Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Penyebab Manusia Masih Mulia di Hadapan Saudaranya

Penyebab Manusia Masih Mulia di Hadapan Saudaranya
KHM Djamaluddin Ahmad
KHM Djamaluddin Ahmad
Jombang, NU Online
Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum Jombang, Jawa Timur KH M Djamaluddin Ahmad menjelaskan penyebab seseorang dimuliakan oleh manusia lainnya dikarenakan Allah masih menutup aibnya seseorang tersebut.
 
Dasar pemikiran Kiai Djamal berangkat dari Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atho'ilah yang berbunyi, "barangsiapa yang memuliakanmu, sesungguhnya dia memuliakan bagusnya tutup Allah yang ada pada dirimu, maka segala puji kepada Dzat yang menutupimu, bukan kepada orang yang memuliakanmu."
 
"Terkadang kita tertarik dan kagum kepada seseorang, sehingga kita memuji dan memuliakan kepada orang tersebut, karena keistimewaannya. Padahal sesungguhnya, yang kita muliakan adalah Allah yang menutupi cacat orang tersebut," jelas Kiai Djamal di Bahrul Ulum, Kamis (26/9).
 
Menurutnya, hal ini dikarenakan semua makhkuk pasti punya cacat. Apabila cacat itu dibuka, maka makhluk lain tidak akan sudi memuliakan orang tersebut. Cacat ada berupa cacat fisik dan hati. Apabila berupa cacat fisik bisa dilihat oleh mata. 
 
"Tapi apabila cacat hati, tidak akan bisa dilihat. Padahal manusia memiliki banyak cacat, seperti ujub dan dengki yang bahkan penyakit tersebut juga menjangkiti orang alim dan orang-orang pintar," ujarnya.
 
Dikatakan, penyakit-penyakit hati seperti riya', takabur, ingin dipuji, dan ingin dilihat orang lanjutnya, minimal ingin diperhatian orang dapat merusak dan menjadikan amal tidak diterima oleh Allah. Bahkan riya termasuk syirik asghar.
 
"Kadang orang memilki sifat sum'ah, atau ingin tenar padahal terkenal itu adalah penyakitnya hati. Dan apabila penyakit itu dibuka oleh Allah, mungkin orang lain tidak akan sudi menghormatinya lagi," ungkapnya.
 
"Jadi ketika kita menghormati, memuliakan, dan memuji seseorang, pada hakikatnya kita menghormati, memuliakan, dan memuji Allah yang menutupi cacat orang tersebut. Bukan malah kita memuliakan diri sendiri, tapi kepada Allah lah kita memuji dan memuliakan-Nya," imbuh kiai kelahiran Nganjuk ini.
 
Orang alim, menurut Kiai Djamal juga punya penyakit hati. Biasanya penyakit tersebut berupa hasut kepada orang alim dan mubaligh biasanya hasut dengan mubaligh. Pada tataran bawah, pemilik warung kopi hasut dengan sesama pemilik warung kopi, pedagang hasut dengan pedagang, serta pengusaha hasut dengan pengusaha.
 
menurutnya, terkadang penyakit hati berupa khiqdzu, atau dendam. Contoh, karena bapaknya pernah disakiti, anaknya dendam kesumat. Bisa juga seorang suami yang melakukan poligami, kemudian timbul khiqdzu antara sesama istri.
 
"Terkadang kita begitu terlihat baik seperti bisa ngaji kitab, dan ahli sedekah. Nah, terlihat baiknya kita oleh sesama manusia, semua karena aib kita ditutup oleh Allah," ujarnya.
 
Kiai Djamal memberikan jalan keluar agar terhindar dari penyakit hati. Untuk orang alim harus sabar, seperti nasehat pendiri Thariqah Syadiliyah Syekh Hasan al-Syadili yang berbunyi "Seseorang tidak bisa dikatakan alim sebelum diuji empat hal, pertama dimusuhi musuh, lalu dikatai teman dekatnya sendiri, dicacat orang bodoh, dan terakhir didengki orang alim.
 
"Orang baik pasti punya musuh, seperti Nabi Musa dengan Firaun, atau Nabi-Adam dengan iblis. Pasti ada yang memusihi, oleh karena itu, orang alim itu pasti dimusuhi oleh musuh-musuhnya," paparnya.
 
Manusia pada umumnya memandang orang lain adalah yang negatif. Ada orang baik 99 persen dan jeleknya 1 persen, yang dipandang pasti yang 1 persen. Oleh karena itu, Syekh Abdul Qadir al-Jailani pendiri Thariqah Qadiriyah mengajarkan apabila melihat orang lihatlah kebaikannya.
 
"Apabila sesorang telah bisa melalui semuanya dengan sabar, maka akan menjadi orang alim yang bisa dijadikan sebagai panutan," tambahnya.
 
Tips selanjutnya yaitu apabila melihat orang alim, merasalah bahwa mereka lebih utama, karena orang alim beramal dengan ilmunya, dan amal yang disertai ilmu akan mudah diterima oleh Allah. Apabila melihat orang bodoh, merasalah bahwa orang bodoh lebih utama, karena orang bodoh apabila berdosa karena tidak tahu, sehingga mudah diampuni oleh Allah.
 
Apabila melihat orang kaya, merasalah bahwa orang kaya lebih utama, karena orang kaya banyak syukurnya. Bagitu juga apabila melihat orang miskin, merasalah orang miskin lebih utama, karena mereka lebih banyak sabarnya, sampai-sampai apabila melihat anjing sekalipun, kita disuruh merasa bahwa anjing lebih utama, karena mereka setelah mati tidak ada dihisabnya.
 
Sayidah Fatimah ketika ditanya, "Wahai Fatimah, kapan aku menjadi orang baik?". Beliau menjawab, "Jika kamu merasa lebih jelek dari orang lain!". Bertanya lagi, "Lalu, kapan aku menjadi orang yang buruk?". Sayidah Fatimah menjawab, "Yaitu ketika kamu merasa lebih baik dari orang lain".
 
"Padahal umumnya kita selalu merasa lebih baik dari orang lain dalam segala hal," tutupnya.
 
Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Abdul Muiz
BNI Mobile