IMG-LOGO
Nasional
TWEET TASAWUF

Jika Tak Paham Hidup di Jalan Allah, Bagaimana Bisa Mati di Jalan-Nya?


Selasa 8 Oktober 2019 17:00 WIB
Bagikan:
Jika Tak Paham Hidup di Jalan Allah, Bagaimana Bisa Mati di Jalan-Nya?
Allah SWT (via eliosh.info)
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH M. Luqman Hakim mengungkapkan bahwa meninggalnya seseorang di Jalan Allah SWT merupakan buah dari hidup di Jalan Allah.

Dengan kata lain, seorang hamba harus mengerti, memahami, dan mengamalkan bagaimana hidup di Jalan Allah, bukan justru bersikap menggebu-gebu untuk mati Jalan-Nya.

“Wacana mati di Jalan Allah adalah anugerah Ilahi dan keistemewaan Rabbani. Lalu bagaimana dengan hidup di Jalan Allah? Padahal mati di Jalan Allah itu adalah buah hidup di Jalan Allah,” ujar Kiai Luqman menguti Habib Ali al-Jufry lewat twitternya.

Menurut Direktur Sufi Center Jakarta itu, pesan hikmah tersebut relevan disampaikan kepada masyarakat mengingat tidak sedikit orang tidak mengerti cara hidup di Jalan Allah, tetapi ingin mati di Jalan-Nya.

“Maksudnya banyak orang nggak mengerti cara Hidup di Jalan Allah, bagaimana bisa mati di jalan Allah?” ungkap Kiai Luqman dikutip NU Online, Selasa (8/10) lewat twitternya.

“Maka Rasulullah SAW pun tidak menyebut semua orang yang berperang di zamannya disebut sebagai syahid, karena ada niatnya yang salah,” imbuhnya.

Dalam kesempatan lain, Kiai Luqman menjelaskan bagaimana seorang hamba bisa mengenal dirinya sendiri. Hal ini dilakukan agar manusia tidak tergelincir dari Jalan Allah, baik ketika hidup maupun mati.

Praktisi Tasawuf itu menyatakan bahwa yang paling mengenal diri manusia ialah Allah SWT. Sebab itu, dia menyarankan agar seorang hamba memohon kepada Allah untuk diperkenalkan dengan dirinya sendiri. Dari sini muncul ungkapan, usaha mengenal Allah ialah dengan cara mengenal diri sendiri.

“Mengenal diri bisa sederhana, bisa dahsyat, bisa dramatis bisa pula romantis. Sedang yang paling mengenal diri kita adalah Pencipta kita. Bukan diri kita,” tutur Kiai Luqman.

Penulis buku Jalan Ma’rifat itu menjelaskan, memohon kepada Allah agar dikenalkan pada diri sendiri ialah menurut Allah, bukan menurut diri sendiri.

“Mohonlah kepada Allah agar kita dikenalkan siapa diri menurut Dia bukan menurut kita. Agar kita mengenal-Nya menurut kehendak-Nya,” ucap Kiai Luqman.

Pewarta: Fathoni Ahmad
Editor: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG