IMG-LOGO
Nasional

Kementerian Agama Dukung Perkuliahan Online Lintas Kampus


Jumat 4 Oktober 2019 08:15 WIB
Bagikan:
Kementerian Agama Dukung Perkuliahan Online Lintas Kampus
Mamat S Burhanuddin saat berbicara pada penutupan AICIS 2019 di Hotel Mercure Batavia, Jakarta, Kamis (3/10). (Foto: NU Online/Syakir NF)
Jakarta, NU Online
Perkembangan dunia digital yang begitu cepat menuntut berbagai perubahan, tak terkecuali dalam soal perkuliahan. Beberapa kampus mulai membuka kelas daring (online) dengan menggunakan sejumlah platform digital.

Mengingat hal tersebut, dalam forum Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2019, Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Inayatillah mengusulkan agar Kementerian Agama membuka kelas lintas jurusan, fakultas, bahkan lintas kampus.

Menanggapi usulan tersebut, Mamat S Burhanuddin, Kepala Subdirektorat Pengembangan Akademik Direktorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), mengaku mendukung inovasi pembelajaran di wilayah PTKI tersebut.

“Saya kira itu bagian dari terobosan inovasi proses pembelajaran memanfaatkan teknologi informatika dan terobosan-terobosan itu dari Kementerian Agama kita sangat mendukung,” katanya saat ditemui pada penutupan AICIS 2019 di Hotel Mercure Batavia, Jakarta, Kamis (3/10).

Meskipun demikian, terobosan-terobosan atau inovasi-inovasi tersebut masih belum mendapatkan dukungan regulasi. Tetapi, Mamat menegaskan bahwa regulasi itu akan terus mengikuti perkembangan dari tuntutan setiap kampus.

“Jadi, kita biarkan terlebih dahulu inovasi itu bergerak. Nanti setelah masif, kita akan carikan regulasinya,” kata alumnus Pondok Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat itu.

Lebih lanjut, pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu menggarisbawahi bahwa yang terpenting adalah proses pembelajaran itu tetap mengacu kepada mutu proses pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi. “Jadi, jangan sampai proses pembelajaran itu tidak mengikuti perkembangan zaman. Tetap mengikuti zaman, tetapi tetap mutu proses pembelajaran itu harus dijaga,” katanya.

Proses pembelajaran di pendidikan tinggi keagamaan Kementerian Agama, menurutnya, tidak bisa hanya melulu dimulai kebijakannya dari atas ke bawah. Tetapi, menurutnya, perlu juga pertimbangan aspirasi yang berkembang di bawah. 

Sebab, lanjutnya, pendidikan agama proses pembelajarannya tidak hanya sekadar transfer of knowledge, memindahkan atau memberikan ilmu pengetahuan ke anak didik. Lebih dari itu, ada sebuah proses pendidikan yang membentuk mental dan moral. “Apalagi keagamaan yang di situ tidak hanya nalar, tetapi juga ada hati,” ucapnya.

Menurut akademisi kelahiran Kuningan, Jawa Barat ini, proses pembinaan hati atau spiritualitas itu terkadang perlu tantangan tersendiri ketika itu harus dipenuhi proses pembelajarannya melalui teknologi di perguruan tinggi keagamaan, madrasah atau pesantren. “Terutama di perguruan tinggi keagamaan perlu ada mempertimbangkan itu penyadaran spiritualitas,” pungkasnya.

Pewarta: Syakir NF
Editor: Abdullah Alawi
 
Tags:
#Jakarta#NU Online Tafsir Al Qur'an di Indonesia masa reformasi seharusnya membahas isu yang berbeda. Karena yang dihadapi tidak lagi negara#namun pasar. Guru Besar IAIN Jember KH M Noor Harisudin menyampaikan hal itu di hadapan peserta diskusi buku Tafsir Al-Qur'an dan Kekuasaan di Indonesia di Aula Islam Nusantara Center Wisma UIN Syarif Hidayatullah Jakarta#Senin (1/10). Prof Haris mengapresiasi buku karya Islah Gusmian tersebut#meskipun ada beberapa hal yang tidak disetujui# misalnya anggapan bahwa semua tafsir karya ulama Indonesia memiliki kepentingan politis-kekuasaan. "Dalam pandangan saya# tidak semua tafsir seperti Tafsir Al Huda#Bakri Syahid#yang juga Rektor IAIN Yogyakarta dan menjadi birokrat negara pada tahun 1970-an. Syaikh Nawawi Al Bantani ketika menulis Tafsir Marah Labid juga tidak punya kepentingan#selain nasyrul ilmu#" tukas M Noor Harisudin#guru besar termuda yang juga Ketua Umum Asosiasi Penulis dan Peneliti Islam Nusantara Seluruh Indonesia tersebut.                                     Sementara itu#Islah Gusmian membeberkan klasifikasi di masa Orde Baru. "Ada tafsir bungkam#tafsir gincu#dan tafsir kritis. Tafsir bungkam ini yang mendukung Orde Baru seperti Tafsir Al Huda karya Bakti Syahid. Tafsir Gincu seperti Dawam Rahardjo. Kalau Tafsir Kritis#seperti Syu'bah Asa#" tandas Islah Gusmian yang juga Dosen Pascasarjana IAIN Surakarta tersebut.                                             Sebelumnya#Islah juga menjelaskan berbagai model tafsir masa lalu di Nusantara. "Kita harus belajar pada karya tafsir masa lalu di Nusantara#untuk menggapai masa yang akan datang. Karena itu#kita musti belajar pada tafsir karya Kiai Soleh Darat#Kiai Ahmad Rifa'i#KH Mustofa Bisri#dan sebagainya#" ujar dosen yang sangat produktif tersebut.                                                   Dinamika tafsir Al-Qur'an memang tidak terhenti. Al Qur'an akan berbicara sepanjang zaman tentang hal ihwal yang berkaitan dengan manusia. Di situlah#tafsir Al Qur'an akan menjadi rujukan memahami Al-Qur'an. Wallahu'alam. Kontributor: Sohibul Ulum Media Editor: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG