IMG-LOGO
Nasional

Teknologi Informasi Permudah Penyampaian Materi Pelajaran Agama

Kamis 3 Oktober 2019 12:45 WIB
Bagikan:
Teknologi Informasi Permudah Penyampaian Materi Pelajaran Agama
Kepala Puslitbang Penda Balitbang Diklat Kemenag Amsal Bakhtiar (tengah) saat menghadiri workshop di Malang. (Foto: NU Online/Musthofa Asrori)
Malang, NU Online
Dengan hadirnya teknologi informasi, sebenarnya mempermudah menyampaikan materi pelajaran di madrasah, karena pada dasarnya teknologi itu mempermudah bukan mempersulit.
 
Demikian disampaikan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang Diklat Kemenag, Amsal Bakhtiar, saat membuka Workshop Pengembangan Metode Pembelajaran PAI Berbasis IT di Madrasah Aliyah yang digelar di Malang, Jawa Timur, Rabu (2/10) malam.
 
“Termasuk mic ini, ini mempermudah saja. Tanpa mic ini, paling-paling hanya dua tiga orang saja yang mendengar suara saya. Tapi ada teknologi mic maka satu ruangan menjadi terdengar dengan baik. Itulah teknologi,” ujar Amsal mencontohkan.
 
Perkembangan teknologi itulah, lanjut Amsal, yang perlu diantisipasi. Sebagai guru agar kita tidak 'gaptek' (gagap teknologi). Artinya jangan sampai murid kita lebih pintar dan lebih banyak pengetahuannya dari sang guru. 
 
“Ini kan terbalik, siapa yang jadi murid, siapa yang jadi guru. Iya kan,” tandas Amsal.
 
Menurut dia, tak jarang para murid bisa menjelajahi situs-situs kuno lewat ponsel dan internet. “Nah, jangan sampai bapak ibu guru ketinggalan informasi ketika mengajar Sejarah. Misalnya, murid bisa mencari makam Ibnu Khaldun di Tunisia. Bahkan, kuburannya pun bisa dilihat pakai tiga atau empat dimensi,” paparnya.
 
Kesemuanya itu, lanjut dia, bisa ditanyakan langsung kepada “Mbah Google”. Misalnya, melalui Wikipedia. Jika kita cermati perkembangan teknologi, sekarang ini sudah mencapai apa yang disebut revolusi industri 4.0. Sebelumnya 3.0. ditandai munculnya komputer yang sangat mengubah pola pikir manusia.
 
“Bapak ibu mungkin pernah menggunakan mesin ketik. Kalau salah harus dihapus pakai tip ex. Kalau umpamanya perlu lampiran, maka harus pakai karbon yang hitam itu. Kalau salah, tiga-tiganya harus ditip ex. Dan itu nggak kering langsung. Musti ditiup-tiup dulu agar cepat kering,” selorohnya.
 
Pria asal Padang ini menambahkan, setelah ditemukannya android atau telepon pintar, semuanya semakin dahsyat lagi. Maka disebut dengan perkembangan IT 4.0. yang ditandai dengan internet of things.
 
“Di ruangan ini semuanya pegang ponsel. Tadi saya di bandara menunggu pesawat, saya lihat ratusan orang duduk di ruang tunggu semuanya pegang HP. Tidak ada yang tidak pegang HP. Bayangkan aja itu Bandara Soekarno-Hatta mulai gate 1 sampai 28 semua orang nunggu pesawat sambil pegang android. Hal-hal inilah yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan. Itulah yang kita sebut sebagai era disrupsi atau shock culture,” tandasnya.
 
Perhatikan saja anak-anak milenial sekarang ini. Mereka berbelanja melalui online. Tinggal klik smartphone-nya langsung datang sendiri ke rumah.
 
“Ini yang membuat orang semakin malas. Keluar rumah saja malas karena semua datang ke rumah. Ke depan, bisa jadi asap di dapur bakal hilang karena sudah ada Go Food. Dan ini bisa jadi lebih efisien dan murah,” ujar Amsal.

Tiga Kali FGD 
Dalam laporannya, Kabid Litbang RA dan Madrasah Puslitbang Penda Hj Alfinar Aziz mengatakan, draft panduan yang akan dibahas itu sudah dipersiapkan melalui beberapa tahap. “Tiga kali Focus Group Discussion  (FGD) pada tahap persiapan. Lalu, tahap verifikasi dengan melibatkan para guru dan pengawas PAI di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya,” kata dia.
 
Ia berharap, para peserta lokakarya bisa memberikan masukan dan koreksi sehingga dapat digunakan sebagai pedoman pembelajaran PAI berbasis IT. “Kami mohon, bapak ibu sekalian memberi kritikan konstruktif atas panduan ini,” harap Alfinar.
 
Peneliti Ahli Utama Imran Siregar selaku koordinator kegiatan mengatakan, tiga akademisi, yakni Dr Baiq Hana Susanti dan M Arif Hadiwinata (UIN Jakarta), serta Dr Taufiqurrahman dari UIN Malang dihadirkan sebagai narasumber.

Kegiatan ini mengundang 56 guru MA se-Malang Raya terdiri dari Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Kabupaten Blitar, dan Pasuruan. Workshop dijadwalkan tiga hari, Rabu-Jumat, 2-4 Oktober 2019 di Hotel Aria Gajayana Komplek MOG Jl Kawi No 24 Klojen Malang.
 
 
Pewarta: Musthofa Asrori
Editor: Abdul Muiz
Bagikan:

Baca Juga

Kamis 3 Oktober 2019 22:30 WIB
Belajar Agama dengan Riang Gembira
Belajar Agama dengan Riang Gembira
Diskusi panel pada Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2019 di Hotel Mercure Batavia, Jakarta, Rabu (2/10) malam. (Foto: NU Online/Syakir NF)
Jakarta, NU Online
Pembelajaran agama di kalangan anak muda mengalami pergeseran. Mereka mempelajari ajaran agama tidak lagi dengan metode yang monoton, tetapi dengan cara yang lebih baru dan menyegarkan.
 
Hal itu diungkapkan oleh Najib Kailani, pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, saat mengisi diskusi panel pada Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2019 di Hotel Mercure Batavia, Jakarta, Rabu (2/10) malam.
 
Najib menjelaskan bahwa pembelajaran agama dengan menyenangkan lebih diminati oleh kalangan muda.
 
Selain itu, kawula muda juga mudah diajak dengan cerita-cerita pertaubatan seorang ustaznya yang memiliki jejak kelam di masa silam. Dengan begitu, katanya, mereka menjadi merasa terlahir kembali sebagai seorang Muslim.
 
Di abad 21 ini juga, masyarakat belajar agama Islam tidak lagi di ruang-ruang khusus seperti masjid, tapi juga di tempat-tempat yang lebih umum dan terbuka seperti kafe.
 
Hal serupa diungkapkan Irfan Amalee dari Peace Generation, Bandung. Ia menyampaikan bahwa orang yang tergolong generasi Z berprinsip yang penting senang.
 
Tak ayal, ia membuat pembelajaran agama melalui permainan (game) di gawai. Pasalnya, penyampaian satu arah tidak lagi efektif bagi penduduk asli dunia digital itu.
 
Lebih lanjut, dengan game, Irfan mengatakan pengguna lebih mudah menularkan atau mengajak rekan-rekannya untuk turut gabung bermain.
 
Di sisi lain, lanjutnya, game memberikan nuansa petualangan yang digemari oleh generasi kekinian. Ia mencontohkan seorang anak yang pergi ke Timur Tengah untuk ikut Islamic State of Irak and Syiria (ISIS), ditengarai hanya karena keinginannya berjalan-jalan di padang pasir, lalu menemui unta sembari memberinya makan.
 
"Yang mengatur itu need for adventure (kebutuhan berpetualang), bukan ideologi," kata pria lulusan Universitas Brandeis, Massachusetss, Amerika Serikat itu.
 
Hal demikian, imbuhnya, belum sempat dilakukan oleh organisasi masyarakat (ormas) Islam moderat besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.
 
Oleh karena itu, dalam menghadapi zaman yang sudah demikian ini, Komedian Tunggal Sakdiyah Makruf menekankan bahwa kesadaran akan adanya Tuhan dan kewajiban kemanusiaan menjadi hal penting yang harus dipertahankan.
 
Sebab, manusia merupakan khalifah di bumi. Karenanya, kesadaran dan tanggung jawab menjadi hal inti.
 
Pewarta: Syakir NF
Editor: Muhammad Faizin
Kamis 3 Oktober 2019 21:30 WIB
Profesor University of New Castle Australia Kagumi Fondasi Keluarga Indonesia
Profesor University of New Castle Australia Kagumi Fondasi Keluarga Indonesia
Alan Hayes AM, profesor dari University of New Castle Australia di Forum AICIS 2019. (Foto: Humas Pendis)
Jakarta, NU Online
Keluarga adalah skup terpenting dalam mengkomunikasikan keyakinan dan kerukunan. Indonesia merupakan negara penganut prinsip agama Ibrahim yang memiliki tradisi religiusitas yang kuat.

Alan Hayes AM, profesor dari University of New Castle Australia memuji ide-ide kebaikan yang ditanamkan para orang tua di Indonesia kepada anak-anaknya.

"Kekuatan utama orang Indonesia terbangun dari fondasi keluarga dan komunitas yang cukup agamis," kata Hayes seperti keterangan Humas Pendis Kemenag kepada NU Online, Selasa (3/10).

Ini bukan hal yang spesifik, namun di masyarakat Indonesia yang heterogen, masyarakat telah memiliki resistensi dalam tingkat tertentu dari gangguan paham intoleransi dan anti-pluralisme.

Toleransi beragama di Indonesia bisa dibilang belum sepenuhnya baik. Masih ada saja kasus-kasus yang menodainya, seperti pengrusakan rumah warga yang mengeluhkan pengeras suara adzan di Tanjungbalai, Sumatera Utara pada Juli 2016 lalu.

Hayes merupakan profesor yang mengepalai Family Action Center di The University of Newcastle Australia. Ia juga memegang Hayes Family Foundation, sebuah lembaga yang membantu konsultasi bagi keluarga yang membutuhkan bantuan.

Keluarga memiliki peranan penting dalam membentuk karakter seorang anak. Sebagai suatu sistem sosial terkecil, keluarga menanamkan nilai-nilai moral dalam kepribadian yang menjadi dasar mentalitas seseorang.

Keluarga memiliki fungsi kompleks yang tidak hanya mengenai produksi dan konsumsi, tetapi juga mental dan spiritual. Di negara Indonesia yang masyarakatnya agamis dan pranata sosialnya cukup kuat, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter seorang anak.

Berbagai tema mengenai Islam dan era digital dibahas di forum AICIS. AICIS adalah forum kajian keislaman yang telah berjalan sejak 19 tahun lalu. Pada gelaran AICIS ke 19 ini, sekitar 1700 sarjana islamic studies berkumpul di indonesia selama empat hari, pada 1-4 Oktober 2019. Pertemuan ini membahas 450 paper dari 1300 yang diseleksi.

Editor: Fathoni Ahmad
Kamis 3 Oktober 2019 20:0 WIB
Kiai Said Meletakkan Batu Pertama Gedung Pusdiklat LP Ma’arif NU
Kiai Said Meletakkan Batu Pertama Gedung Pusdiklat LP Ma’arif NU
"Orang-orang mencuri, potong tangan. Orang zina dirajam sampai mati, kenapa kita tidak, karena Kiai mendahulukan akhlak, budaya," ujar Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj saat memberikan sambutan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Pusdiklat Lembaga Pendidikan Ma'arif NU di Grogol, Jakarta Barat.

Jakarta, NU Online

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Lembaga Pendidikan Ma'arif NU di Grogol, Jakarta Barat, Kamis (3/10). Kegiatan tersebut menandakan dimulainya pembangunan gedung yang diperuntukan sebagai tempat pengembangan kapasitas ribuan guru NU tersebut.

 

Dalam sambutannya, Kiai Said berharap agar hadirnya Pusdiklat LP Ma’arif NU tersebut dapat menjadi pusat pendidikan yang bernafaskan Islam Ahlusunah wal Jamaah, mengusung arus Islam moderat dan anti radikalisme.

 

"Alhamdulillah, Insyaallah ke depan ini akan dibangun di sini Pusat Diklat yang bernafaskan Ahlussunah wal Jamaah," kata Kiai Said seraya mengingatkan bahaya radikisme yang sudah masuk pada semua lini, termasuk lembaga pemerintahan.

 

Di bagian lain, Kiai Said menegaskan bahwa para kiai di pesantren mengkaji syariat Islam dari berbagai literatur kitab kuning. Di dalamnya tentu dibahas hukuman bagi orang yang mencuri, zina, dan pelanggaran lain yang kerap dilakukan umat manusia. Namun, para kiai tidak memberlakukan hukuman tersebut karena mereka mengedepankan akhlak.

 

"Orang-orang mencuri, potong tangan. Orang zina dirajam sampai mati, kenapa kita tidak, karena Kiai mendahulukan akhlak, budaya," ujarnya.

 

Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat LP Ma’arif NU, H Zainal Arifin Junaidi mengatakan rencana membangun gedung Pusdiklat LP Ma’arif NU sudah muncul sejak beberapa tahun yang lalu. Namun karena berbagai hal akhirnya lembaga yang nantinya akan dijadikan pusat pelatihan bagi guru NU tersebut, baru terealisasi tahun 2019.

 

Ia menceritakan bagaimana dulu LP Ma’arif NU mendapatkan lahan untuk dijadikan sekolah NU di Jakarta Barat tersebut. Dikatakannya, menurut rencana, gedung Pusdiklat LP Ma’arif NU itu dibangun 4 lantai, di dalamnya terdapat ruangan pelatihan, perpustakaan, dan penginapan.

 

"Jadi nanti, mungkin ada perpustakaan segala macam, nanti rangkap dengan laboratorium juga. Nanti kami juga menambah kelas karena laporan yang kami terima sekolahan ini menolak ratusan siswa karena tempat tidak mampu menampung," katanya.

 

Dalam acara tersebut, hadir antara lain Ketua Pengurus Wilayah NU yang juga Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, H Saefullah, jajaran Katib Syuriah PBNU, Direktur Keuangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI Faisal Sahrul, Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) Masykuri, Direktur Keuangan BNI, Ario Bimo dan ratusan guru serta siswa-siswi SMK/SMP Ma'arif NU Jakarta Barat.

 

Pewarta: Abdul Rahman Ahdori

Editor: Aryudi AR

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG