IMG-LOGO
Nasional
RISET DIKTIS

Pepali Ki Ageng Selo dan Pola Hidup Masyarakat Jawa

Rabu 9 Oktober 2019 1:0 WIB
Bagikan:
Pepali Ki Ageng Selo dan Pola Hidup Masyarakat Jawa
Papan makam Ki Ageng Selo (Foto: Grobogannews.com)
Sejarah perkembangan Islam dari masa ke masa tidak dapat dipisahkan dengan dimensi tasawuf yang mengambil peran penting di dalamnya. Di Nusantara, sejak kali pertama masuknya Islam hingga kini, tasawuf memberi warna yang cukup signifikan. Kita dapat menyebut tokoh seumpama Abd al-Shamad  al-Palembani (wafat 1203), Hamzah Fansuri (wafat 1590), Nuruddin Arraniri (wafat 1658) sebagai ikon sufi Nusantara.
 
Beberapa tokoh yang saya disebutkan itu memiliki andil yang cukup besar dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Tokoh-tokoh tersebut dengan tegas dapat diklaim sebagai penyebar ajaran Islam yang berlatang priyayi.
 
Bersamaan dengan itu, terdapat sosok tokoh pribumi Nusantara dari kalangan 'konglomerat' yang juga turut menyebarkan Islam di Nusantara dengan jalur tasawuf yang nyaris terlupakan. Ia adalah Ki Agêng Selo.

Mengenal Sosok Ki Agêng Selo

Penjabaran secara lengkap tentang ajaran Ki Agêng Selo ini ditulis oleh Rima Ronika dalam laporan hasil penelitian berjudul Corak Ajaran Tasawuf dalam Pêpali Ki Agêng Selo Ditinjau dari Perspektif Hermeneutik Friedrich Daniel Er Nst Schleiermacher. Tulisan tersebut merupakan hasil temuan Rima dalam program penelitian berbasis pengabdian masyarakat pada 2018 lalu.
 
Dalam temuannya, Rima menjelaskan bahwa Ki Agêng Selo adalah sosok sufi Nusantara yang  hidup pada masa Kerajaan Demak di sekitar wilayah Grobogan. Selain itu, Rima juga menegaskan bahwa Ki Agêng Selo merupakan nenek moyang raja-raja Mataram Islam yang hidup pada abad ke-16 M. Ia adalah cucu Raden Lembu Peteng atau Bondan Kejawen, anak Prabu Brawijaya, raja terakhir Majapahit. Nasab leluhurnya dapat ditelusuri dari kedua orang tuanya. Ibunya bersal dari tanah Bandan dan ayahandanya merupakan warga asli Jawa. 
 
Dalam penelitian yang didukung oleh Diktis Kemenag itu, Rima juga menyebutkan, Ki Agêng Selo merupakan leluhur Panembahan Senopati, pendiri Kerajaam Mataram Islam. Berangkat dari asumsi ini, Rima memperkirakan bahwa Ki Agêng Selo merupakan tokoh yang memiliki pengaruh besar di Tanah Jawa. Maka, sebagai sosok yang berpengaruh, Ki Agêng Selo memiliki suatu ajaran fenomenal yang diikuti oleh masyarakat luas pada masanya. Ajaran itu adalah filsafat hidup dan keagamaan.
 
Menurut Rima, Ki Ageng Selo menyampaikan pemikiran-pemikirannya kepada para pengikutnya secara oral. Dan sebagaimana tradisi pengajaran di tanah Jawa, para santri mencatat dan menuliskan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh gurunya. Tulsian-tulisan itu selanjunya menjadi masterpiece pemikiran Ki Agêng Selo yang dikemudian hari ini dikenal dengan Pêpali Ki Agêng Selo.
 
Sekilat tentang Pêpali Ki Agêng Selo
 
Pêpali adalah ajaran lisan seorang guru yang ditulis dan dikumpulkan oleh murid-muridnya dengan bahasa Jawa dalam bentuk tembang macapat. Sedangkan Pêpali Ki Agêng Selo sendiri mengajarkan tentang kesusilaan, kebatinan, dan keagamaan. Dalam merumuskan ajarannya, Ki Ageng Selo menggunakan pendekatan Filsafat Jawa ala Wali Songo yang di dalamnya memuat nilai-nilai sufistik.
 
Dalam Bahasa Jawa, kata Pêpali berarti pakem, ajaran pokok, dan pedoman nilai. Soetardi Soeryahoedoyo mengartikan Pêpali sebagai ajaran petunjuk dan aturan yang mesti ditaati oleh manusia. Selengkapnya, Pêpali Ki Agêng Selo yang dituliskan dalam bentuk tembang macapat dimaksudkan sebagai sarana penuturan, media dakwah serta media pendidikan yang relatif mudah untuk menyampaikan pesan-pesan moral serta refleksi kehidupan sebagaimana tradisi yang telah mengakar di tanah jawa pada masanya.
 
Pêpali Ki Agêng Selo dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian. Pertama, Dandhanggula berisi tentang bagaimana seharusnya manusia menjalankan hidup di dunia. Kedua, Asmaradhana. Asmaradana adalah kelanjutan Dandhanggula yang di dalamnya banyak membahas tentang konsekuwensi prilaku manusia serta tatacara jalan kembali kepada Tuhan. Ketiga, Megatruh. Bagian ini lebih menekankan pada hubungan Tuhan dan manusia.

Keempat, Mijil. Dalam Mijil, Ki Ageng Selo menjelaskan tentang proses manusia dalam mendekatkan diri pada Tuhan. Dalam bagian ini Ki Agêng Selo lebih menekankan pada level tasawuf, bagaimana tahapan atau tingkatan dalam menjalankan kewajiban beribadah kepada Tuhan. Bagian ini merupakan kelanjutan dari Megatruh yang membahas secara rici keadaan manusia setelah mati kaitannya dengan prilakunya selama di dunia.
 
Bagian selanjutnya atau kelima adalah Maskumambang. "Dalam Maskumambang Ki Agêng Selo menjelaskan tentang konsep hidup dan mati dalam tradisi Jawa serta keharusan 'laku hidup' manusia dalam tradisi Jawa kaitannya dengan hukum Tuhan. Adapun perihal yang menarik dalam bagian ini, adalah ketika Ki Agêng Selo menjelaskan tentang konsep hidup dan  mati yang didasarkan pada ajaran Al-Qur'an Surat Al-Imran ayat 27. Selain itu dalam bagian ini, Ki Agêng Selo menyebut kata 'Allah' untuk menunjukkan kata Tuhan," urai Rima.

Bagian terakhir (keenam) adalah Dhandanggula. Dalam bagian Dhandanggula masih membahas tentang bagaimana seharusnya manusia hidup. Bagian ini hakikatnya hampir sama dengan bagian sebelumnya. Namun yang menarik, dalam bagian ini Ki Agêng Selo menggunakan kata 'Hyang Widi' untuk menyebut Tuhan. Penggunaan kata 'Hyang Widi' merupakan penyebutan Tuhan dalam masyarakat Hindu.
 
Hemat saya, dalam bagian ini Ki Agêng Selo hendak membari didikan hidup kepada masyarakat jawa lintas agama (Islam, Hindu, Budha) tentang nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan kata lain, Ki Agêng Selo dalam bagian ini lebih bersifat terbuka untuk mengakomudir seluruh umat beragama di tanah jawa.
 
Berbagai ajaran Ki Agêng Selo yang tertera dalam pêpalinya sebagaimana ulasan di atas menunjukkan bahwa masyarakat jawa sejak dari leluhurnya telah memiliki prinsip-perinsip hidup yang baku dan talah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka. Kehadiran Ki Agêng Selo dengan pepalinya menjelaskan bahwa masyarakat Jawa talah mengenyam dan memperaktekkan ajaran agama secara nyata.
 
Hadirnya Pepali Ki Agêng Selo sebagai salah satu manuskrip Nusantara yang dengan rinci membahas tentang masyarakat Jawa kaitannya dengan agama, menunjukkan bahwa ajaran agama tidak hanya ditanamkan oleh ulama berkebangsaan priyayi. Lebih jelas lagi, ketika Ki Ageng Selo dalam pepalinya banyak bertutur tentang hubungan Tuhan dan manusia serta jalan menuju Tuhan, memberi keterangan bahwa ajaran tasawuf tidak hanya dipelopori oleh tokoh-tokoh ulama yang pernah menimba ilmu pengetahuan ke Jazirah Arab.
 
Akan tetapi, ajaran tasawuf telah diajarkan dan mentradisi jauh sebelum kedatangan para ulama-ulama besar layaknya Abd al-Shamad  al-Palembani, Hamzah Fansuri dan Nuruddin Arraniri sebagaimana disebutkan di bagian pengantar tulisan ini.
 
Penulis: Ahmad Fairozi
Editor: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

Rabu 9 Oktober 2019 23:3 WIB
PBNU Bahas Ekonomi Digital untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah
PBNU Bahas Ekonomi Digital untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah
FGD Lakpesdam PBNU terkait digitalisasi UMKM (Foto: NU Online/Abdullah Alawi)
Jakarta, NU Online 
PBNU melalui Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) terkait infrastruktur regulasi yang mendorong tumbuhkembangnya Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di dunia digital di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (9/10).  

Di dalam FGD bertema Infrastruktur Kebijakan dalam Meningkatkan Kontribusi Ekonomi UKM melalui Pemanfaatan Ekonomi Digital tersebut, Lakpesdam mengundang berbagai pihak terkait mulai dari pihak swasta, pengamat, pelaku usaha, dan dari pihak pemerintah. 

Undangan tersebut adalah dari Kementerian komunikasi dan informatika, Dirjen Aplikasi Informatika /APTIKA, Kementerian Keuangan, Kementerian perindustrian, dari Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Bank Indonesia, Kementerian Koordinator bidang perekonomian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UKM, Otoritas Jasa Keuangan RI, Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO). 

Undangan  lain di antaranya adalah idEA - Indonesian E-Commerce Association, Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicrat Indonesia (ASEPHI), The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Kamar dagang dan Industri (KADIN), Asosiasi Penyelenggara inovasi keuangan digital Indonesia / AFTECH, Gojek, Bukalapak, Tokopedia,  Sekretariat Kabinet, Bank Dunia, Badan Ekonomi Kreatif, Sampoerna Retail Community, dan lain-lain. 

Kegiatan tersebut dibuka Wakil Ketua Umum PBNU KH Mochammad Maksum Machfoedz. Ia memulai pembukaan dengan memperkenalkan NU secara umum. Kemudian mengajak kepada seluruh peserta yang hadir untuk memperhatikan apa yang dia sebut “si kecil” yaitu masyarakat akar rumput. 

Masyarakat akar rumput, lanjutnya, yang melakukan aktivitas perekonomian jangan sampai kehilangan pasarnya ketika terjadi tren ekonomi digital. Namun, mereka tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri, melainkan harus dipikirkan cara-cara tepat untuk membantunya. 

Menurut dia, suatu saat warung-warung kecil seperti warteg bisa jadi kehilangan pelanggannya karena orang semakin malas datang ke warteg. 

“Kita harus memproteksi mereka agar bisa bertahan,” katanya. 

Menurut dia, “si kecil” tersebut mayoritas adalah warga NU. Oleh karena itu, NU selalu memikirkan bagaimana cara membantu mereka. Karena NU, hanya organisasi massa yang tidak memiliki perlengkapan untuk membantunya, maka mengajak semua pihak untuk turut serta membantunya. NU akan menjadi penghubungnya.

“Selama ini energi NU terkuras habis memikirkan terhadap hifdzul wathon (menjaga negara) dari rongrongan ideologi pemecah belah. Sementara perekonomian tertinggal,” katanya. 

Pewarta: Abdullah Alawi
Editor: Fathoni Ahmad
Rabu 9 Oktober 2019 22:30 WIB
LSN 2019 Region Kalimantan I Berlangsung Secara Mandiri dan Profesional
LSN 2019 Region Kalimantan I Berlangsung Secara Mandiri dan Profesional
Foto: Zamroni
Samarinda, NU Online
Ketua Pengurus Pusat Rabhitah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU) H Abdul Ghafarrozin (Gus Rozin) membuka Liga Santri Nusantara (LSN) 2019 Region Kalimantan I pada Rabu (9/10). Di Stadion Widya Sempaja, Samarinda, Gus Rozin menyampaikan bahwa pelaksanaan LSN 2019 yang mandiri dan swadaya tidak boleh menjadi alasan penurunan kualitas dan profesionalitas.

Dalam sambutan pembukaan, Gus Rozin menekankan pentingnya profesionalitas kompetisi. Pasalnya, pelaksanaan LSN 2019 sudah memasuki tahun kelima yang menjadi modal pengalaman dari pelaksanaan sebelumnya.

“Selama lima tahun ini, kami rasa kita sudah punya cukup modal pengalaman (menjalankan kompetisi). Ke depan diharapkan bisa mengikuti Liga 3,” kata Gus Rozin.

Ia menambahkan, pelaksanaan kompetisi region secara mandiri dan swadaya membuat jumlah klub yang terlibat menurun jumlahnya. Oleh karena itu, ia mengharuskan adanya peningkatan kualitas, baik penyelenggaraan (kompetisi) maupun pembinaan pemain.

“Dengan kepanitian yang solid, maka harus lebih profesional. Pemain juga harus profesional,” tambah Gus Rozin.

Ia berharap pelaksanaan LSN dapat mandiri sepenuhnya. “Bila LSN sudah bisa mandiri, di seri nasional ke depan harus mandiri juga,” pungkasnya.

Perlu diketahui, RMI NU sebagai penyelenggara LSN bekerja sama dengan Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Asosiasi pesantren NU ini menangani LSN sejak tahun 2016, setelah sebelumnya, kompetisi sepakbola santri pesantren ini diselenggarakan penuh oleh Kemenpora.

Adapun kompetisi pada LSN Region Kalimantan I dikuti oleh peserta dari Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan.
 

Kontributor: Dafit
Editor: Alhafiz Kurniawan
Rabu 9 Oktober 2019 21:0 WIB
RISET DIKTIS
Betulkah Siswa Laki-laki Lebih Dominan dari Siswa Perempuan?
Betulkah Siswa Laki-laki Lebih Dominan dari Siswa Perempuan?
Santri laki-laki di pesantren (Foto: Abdul Hakim Hasan)
Ada stigma di masyarakat yang menyebutkan bahwa siswa laki-laki dianggap lebih dominan dari pada siswa perempuan. Dalam artian, siswa laki-laki dipandang memiliki kemampuan lebih, baik dari segi intensitas belajar maupun hasil belajar, dari siswa perempuan. Namun, betulkan stigma tersebut?
 
Muhammad Nur, Hairunnisa, dan Siti Mariyah, ketiganya dosen STAI Miftahul Ulul, Tanjungpinang melakukan penelitian berjudul Studi Komparatif Intensitas dan Hasil Belajar Siswa Laki-laki dan Siswa Perempuan di Madrasah Se-Kota Tanjungpinang, mencoba membuktikan stigma yang berkembang di masyarakat tersebut. Adapun yang menjadi subyek penelitian adalah siswa kelas XI dan XII MAN Tanjungpinang dan MAS Miftahul Ulum, dengan sampel 211 siswa untuk mewakili sebanyak 229 siswa Madrasah Aliyah se-Kota Tanjungpinang.
 
Dalam penelitian yang didukung Diktis Kemenag RI tahun 2918 ini, Muhammad Nur dkk menggunakan analisis deskriptif dan uji t, dengan uji prasyarat yaitu uji normalitas dan homogenitas sebagai teknik analisis data. Sementara teknik pengumpulan data menggunakan angket, dokumentasi, dan wawancara. Setidaknya ada dua data yang terkumpul dalam penelitian ini untuk membuktikan stigma tersebut, yaitu data hasil belajar dan data intensitas belajar. 
 
Setelah dilakukan penelitian, maka ditemukan hasil bahwa rata-rata hasil belajar kognitif siswa laki-laki lebih kecil (71,50) dibandingkan nilai rata-rata siswa perempuan (74,26). Hal itu berbanding lurus dengan intensistas belajar siswa, dimana siswa perempuan memiliki nilai rata-rata intensitas belajar lebih tinggi (78,22) dari nilai rata-rata intensitas belajar laki-laki (77,66).
 
Meski demikian, hasil uji Anava menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan intensitas belajar (nilai signifikasinya 0.121 (Sig. >0.05; Ho diterima)) dan hasil belajar (nilai signifikasinya 0.121 (Sig. > 0.05; Ho diterima)) antara siswa laki-laki dan perempuan di madrasah se-kota Tanjungpinang.

Memang dalam aspek kognitif (intelektual), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan)—yang menjadi dasar penentuan prestasi atau hasil belajar- antara siswa laki-laki dan siswa perempuan terdapat ‘kecenderungan-kecenderungan’. Misalnya, dalam proses pembelajaran, pada proses kognitif, perempuan lebih ahli dalam kemampuan berbahasa dan berbicara dari pada laki-laki, dan di sisi lain laki-laki lebih tertarik terhadap kemampuan logika matematis dari pada perempuan. 
 
Penelitian juga mengungkapkan, pada aspek afektif, motivasi siswa laki-laki dalam sebagain besar subjek pelajaran lebih rendah dari pada perempuan. Tetapi, dalam beberapa subjek pelajaran yang disukai siswa laki-laki seperti matermatika, sains, olahraga, dan mekanika, hasil belajar afektif mereka pada subjek ini cenderung lebih tinggi dari perempuan. Adapun pada aspek psikomotorik, pada proses pembelajaran siswa laki-laki cenderung memiliki potensi psikomotorik lebih baik dari perempuan karena kondisi fisiknya, terutama setelah pubertas. 
 
Namun, secara umum tidak ada perbedaan yang besar antara siswa laki-laki dan perempuan dalam hal kemampuan kognitif. Perbedaan-perbedaan seperti kemampuan bahasa dan logika antara siswa laki-laki dan perempuan bersifat situasional, tergantung waktu dan tempat. Begitupun dengan perbedaan bentuk fisik dan kepribadian antara siswa laki-laki dan perempuan, itu juga tergantung pada etnis, ras, budaya, lingkungan, dan kelas.

Hal yang perlu digarisbawahi adalah, dalam proses pembelajaran perbedaan gender tidak mempengaruhi prestasi atau hasil belajar anak. Namun, perbedaan kemampuan kognitif, fisik, motivasi, self-esteem, aspirasi karier maupun hubungan interpersonal, dapat mempengaruhi hasil belajar seorang anak dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, sekolah atau guru harus bisa menangani ‘kecenderungan-kecenderungan’ tersebut, tanpa membedakan gender. Hal itu akan membantu mereka dalam proses belajar dan mendapatkan hasil belajar yang optimal.
 
Penulis: Muchlishon
Editor: Kendi Setiawan
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG