IMG-LOGO
Daerah

Puluhan Non-Muslim Turut Meriahkan Pawai Ta’aruf MTQ di NTB

Kamis 3 Oktober 2019 23:30 WIB
Bagikan:
Puluhan Non-Muslim Turut Meriahkan Pawai Ta’aruf MTQ di NTB
Umat Hindu turut serta dalam pawai ta'aruf MTQ ke-28 di NTB, Kamis (3/10). (Foto: NU Online/Hadi)
Lombok Barat, NU Online
Ada pemandangan menarik di Pawai Ta’aruf Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) ke-28 tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kamis (3/10). Di antara kafilah dari seluruh kabupaten/kota se-NTB, ada deretan warga non muslim yang turut serta dalam rangkaian pembukaan MTQ tersebut.
 
Tampak puluhan umat Hindu dan Buddha membawa spanduk bertuliskan dukungan suksesnya pelaksanaan MTQ XXVIII tingkat Provinsi NTB berbaur dalam kemeriahan pawai ta’aruf.
 
Salah seorang di antara mereka, Nasib, mengaku senang karena bisa ikut berpartisipasi bersama peserta lain dalam pawai memeriahkan acara agama Islam tersebut. Dengan ikut berbaur dalam rangkaian acara MTQ tingkat Provinsi NTB bersama umat Islam, ia berharap terbentuknya kebersamaan meski berbeda keyakinan.
 
“Walaupun kami bukan peserta MTQ dan bukan pula umat Islam, sebagai masyarakat Lombok Barat kami juga ingin ikut mensukseskan pelaksanaan MTQ tingkat NTB. Dengan mengikuti pawai ini, semoga kebersamaan dan toleransi antarumat beragama bisa lebih meningkat,” kata Nasib.
 
Pawai ta’aruf dalam rangkaian pembukaan MTQ ke XXVIII itu dilepas Asisten I H. Ilham didampingi Kepala Dinas Dikpora, Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Lobar di depan Masjid Baital Atiq Gerung.
 
Satu persatu kafilah pun mulai berjalan. Dimulai dari drumband dan Paskibra Lombok Barat yang mengawal iringan piala bergilir MTQ tingkat provinsi, kemudian disusul rombongan Forum Lintas Agama, Kafilah Sumbawa Barat, Lombok Timur, dan seterusnya. Tidak hanya kafilah dari seluruh kontingen, pawai juga diramaikan dengan penampilan drumband pelajar dan atraksi kesenian.
 
“Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian dalam rangka MTQ tingkat Provinsi NTB. Tujuannya untuk memberi dukungan, semangat, dan motivasi kepada para peserta MTQ,” kata Ilham usai melepas seluruh kontingen.
 
Harapannya, lanjut dia, MTQ dapat dilaksanakan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya, penuh semangat, dan tanggung jawab. “Pelaksanaan MTQ sebagai upaya membangun sumber daya manusia NTB menuju manusia yang beriman dan bertaqwa,” tutup Ilham.
 
MTQ tingkat Provinsi NTB dimulai Kamis hingga Selasa, 3-9 Oktober 2019, di Gerung, Lombok Barat. Kamis (3/10) malam, akan digelar upacara pembukaan yang dipimpin langsung oleh Gubernur NTB H. Zulkiflimasnyah.
 

Kontributor: Hadi
Editor: Musthofa Asrori
 
Bagikan:

Baca Juga

Kamis 3 Oktober 2019 23:0 WIB
Pimpinan Ansor Harus Punya Empat Karakter Ini
Pimpinan Ansor Harus Punya Empat Karakter Ini
Pengurus GP Ansor Wonokromo, Kota Surabaya dilantik. (Foto: NU Online/Hisam Malik)
Surabaya, NU Online
Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Surabaya, Jawa Timur, Faridz Afif menyampaikan, bahwa kader Ansor yang dipercaya berada di pucuk pimpinan harus memiliki empat karakter. Yakni karakter kepemudaan, keislaman, kerakyatan, dan kebangsaan.
 
Demikian ini disampaikannya saat memberikan arahan pada kegiatan pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Wonokromo, Kota Surabaya di Langgar Makam Sunan Bungkul, Kamis malam (2/10). 
 
Pria yang kerap kali disapa Gus Afif ini menjelaskan maksud masing-masing karakter itu. Terkait kepemudaan sudah barang tentu para kader Ansor mempunyai karakter kepemudaan, terlebih mereka yang mendapat mandat memimpin. Bahkan karakter ini menurutnya menjadi modal utama dalam menggerakkan dan memajukan organisasi kepemudaan milik Nahdlatul Ulama (NU) itu.
 
"Yang namanya pemuda, pasti tidak kenal lelah, bukan urusan umur, tapi karakter kepemudaan yang harus dimiliki," ungkapnya.
 
Selanjutnya mengenai karakter keislaman, ia mengemukakan, sebagai pemuda yang bernaung di bawah NU, tentu arah gerakannya juga tidak bisa lepas dari aspek keislaman. Untuk itu, kata dia, karakter keislaman tak bisa dipisahkan dari karakter yang pertama (kepemudaan, red). 
 
Pada kakater keislaman ini mereka dituntut untuk selalu memperjuangkan nilai-nilai dan sejumlah ajaran Islam yang bernafaskan Ahlusunnah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah, yakni Islam yang rahmatan lil alamin.
 
Sementara tentang karakter merakyat titik tekannya pada empati kader Ansor pada situasi dan kondisi di lingkungannya. Jika masyarakat sedang membutuhkan bantuan, maka kader-kader Ansor tidak boleh diam terpaku, mereka harus datang memberikan jalan keluar.
 
 "Kita harus berada di tengah-tengah masyarakat memberikan perlindungan jika sewaktu-waktu diganggu oleh kelompok lain karena mungkin memiliki agama, keyakinan, dan pandangan yang berbeda. Apabila ada saudara kita yang mengalami kesulitan dan kesusahan, maka itu menjadi bagian kesusahan dan kesulitan kita semua," tegas Gus Afif.
 
Sedangkan untuk karakter yang terakhir (kebangsaan, red) menurut pandangan dia harus mendarah daging kepada pemuda Ansor. Bahkan dalam merawat kebangsaan itu adalah tugas penting Ansor yang harus selalu diperhatikan. Pasalnya, salah satu penentu keutuhan bangsa dan negara tergantung pada sikap warganya dalam merawat aspek kebangsaan dan keragaman yang ada.
 
Untuk itu, lanjutnya, tidak boleh ada kelompok-kelompok yang sengaja memecah belah bangsa Indonesia yang sudah terbangun demikian baiknya. "Tidak ada katan lain selain satu kata, lawan!. Semoga para pengurus yang baru dilantik amanat bisa menjalankan roda organisasi dan bermanfaat untuk agama, nusa dan bangsa," pungkasnya.

Kontributor: Hisam Malik
Editor: Syamsul Arifin 
Kamis 3 Oktober 2019 22:0 WIB
Universitas Raden Rahmat Malang Bagikan Sejuta Liter Air Bersih untuk Desa Kekeringan
Universitas Raden Rahmat Malang Bagikan Sejuta Liter Air Bersih untuk Desa Kekeringan
Pendistribusian jariah air dari Unira Malang di Desa Kelpu Kecamatan Sumbermanjing Wetan, (2/10)(Foto: NU Online/JAUM)
Malang, NU Online 
Kekeringan yang terjadi akibat dampak musim kemarau berkepanjangan mengakibatkan banyak desa di Kabupaten Malang, Jawa Tiur, kesulitan air bersih.
 
PCNU Kabupaten Malang, melalui kampus yang dimilikinya, Univeristas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang, menggelar aksi jariyah air dengan menyalurkan bantuan sejuta liter air bersih kepada warga mengalami.

Koordinator Lapangan Jariyah Air Unira Malang Puguh Rian Saputro mengatakan, program tersebut merupakan inisitif dari Rektor Unira Malang, Hasan Abadi untuk membantu warga Kabupaten Malang yang mengalami kesulitan air bersih. 

"Untuk tahap awal dengan total 500.000 liter, pendistribusian bantuan air bersih sudah dilaksanakan sejak Ahad (5/9) dengan tujuan membantu masyarakat yang kesulitan air bersih," ungkapnya Rabu (2/10).

Puguh menjelaskan pendistribusian air bersih terfokus di daerah Malang selatan yang notabenenya mengalami kekeringan paling parah. Masyarakat di daerah yang mayoritas petani tersebut sudah merasakan kesulitan mendapatkan air bersih sejak lama.

"Untuk saat ini masih sepuluh desa yang tersebar di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan Kecamatan Gedangan, yang sudah terdata oleh tim kami dan kemungkinan masih bisa melebar lagi," jelas Puguh.

Bahkan, warga merasakan kesulitan tidak hanya di saat musim kemarau, tetapi saat musim hujan juga. Mereka hanya mengandalkan air tadah hujan.

"Untuk keperluan minum dan memasak, mandi serta kebutuhan lainnya, harus beli dan turun ke desa yang berada di bawah kaki pegunungan," ujar Puguh.

Di waktu yang sama, Rektor Unira Malang Hasan Abadi mengatakan, program Jariyah Air 1 Juta Liter kepada warga Kabuapten Malang sebagai salah satu bentuk kepedulian kampusnya membantu masyarakat. Terlebih lagi, kondisi masyarakat di daerah itu cukup memprihatinkan.

"Melalui program Jariyah Air Bersih, kami akan terus mendistribusikan air bersih kepada warga Kabupaten Malang hingga musim kemarau selesai.  Untuk tahap awal ada 500.000 liter yang kami distribusikan," pungkasnya.
 
Kontributor: Muhammad Faishol
Editor: Abdullah Alawi
Kamis 3 Oktober 2019 17:30 WIB
NU Jayapura: Pengungsi Wamena Perlu Dipikirkan Bersama
NU Jayapura: Pengungsi Wamena Perlu Dipikirkan Bersama
Suasana penyerahan bantuan logistik dari PCNU Jayapura (Foto: NU Online/Zaenuri Thoha)

Jayapura, NU Online

Gelombang pengungsi akibat kerusuhan Wamena terus bergerak ke sejumlah tempat, termasuk di Jayapura, Papua. Di ibukota provinsi itu terdapat 10 titik penampungan, di antaranya adalah lapangan udara Sentani dan Masjid Al-Aqsha. Keduanya berada di distrik Sentani, Jayapura.

 

Menurut Ketua PCNU Kabupaten Jayapura, Ustadz Zaenuri Thoha, saat ini pengungsi di Masjid Al-Aqsha mencapai 108 orang. Mereka menempati tenda-tenda yang dipasang di halaman masjid.

 

“Rencananya masih banyak pengungsi yang akan datang ke Jayapura,” ujar Zaenuri kepada NU Online melalui aplikasi pesan WhatsApp, Kamis (3/10).

 

Ia menegaskan, pihaknya menaruh perhatian besar terhadap kondisi pengungsi. Selain butuh perlindungan, mereka juga butuh logistik. Sebab memang tidak mungkin mencari makanan dalam situasi mengungsi.

 

“Kami PCNU Jayapura, di hari pertama bantu obat-obatan dan sembako untuk pengungsi di Lanud (lapangan udara). Kemarin kita bantu air bersih dan buah-buahan,” tambah Zaenuri.

 

Ustadz Zaenuri menambahkan, terjadinya gelombang pengungsi merupakan masalah sosial yang harus disikapi secara dewasa. Dengan kata lain, apa yang terjadi di Wamena adalah tindakan orang perorang, bukan atas nama warga Papua. Sebab warga Papua sesungguhnya cinta damai dan sangat terbuka terhadap warga pendatang. Karena itu, ia berharap agar warga Papua yang berada di luar Papua, tidak perlu khawatir dengan keamanan dirinya.

 

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Di manapun berada, kita hidup di bumi Allah, tetap cinta damai,” ungkapnya.

 

Di sisi lain, Ustazd Zaenuri menandaskan bahwa pemerintah perlu memastikan keamanan para pengungsi dan meyakinkan mereka bahwa di manapun tinggal mereka akan aman-aman saja. Pemerintah, dengan kelengkapan infrastruktur hingga ke bawah diyakini mampu memberikan keamanan para pengungsi.

 

“Itu tugas pemerintah, dan wajib kita dukung. Tapi secara umum ini masalah kita bersama, harus dipikir bersama jalan keluarnya,” urainya.

 

Ia berharap agar pemerintah dan tokoh masyarakat lintas agama, tak henti-hentinya menyerukan perdamaian dan penghentian kekerasan. Dan yang paling penting, katanya, warga Papua tidak boleh percaya begitu saja terhadap issu yang belum jelas kebenarannya, apalagi menyangkut warga Papua.

 

“Untuk itu kita berharap agar para tokoh lintas agama segera merespon jika ada kabar yang kebenarannya masih simpang siur,” pungkasnya.

 

Pewarta: Aryudi AR

Editor: Ibnu Nawawi

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG