PBNU Tekankan Pengusaha Nahdliyin Masuki Entrepreneur Haji

PBNU Tekankan Pengusaha Nahdliyin Masuki Entrepreneur Haji
H Marsudi Syuhud saat mengisi FGD yang diselenggarakan P2N di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (25/9). (Foto: NU Online/Husni Sahal)
H Marsudi Syuhud saat mengisi FGD yang diselenggarakan P2N di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (25/9). (Foto: NU Online/Husni Sahal)
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Marsudi Syuhud menekankan  pengurus dan anggota Perkumpulan Pengusaha dan Profesional Nahdliyin (P2N) agar memasuki semua dunia entrepreneurship, termasuk soal haji.
 
Menurut Marsudi, dengan jumlah muslim terbesar di dunia, peluang entrepreneurship haji di Indonesia sangat besar. Karena dalam urusan haji ini akan membuka lapangan baru untuk menjadi enterpreneur baru.
 
“P2N harus jadi entrepreneur dari sisi mana saja, termasuk haji. Karena di situ akan membuka lapangan baru untuk menjadi entrepreneur baru,” kata dia saat menjadi pembicara kunci pada Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan P2N di lantai 5 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Rabu (25/9). FGD mengusung tema Perspektif Pelaksanaan Haji dan Umrah sesuai UU No 8 Tahun 2019.
 
Ia pun menjelaskan, seseorang yang hendak berhaji membutuhkan biaya banyak. Setidaknya, kata Marsudi menyakini, setiap orang yang akan berangkat haji menyiapkan uang sebesar 50 juta.
 
Menurut dia, jumlah uang sebanyak itu tidak hanya dikeluarkan di Arab Saudi semata, melainkan sejak berangkat dari Tanah Air. Sudah tentu, peluang ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.
 
“Uang yang segede ini ditumpahkan tidak hanya di Saudi, di Makkah, atau Madinah. Tapi dari mulai berangkat. Maka pergerakan uang inilah bisnis. Pergerakan manusia inilah muamalah, bisnis. Jadi, saya harap di sisi inilah bisa berkembang orang-orang Nahdliyin,” terangnya.
 
Secara lebih luas, ia juga mengemukakan kepada peserta FGD bahwa sebuah negara menjadi kuat jika masyarakatnya banyak yang menjadi entrepreneur, seperti Amerika Serikat yang jumlah entrepreneur-nya sebanyak 11 persen, Singapura 7 persen, Malaysia 6 persen, Thailand 5,6 persen. Sementara Indonesia baru 3,6 persen. 
 
Untuk itu, ia menegaskan bahwa berwirausaha menjadi keharusan untuk menaikkan kesejahteraan masyarakat. Apalagi, lanjut dia, Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 9 menyinggung agar tidak meninggalkan keturunannya dalam keadaan lemah (kesejahteraannya).
 
“(Data tersebut menunjukkan bahwa) P2N ini untuk membangkitkan bangsa Indonesia harus menjadi entrepreneur. Itu sudah kewajibannya, sangat-sangat harus,” ucap pria yang juga menjabat sebagai dewan pengawas Badan Pengelola Keuangan Haji (BKPH) dari unsur masyarakat ini.
 

Pewarta: Husni Sahal
Editor: Musthofa Asrori
 
BNI Mobile