IMG-LOGO
Trending Now:
Fragmen

Kesaktian Pancasila di Tangan Ulama Pesantren

Kamis 3 Oktober 2019 3:30 WIB
Bagikan:
Kesaktian Pancasila di Tangan Ulama Pesantren
Ilustrasi NU dan Pancasila. (NU Online)
Oleh Fathoni Ahmad
 
Setiap tanggal 1 Oktober bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Momen ini berangkat dari tragedi 30 September dan sebelumnya disambung dengan sejumlah rentetan pemberontakan yang dilakukan oleh kelompok komunis dan kelompok Islam konservatif yang berupaya merongrong dasar negara Pancasila.

Namun berkat perjuangan gigih seluruh elemen bangsa, terutama santri dan ulama pesantren, Pancasila sebagai konsensus kebangsaan tetap sakti di tengah deraan ideologi-ideologi yang tak ramah dengan kemajemukan bangsa Indonesia. Ulama pesantren tidak hanya berperan dalam penyusunan dasar negara Pancasila, tetapi juga mempertahankannya hingga kini.

Persiapan yang dilakukan oleh para tokoh bangsa termasuk salah satu perumus Pancasila KH Abdul Wahid Hasyim dari kalangan tokoh agama tidak lantas membuat mereka optimis dalam menyiapkan kemerdekaan. Hal ini diungkapkan oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dalam salah satu kolomnya berjudul Kemerdekaan: Suatu Refleksi (Aula, 1991: 41).

Dalam tulisan tersebut, Gus Dur menjelaskan dalam konteks usaha susah payah para tokoh bangsa dalam menyiapkan kemerdekaan. Mantan Presiden ke-4 RI ini mengatakan bahwa pada sidang lanjutan tanggal 1 Juni 1945 para pemimpin rakyat peserta sidang kebanyakan masih menyangsikan kemampuan bangsa Indonesia untuk merdeka.

Meskipun demikian, dalam kesangsian sikap itu, justru dimanfaatkan oleh para tokoh bangsa sebagai energi positif untuk dapat merumuskan dasar negara. Artinya, kesangsian yang timbul bukan semata dari semangat perjuangan, tetapi dari pergolakan politik yang masih berkecamuk di dalam negeri saat itu.

Namun demikian, Gus Dur menegaskan akhirnya para pemimpin rakyat itu melalui perjuangan jiwa, raga, dan pikiran berhasil memerdekakan Indonesia dua bulan kemudian (17 Agustus 1945). Dalam konteks ini, Gus Dur ingin menyampaikan bahwa esensi kemerdekaan bukan hanya lepas dari penjajahan, tetapi juga terbangun persamaan hak (equality) di antara seluruh bangsa Indonesia yang majemuk. Sebab itu dasar negara Pancasila lebih tepat untuk Indonesia. Apalagi sudah melalui kajian mendalam, baik lahir dan batin dari para ulama pesnatren.

Proses merumuskan Pancasila ini bukan tanpa silang pendapat, bahkan perdebatan yang sengkarut terjadi ketika kelompok Islam tertentu ingin memperjelas identitas keislamannya di dalam Pancasila. Padahal, sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang dirumuskan secara mendalam dan penuh makna oleh KH Wahid Hasyim merupakan prinsip tauhid dalam Islam.

Tetapi, kelompok-kelompok Islam dimaksud menilai bahwa kalimat Ketuhanan Yang Maha Esa tidak jelas sehingga perlu diperjelas sesuai prinsip Islam. Akhirnya, Soekarno bersama tim sembilan yang bertugas merumuskan Pancasila pada 1 Juni 1945 mempersilakan kelompok-kelompok Islam tersebut untuk merumuskan mengenai sila Ketuhanan.

Setelah beberapa hari, pada tanggal 22 Juni 1945 dihasilkan rumusan sila Ketuhanan yang berbunyi, “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Kalimat itu dikenal sebagai rumusan Piagam Jakarta. Rumusan tersebut kemudian diberikan kepada tim sembilan. Tentu saja bunyi tersebut tidak bisa diterima oleh orang-orang Indonesia yang berasal dari keyakinan yang berbeda.

Poin agama menjadi simpul atau garis besar yang diambil Soekarno yang akhirnya menyerahkan keputusan tersebut kepada Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari untuk menilai dan mencermati apakah Pancasila 1 Juni 1945 sudah sesuai dengan syariat dan nilai-nilai ajaran Islam atau belum.

Saat itu, rombongan yang membawa pesan Soekarno tersebut dipimpin langsung oleh KH Wahid Hasyim yang menjadi salah seorang anggota tim sembilan perumus Pancasila. Mereka menuju Jombang untuk menemui KH Hasyim Asy’ari. Sesampainya di Jombang, Kiai Wahid yang tidak lain adalah anak Kiai Hasyim sendiri melontarkan maksud kedatangan rombongan.

Setelah mendengar maksud kedatangan rombongan, Kiai Hasyim Asy’ari tidak langsung memberikan keputusan. Prinspinya, Kiai Hasyim Asy’ari memahami bahwa kemerdekaan adalah kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia, sedangkan perpecahan merupakan kerusakan (mafsadah) sehingga dasar negara harus berprinsip menyatukan semua.

Untuk memutuskan bahwa Pancasila sudah sesuai syariat Islam atau belum, Kiai Hasyim Asy’ari melakukan tirakat. Di antara tirakat Kiai Hasyim ialah puasa tiga hari. Selama puasa tersebut, beliau meng-khatam-kan Al-Qur’an dan membaca Al-Fatihah. Setiap membaca Al-Fatihah dan sampai pada ayat iya kana’ budu waiya kanasta’in, Kiai Hasyim mengulangnya hingga 350.000 kali. Kemudian, setelah puasa tiga hari, Kiai Hasyim Asy’ari melakukan shalat istikharah dua rakaat. Rakaat pertama beliau membaca Surat At-Taubah sebanyak 41 kali, sedangkan rakaat kedua membaca Surat Al-Kahfi juga sebanyak 41 kali. Kemudian beliau istirahat tidur. Sebelum tidur Kiai Hasyim Asy’ari membaca ayat terkahir dari Surat Al-Kahfi sebanyak 11 kali. (Sumber: KH Ahmad Muwafiq)

Paginya, Kiai Hasyim Asy’ari memanggil anaknya Wahid Hasyim dengan mengatakan bahwa Pancasila sudah betul secara syar’i sehingga apa yang tertulis dalam Piagam Jakarta (Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) perlu dihapus karena Ketuhanan Yang Maha Esa adalah prinsip ketauhidan dalam Islam.

Sila-sila lain yang termaktub dalam sila ke-2 hingga sila ke-5 juga sudah sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip ajaran Islam. Karena ajaran Islam juga mencakup kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Atas ikhtiar lahir dan batin Kiai Hasyim Asy’ari tersebut, akhirnya rumusan Pancasila bisa diterima oleh semua pihak dan menjadi pemersatu bangsa Indonesia hingga saat ini.
 

Penulis adalah Dosen di Unversitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta
 
-------------------
Artikel ini diterbitkan atas kerja sama NU Online dengan Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemkominfo RI
Tags:
Bagikan:

Baca Juga

Selasa 1 Oktober 2019 19:0 WIB
1 Oktober, Hari Lahir KH Saifuddin Zuhri, Hari Wafat H Mahbub Djunaidi
1 Oktober, Hari Lahir KH Saifuddin Zuhri, Hari Wafat H Mahbub Djunaidi
KH Saifuddin Zuhri dan H Mahbub Djunaidi
Tiap 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Asal-usulnya terkait dengan peristiwa gerakan satu Oktober atau G 30 S/PKI. Bagi warga NU, pada 1 Oktober ada momentum kelahiran dan wafatnya dua tokoh besar yang terkait dengan pergerakan organisasi dan dunia literasi. 

Pada 1 Oktober 1919 lahir KH Saifuddin Zuhri di Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah. Pada 1 Oktober 1995, wafat H Mahbub Djunaidi di Bandung, Jawa Barat.

KH Saifuddin Zuhri mengenal NU sejak kecil dimulai dari Nashihin NU, melihat dan mengamati langsung pergerakan para kiai di kampungnya yang kemudian menjadi pengurus-pengurus NU. Kiai Saifuddin kemudian mengikuti jejak mereka dengan turut serta aktif di Gerakan Pemuda Ansor, menjadi pengurus Konsul NU Jawa tengah, hingga kemudian menjadi salah seorang pengurus PBNU.  

Di masa perjuangan merebut kemerdekaan, ia aktif di kelaskaran, di samping menjadi jurnalis. Menurut Ensiklopedia NU, menjadi jurnalis telah dimulai sejak kecil. Sembari sekolah, ia nyambi menjadi wartawan dan koresponden dengan beberapa media. Ia menjadi koresponden surat kabar Pemandangan yang terbit di Jakarta. Di Solo, yang saat itu menjadi kota pusat pergerakan, ia banyak meliput peristiwa politik. Ia juga membantu surat kabar berbahasa Jawa Darmogandul serta Kantor Berita Antara. 

Selain ke koran-koran tersebut, tulisannya dikirim ke Berita Nahdlatoel Oelama yang waktu itu dikelola KH Mahfudz Siddiq di Surabaya dan Suara Ansor. Puncak karirnya dalam bidang jurnalistik, ketika ia memimpin Duta Masyarakat, koran yang diterbitkan Nahdlatul Ulama. 

Di antara karya tulis KH Saifuddin Zuhri adalah Palestina dari Zaman ke Zaman (1947), Agama Unsur Mutlak dalam Nation Building (1965), KH Abdul Wahab Chasbullah: Bapak dan Pendiri NU (1972), Guruku Orang-orang dari Pesantren (1974), Berangkat dari Pesantren, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia (1979), Kaleideskop Politik di Indonesia (3 jilid, 1981), Unsur Politik dalam Dakwah (1981), Secercah Dakwah (1983), dan Berangkat dari Pesantren (1987).

KH Saifuddin Zuhri pernah menjadi Menteri Agama Republik Indonesia pada Kabinet Kerja III, Kabinet Kerja IV, Kabinet Dwikora I, Kabinet Dwikora II, dan Kabinet Ampera I. Ia wafat pada umur 66 tahun. 

Sementara H Mahbub Djunaidi lahir di Jakarta, 1933. Ia mengenal NU sejak kecil. Ayahnya, KH Djunaidi, merupakan tokoh NU yang hadir sejak Muktamar NU keempat di Semarang pada 1929. Di tahun-tahun berikutnya ia rutin menjadi peserta atas nama penghulu Jakarta.

H. Mahbub Djunaidi pada masa remajanya aktif di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama. Kemudian menjadi Ketua Umum pertama Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), sebuah organisasi mahasiswa yang didirikan oleh mahasiswa-mahasiswa NU pada tahun 1963. Kemudian aktif di GP Ansor. Hampir lembaga dan badan otonom NU, Mahbub menjadi salah seorang pengurusnya, misalnya di Pertanu dan Lesbumi. Kemudian menjadi pengurus PBNU hingga masa akhir wafatnya sebagai salah seorang mustasyar.  

Mahbub Djunaidi dikenal sebagai seorang wartawan, esais, sastrawan, politikus. Sejumlah karya ia lahirkan Dari Hari ke Hari (novel autobigrafi, 1975) Politik Tingkat Tinggi Kampus, (1978) Maka Lakulah Sebuah Hotel (, novel,1978) Di Kaki Langit Gunung Sinai (terjemahan karya Mohamed Heikal, 1979), Seratus Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah (terjemahan karya Michael H. Hart, 1982), Cakar-Cakar Irving (terjemahan karya Art Buchwald, 1982), Lawrence dari Arabia (terjemahan karya Philiph Knightly, 1982), 80 Hari Berkeliling Dunia (terjemahan karya Jules Verne, 1983), Angin Musim (novel, 1985), Kolom Demi Kolom (kumupulan tulisan di majalah Tempo, 1986), Humor Jurnalistik (kumpulan tulisan di sejumlah media, 1986), Mahbub Djunaidi Asal Usul (kumpulan tulisan di koran Kompas, 1996). 

Penulis: Abdullah Alawi
Editor: Fathoni Ahmad  
Senin 30 September 2019 19:0 WIB
Gus Dur dan Makam KH Abdul Halim Leuwimunding
Gus Dur dan Makam KH Abdul Halim Leuwimunding
KH Abdul Halim Leuwimunding. (Foto: Yayasan Sabilul Chalim Leuwimunding)
KH Abdul Halim Leuwimunding, Majalengka, Jawa Barat awalnya kurang dikenal. Karena menurut keterangan pihak keluarga, KH Abdul Halim memang tidak ingin terkenal. Padahal Kiai Abdul Halim Leuwimunding merupakan kiai pendiri NU satu-satunya dari Jawa Barat. Bahkan, Kiai Abdul Halim banyak mencatat dokumen-dokumen strategis dalam setiap sejarah penting bangsa ini karena posisinya sebagai Katib Tsani dalam kepengurusan PBNU awal (1926).

Nama KH Abdul Halim baru lebih dikenal luas setelah Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berziarah ke makam Kiai Abdul Halim di Leuwimunding, Majalengka pada Maret 2003. Kiai Abdul Halim juga tersorot saat rombongan Kirab Santri Nasional 2015 Surabaya-Jakarta singgah dan berdoa di makam kiai tersebut.

Mengapa Gus Dur berziarah ke makam KH Abdul Halim Leuwimunding? Alkisah pada awal 2003, sejumlah pengurus dan anggota Banser NU Majalengka sowan pada Gus Dur di kediamannya di Ciganjur. Saat tiba di Ciganjur, Gus Dur ternyata masih belum datang dari kunjungan ke Perancis.

Setelah Gus Dur datang dari kunjungannya di luar negeri, para aktivis Banser itu diterima di kediamannya. Dalam perbincangan tersebut, Gus Dur bertanya dari mana para tamunya. Saat diberitahu bahwa para Banser itu dari Leuwimunding, Majalengka, sontak Gus Dur kaget.

Segera Gus Dur memanggil stafnya untuk mengagendakan ziarah ke makam Kiai Abdul Halim, dalam rangkaian acara kunjungannya ke Cirebon dan sekitarnya. Dalam sambutannya sekitar 45 menit di depan warga Leuwimunding di area makam Kiai Halim, Gus Dur mengemukakan peran besar Kiai Halim di masa sebelum berdirinya NU, saat pendirian, dan dalam perkembangan NU.

Kunjungan Gus Dur tersebut menunjukkan betapa besarnya perhatian pemimpin terkemuka NU dan mantan Presiden RI tersebut. Pertanyaannya sekarang, bagaimana perhatian warga masyarakat, terutama kalangan NU sendiri?  Tidak mudah memang merangkai cerita tentang seorang tokoh yang selalu “bekerja dalam diam”.

Tokoh ini dikenal rendah hati. Beruntungnya ada sejumlah tulisan karya Kiai Halim yang ditinggalkan, khususnya tentang berdirinya NU, tokoh-tokohnya, serta perkembangan NU hingga tahun 1970. Tahun itulah buku karya KH Abdul Halim, Sejarah Perjuangan KH Wahab Chasbullah yang ditulis dengan huruf Arab Pegon diterbitkan. Tetapi itulah satu di antara sedikit buku yang membahas sejarah NU saat itu. Amat langka penulis yang menulis buku tentang NU, termasuk dari kalangan NU sendiri.

Tetapi sejarah telah menunjukkan bahwa Kiai Abdul Halim sangat dekat dengan KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Chasbullah. Dengan kata lain, Kiai Abdul Halim adalah orang kepercayaan kedua ulama terkemuka tersebut. Lewat  Kiai Abdul Halim, dua kiai tersebut merancang komunikasi lewat surat-surat dengan para ulama terkemuka se-Jawa dan Madura.

Guru bangsa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah sosok yang dikenal intens berziarah kubur. Bahkan setiap datang ke suatu tempat, yang pertama kali ia datangi adalah makam atau kuburan. Pernah suatu ketika ia melakukan kunjungan kenegaraan ke Australia dan langsung mencari makam orang pertama dalam lintas sejarah Suku Aborigin.

Makam-makam orang penting dan berjasa dari yang paling terkenal hingga yang tidak pernah dikenal masyarakat, pernah Gus Dur kunjungi. Bagi Gus Dur, interaksi orang yang masih hidup tidak hanya dengan orang-orang yang masih berada di atas bumi, tetapi juga manusia-manusia di bawah liang lahat yang telah dipanggil Sang Kuasa.

Berziarah ke makam orang-orang mulia bagi Gus Dur adalah sebuah keistimewaan spiritual. Di saat bertemu dan berkunjung dengan sebagian orang yang masih sarat dengan kepentingan duniawi, berkunjung ke makam bagi Gus Dur merupakan washilah untuk menemukan bongkahan solusi dari setiap persoalan, karena baginya orang yang sudah meninggal sudah tidak mempunyai kepentingan apapun.

Sekilas bisa dipahami bahwa ada interaksi metafisik antara Gus Dur dengan ahli kubur. Gus Dur memang disebut mampu berinteraksi langsung dengan sosok yang diziarahinya. Lalu, apa rahasia bacaan Gus Dur saat berziarah kubur?

Suatu ketika, KH Husein Muhammad Cirebon berkunjung ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya Jakarta. Ia bertemu dengan salah seorang sahabat karib Gus Dur, Imam Mudzakkir. Ia pernah mondok bersama Gus Dur ketika Lirap, Kebumen, Jawa Tengah dan di pesantren lain: Tebuireng, Tegalrejo, dan Krapyak.

Imam Mudzakkir yang juga sudah wafat pada 2017 lalu ini menceritakan kepada Kiai Husein bahwa apabila berkunjung atau berada di suatu daerah, Gus Dur selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke kuburan para wali dan ulama setempat.

Diceritakan Imam bahwa Gus Dur duduk cukup lama di pusara yang ia ziarahi. Paling tidak selama satu jam hingga satu setengah jam. “Beliau membaca tahil lalu membaca sholawat tidak kurang dari 1.000 kali,” ungkap Imam Mudzakkir almarhum. (KH Husein Muhammad, Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, 2015)

Dinyatakan oleh Imam, Gus Dur juga tidak pernah absen membaca shalawat setiap harinya. Setiap hari Gus Dur membaca shalawat atas Nabi Muhammad SAW sebanyak 1.000 kali. Bagi Gus Dur, shalawat merupakan jalan pembuka segala-galanya setiap seseorang melakukan kebaikan, termasuk ibadah.

Kebiasaannya berziarah kubur ke makam orang-orang mulia setempat merupakan upaya Gus Dur menjaga peradaban. Jasad seseorang boleh saja dikatakan telah tiada, tetapi pemikiran, teladan, dan jasa-jasanya penting untuk selalu diingat. Kearifan orang-orang penting di suatu daerah bisa saja hilang ketika masyarakat sekitar telah melupakan sosoknya sehingga ziarah sebagai pengingat mempunyai energi positif.

Ketika berkunjung ke Daerah Tuban, Jawa Timur, tentu saja Gus Dur tidak melewati untuk berziarah ke makam Mbah Bonang dan KH Abdullah Faqih Langitan. Namun, ada sebuah makam wali di daerah tersebut yang tidak banyak diketahui masyarakat, yakni makam Mbah Kerto.

Hal itu diceritakan oleh Muhammad AS Hikam dalam Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita (2013). Setelah Gus Dur mengunjungi makam Mbah Kerto, tidak sedikit masyarakat yang akhirnya mengetahui salah seorang wali di Tuban tersebut. Sehingga kearifannya bisa digalih lebih mendalam sebagai teladan baik bagi generasi masa mendatang.

Penulis: Fathoni Ahmad
Editor: Muchlishon
Senin 30 September 2019 7:45 WIB
Ahli Pertanian Itu adalah Kiai
Ahli Pertanian Itu adalah Kiai
Ilustrasi petani singkong. (via Mareen)
"Petani itulah penolong negeri." Dawuh pendiri NU, KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) tersebut menunjukkan bahwa peran petani di Indonesia sangat penting dalam menyediakan bahan makanan setiap hari. Namun, peras keringat, banting tulang, dan kerja keras mereka tidak pernah terbayar lunas dengan yang namanya keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran. Karena mereka lebih sering didera kerugian saat menjual hasil panennya.

Indonesia yang dijuluki negara agraris juga dihadapkan pada fenomena punahnya pertanian yang sesungguhnya mempunyai filosofi dan kearifan lokal yang tinggi. Karena hampir sudah tidak ada generasi muda yang tertarik untuk bertani. Lumbung padi yang mempunyai nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong di tengah masyarakat juga saat ini sudah tidak lagi menjadi tradisi.

Padahal, dari usaha pertanian tersebut, berbagai varietas tanaman dan produk bisa dihasilkan dan dikembangkan untuk kemakmuran rakyat secara luas. Dalam pengembangan, para petani butuh sentuhan negara lewat kebijakan-kebijakan yang mendukung pertanian. Dukungan petani bisa dilihat di Jepang dan sejumlah negara maju, mereka tidak hanya bisa mengembangkan varietas tanaman, tetapi juga mengekspor hasil pertanian dan perkebunan dalam jumlah besar ke negara lain.

Perihal pengembangan varietas hasil tani, di Indonesia pernah ada seorang kiai yang mampu mengembangkan tanaman singkong. Sosok tersebut diungkap oleh Abdul Mun’im DZ dalam Fragmen Sejarah NU (2017). Selain mumpuni dalam bidang agama, kiai memiliki kepedulian sosial yang tinggi, sehingga menjalankan riset dan pengembangan guna memajukan ekonomi masyarakat. Langkah itu dilakukan dengan fasilitas seadanya yang dipersiapkan sendiri tanpa subsidi dari pihak manapun.

Ia adalah Abdul Jamil, salah seorang kiai yang kreatif dan inovatif di bidang pertanian. Dijelaskan Mun’im, ketekunan Kiai Abdul Jamil berhasil membuahkan inovasi baru di bidang persingkongan dengan ditemukannya singkong varitas baru yang diberi nama darul hidayah, yang diambil dari nama pesantren yang dipimpinnya yaitu Pesantren Darul Hidayah di Lampung Utara, Provinsi Lampung.

Temuan ini merupakan revolusi singkong gelombang kedua setelah revolusi pertama dilakukan oleh seorang santri dari Kediri yang bernama Mukibat, 40 tahun yang lalu, sehingga singkong hasil silangannya disebut dengan mukibat yang sangat terkenal.

Kiai Abdul Jamil yang berasal dari Lamongan itu masih kerabat dengan Mukibat, sehingga merasa bertanggung jawab untuk melanjutkan inovasi yang telah dilakukan sang paman. Berbeda dengan inovasi Mukibat yang sulit dibiakkan secara massal karena teknik okulasi.

Sementara inovasi Kiai Abdul Jamil bisa dibiakkan secara massal karena hasil silangan dengan semai biji. Hasilnya pun cukup baik, dalam umur 10 bulan telah mampu menghasilkan 15 kilogram per pohon, sehingga masuk singkong jenis unggul.

Namun menurut Mun’im, temuan kreatif sang kiai itu diabaikan oleh pemerintah. Bahkan surut bersama runtuhnya harga singkong. Akibatnya inovasi yang dilakukan tidak membuahkan kemajauan ekonomi, karena pemerintah tidak membuat pabrik pengolah singkong, atau membuka pasar ekspor.

Tetapi di tengah sikap abai terhadap temuan itu, pucuk dicinta ulama pun tiba, ketika budidaya singkong yang terpuruk itu tiba-tiba bangkit bersama dengan maraknya indutri bioetanol belakangan ini. Tidak ada pilihan lain mayarakat kemudian mencari lagi Kiai Adul Jamil untuk memesan bibit singkong unggul itu secara massal sebagai bahan pembuatan bioetanol.

Temuan tersebut tidak dipatenkan, karena sejak awal Kiai Jamil telah mewakafkan hak ciptanya untuk masyarakat dan umat manusia pada umumnya. Karena menurut Mun’im, sang kiai bukan kapitalis yang berbuat untuk mendapatkan untung, dia seorang sukarelawan yang mendermakan ilmu, tenaga, dan hartanya untuk umat.

Problem pertanian dan petani di Indonesia seolah menjadi agenda yang tidak pernah selesai (unfinished agenda). Bukan hanya dari problem klasik terkait kesejahteraan petani, tetai juga persoalan pertanian sebagai tradisi dan budaya orang-orang Indonesia.

Dalam hal ini Sejarawan NU, KH Agus Sunyoto (2018) mengungkapkan, dahulu anak petani mewarisi lahan pertanian, saat ini tidak ada karena petani di desa sudah tidak mempunyai tanah. "Saya itu tahun 1995 rencana mau bangun sekolah, sekolah menengah pertanian. Tanggapan teman-teman saya, loh kalau bisa jangan bikin sekolah pertanian, kita ini anaknya petani, sudah gak terlalu tertarik dengan pertanian," kata Agus Sunyoto.

Kita tahu, orang tua kita itu rugi terus. Agus Sunyoto ingat ketika tahun 1995, Ketua GP Ansor Kediri, Abu Muslih itu orang tuanya petani. Ketika mereka bincang tentang pertanian, dia sudah menggunakan pemikiran modern. Muslih berbicara ke ibunya, "mak, kita punya sawah 500 meter persegi. Dari luas tersebut, diitung sewa tanah setahun berapa”.

Kemudian membayar tukang yang nyangkulin tanah, nggarem, beli bibit, setelah itu beli pupuk. Lalu beli insektisida, termasuk membayar orang yang bertanam itu. Nanti setelah panen, membayar yang manen padi, setelah itu dijual.

Dengan luas 500 meter persegi, setelah dihitung, rugi 50.000 rupiah. Itu belum dihitung ongkos tenaga, dan lain-lain. Muslih bicara ke emaknya, “Mak, ini kita rugi 50.000. Emaknya hanya menjawab enteng, ‘lah iya, dari dulu memang petani itu rugi. Cuma kalau kita ngikutin untung-rugi, nggak bakal ada lagi orang yang bertani. Jadi sekalipun rugi, petani itu harus tetap ada’.

Penulis: Fathoni Ahmad
Editor: Kendi Setiawan
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG