IMG-LOGO
Humor

Gus Dur dan Komitmen Pemberantasan Korupsi

Jumat 27 September 2019 9:30 WIB
Bagikan:
Gus Dur dan Komitmen Pemberantasan Korupsi
Ilustrasi humor Gus Dur.
“Bangsa ini terlalu takut kepada orang-orang yang berbuat salah.” Hal itu ditegaskan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ketika menanggapi situasi politik nasional, terutama pemberantasan korupsi.

Dalam hal mendukung pemberantas korupsi, saat itu Gus Dur secara tegas memberikan semangat kepada pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar tidak takut kepada siapa pun.

Gus Dur mengatakan di dalam Gedung KPK pada Oktober 2009, “KPK harus berani dan jujur untuk berpegang pada tugas pemberantasan korupsi. Kenapa takut? Polisi juga orang.”

Gus Dur benar-benar menekankan pentingnya pemberantasan korupsi. Dalam proses memberikan dukungan moral tersebut, Maman Imanulhaq bertugas melantunkan doa.

Selesai mengunjungi KPK, ketika berada di dalam mobil menuju Kantor PBNU, Gus Dur sempat bergurau, “Kiai, kalau doa jangan korupsi. Masa doa rabbana taqabbal minna-nya tidak ada watub ‘alaina-nya.” (Ahmad)
Tags:
Bagikan:

Baca Juga

Rabu 25 September 2019 8:15 WIB
Aktivis 98 dan Demo Mahasiswa Kini
Aktivis 98 dan Demo Mahasiswa Kini
Demo mahasiswa. (via jppn)
Gerak aktivisme mahasiswa dibutuhkan masyarakat untuk menyeimbangkan roda kebijakan dalam pemerintahan. Di sini peran mahasiswa tidak hanya semata melakukan aksi, tapi juga dituntut cerdas dalam hal advokasi kebijakan.

Demo yang dilakukan mahasiswa kemarin menyedot perhatian Maman dan Momon, kakak beradik yang tinggal di sebuah desa di Tasikmalaya.

Di tengah perjuangan advokasi mahasiswa yang kerap diekspresikan dengan turun ke jalanan, Momon melihat sisi lain bahwa aksi tersebut kerap berakhir ricuh dan merusak fasilitas umum.

Selain itu, Momon juga seringkali mendapati mahasiswa yang ikut demo, tetapi hanya sebatas ikut-ikutan saja. Tidak terlalu mendalami persoalan yang diperjuangkannya.

“Kang, di sisi lain saya bangga dengan perjuangan mahasiswa pada tahun 1998 silam,” ujar Momon membuka obrolan santai dengan Kakaknya, Maman.

“Itulah bedanya Aktivis 98 dengan aktivis mahasiswa sekarang,” tanggap Maman diplomatis.

“Maksudnya gimana, Kang?” Momon penasaran.

“Ya mereka Aktivis 98, kalau aktivis mahasiswa sekarang lahiran tahun 98,” jawab Maman disambut tawa Momon. (Fathoni)
Rabu 18 September 2019 8:45 WIB
Negara Bukan-Bukan
Negara Bukan-Bukan
Peta Indonesia (via merdeka.com)
Dalam sebuah seminar kebangsaan yang dihadiri oleh berbagai macam elemen masyarakat, KH Ahmad Hasyim Muzadi menegaskan bahwa kesepakatan (konsensus) kebangsaan jangan dicampakkan dengan melakukan praktik-praktik yang dapat memecah belah bangsa.

Kemajemukan Indonesia memang menyimpan banyak potensi kemajuan. Tetapi di sisi lain, hal itu juga merupakan tantangan tidak mudah untuk menjaga dan merawatnya.

Di hadapan seluruh tokoh bangsa dari berbagai macam agama, suku, ras, dan golongan tersebut, Kiai Hasyim Muzadi menegaskan bahwa negara bangsa yang diterapkan di Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Jadi Indonesia ini negara kaum beragama, tetapi bukan negara agama,” ucap Kiai Hasyim, hadirin fokus mendengarkan penjelasannya.

“Indonesia juga bukan negara yang terlepas dari agama alias bukan negara sekuler,” lanjutnya.

“Dengan demikian, Indonesia adalah negara yang bukan-bukan,” sambung Kiai Hasyim disambut tawa hadirin. (Fathoni)
Senin 16 September 2019 12:5 WIB
Habibie Presiden Ketujuh?
Habibie Presiden Ketujuh?
Ilustrasi BJ Habibie. (via firar.id)
Siang itu cuaca di Kabupaten Parepare, Sulawesi Selatan mencapai 35 derajat celcius. Cukup menyengat kulit bagi siapa saja yang sedang beraktivitas di luar lapangan.

Kondisi tersebut dirasakan betul oleh murid-murid madrasah ibtidaiyah di sebuah desa di kabupaten tersebut.

Untuk mendinginkan suasana kelas, seorang guru bernama Pak Andi menyampaikan pertanyaan kepada anak-anak didiknya itu.

"Anak-anak, bapak mau bertanya, almarhum BJ Habibie merupakan Presiden RI ke berapa?"

"Ketiga pak guruuuuuu...," jawab murid-murid serentak.

Di tengah kekompakan menjawab pertanyaan itu, ada jawaban lain dari murid bernama Deni. Terdengar sekali perbedaan jawaban Deni dari teriakannya. Dia mengatakan, "Ketujuh pak guruuuuuu."

Sontak semua murid termasuk Pak Andi memandang Deni dengan penasaran. Pak guru mengambil kebijakan untuk menanyai Deni lebih lanjut.

"Deni, coba sebutkan satu persatu Presiden Indonesia?" tanya Pak guru.

"Pertama Soekarno pak guru."

"Lalu?”

"Suharto pak guru."

"Lalu?"

"Suharto, Suharto, Suharto, Suharto, baru Habibie pak guru,” jawab Deni. (Ahmad)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG