 
“Bapak, ini bukan kuburan, tetapi jejak Nabi Hidir. Ia pernah hadir di sini, dan juga mungkin hadir dan menjejakkan kakinya di tempat lainnya,” jawab saya sambil tersenyum.
 
“Maqam yang di belakang kita itu, bukan kuburan tetapi tempat istirahat sejenak atau tempat Nabi Khidir pernah di sini.”
 
***
 
Selama ini bapak tersebut atau beberapa jamaah umrah/haji, atau pula masyarakat umum menganggap bahwa maqam (makam) Ibrahim adalah kuburan. Dalam bahasa Arab istilah kuburan sinonim yaitu, maqbarah, dharih, marqad, lahd, syaq, jadst, masyhad, dan beberapa kosa kata lainnya.

Beberapa kosa kata Arab tersebut memiliki beberapa perbedaan, misalnya antara lahd (اللحد) dan syaq (الشق). Lahd di Indonesia kita kenal dengan liang lahat, atau orang menyebutnya dengan pekuburan “lubang landak”, sedangkan syaq adalah kuburan yang mayatnya diletakkan di tengah, dan yang kedua ini banyak digunakan oleh orang Indonesia. Dalam hadits Nabi, keduanya diperbolehkan, tapi lahd (liang lahat) yang digali kesamping lebih utama sebagaimana hadits “Al-lahd lana wa al-syaq li gahirina”.
Kuburan dalam KBBI daring adalah tanah tempat menguburkan mayatmakam. Sedangkan pekuburan adalah tempat yang luas yang khusus digunakan untuk menguburkan mayattanah pemakamanMakam dalam KBBI daring memuat lima makna; (1) kubur, (2) tempat tinggalkediaman, (3) jalan panjang yang berisi tingkatan yang harus ditempuh oleh seorang sufiyang penuh dengan berbagai kesulitan dan memerlukan usaha yang sungguh-sungguh sehingga tercapai keadaan yang tetap menjadi milik pribadi orang sufi, (4) pahatan bekas telapak kaki Nabi Ibrahim a.s. ketika membangun Ka’bah, terdapat dalam Masjidilharam, (5) kedudukan mulia (tinggi).
 
Dalam bahasa Arab, kuburan (القبر) adalah mengebumikan jenazah, memendam, melupakan, memasukkan, menyembunyikan. Sedangkan tempatnya adalah maqbarah (مقبرة). Dan ini sesuai dengan istilah yang digunakan oleh masyarakat Indonesia, hanya saja tempatnya tidak disebut “makbarah” tetapi pekuburan. Dan dalam bahasa Indoensia antara kubur dan kuburan memiliki makna yang sama, tempat menguburkan mayat.
 
Selain Kuburan ada istilah makam, dan yang menimbulkan banyak kesalahpahaman, bahkan bisa salah memaknai. Makam dalam bahasa Arab adalah maqam (مقام), menggunakan huruf “qaf” bukan “kaf”, bila menggunkan “kaf” tidak ditemukam kosa katanya. Maqam berarti, ‘tempat berpijaknya dua kaki, kedudukan seseorang, berdiri, bangkit, bangun, berangkat’. Dalam kamus bahasa Arab tidak ditemukan arti ‘kuburan’. Sedangkan dalam bahasa Indonesia (KBBI), makam (yang sebenarnya adalah maqam) diartikan dengan ‘kuburan’ walau juga memiliki makna yang lainnya (seperti yang tersebut di atas).
 
Saran penulis, bila ‘makam’ akan diartikan ‘kedudukan mulia, pahatan bekas kaki Ibrahim, jalan panjang bertingkat seorang sufi’ maka hendaknya ditulis dengan ‘maqam’. Karena kata ‘makam’ itu sendiri dari asalnya tidak memiliki makna kuburan, kecuali sudah diserap dan memiliki makna lain (kuburan) maka ditulis dengan Makam. Itu pun juga memiliki makna sendiri bila makam disebut makam, bukan seperti pekuburan umum, tapi lebih kepada pekuburan auliya' para wali atau orang-orang yang dimuliakan.
 
Namun dalam beberapa keterangan yang lain, bisa juga makam disebut pekuburan bila makam (maqam) berarti al-dharih, kuburan yang megah. Dan istilah Al-dharih ini penulis banyak ditemukan di Petra (al-Batra’), ada Al-Dharih (pekuburan) Tentara Rumania, Ular, Jin dan kuburan lainnya.
 
 
Penulis adalah Dosen Bahasa dan Sastra Arab (BSA) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang; Wakil Ketua RMI PCNU Kota Malang
 
 
Sabtu 7 September 2019 9:30 WIB
Mengadministrasikan Islam Nusantara ke Dalam Fungsi Legislasi DPRD
Mengadministrasikan Islam Nusantara ke Dalam Fungsi Legislasi DPRD
Pribumisasi Islam mesti responsif terhadap realitas dan perkembangan masyarakat. (Ilustrasi: NU Online)
Oleh Achmad Faiz MN Abdalla
 
Pemilihan Legislatif 2019 usai digelar. Sebanyak 50 anggota DPRD Kabupaten Gresik periode 2019-2024 terpilih dan telah dilantik tanggal 23 Agustus kemarin. Masyarakat tentu layak berharap, akan ada gebrakan baru untuk wujudkan perubahan.
 
Guna memenuhi harapan masyarakat itu, tentu dibutuhkan spirit baru. Bagaimana DPRD yang terbentuk ke depan benar-benar bekerja sesuai dengan harapan masyarakat. Karena sejatinya, DPRD dipilih untuk mewakili aspirasi masyarakat.
 
Salah satu spirit yang relevan itu, hemat saya, adalah spirit Islam Nusantara. Islam Nusantara yang mulai diperkenalkan sejak 2015 sebagai spirit keislaman moderat, menarik untuk dikembangkan atau diintrodusir dalam bidang pemerintahan. 
 
Bagi saya, Islam Nusantara bukan hanya konsep keislaman untuk menangkal radikalisme dan mengampanyekan Islam moderat keindonesiaan. Bila diambil subtansinya, Islam Nusantara sejatinya sebuah konsep bagaimana suatu ajaran tak membatasi diri sebagai teks-normatif, melainkan ia pun mampu beradaptasi dengan budaya dan kearifan lokal atau konteks sosiologisnya.  
 
Bahasa yang mudah, Islam Nusantara adalah pribumisasi Islam atau konsep Islam yang responsif terhadap realitas dan perkembangan masyarakat. Sehingga Islam tidak menjadi suatu ajaran yang kaku, hanya formalistik dan eksklusif.
 
Spirit itulah yang perlu dikembangkan di berbagai bidang masyarakat, tak terkecuali pemerintahan. Sebagai representasi rakyat, DPRD harus mampu menjadi lembaga yang mewajahkan aspirasi masyarakat dengan membuat produk-produk legislasi yang responsif dan menjawab persoalan di masyarakat. 
 
Bukan sebaliknya, justru membuat produk-produk legislasi yang kaku dan jauh dari harapan masyarakat, atau bahkan bertentangan dengan asprasi masyarakat. Kesenjangan antara produk legislasi dengan kehendak dan aspirasi masyarakat tersebut, tentu bertentangan dengan spirit yang diusung Islam Nusantara.
 
Untuk itu, dibutuhkan ruang dialogis secara intensif antara DPRD dengan masyarakat. Bagaimana euforia demokrasi tidak hanya terasa saat pemilihan. Justru, ruang dialogis antara DPRD dengan masyarakat lebih krusial terjalin saat pemerintahan berjalan. 
 
Karena itu, perlu digagas bagaimana ruang dialogis ini selalu terbangun dan berjalan efektif. Sehingga aspirasi masyarakat dengan kebijakan dan produk legislasi tak berjarak. Salah satunya, melalui pendirian “rumah aspirasi” di setiap kecamatan.
 
Rumah aspirasi itu tak hanya menjadi ruang bagi para anggota DPRD bisa menjalin komunikasi dengan masyarakat di dapilnya, tapi juga dapat menyosialisasikan perda-perda yang telah disahkan agar menjadi pengetahuan bagi masyarakat sekaligus sebagai upaya literasi hukum.
 
Upaya literasi hukum ini penting, mengingat sebagian besar pemilih saat ini didominasi kalangan milenial. Mereka merupakan generasi yang melek digital dan pengetahuan. Karena itu, rumah aspirasi ini juga dapat menjadi sarana edukasi politik bagi kaum muda.
 
Bila itu yang terjadi, anak-anak muda sebagai penerus bangsa akan tertanam rasa memiliki terhadap pemerintahannya. Mereka akan merasa terpanggil untuk terlibat. Dengan begitu, akan terbangun sinergitas antara DPRD dengan masyarakat, khususnya anak-anak muda. 
 
Sinergitas antara DPRD dengan masyarakat inilah, yang akan menjadikan DPRD benar-benar memiliki cita rasa masyarakat. Sehingga kesan bahwa DPRD merupakan lembaga kekuasaan resmi yang berjarak dengan rakyat, akan terhapus. 
 
Singkat kata, DPRD yang berwawasan Islam Nusantara adalah DPRD yang responsif dan reflektif dalam membuat produk legislasi. Ia tidak membatasi diri saat terpilih dan berjalan, melainkan sarat nuansa sosial. Keran-keran aspirasi harus dibuka selebar mungkin. 
 
Dengan demikian, DPRD akan benar-benar mampu mewajahkan kehendak masyarakat. Bukan sebaliknya, menjadi sebuah lembaga yang kaku, yang cenderung bertindak dan membuat produk legislasi yang tak melalui pembacaan realitas dan memiliki kepekaan sosial.
 
 
Penulis adalah Staf Ahli Ketua DPRD Kabupaten Gresik 2019-2024
 
Jumat 6 September 2019 18:0 WIB
NU dan Tantangan Mengelola Generasi Milenial
NU dan Tantangan Mengelola Generasi Milenial
ilustrasi foto teknologi.id
Oleh Addin Jauharudin

Dalam Theoritical Review, Teori Perbedaan Generasi oleh Yanuar Surya Putra (2016) terdapat 6 generasi yang hidup berdampingan berurutan yaitu: Generasi Veteran (kelahiran tahun 1925  1946), Generasi Baby Boomers (kelahiran tahun 1946-1960), Generasi X (kelahiran tahun 1961-1980), Generasi Y atau Generasi Milenial (kelahiran tahun 1981-1994), Generasi Z (kelahiran tahun 1995-2010), dan paling muda adalah generasi Alpha (kelahiran tahun 2011-sekarang).

Masing-masing generasi membawa warna dan karakteristik sendiri, Generasi Baby Boomers memiliki karkateristik yang cenderung hidup mandiri dan sangat menghargai adat istiadat juga tidak suka menerima kritik. Generasi X lebih memiliki pemikiran yang sedikit lebih maju dan suka mengambil resiko dan lebih terbuka menerima kritik.

Generasi Y atau Generasi Milenial adalah generasi yang terlahir pada awal era globalisasi dimulai sehingga banyak perubahan yang terjadi di era ini sehingga orangorang di generasi ini memiliki karakteristik yang lebih kompleks antara lain melek teknologi, memiliki banyak ide yang cemerlah dan visioner, generasi ini lebih seimbang selain menyukai pekerjaan kantoran pada generasi ini juga mulai banyak yang memiliki jiwa entrepreneur. Generasi Z memiliki karakteristik yang lebih bebas, suka dengan gadget, fashion, travelling, sangat aktif di media sosial sehingga jika dihadapkan dengan pekerjaan yang menghasilkan uang generasi ini lebih mudah mendapatkan uang dengan fasilitas media social yang sudah mereka kenal dari usia dini dengan mengandalkan kreatifiasnya masing – masing. Generasi Alpha belum dapat di definisikan namun di generasi ini akan terasa semakin tipis batas – batas antar negara karena sejak kecil generasi ini telah mengalami perkembangan teknologi yang seakan tidak ada sekat antar pulau, benua dan negara.

Dari data BPS Proyeksi Penduduk Indonesia 2015-2019, bahwa dari demografi Indonesia generasi Y atau Generasi Milenial memiliki jumlah terbesar dari penduduk Indonesia, sehingga saat Generasi Milenial mencapai usia produktif Indonesia akan memiliki jumlah usia produktif terbesar sepanjang sejarah dengan jumlah pria dan wanita hampir seimbang dan memiliki karakteristik Generasi Milenial yang menurut penelitian lebih seimbang dari generasi lainnya.

Dari Buku Profil Generasi Milenial yang diterbitkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) diketahui bahwa sebaran per generasi adalah sebagai berikut: Generasi Veteran + baby boomers adalah sebesar 11,27% dari jumlah penduduk, Generasi X adalah sebesar 25,74% dari jumlah penduduk, Generasi Y atau Generasi Milenial adalah sebesar 33, 75% dan Generasi Z + Aplha sebesar 29,23%. Dari data tersebut Generasi Milenial memiliki sebaran terbesar sehingga saat memasuki usia produktif tentu akan menjadi generasi penopang atau tulang punggung untuk menjadikan Negara Indonesai menjadi bangsa yang maju dan besar. 

Dari sebaran tersebut dapat disimpulkan bahwa Generasi Milenial akan menjadi jembatan penghubung antara 25,74% generasi X dengan 29,23% generasi Z + Alpha yang menjadi sangat penting karena perbedaan karakteristik antara Generasi X dengan Generasi Z sangatlah signifikan. Lima tahun lagi sebagian besar generasi Z akan memasuk usia kerja / produktif sehingga pentingnya mempersiapkan generasi Milenial sebagai pemimpin -pemimpin untuk melanjutkan tongkat estafet memajukan bangsa Indonesia.

Pentingnya mempersiapkan pemimpin generasi Milenial yang dapat menjadi penghubung yang baik antara generasi X dan generasi Z menjadi poin penting pemerintahan Jokowi selanjutnya. Terdapat kesenjangan yang sangat jauh antara generasi sebelum dan sesudah generasi Milenial. Setidaknya ada tiga hal yang sangat berbeda antara generasi X dengan generasi Z yang dapat memberikan dampak buruk terhadap keberlangsungan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia apabila tidak dijembatani dengan baik oleh Generasi Milenial.

Pertama adalah Pemahaman Ideologi. Generasi X adalah generasi yang sangat paham mengenai apa itu ideologi dan ideologi Pancasila benar-benar tertanam di dalam hati sanubari. Orang-orang pada generasi ini memang ditanamkan secara terus-menerus bahwa ideologi Pancasila menjadi satu-satunya ideologi yang dapat mempersatukan berbagai macam suku, ras dan agama yang dimiliki Indonesia dari Sabang sampai Marauke. Sedangkan Generasi Z dan setelahnya adalah generasi yang sangat melek informasi sehingga mereka bisa memilih sendiri informasi yang mereka inginkan dengan sendirinya dan terkadang mengesampingkan informasi lainnya. Hal ini membuat informasi yang dapat berakibat mengikis pemahaman mengenai Ideologi Pancasila itu sendiri sehingga hal terburuk dari generasi ini adalah tidak memiliki pemahaman akan Ideologi Pancasila.

Kedua adalah Penguasaan Teknologi antara generasi X dengan Generasi Z memiliki kesenjangan yang sangat signifikan. Penguasaan Teknologi dari generasi X sangatlah jauh dibanding generasi setelahnya, penggunaan gadget yang masif pada generasi Z, melimpahnya informasi dan penggunaan informasi – informasi tersebut untuk sesuatu hal baik itu untuk hal bermanfaat ataupun sebaliknya sangat ahli dilakukan oleh generasi Z.

Ketiga adalah Orientasi Hidup atau Tujuan Hidup dari generasi X dengan generasi Z. Generasi X cenderung lebih suka menghabiskan harta atau uang yang di dapat untuk membeli aset berupa tanah, bangunan dan emas menurut generasi ini adalah hal terbaik untuk mengamankan hartanya dan dapat diwariskan kepada keturunannya kelak, hidup untuk bekerja dan mencari uang menjadi tujuan utama sebagian besar generasi ini. Berbeda dengan generasi Z, generasi ini mementingkan kepuasaan atau passion sehingga tolak ukur mereka dalam menjalani hidup adalah kepuasan diri mereka sendiri, mencari uang dan bekerja menjadi karyawan bukan lagi menjadi hal mutlak. Pengaruh Teknologi dan semakin tipisnya batas antar negara menjadikan generasi ini lebih fleksibel dalam menghasilkan uang. 

Ketiga hal di atas sangat penting dan harus dapat dijembatani oleh Generasi Milenial. Lima tahun lagi sebagian besar Generasi Z akan memasuki usia kerja / produktif sehingga sangat penting pemerintahan Jokowi mempersiapkan calon-calon pemimpin Generasi Milenial yang dapat mencari solusi atas kurangnya penguasaan Teknologi generasi X, mencari solusi untuk memberikan pemahaman ideologi Pancasila untuk generasi Z dan setelahnya, dan mencari solusi agar perbedaan orientasi antara generasi X dan Z dapat berjalan beriringan dan tidak berdampak pada keutuhan NKRI juga dapat saling memberikan manfaat dan sumbangsih pada negara atas pemecahan masalah bangsa.

Dari paparan di atas, menjadi penting untuk kita cermati bersama, betapa besar potensi generasi milenial hari ini; ada gap antar generasi, dan ada talent pool yang mesti dikelola secara baik. Jika tidak dikelola secara baik, maka bonus demografi penduduk Indonesia 2030 akan menjadi bencana nasional. Sebaliknya mimpi mimpi Indonesia menjadi satu dari lima Negara di dunia yang memiliki perekonomian terkuat pada tahun 2050 hanya akan menjadi cerita kosong. 

Bagaimana dengan NU?

NU sebagai organisasi Islam terbesar di dunia dalam usinya menjelang satu abad tepat pada tahun 2026, di tantang untuk mampu mengelola potensi besar generasi milenial maupun generasi Z dan Alpha. Tantangan ini menjadi nyata, satu sisi sebaran anak anak muda NU di berbagai organisasi, profesi dan komunitas semakin besar jumlahnya, tetapi juga semakin beragam karakternya. NU yang memang dari lahir dan berkembang telah menempatkan diri sebagai penjaga NKRI dan pengembang Islam Ahlussunnah wal jama’ah dihadapkan pada kondisi tantangan yang semakin berat dan kompleks; tantangan ideologi, tantangan mewujudkan kesejahteraan bagi warga NU, tantangan keutuhan organisasi, dan tantangan mengelola bakat anak anak muda NU yang semakin beragam. 

Khusus untuk tantangan dalam mengelola talenta talenta anak muda NU perlu di perhatikan beberapa hal. Pertama, diperlukan upaya upaya serius dalam meredefinisi dan mereformulasi semangat berdirinya organisasi Nahlatut Tujar (1918) untuk menjadi kekuatan ekonomi digital anak anak muda NU. Dari mulai mengelola big data, data analytics hingga menjadi data science. Nahdlatut Tujjar harus menjadi spirit dari ekosistem digital anak anak muda NU, mulai dari memikirkan tentang pentingnya integrasi digital para pelaku UMKM anak anak muda NU, lalu inisiasi, inovasi, coaching dan inkubasi para pelaku star up anak anak muda NU, sampai pada kemampuan untuk berkolaborasi dengan market global. Kata kuncinya adalah memberikan kesadaran kepada anak anak muda NU tentang pentingnya transformasi digital sebagai kunci memenangkan pertarungan global. Semua perencanaan Sumber Daya Manusia NU ini adalah bagian dari startegi mengelola talent pool para wirausahawan muda NU sekaligus sebagai persiapan dalam menghadapi global talent war.

Kedua, meredefinisi dan mereformulasi semangat berdirinya organisasi Nahdlatul Wathon (1916). Bahwa Nahdlatul Wathon didirikan oleh Mbah Wahab (KH. Wahab Chasbullah) untuk membangun lembaga pendidikan berwawasan kebangsaan. Saat ini, NU dihadapkan pada dua hal ; 1). menjamurnya lembaga pendidikan Islam bentukan kelompok kelompok Wahabi ; dari mulai pondok pesantren, madrasah, kampus bahkan menjamurnya sekolah pendidikan dasar dan menengah. Tentu ini sebagai ancaman dalam jangka panjang. Lalu apa yang akan kita lakukan? Modernisasi lembaga lembaga pendidikan menjadi kata kunci. Dari mulai perbaikan fasilitas belajar mengajar, pengembangan kemampuan para pendidik dan tenaga kependidikan, sampai pada core competence para anak didik. Semangat mengikuti kompetisi internasional harus terus di galakkan dan digerakkan. Metodologi pengajaran, membangun kolaborasi dengan berbagai lembaga dalam dan luar negeri menjadi kunci memperbaki diri dan memenangkan kompetisi. 2). NU dihadapkan pada digitaliasi dunia pendidikan, dari mulai maraknya belajar online, digitalisasi yang menintegrasikan antara murid, guru, orangtua dengan peralatan teknologi membuat Susana kebaruan dalam model pendidikan di Indonesia, seperti ruang guru, hallo guru, dan berbagai model bimbel online. Dalam hal ini, diperlukan coaching dan inkubasi anak anak muda NU untuk mengembangkan model digitalisasi di dunia pendidikan. Tentu saja, dari semua aspek yang dikembangkan ini, tidak semata mata soal kompetensi, melainkan pendidikan agama dan pengajaran ahlak adalah hal utama dalam system pendidikan NU. Ini semua adalah bagian dari perencanaan Talent Pool Management SDM terdidik NU.

Ketiga, meredefinisi dan reformulasi semangat organisasi Taswirul afkar (1919). Organisasi ini didirikan untuk mengelola berbagai diskursus pemikiran anak anak muda NU. Semangatnya adalah untuk menumbuhkn pemikir pemikir kebangsaaan NU, yang cinta dengan NU, agama dan mampu menjaga keutuhan bangsa ini. Taswirul Afkar ini bisa dikembangkan menjadi “innovation roomnya” anak anak muda NU, yang mampu menjadi tempat yang nyaman, asik dan menggairahkan untuk berdiskusi tentang hal hal baru, srategi strategi baru yang bersifat out of the box, sampai pada fasilitasi langkah langkah nyata. Perlu terus dilakukan dalam menghimpun dan mengelola anak anak muda NU yang tersebar dan berserakan, terutama yang selama ini belum terjamah oleh organisasi. Transformasi trilogi NU (Nahdlatut Tujjar, Nahdlatul Wathon dan Taswirul AFkar) ini bisa menjadi kekuatan NU ke depan, terutama dalam menyongsong satu abad NU. Kita semua ingin melihat anak-anak muda NU menjadi innovation leader dalam berbagai karya karya produktif. Menjadi pemimpin agama, bangsa dan Negara. 

Penulis Adalah Ketua Umum PB PMII 2011-2014, Sekretaris Jenderal DPP KNPI 2018-2021
 
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG