IMG-LOGO
Jelang Muktamar Ke-34 NU
PLENO PBNU 2019

Kepedulian Warga Dibutuhkan dalam Pengendalian Sampah

Jumat 20 September 2019 11:20 WIB
Bagikan:
Kepedulian Warga Dibutuhkan dalam Pengendalian Sampah
Ketua LPBI PBNU, M. Ali Yusuf menyampaikan hal tersebut dalam seminar sesi ketiga menjelang Pleno PBNU di Pesantren Al-Muhajirin 2 Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (20/9) pagi.
Purwakarta, NU Online
Salah satu dampak dari bertambahnya jumlah penduduk dunia adalah menghasilkan sampah yang juga semakin tinggi. Sementara peningkatan sampah, jika tidak dikelola dengan baik, akan berdampak pada kesehatan manusia dan gangguan ekologi. Karena itu, kepedulian warga masyarakat, sangat dibutuhkan demi pengendalian sampah.

Ketua LPBI PBNU, M Ali Yusuf menyampaikan hal tersebut dalam seminar sesi ketiga menjelang Pleno PBNU di Pesantren Al-Muhajirin 2 Jalan Ipik Gandamanah No 33 Kampung Sukamulya, Desa Ciseureuh, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (20/9) pagi.

"Tidak hanya soal biaya pembuangan, sampah jika tidak dikelola akan menimbulkan dampak lingkungan yang besar, bahkan bahaya," kata Ali.

Ali menyebutkan, dari seratus persen sampah yang dikeluarkan penduduk dunia setiap tahun, 60 persennya adalah sampah yang dapat membusuk; 14 persen sampah plastik yang susah terurai.

Isu bahaya sampah menjadi perhatian banyak pihak termasuk pemberitaan di media massa. Bahkan, Nahdlatul Ulama, melalui Munas Konbes di Banjar awal tahun 2019, salah satu hasilnya adalah terkait membuang sampah plastik.

“Kita (LPBI PBNU) sangat concern di sampah plastik. Di Indonesia, satu orang per tahun membuang 17 kilogram platsik. Ini setara dengan 4,2 miliar kilogram sampah plastk. Indonesia menjadi penyumbang terbesar kedua di dunia,” kata Ali.

Salah satu yang menerima dampak buruk pembuangan sampah, lanjut Ali, adalah laut. Plastik sampah yang terbuang di laut mencapai 57 persen. "Di Wakatobi ada paus makan plastik. Kalau sampah terbuang ke laut, akan termakan oleh ikan. Jadi ikan yang kita makan, memakan plastik. Kita makan plastik ini dampak buruk di kesehatan," lanjutnya.

Jarang disadari, sampah plastik akan menimbulkan pencemaran di tanah, air, udara. Plastik yang terpapar matahari, akan menghasilkan C02 (karbondioksida) dan berdampak pada perubahan iklim, mencairnya es di kutub, cuaca ektrem. Plastik yang didarat akan menjadi tempat bersarangnya nyamuk DBD.

"Berdasarkan data BNPB, sepuluh tahun terakhir bencana yang terjadi 91 persen karena bencana ekologi," imbuhnya.

Melihat dampak bahaya sampah yang begitu besar, apa yang harus dilakukan? Ali menyebutkan, persoalan sampah hanya dengan terus mengubah kebiasaan kita. Pertama adalah mengubah dari kebiasaan pemakaian barang-barang yang sekali buang, menjadi penggunaan alat yang bisa terus digunakan terus menerus. Salah satunya untuk tempat minum digunakan botol minuman (tumbler) agar bisa terus dipakai, bukan gelas mineral.

Langkah kedua dengan teknik ecobrik. Ecobrik adalah cara bagaimana memasukkan sampah plastik ke dalam botol, kemudian disusun menjadi barang yang berguna seperti meja, kursi, bahkan panggung.

"Yang penting dalam pembuatan ecobrik, setiap botol kecil beratnya minimal 200 gram. Itu bahkan ada yang memanfaatkannya menjadi pengganti batu bata," katanya.

Untuk terus mengedukasi masyarakat dalam pengelolaan sampah, sebut Ali, LPBI PBNU juga telah membentuk Bank Sampah Nusantara (BSN). Kata ‘bank’ disebutkan karena sampah yang dikumpulkan akan bernilai ekonomi.

“Setiap Jumat, kami di Gedung PBNU menerima sampah-sampah dan bernilai ekonomi,” ujar Ali.

Warga NU, menurut Ali, harus peduli akan sampah. Selain karena dampaknya yang merusak lingkungan, menjaga kebersihan sejatinya telah dikuatkan dengan banyak dalil. Contoh sederhana, dalam Surat Al-Fatihah, Allah disebut Tuhan bagi alam semsta, bukan hanya Tuhan manusia. Kemudian, ada ayat lain yang mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk memberikan rahmat bagi semesta.

“Dalilnya sudah banyak, tinggal aplikasinya,” tegas Ali.

Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Fathoni Ahmad
Bagikan:

Baca Juga

Jumat 20 September 2019 22:35 WIB
Ekspor ke China dan Jepang, Petani NU Sukses Budidaya Tanaman Porang
Ekspor ke China dan Jepang, Petani NU Sukses Budidaya Tanaman Porang
Khoirul Imam Maliki, petani NU yang sukses membudidayakan tanaman Porang saat mengisi salah satu seminar di Rapat Pleno PBNU, Jumat (20/9).
Purwakarta, NU Online
Di kalangan masyarakat mungkin masih asing dengan tanaman Porang, tanaman jenis umbi-umbian yang hidup di semua dataran tanah ini ternyata menjanjikan bagi perekonomian warga menengah kebawah. Sangat cocok untuk masyarakat Indonesia, selain cara tanamnya yang sangat mudah, pohon Porang mudah ditemui di Indonesia. 

Memiliki nama latin Amorphophallus Muelleri Blume, Porang termasuk salah satu jenis tanaman iles-iles (badur) yang kerap tumbuh di hutan belantara. Porang juga bagian dari tumbuhan semak herbal yang berumbi di dalam tanah.
 
Tumbuhan Porang dinilai sangat bernilai ekonomi bahkan potensinya sangat besar karena diterima oleh berbagai negara untuk diolah beragam olahan makanan seperti makanan cepat saji. 

Porang mengandung glukomanan yang baik untuk kesehatan dan dapat dengan mudah diolah menjadi bahan pangan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Tidak heran, kini sejumlah perusahaan di Indonesia melirik jenis tanaman porang untuk dikembangkan. 

Salah seorang petani NU yang sudah sukses membudidayakan Porang adalah Khoirul Imam Maliki. Pria yang lahir di Tulungagung, 26 Juni 1977 ini sudah membuktikan bisnis budidaya Porang di Jawa Timur. Atas kerja kerasnya itu, kini ia dipercaya negara China dan Jepang untuk menyuplai umbi-umbian Porang  dari Indonesia. 

“Kami sudah mengekspor ke Jepang dan China 900 ton dari kelompok usaha kami di Jawa Timur dalam bentuk mentah,” katanya kepada NU Online saat ditemui seusai menjadi pemateri Seminar Nasional pada Rangkaian Pleno PBNU di Pesantren Al-Muhajirin 2 di Ciseureuh, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (20/9). 

Ia menerangkan, dari satu haktare tanah bisa menghasilkan keuntungan sampai 960-jutaan. Dalam setahun, kelompok usahanya bisa mendapatkan miliaran rupiah dari hasil penjualan tanaman Porang ke luar negeri. 

“Kalau dari umbi per haktare itu bisa 960 jutaan, kalau dari per musim bisa mencapai 560 juta lebih,” katanya. 

Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama membudidayakan tanaman Porang untuk dijadikan sumber usaha masyarakat karena bisa menghasilkan persentase yang tinggi bagi perekonomian masyarakat. 

“Cara tanamnya juga sangat mudah, semua tanah cocok yang penting bebas banjir,” ucapnya. 

Kontributor: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Fathoni Ahmad
Jumat 20 September 2019 20:30 WIB
Rais 'Aam PBNU Sebut Darurat Radikalisme Jadi Tantangan Beragama
Rais 'Aam PBNU Sebut Darurat Radikalisme Jadi Tantangan Beragama
Rais 'Aam PBNU KH Miftachul Akhyar (Foto: NU Online/A Rahman Ahdori)
Purwakarta, NU Online
Pelaksana Tugas Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengatakan bahwa situasi beragama hari ini sudah dapat dianggap telah memasuki tahap kritis dan darurat. Ia mengajak segenap pengurus NU untuk melakukan pendekatan khusus terhadap kelompok radikal.

"Kita sudah masuk darurat terorisme, intoleransi, radikalisme, ekstremisme. Kita perlu membina mereka karena dakwah NU memang bersifat pembinaan," kata Kiai Miftach dalam khutbah iftitah Rapat Pleno PBNU di Pesantren Al-Muhajirin II, Cisereuh, Kabupaten Purwakarta, Jumat (20/9) siang.

Kiai Miftach juga mengajak pengurus NU untuk menyegarkan kembali semangat keorganisasian menjelang satu abad NU. Ia sempat menyinggung pengikisan pemahaman atas Nahdlatul Ulama.
 
"Erosi pemahaman atas nahdlatul ulama perlu diperhatikan untuk mengembalikan pemahaman tersebut menjelang satu abad NU. Sebagaimana setiap abad ada keguncangan-keguncangan karena ada pembaruan," kata Kiai Miftachul Akhyar.

Menurutnya, NU perlu mempersiapkan dan menguatkan diri untuk mengatasi darurat tersebut. Tanpa ada persiapan yang matang, maka tidak mustahil pengikisan atas pemahaman NU dapat terjadi.

"Kita harus mempersiapkan darurat tersebut. Kita perlu mengonsep kembali dan mendesain ulang potensi NU yang luar biasa. Saya yakin NU akan langgeng hingga hari akhir," kata Kiai Miftach.

Ia sempat menyatakan rasa bahagianya atas situasi rapat pleno PBNU yang cukup semarak di Purwakarta. Ia menyatakan akan senang sekali kalau Muktamar NU 2020 dapat diselenggarakan di Purwakarta karena hangantnya sambutan Nahdliyin Jawa Barat.

"Ini situasinya sudah situasi muktamar. Tetapi kita perlu menyapa daerah lain juga. Pimpinan kita dulu itu sangat mengerti daerah mana yang harus disapa," kata Kiai Miftach.

Sebelumnya, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj menyampaikan masalah serupa. Menurutnya, pencabutan legalitas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tidak menghentikan kampanye khilafah. Menurutnya, pemerintah perlu melakukan upaya serius dalam penanganan problem ideologi transnasional.

"HTI perlu ditolak, tetapi orangnya jangan dimusuhi. Orangnya dirangkul untuk masuk NU kalau mereka mau," kata Kiai Said.
 

Pewarta: Alhafiz Kurniawan
Editor: Kendi Setiawan
Jumat 20 September 2019 20:10 WIB
Pengusaha Nahdliyin Gandeng Pesantren di Jabar untuk Budi Daya Porang
Pengusaha Nahdliyin Gandeng Pesantren di Jabar untuk Budi Daya Porang
Petani Porang asal Jawa Timur yang sukses Budi Daya Tanaman Porang Khoirul Imam Maliki saat memberikan pelatihan kepada Pengurus daerah NU dari sabang sampai Merauke di Seminar Nasional pada Pleno PBNU di Pesantren Al-Muhajirin 2 di Cisereuh Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (20/9). (Foto : NUOnline/Ahdori)
Purwakarta, NU Online
Santri yang ada di sejumlah pesantren di Jawa Barat akan dilatih budidaya tanaman porang. Kegiatan itu sebagai tindak lanjut kerja sama antara Pengurus Wilayah (PW) Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) Jawa Barat dan Petani Porang Indonesia.

Pelatihan keterampilan budi daya porang juga untuk memanfaatkan lahan pesantren yang masih kosong di sejumlah titik di Jawa Barat. Nantinya, santri diminta untuk mengelola dan mengurus tanaman porang, jika sudah bisa dipanen, hasil penjualan akan digunakan untuk pengembangan pesantren.

Porang adalah tanaman yang memiliki nama latin Amorphophallus muelleri Blume, tanaman ini termasuk  salah  satu  jenis  tanaman iles-iles (badur) yang kerap tumbuh di hutan belantara. Tumbuhan Porang dinilai sangat bernilai ekonomi bahkan potensinya sangat menjanjikan karena dicari oleh berbagai negara untuk diolah menjadi beragam olahan makanan seperti makanan cepat saji.

Ketua PW HPN Jawa Barat H Asep Saripudin mengatakan usaha tanaman porang sudah terbukti bisa meningkatkan perekonomian masyarakat. Dari satu haktare, petani dapat meraup keuntungan 500 sampai 900 jutaan setiap enam bulannya.

Untuk itu, ia memfasilitasi pesantren terutama pesantren yang memiliki lahan luas untuk melakukan budi daya tanaman porang. Selain itu, pihaknya menjamin pembelian bibit dan keperluan lain yang dibutuhkan untuk memulai kegiatan budi daya. 

“Makanya kita jamin pembelian dan sebagainya,” katanya saat ditemui NU Online seusai menghadiri seminar nasional pada Rangkaian Pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2019 di Pesantren Al-Muhajirin di Cisereuh, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (20/9) pagi. 

Ia memastikan pada Oktober depan pelatihan kepada santri sudah dapat dimulai. Dengan begitu, upaya memperkuat ekonomi keumatan di lingkungan pesantren terwujud di Jawa Barat.

“Pelatihan paling dua hari. Hasilnya dikelola bersama, dijual bersama. Sistemnya ada yang dijual mentahnya, ada yang bahan jadinya. Kalau yang mentah 8000 per kg-nya. Kalau yang matang, dapat laku 50 ribu per kg-nya,” tuturnya.

Sementara itu petani porang asal Jawa Timur yang sudah menjadi penyuplai porang ke China dan Jepang, Khoirul Imam Maliki mengaku siap membantu dan mendampingi santri yang siap menanam porang. Bahkan, pesantren tidak usah khawatir karena pihaknya akan membeli hasil panen tanaman porang jika sudah siap dipanen.

“Siapkan lahannya, kami siap mendampingi dan siap membeli hasil panennya,” katanya.
 

Pewarta: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Alhafiz Kurniawan
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG