HARI SANTRI 2019

Wamenlu: Sebelum Merdeka, Santri Sudah Punya Cita Kontribusi Dunia

Wamenlu: Sebelum Merdeka, Santri Sudah Punya Cita Kontribusi Dunia
Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir saat Peluncuran Peringatan Hari Santri 2019 di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (19/9).
Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir saat Peluncuran Peringatan Hari Santri 2019 di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (19/9).
Jakarta, NU Online
Pesantren memang sudah berdiri jauh sebelum Indonesia merdeka. Tak ayal, para santri di eranya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bahkan, beberapa di antaranya ikut merumuskan dasar negara yang bercita-cita ikut serta dalam ketertiban dunia dan perdamaian abadi, serta keadilan sosial.

“Bayangkan, ketika kita belum merdeka, pada saat itu sedang menyusun landasan negara, mereka sudah bercita-cita ingin berkontribusi kepada dunia,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir saat Peluncuran Peringatan Hari Santri 2019 di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis (19/9).

AM Fachir menyebut beberapa di antara para santri yang menaruh andil dalam perumusan dasar negara, di antaranya KH Abdul Wachid Hasyim Jombang, H Agus Salim dari Padang, KH Abdul Halim Muhammad Syatari, Ki Bagus Hadikusumo dari Muhammadiyah, KH Abdul Fattah Hasan dari Banten, KH Mas Mansyur Surabaya, dan KH Masykur mewakili Masyumi.

Menurutnya, mereka melandasi tindakan dan rumusan dasar negara itu pada Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13; “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” 

“Dan mereka adalah panutan kita, para kiai-kiai. Karena itu, saya membayangkan kira-kira ayat 13 Surat Al-Hujurat tadilah yang menjadi landasan mereka itu memasukkan salah satu elemen ayat ini di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945,” ujarnya.

Oleh karena itu, alumnus Pondok Pesantren Gontor ini menegaskan bahwa Hari Santri adalah momentum mengenang para santri dan kiai zaman dahulu yang telah memberikan kontribusi besar terhadap kemerdekaan dan kemajuan negeri ini. 
 
“Karena itu, Hari Santri ini harus pertama kita mengenang andil besar para santri dan para kiai dalam perjuangan kemerdekaan dan lahirnya Negara Republik Indonesia,” katanya.

Hal itu, lanjutnya, penting sebagai sarana memotivasi santri masa kini agar turut meneruskan cita-cita para pendiri bangsa tersebut. “Dan kedua, terutama buat para santri milenial untuk menyegarkan dan memotivasi para santri zaman now untuk terus berkiprah di masa kini dan di masa mendatang,” pungkasnya.

Peluncuran Peringatan Hari Santri 2019 ini dihadiri oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Direktur Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin, duta-duta besar negara sahabat, dan para santri dari berbagai daerah.

Pewarta: Syakir NF
Editor: Muchlishon
BNI Mobile