IMG-LOGO
Trending Now:
Pustaka

Gus Muwafiq dan Islam Rahmatan lil ‘Alamin

Senin 30 September 2019 18:0 WIB
Bagikan:
Gus Muwafiq dan Islam Rahmatan lil ‘Alamin
Buku Islam Rahmatan lil 'Alamin Gus Muwafiq. (Foto: NU Online/Fathoni)
Dalam sejumlah catatan sejarah Islam, generasi kita masih disuguhkan penaklukkan-penaklukkan dan perang-perang yang dilakukan oleh para pemimpin Muslim sejak zaman Rasulullah Muhammad SAW. Materi ini sedikit banyak membangun persepsi dan mindset bahwa sejarah Islam dalam membangun peradabannya identik dengan perang, padahal penemuan-penemuan berbasis sains dan teknologi telah dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan Muslim, terutama pada era Dinasti Abbasiyah.

Peradaban yang berupaya dibangun umat Islam merupakan salah satu langkah mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Hal ini berangkat dari pemahaman bahwa Islam bukan hanya menyangkut diniyyan (agama), tetapi juga tsaqafiyyan (kebudayaan), hadhariyyan (kemajuan), dan tamaddun (peradaban).

Peradaban Islam tidak hanya berlangsung di jazirah Arab, Persia, dan Turki, tapi Nusantara juga salah satu kawasan berkembangnya Islam di tengah kemajemukan tradisi dan budaya sehingga banyak mewujudkan peradaban, baik peradaban laku, pemikiran, ide, gagasan, dan bangunan-bangunan khas berupa artefak, kitab, manuskrip, dan benda-benda arkeologi.

Basis dakwah Islam dengan fondasi tradisi dan budaya terus didengungkan oleh salah seorang ulama muda Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq. Dalam setiap kesempatan ceramahnya, kiai berambut gondrong asal Yogyakarta ini terus berupaya membangun kesadaran beragama lewat khazanah kebudayaan yang dimiliki orang-orang Nusantara.

Buku berjudul Islam Rahmatan lil ‘Alamin yang dikarang Gus Muwafiq ini, merupakan salah satu khazanah tulis yang berupaya memberikan pemahaman keindonesiaan dalam menjalankan prinsip-prinsip agama. Dalam buku setebal 223 halaman, Gus Muwafiq banyak mengulas dan mengungkap wawasan kekinian tentang dunia Islam dan kaitannya dengan perkembangan Islam di Indonesia.

Substansi Islam Rahmtan lil ‘Alamin juga disampaikan saat ceramah Maulid Nabi Muhammad di istana negara Bogor, Jawa Barat. Ia menegaskan, Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman, yang jangkauannya bukan lagi jangkauan negara, bahkan jangkauan satu bangsa, tetapi jangkauan Nabi Muhammad untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin. Ini perbedaaan Nabi Muhammad  dengan Nabi-Nabi lainnya.

Nabi Muhammad menjadi Nabi ketika manusia sudah menjadi bangsa-bangsa, menjadi suku-suku dan itu harus dijangkau semuanya oleh Nabi. Maka dari situlah Nabi Muhammad dilahirkan di Kota Makkah. Kenapa Nabi tiak lahir di Bogor, tidak lahir di China, tetapi lahir di Makkah? Karena Makkah adalah guidance, Makkah adalah tempat dimana manusia pertama kali mengenal Allah SWT.

Karena di Makkah ada monumen paling tua di muka bumi. Yang Allah sebut, inna awala baiti wudzia ‘alinasi ilalladzi bibakata mubarakah wa huda lil ‘alamin. Di situ dibangun bangunan tua, bahkan ada yang mengkaji itu sesungguhnya itu adalah petilasan pertama ketika Nabi Adam turun ke muka bumi. Memberikan tanda di situ agar manusia mempunyai guidance kalau harus kembali kepada Allah.

Dan di Makkah pula terjadinya pertukaran antara laki-laki dan perempuan dalam wilayah yang paling tersembunyi antara Nabi Adam dan Siti Hawa. Pertemuan tersebut diabadikan oleh Allah SWT dalam sebuah tugu bernama Jabal Rahmah.

Dan dari situ kemudian manusia beranak pinak, manusia menjadi bangsa, suku yang tidak hanya ada di Arab. Semua ini akan dijangkau dalam konsep Rahmatan lil ‘Alamin. Manusia ketika berpindah-pindah guidance itu hilang, maka Allah mengutus seorang Nabi untuk menjadi guidance itu. Diutuslah Nabi Ibrahim as untuk menemukan monumen itu, Nabi Ibrahim ditemani putranya bernama Ismail dan ditemani istrinya bernama Hajar menemukan kembali situs di mana manusia harus kembali kepada Allah.

Situs itu dibangun ulang oleh Nabi Ibrahim dan berdoa, rabbana askantu mindzurriyati biwatin ghoiri izar indal baitikal muharam, rabbana liyuqimush sholata wa jaalna waidatan minannari tahwi ilaihim warzuqhum minatstsamarati la’allahum yasykurun. Maka karena Nabi Ibrahim menemukan guidance itu, Nabi Ibrahim menjadi orang yang paling terkenal di muka bumi dengan nama yang berbeda-beda, ada yang menyebut Ibrahim, ada yang menyebut Abraham, bahkan ada yang menyebut sebagai Brahma.

Walaupun ini butuh penelitian yang luar biasa sangat mendalam. Kenapa? Karena Nabi Ibrahim memiliki simbol yang kemudian diduplikasi oleh seluruh manusia di muka bumi. Di India ada simbol mirip seperti simbol yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim. Korelasi ini akan mengurai benang kusut antara manusia di muka bumi dengan lahirnya Rasulullah Muhammad SAW. Umat Islam mengenal Ka’bah, sebuah batu dengan tengah yang tidak ada isinya apa-apa, kosong. Di India ada bangunan yang sama batu yang tidak ada isinya di tengah, namanya stupa.

Dari sini kita bisa memahami bahwa prinsip pemahaman Islam yang ingin dibangun Gus Muwafiq ialah spirit Rahmatan lil ‘Alamin. Prinsip ini tidak hanya menjangkau kalangan Muslim, tetapi juga membangun pemahaman bahwa setiap peradaban yang dibangun manusia saling terkait sehingga masyarakat tidak harus bersikap antipati terhadap perbedaan. Bahkan prinsip rahmatan lil ‘alamin bisa berangkat dari kondisi asli suatu bangsa.

Peresensi adalah Fathoni Ahmad, Redaktur NU Online

Identitas buku
Judul: Islam Rahmatan Lil ‘Alamin: Berasal dari Arab tapi Islam Bukan Arab
Penulis: Gus muwafiq
Penerbit: Penerbit Al-Barokah
Cetakan: Pertama, 2019
ISBN: 978-602-52406-4-5
Tebal: 223 halaman
Bagikan:

Baca Juga

Senin 30 September 2019 21:0 WIB
Rambu-rambu Politik Warga NU
Rambu-rambu Politik Warga NU
“Politik itu kotor, politik itu najis”. Kalimat ini sering kita dengar dari banyak orang ketika ditanya seputar dunia politik. Tapi benarkah pernyataan tersebut? Bagaimana dengan warga NU yang berada dalam pusaran elit politik, apakah mereka juga akan kecipratan kotor? Bagaimana esensi khittah NU 1926? Buku ini hadir sebagai jawaban atas persoalan tersebut guna memberikan penerangan atas paradigma negatif yang muncul ditengah-tengah masyarakat mengenai keterlibatan warga NU dalam kancah perpolitikan.

Dalam sebuah teori klasik yang dicetuskan oleh Aristoteles, politik dimaknai sebagai usaha yang ditempuh oleh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Terciptanya kebaikan ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Bukan semata tanggungjawab pemerintahan. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa berpolitik adalah wajib. Tidak hanya sebatas pada politik struktural, juga dalam skala non struktural. Selaras dengan yang disampaikan oleh KH Dimyati Rois (Pengasuh PP Al-Fadlu Wal Fadhilah, Kaliwungu, Kendal) dalam tulisan pengantarnya di buku ini, bahwa berpolitik hukumnya fardu ‘ain.

Pada dasarnya, jika ditelaah secara rinci dan mendalam, politik bukanlah sesuatu yang buruk. Hanya saja karena disosialisasikan secara massif oleh media, sehingga kesan buruk mengenai politik menjadi persepsi umum di masyarakat (Hlm. 1). Anggapan buruk dunia politik sebenarnya merupakan asumsi yang berasal dari pemikir barat Lord Acton, yang mengatakan power tend to corrupt, Politik atau kekuasaan adalah cenderung korupsi (Hlm. 4).

Memang perbuatan korup dalam panggung politik bukan hal yang baru. Tapi juga bukan alasan untuk menjustisfikasikan dunia politik adalah dunia korup. Jika ada politisi ketahuan korup, bukan lantas dunia politik adalah dunia korup. Perbuatan korup suatu oknum tidak bisa dijadikan alasan untuk menggeneralisasikan dunia politik adalah buruk.

Kemudian, bagaimana agar warga NU tidak ikut terjerumus dan menjadi bagian dari parasit politik. Pertama yang perlu diluruskan adalah niat dan tujuan berpolitik. Seorang politisi ialah menyerahkan hidup secara totalitas untuk mengabdi kepada masyarakat (Hlm. 7). Pengabdian maupun pengayoman ini tidak boleh pandang bulu, baik dari segi agama, ras maupun suku. Harus bisa merangkul kemajemukan yang terkandung dan menjadi kekayaan bangsa ini, untuk kemudian dibingkai secara baik dan proporsional.

Wahana politik bagi warga NU tiada lain ialah sebagai sarana untuk jihad mempertahankan dan memperjuangkan aqidah ahlus sunnah wal jamaah (Hlm. 10). Dalam politik terbuka kondisi atau peluang untuk mempertahankan agama dan aqidah. Hal ini sesuai dengan argumen al-Mawardi dalam magnum opusnya al-Ahkam as-Shulthaniyah wal Wiladatu ad-Diniyah bahwa kekuasaan dalam politik merupakan pengganti dari kenabian untuk menjaga agama dan mengatur dunia (Hlm. 21).
 
Pada zaman dahulu, agama dan ketertiban bisa dipegang oleh seorang nabi atau rasul. Setelah para nabi dan rasul telah tiada, politiklah yang menjadi estafet perjuangan dalam menjaga agama dan ketertiban tersebut.

Dalam buku ini juga disinggung mengenai esensi dari khittah NU yang seringkali disalah pahami oleh kalangan umum, bahwa NU tidak boleh atau harus steril dari aroma politik praktis. Namun sebelum memaknai dan memahami khittah NU, terlebih dahulu haruslah memahami latar belakang lahirnya khittah tersebut. Memahami khittah diluar konteksnya akan mengakibatkan pemaknaan yang fatal.

Menurut KH Hasyim Muzadi, lahirnya khittah dilatar belakangi oleh kondisi sosial politik Orde Baru yang otoriter, sentralistik dan monolitik. Ormas hanyalah panggung opera. Partai politik hanya penggenap saja. Inti kekuasaan sepenuhnya ada ditangan presiden yang mendapat dukungan dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Pada masa itu, partai politik manapun tidak bisa membentuk kekuasaan, karena semua jaringan telah dikuasai oleh pemerintah.

Melihat hal tersebut, kiai-kiai NU mengambil keputusan bahwa NU keluar dari partai politik dengan doktrin kembali ke khittah. Partai politik sudah tidak bisa dijadikan jembatan untuk menitipkan aspirasi politik, tidak akan memberikan pengaruh terhadap kediktatoran rezim pemerintahan (Hlm. 31).

Setelah kekuasaam Orde baru runtuh, pada muktamar NU yang diletakkan di Lirboyo, Kediri, Jawa Timur tahun 1999. Secara resmi NU memutuskan dan menganjurkan warga NU untuk menyalurkan aspirasi politiknya (Hlm. 33). Hal ini karena dunia politik telah terbebaskan dari belenggu-belenggu keotoriteran pemerintah Orde Baru dan peluang menitipkan aspirasi lewat sarana politik mulai bisa diandalkan.

Buku ini memberikan pemahaman dan pedoman kepada warga NU mengenai cara berpolitik yang baik dan benar, agar tidak melenceng dari rel NU. NU dan politik tidak saling bertentangan. Politik merupakan salahsatu sarana untuk mempertahankan agama dan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah. Agama dan aqidah tidak akan berjalan dan bertahan dengan baik jika negara tidak baik (kacau).

Ketertiban suatu negara menjadi syarat mutlak umat Islam bisa menjalankan agama dengan aman dan nyaman. Sudah saatnya warga NU harus menjadi pemain dalam gelanggang politik dengan tetap memegang prinsipnya sebagai warga NU. Wallahu a’lam.
                
Peresensi adalah Nuvilu Usman Alatas, pustakawan Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa sekaligus Mahasiswa Instika
 
Identitas buku
Judul: Pedoman Berpolitik Warga NU
Penulis: Muh. Hanif Dhakiri
Tahun Terbit: Cetakan Empat, Juli 2018
ISBN: 978-602-8995-45-0
Penerbit: Pustaka Pesantren
Tebal: xvi + 60 Halaman
Jumat 27 September 2019 20:45 WIB
Dunia Digital di Balik Fenomena Sosial
Dunia Digital di Balik Fenomena Sosial
Buku Rhenald Kasali #MO Sebuah Dunia Baru yang Membuat Orang Gagal Paham. (Foto ilustrasi: NU Online)
Memang, dunia yang serba digital begitu cepat mengubah berbagai keadaan manusia. Bagaimana tidak, informasi dengan begitu cepatnya menjalar ke segala penjuru. Dengan hitungan sepersekian detik, bahkan di detik yang sama, orang di tempat yang berbeda sudah bisa mengetahui peristiwa yang terjadi di tempat lain, entah melalui panggilan video ataupun siaran langsung yang dilakukan melalui berbagai media, seperti televisi, Youtube, ataupun media sosial yang dilakukan oleh masyarakat secara personal, baik Facebook, Twitter, maupun Instagram.

Hal demikian terkadang dimanfaatkan oleh orang atau oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menyebar agitasi dan memobilisasi massa dengan berbagai macam cara. Hal yang paling mudah kita lihat adalah perang tanda pagar (tagar) di media sosial Twitter. Yang paling terbaru terkait peristiwa tagar #GejayanMemanggil vs #TurunkanJokowi.

Namun, lepas dari esensi tagarnya, perang tagar ini juga tidak lepas dari tunggangan. Orang-orang memanfaatkan tagar-tagar yang tengah trending untuk memasarkan produknya ataupun lainnya. Bahkan, ada pula orang yang mempertentangkan tagar tersebut dengan tetap menyertakan tagarnya. Orang yang tidak setuju dengan tuntutan penurunan Jokowi memanfaatkan tagar #TurunkanJokowi untuk menyampaikan pendapatnya. Hal itu dilakukan guna mengimbangi narasi yang muncul dalam tagar tersebut.

Hal yang parah ketika kita diarahkan dengan isu hoaks yang dimunculkan agar masyarakat teragitasi, terbawa emosinya sehingga larut dalam euforia dan turut beraksi melakukan hal-hal yang diinginkan oleh oknum tertentu. Hal yang sebetulnya tidak diketahui betul kejadiannya, tetapi ditelan bulat-bulat. Mereka yang demikian tentu tidak ingat atau mungkin tidak mengetahui bahwa kita diperintahkan oleh Allah untuk bertabayun, mencari kejelasan atas informasi yang diterima.

Tentu permainan tagar tersebut tidak menjadi perbincangan banyak masyarakat tanpa beberapa faktor. Rhenald Kasali dalam bukunya #MO Sebuah Dunia Baru yang Membuat Orang Gagal Paham memberikan pandangannya bahwa ada lima hal yang membuat orang menggerakkan jemarinya untuk turut serta berkomentar, yakni magnitude, proximity, drama, konflik, dan ketokohan.

Rhenald juga mengungkapkan tentang anatomi mobilisasi. Hal itu diawali dengan adanya pemicu, dilanjutkan dengan adanya aksiden, lalu dibuat framing, kemudian ada tindakan partisipasi, timbul gerakan, sampai pada outcomes dan negosiasi. Jika kita terapkan pada kasus yang baru-baru ini ramai, demonstrasi mahasiswa. 
 
Pemicunya tentu saja adalah beberapa Rancangan Undang-Undang (RUU) yang kontroversial yang buru-buru ingin disahkan oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Aksidensinya berupa tindakan represif aparat keamanan terhadap demonstrasi yang mulanya berjalan damai. Lalu, hal itu dibuat framing sedemikian rupa, seperti adanya isu ditunggangi.

Partisipasi publik pun meluas. Tidak hanya mahasiswa, tetapi juga para artis, aktivis, dan influencer media sosial turut mengampanyekan hal tersebut. Berbagai video dan gambar pun beredar dan gerakan penyelamatan demokrasi menguat. Puncaknya, negosiasi mahasiswa dengan DPR, DPRD, gubernur, hingga presiden. Untuk pejabat yang disebut terakhir ini belum terlaksana.

Di samping itu, media sosial juga menjaring berbagai data pribadi kita. Kita dengan tanpa ada kecurigaan sama sekali membuka identitas kita yang seharusnya menjadi privasi beralih menjadi konsumsi publik. Tentu hal demikian ada plus minusnya. Di satu sisi, hal ini mempermudah orang mengenal kita. Banyak perusahaan yang mudah melihat rekam jejak digital kita melalui media sosial dan internet.

Ada platform Linked In, misalnya, yang menjadi media bagi orang-orang untuk mendapatkan informasi dalam mencari pekerjaan. Pun tingkah laku kita melalui apa yang diunggah dan dibagikan di media sosial pribadi. Tetapi di sisi lain, hal tersebut terkadang dimanfaatkan untuk hal lain, seperti kampanye suatu kepentingan tertentu dengan melihat kecenderungan pengguna dilihat dari apa saja yang diunggahnya. Hal ini terjadi di Amerika Serikat.

Perekonomian juga mengalami imbasnya. Pasalnya, dunia digital mempermudah konsumen dan penjual untuk akses jual beli sehingga praktik begitu cepat. Namun, hal tersebut juga memberikan dampak negatif terhadap persaingan usaha yang semakin ketat. Dunia usaha sudah tidak dapat mengandalkan satu bidang usaha saja untuk mendapatkan keuntungan yang diharapkan, tetapi harus mengembangkan usaha lainnya untuk menutupi kerugian yang didapatnya.

Taufik Hidayadi, alumni Fellow di Guangzhou, menyampaikan dalam sebuah diskusi perang dagang China dan Amerika Serikat bahwa Negeri Tirai Bambu begitu memanjakan para konsumen. Hal itu terbukti transaksi cukup dilakukan dengan Wechat yang langsun memotong saldo rekening bank pribadi untuk membeli berbagai macam hal di Alibaba.

Kemudahan akses yang demikian belum diterapkan di Indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu, di kota-kota besar sudah banyak masyarakat yang menggunakan kemudahan bertransaksi dengan Gojek, misalnya, yang sudah merambah ke berbagai hal dari yang semula hanya membantu mendapatkan pengendara motor untuk mengantarkan ke sebuah lokasi tertentu.

Buku ini mengungkap kerja digital di balik fenomena sosial yang terjadi beberapa waktu terakhir, mulai dari peristiwa 212, kasus Audrey, hingga fenomena minyak sawit yang menuai penolakan di Eropa. Dengan buku ini, kita diajak untuk melihat fenomena sosial dari akarnya dengan data-data digital.

Peresensi adalah Syakir NF, mahasiswa Pascasarjana Program Magister Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.

Identitas Buku
Judul: #MO Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham
Penulis: Rhenald Kasali
Tebal: xix + 422
Penerbit: Mizan
ISBN: 9786024411244
Kamis 1 Agustus 2019 16:0 WIB
Gus Dur dan Negara Bukan-Bukan
Gus Dur dan Negara Bukan-Bukan
Buku Negara Bukan-Bukan karya Nur Khalik Ridwan.
Pergolakan dalam membangun negara dengan segala sistemnya telah mewarnai bangsa Indonesia. Hal itu terlihat ketika sejumlah kelompok berupaya melakukan pemberontakan agar sistem yang menjadi cita-citanya diterapkan di Indonesia. Namun, berkat briliannya para pendiri yang bangsa yang pemikiran moderat dan terbuka membuat masyarakat Indonesia tetap bersatu sebagai sebuah negara bangsa dengan pondasi kokoh Pancasila.

Buku yang ditulis Nur Khalik Ridwan ini berusaha mengulas prisma pemikiran Gus Dur tentang negara bangsa yang berlandaskan Pancasila. Penguatan negara bangsa terus dilakukan oleh Gus Dur karena secara kultur dan kemajemukan, rakyat Indonesia lebih tepat untuk hidup bersama yang diikat oleh konsensus kebangsaan. Bukan negara agama, bukan juga negara yang memisahkan diri dari agama (sekuler).

Karena Indonesia bukanlah negara agama tetapi negara orang-orang beragama dan bukan pula negara sekuler, Almarhum KH Ahmad Hasyim Muzadi pernah melontarkan guyonan bahwa negara Indonesia adalah ‘negara yang bukan-bukan’. Dari humor menggelitik tapi penuh makna tersebut, Nur Khalik Ridwan berupaya melacaknya lewat pemikiran-pemikiran Gus Dur tentang negara Pancasila.

Penulis buku menyadari bahwa masih ada sekelompok Muslim yang masih mempersoalkan Pancasila. Gus Dur merupakan tokoh Muslim yang banyak menginspirasi masyarakat Indonesia akan arti kebangsaan yang harus terus dijaga, dirawat, dan dimajukan demi kehidupan kemanusiaan yang lebih luas. Gus Dur bersama ulama-ulama pesantren juga menggagas penerimaan negara Pancasila di kalangan Muslim serta bangsa Indonesia sambil memberi catatan-catatan dan isi yang progresif.

Muktamar NU 1984 menjadi tonggak sejarah bagi NU, organisasi para kiai pesantren ini untuk kembali ke Khittah 1926. NU menegaskan diri sebagai Jami’yyah Diniyyah Ijtima’iyyah (organisasi sosial kegamaan) sesuai amanat pendirian organisasi pada 1926, bukan lagi sebagai organisasi politik praktis.

Dalam Muktamar itu ada tiga komisi, salah satunya adalah komisi khittah yang membahas paradigma, gagasan dasar, dan konsep hubungan Islam dan Pancasila. Dua komisi lain membahas tentang keorganisasian yang dipimpin oleh Drs Zamroni dan komisi AD/ART dipimpin oleh KH Tholhah Mansur. Dengan jumlah anggota rapat komisi yang cukup banyak, mereka membahas secara terpisah di tempat yang berbeda.

Gus Dur memimpin subkomisi yang merumuskan deklarasi hubungan Islam dan Pancasila. Salah seorang cucu Hadhtrassyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari  (1871-1947) ini kemudian menunjuk lima orang kiai sebagai anggotanya, yaitu KH Ahmad Mustofa Bisri dari Rembang, KH Hasan dari Medan, KH Zahrowi, KH Mukafi Makki, dan dr Muhammad dari Surabaya.

Gus Dur membuka rapat dengan bertanya kepada anggotanya satu per satu soal pendapatnya tentang hubungan Islam dan Pancasila. Mereka menyampaikan pandangannya terhadap satu per satu sila dalam Pancasila disertai sejumlah argumen keagamannya. Gus Dur mendengarkan dan menyimak dengan penuh perhatian.

Pada dasarnya, Pancasila menurut para kiai dalam subkomisi ini tidak bertentangan dengan Islam, justru sebaliknya sejalan dengan nilai-nilai Islam. “Pancasila itu Islami,” simpul mereka seperti diungkapkan Gus Mus.

Usai mereka menjawab, Gus Dur berkata, “Bagaimana jika ini (Pancasila itu Islami, red) saja yang nanti kita sampaikan, kita deklarasikan di hadapan sidang pleno Muktamar?” tanya Gus Dur. Tanpa pikir panjang, mereka setuju, sepakat bulat, lalu rapat ditutup. “Al-Fatihah!” Menurut pengakuan Gus Mus, kala itu Gus Dur tersenyum manis, ya manis sekali.

Lalu Gus Mus memberikan kesaksian, “Gus Dur hebat sekali. Rapat untuk sesuatu yang mendasar dan pondasi bagi penataan relasi kehidupan berbangsa dan bernegara hanya diputuskan dalam waktu 10 menit! Sementara komisi yang lain rapat sampai berjam-jam bahkan hingga subuh untuk memutuskan pembahasan sesuai bidangnya masing-masing.”

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa Gus Dur melihat perlunya dikembangkan pemikiran untuk mencari nilai-nilai dasar bagi kehidupan bangsa. Nilai-nilai dasar itu bisa ditarik dari dua arah. Pertama, nilia-nilai agama dan kepercayaan, karena ajaran agama akan tetap menjadi referensi umum bagi Pancasila.

Kedua, bisa juga dilihat dengan cara bahwa agama-agama dan kepercayaan-kepercayaan harus memperhitungkan eksistensi Pancasila sebagai ‘polisi lalu lintas’ yang akan menjamin semua pihak bisa menggunakan jalan raya kehidupan bangsa tanpa terkecuali. Selamat membaca!

Peresensi adalah Fathoni Ahmad, penulis buku "Islam Nusantara dalam Pemikiran KH Abdurrahman Wahid"

Identitas buku
Judul: Negara Bukan-Bukan: Prisma Pemikiran Gus Dur tentang Negara Pancasila
Penulis: Nur Khalik Ridwan
Penerbit: IRCiSoD
Cetakan: Pertama, April 2018
ISBN: 978-602-7696-29-7
Tebal: 255 halaman
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG