Tidak Dapat Izin Israel, Laga Final Piala Palestina Batal Digelar

Tidak Dapat Izin Israel, Laga Final Piala Palestina Batal Digelar
Para pemain klub Khadamat Rafah setelah sesi latihan di Jalur Gaza, (24/9). (Foto: REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)
Para pemain klub Khadamat Rafah setelah sesi latihan di Jalur Gaza, (24/9). (Foto: REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)
Gaza, NU Online
Laga final kompetisi sepak bola Piala Palestina (Palestine Cup) batal digelar karena otoritas Israel menolak memberikan izin pada tim dari dari jalur Gaza. Seharusnya pertandingan puncak tersebut dilaksanakan di Tepi Barat pada Rabu (25/9) kemarin.
 
Badan Penjaga Perbatasan Israel (COGAT) tidak mengizinkan para pemain dari klub Khadamat Rafah di Jalur Gaza untuk bertanding dengan klub kesebelasan Balata di Nablus, Tepi Barat. Tidak ada informasi detail mengapa COGAT menolak memberikan izin perjalanan bagi Khadamat Rafah.
 
Namun berdasarkan laporan media setempat, seperti diberitakan Reuters, Rabu (25/9), COGAT tidak memberikan izin perjalanan karena beberapa pemain klub sepak bola tersebut diduga terkait dengan aksi terorisme.
 
Klub Khadamat Rafah menyebut, pihaknya telah mengajukan izin perjalanan untuk 35 anggotanya. Namun, hanya ada 12 orang yang diberikan izin, termasuk lima pemain yang akan bertanding. Kejadian ini disesalkan para pemain Khadamat Rafah. Salah seorang pemain klub tersebut, Ahmad Abu Thuhair, mengaku kecewa karena tidak jadi bertanding.
 
“Rasanya cukup mengecewakan setelah berlatih sangat keras," katanya.
 
Pemenang pertandingan ini akan bertanding mewakili Palestina di Liga Juara Asia. Jika klub Palestina tersebut lolos, maka ia akan lanjut bertanding di kompetisi Piala Dunia Klub FIFA.
 
Apa yang dilakukan Israel tersebut dikecam FIFA Palestina. Kepala asosiasi anggota FIFA Palestina, Jibril Rajoub, menuduh Israel tengah berupaya melumpuhkan pemain klub, bahkan sistem olahraga Palestina secara umum.

kelompok hak asasi manusia Israel, Gisha, keberatan dengan keputusan COGAT tersebut. Mereka mempetisi keputusan tersebut ke Pangadilan Negeri Yerusalem. Menurutnya, apa yang dilakukan COGAT merupakan ‘kebijakan pemisahan’ yang dapat membahayakan hak warga Palestina.
 
Gisha dan beberapa kelompok hak asasi manusia lainnya menyebut, pembatasan itu mendorong perselisihan antara warga Palestina di Gaza, Tepi Barat dan Yerusalem Timur, yang berusaha disatukan oleh warga Palestina di sebuah negara.
 
Pada Juli lalu, Israel juga menolak memberikan izin perjalanan bagi klub Khadamat Rafah untuk bermain di Liga Palestina di Tepi Barat. Imbas dari kebijakan itu, pertandingan akhirnya ditunda.
 
"Aplikasi tersebut dikirim setelah waktu yang ditentukan. Oleh karena itu melakukan proses penilaian yang tepat dan sesuai pedoman jelas tidak mungkin dilakukan. COGAT tetap berupaya semaksimal mungkin di luar kewajibannya dan dengan hati-hati meninjau serta mempertimbangkan aplikasi izin tersebut,” kata COGAT dalam pernyataan yang dikeluarkannya, mengapa menolak memberikan izin bagi para pemain Khadamat Rafah.
 
Pewarta: Muchlishon
Editor: Muhammad Faizin
BNI Mobile