IMG-LOGO
Nasional

Batik Menurut Gus Mus dan Kiai Said Aqil Siroj 

Rabu 2 Oktober 2019 11:45 WIB
Bagikan:
Batik Menurut Gus Mus dan Kiai Said Aqil Siroj 
Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj sering kali mengenakan batik (Foto: NU Online)
Jakarta, NU Online
Mustasyar atau penasihat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus pernah mengatakan, dewasa ini, umat Islam Indonesia cenderung mengenakan pakaian gaya Arab; berjubah putih, berserban. Mereka menyangka, yang demikian itu merupakan salah satu ittiba’ (mengikuti jejak) Nabi Muhammad. 

"Mereka kira, pakaian yang mereka pakai itu pakaian Kanjeng Nabi. Padahal, jubah, serban, sekalian jenggotnya, itu bukan pakaian Kanjeng Nabi. Abu Jahal juga begitu, karena itu pakaian nasional Arab," ungkap kiai asal Rembang, Jawa Tengah ini pada pengajian di Mata Air, Jalan Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta, Rabu 26 Oktober 2011 lalu. 

Gus Mus menegaskan bahwa Kanjeng Nabi sangat menghormati tradisi tempat tinggalnya sehingga ia memakai pakaian nasional Arab, bukan pakaian bangsa lain. Nabi Muhammad tidak membikin pakaian sendiri untuk menunjukkan bahwa dia Rasulullah atau utusan Allah supaya berbeda dengan manusia lain. 

"Seandainya, ini seandainya, kalau Rasulullah itu lahir di Texas, mungkin pake jeans," ujar kiai yang pelukis dan penyair ini, disambut tawa hadirin. 

"Makanya Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid, saya, pakai pakaian sini; pake batik," ujarnya sambil menunjuk baju yang dikenakannya: batik coklat motif bunga berbentuk limas berwarna hitam. 

"Ini, ittiba' Kanjeng Nabi," tegasnya.

Gus Mus menegaskan, jadi, perbedaan antara Abu Jahal, Abu Lahab dengan Kanjeng Nabi adalah air mukanya, bukan pakaiannya. Kanjeng Nabi itu wajahnya tersenyum, Abu Jahal wajahnya sangar. Kalau ingin iitiba' Kanjeng Nabi, pakai serban pakai jubah, wajah harus tersenyum.

Gus Mus lalu mengisahkan, pada zaman Nabi, kalau ada sahabatnya yang sumpek, mempunyai beban, ketemu Kanjeng Nabi, melihat wajahnya, hilang sumpeknya.

Senada dengan Gus Mus, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj bersyukur bahwa batik, salah satu khas pakaian Indonesia masih bertahan walaupun memasuki era digital. 

"Alhamdulillah kita dijajah Belanda selama 350 tahun, batik tidak hilang," kata Kiai Said Aqil Siroj di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis 2 Oktober 2014.

Menurut kiai asal Cirebon tersebut, batik adalah ciri khas Indonesia yang unik dan mengandung filosofi daerah dimana ia dibuat. Seperti batik Yogya, Cirebon, Solo, Pekalongan, dan daerah memiliki filosofinya masing-masing. 

"Orang dulu membuat motifnya itu tidak sembarangan. Apalagi yang batik tulis. Konon katanya ketika akan membatik itu ada yang tirakat dulu sebab ada yang sampai dua tahun. Konon begitu yang batik tulis. Itu untuk keberkahan," katanya menjelaskan.  

Ia menyebut juga bahwa orang yang membatik bukan hanya semata-mata mencari materi atau uang, tapi mempertahankan jati diri karena soal uang itu tak setimpal dari daya ciptanya. 

Menjadi warga negara Indonesia, menurut Kiai Said adalah amanat dari Allah Subhanahu wa ta'ala. "Saya jadi orang Indonesia bukan pilihan. Tiba-tiba Tuhan menghendaki saya jadi orang Indonesia, itu kan anugerah, amanah dari Tuhan," tegasnya.

Batik, kata dia adalah produk budaya manusia Indonesia. Sedangkan budaya adalah pembeda antara manusia dengan binatang. Sebelum lahir, seseorang sudah berada dalam budaya tertentu dalam aturan tata cara pakaian dan tata cara hidup tertentu.

Lebih jauh Kiai Said mengatakan, orang Indonesia yang berpakaian gaya Arab, tidak ada hubungannya dengan kedalaman keberagamaan. Karena di zaman Rasulullah saja yang menggunakan pakaian seperti itu adalah Abu Jahal dan Abu Lahab. Mereka justru penentang Islam paling utama dan terdepan.

Dalam Islam, sambung Kiai Said, yang penting dalam berpakaian itu menutup aurat. "Mau sarung, kain, jilbab, kebaya, sari India, celana asal tidak terlalu ketat, yang penting menutut aurat. Adapun jika budaya bertabrakan dengan Islam, maka Islam meluruskan. Yang tidak bertabrakan, kita pertahankan seperti batik," tegasnya.  

Badan PBB, UNESCO, mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Peringatan Hari Batik Nasional melalui Penerbitan Kepres No 33, 17 November 2009. Selamat Hari Batik Nasional. 

Pewarta: Abdullah Alawi
Editor: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

Rabu 2 Oktober 2019 23:0 WIB
Kemenag Segera Terbitkan Buku Ajar PAI Terkini
Kemenag Segera Terbitkan Buku Ajar PAI Terkini
Direktur PAI Ditjen Pendis Kemenag Rohmat Mulyana Sapdi (tengah) di sela konferensi pers Pentas PAI di kantor Kemenag, Rabu (2/10). (Foto: NU Online/AR Ahdori)
Jakarta, NU Online
Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Agama Islam (Dit PAI) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) tengah mempersiapkan bahan ajar Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk semua tingkatan pendidikan.
 
Buku bahan ajar PAI tersebut nantinya akan dijadikan rujukan bagi seluruh guru mata pelajaran PAI di SD, SMP, dan SMA/SMK seluruh Indonesia ketika mengajar di kelas. 
 
Direktur PAI Ditjen Pendis Kemenag, Rohmat Mulyana Sapdi, memastikan ribuan buku yang tengah di-review tersebut akan diedarkan ke semua guru PAI 2020 tahun depan. Menurutnya, pada buku terbitan teranyarnya itu, banyak keunggulan yang dinilai mampu mempermudah pendidik memahami isi buku.
 
“Buku ini sebagai bahan ajar di SD, SMP, SMA/SMK. Nah, tadi saya katakan bahwa buku itu sedang kami review. Bentuknya sudah seperti buku. Kami sedang menyisirnya agar tidak ditemukan kesalahan. Misalnya, antara ilustrasi tidak nyambung dengan narasi,” katanya kepada NU Online ditemui di kantornya usai konferensi pers Pentas PAI, Rabu (2/10) sore.
 
Ia menjelaskan, buku yang terdiri dari materi-materi keislaman secara umum tersebut mengacu kepada Kurikulum Nasional tahun 2013. Hanya saja, dalam buku itu materi yang diamanatkan oleh Kurikulum 2013 ditulis dalam bentuk desain menarik.
 
Upaya itu dilakukan semata untuk mempermudah pembaca dalam memahami materi. “Termasuk di buku terbitan terbaru ini dilengkapi pantun-pantun islami,” ujar mantan Sekretaris Balitbang Diklat Kemenag ini. 
 
Terkait status buku apakah wajib dipegang oleh anak didik atau tidak, ia masih mempertimbangkannya. Sebab, jumlah siswa PAI di semua tingkatan di Indonesia lebih dari 37,7 juta.
 
Solusinya, lanjut Rohmat, dimungkinkan dilengkapi dengan e-book, sehingga buku tetap dapat dipelajari tanpa membeli buku secara fisik. Sudah tentu, lebih efektif dan efisien.
 
“Pesan saya terkait dengan ini, saya kira belajar agama ya belajar dari teks buku kami. Jangan akses sana sini dari sumber pengetahuan yang tidak jelas. Jadi, buku kami Insya Allah lebih selamat jika dipelajari,” pungkasnya. 
 

Pewarta: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Musthofa Asrori
 
Rabu 2 Oktober 2019 21:0 WIB
Pentas PAI Kemenag Perkuat Pemahaman Islam Moderat
Pentas PAI Kemenag Perkuat Pemahaman Islam Moderat
Direktut PAI Ditjen Pendis Kemenag Rohmat Mulyana Sapdi (kedua dari kiri) saat Konferensi Pers di Kantor Kemenag Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Rabu (2/10). (Foto: NU Online/panitia)
Jakarta, NU Online
Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Agama Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam siap menggelar Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam (Pentas PAI) bagi siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Pentas PAI Tingkat Nasional ke IX ini akan berlangsung di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu-Selasa, 9-14 Oktober 2019 mendatang.
 
Direktur Pendidikan Agama Islam Ditjen Pendis Kemenag, Rohmat Mulyana Sapdi, mengatakan kegiatan itu bertujuan meningkatkan kreativitas siswa PAI di berbagai sekolah di Indonesia. Peserta yang tampil, kata dia, merupakan peserta yang dinyatakan lolos dan berhak mengikuti serangkaian perlombaan yang akan dihelat. 
 
“Kegiatan juga diharapkan meningkatkan kesadaran pemahaman agama siswa terutama pemahaman agama yang moderat,” tutur Rohmat Mulyana saat Konferensi Pers di Kantor Kemenag Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Rabu (2/10). 
 
Ia menjelaskan, agar semua rangkaian berjalan dengan maksimal seluruh perangkat yang diperlukan pada perhelatan dua tahunan itu telah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari.
 
Ada 10 jenis perlombaan yang akan dihelat antara lain Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Pidato, Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ), Cerdas Cermat, Kaligrafi, Nasyid, Debat PAI, Kreasi Busana, Penulisan Cerita Remaja Islami, dan Lomba Karya Ilmiah Remaja. 
 
Menurut Rohmat Mulyana, Pentas PAI 2019 harus berdampak terhadap pemahaman siswa kepada Islam Washatiyah sehingga upaya mewujudkan islam rahmatan lil alamin bagi kalangan siswa sekolah terealisasi dengan baik. 
 
Ia mendapatkan laporan dari beberapa lembaga yang menyebutkan bahwa radikalisme sudah masuk ke semua tingkatan sekolah termasuk sekolah milik pemerintah seperti SD, SMP, dan SMK/SMA. 
 
“Makanya melalui kegiatan ini juga kami dalam rangka menata kegiatan Rohis yang dinilai menjadi pintu gerbang masuknya ajaran intoleran di sekolah,” ucap mantan Sekretaris Balitbang Diklat Kemenag ini. 
 
Di sela rangkaian kegiatan, pihaknya juga akan menggelar Saresehan Moderasi Agama untuk memperkuat pemahaman islam yang ramah. Dengan begitu, ratusan siswa dibekali mana pemahaman Islam yang harus diterima mana ajaran Islam yang harus dikonfirmasi ulang kepada guru atau kiai. 
 
Seiring dengan itu, Kemenag juga memaparkan hasil survei yang dilakukan oleh PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2017 silam. Survei terkait radikalisme agama tersebut menunjukkkan adanya pemahaman radikal di kalangan remaja, yakni 37.71 persen meyakini bahwa perang sangat relevan dilakukan untuk melawan non muslim. 
 
Kemudian, 23.35 persen setuju bahwa bom bunuh diri itu termasuk jihad Islam, dan  34.03 persen juga sepakat jika muslim yang murtad harus dibunuh. Terakhir, sebanyak 33,34 persen menyatakan perbuatan intoleran terhadap kelompok minoritas tidak masalah. 
 

Kontributor: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Musthofa Asrori
 
Rabu 2 Oktober 2019 17:0 WIB
Kuatkan Nilai Kebangsaan, Lirboyo Gelar Pameran Sejarah Pesantren
Kuatkan Nilai Kebangsaan, Lirboyo Gelar Pameran Sejarah Pesantren
H Agus Sunyoto dan H D Zawawi Imron di kegiaman KH Anwar Manshur, Pesantren Lirboyo, Kediri. (Foto: NU Online/Imam Kusnin Ahmad)
Kediri, NU Online 
Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur menggelar pameran kesejarahan dalam rangka penguatan nilai kebangsaan. Kegiatan ini hasil kerja sama dengan Direktorat Sejarah, Dirjen Kebudayaan pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama.
 
Mengusung tema Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman, Sejarah dan Tradisi Kebangsaan di Pesantren, acara dipusatkan di Pondok Lirboyo sejak Rabu hingga Jumat (2-4/10).. Kegiatan ini didukung Paguyuban Tosan Aji serta Keris Panji Joyoboyo Kediri. 
 
“Kegiatan ini sebagai bukti bahwa kita tidak melupakan sejarah atas keberadaan para pendiri pondok pesantren,” kata Agus Imam Mubarok, Rabu (2/10). Acara juga diharapkan mampu menjadi motivasi bagi para santri, lanjutnya.
 
Wakil Ketua Pengurus Wilayah (PW) Lesbumi NU Jatim ini menjelaskan bahwa sangat penting bagi semua kalangan khususnya para santri untuk memahami peninggalan ataupun warisan para ulama.
 
“Karena tidak semua orang tahu,” tegasnya.
 
Dalam pandangannya, acara yang mendapat dukungan Kemendikbud ini merupakan bentuk apresiasi luar biasa terhadap sosok tiga tokoh pendiri Pondok Lirboyo. 
 
“Namun demikian tidak mengecilkan perjuangan ulama besar lainnya seperti KH Djazuli Usman selaku pendiri Pondok Ploso maupun KH Mochammad Ma’ruf yang juga pendiri Pondok Kedonglo,” terang Gus Barok, sapaan akrabnya.
 
Meskipun berada di lokasi pesantren, acara ini terbuka untuk umum dan tidak ada pungutan biaya apapun. 
 
“Acara pertama berupa halaqah kebangsaan dengan menghadirkan H Agus Sunyoto yang merupakan Ketua Lesbumi PBNU dan H D Zamawi Imron sebagai sosok budayawan dan sastrawan dari Sumenep,” jelasnya.
 
Acara kedua, lomba esai kebangsaan dengan menggunakan bahasa Arab yang akan diikuti seluruh perwakilan pondok pesantren. 
 
“Kemudian acara ketiga, pameran kesejarahan dengan memamerkan seluruh potensi, termasuk sosok muassis yang berjuang sekuat tenaga saat mendirikan pesantren,” tuturnya.
 
Dirinya menjelaskan, pentingnya ditampilkan bukti sejarah bagaimana Pesantren Lirboyo berdiri tahun 1910 atas perjuangan tiga tokoh yakni KH Abdul Karim, KH Marzuki dan KH Ali Makhrus.
 
“Para kiai itu adalah tokoh yang sangat luar biasa dalam pergerakannya, di samping kiai lain yang begitu solid sehingga memiliki ribuan santri dari penjuru Indonesia,” terangnya. 
 
Selain itu, selama kegiatan juga juga akan digelar pameran. “Dari mulai pameran kitab, pusaka pesantren, foto, serta pemutaran film terkait kegiatan pesantren,” pungkasnya.
 
 
Pewarta: Imam Kusnin Ahmad
Editor: Ibnu Nawawi
 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG