Buku Moderasi Beragama Terbitan Kemenag Perlu Diviralkan

Buku Moderasi Beragama Terbitan Kemenag Perlu Diviralkan
Suasana diskusi buku Moderasi Beragama di Gedung Kemenag Thamrin, Selasa (8/10). (Foto: Biro HDI)
Suasana diskusi buku Moderasi Beragama di Gedung Kemenag Thamrin, Selasa (8/10). (Foto: Biro HDI)
Jakarta, NU Online
Buku Moderasi Beragama yang diterbitkan Kementerian Agama sangat penting. Pentingnya buku ini bukan hanya untuk lingkungan Kemenag dan pemuka agama saja akan tetapi juga untuk masyarakat umum. 
 
Oleh karena itu, buku Moderasi Beragama ini perlu diekstrak atau dibuat lagi dalam versi lain agar bisa diviralkan seluas-luasnya dan seoptimal mungkin.
 
Pernyataan ini disampaikan Elga Sarapung dari Interfide Yogyakarta saat menjadi narasumber dalam peluncuran buku dan diskusi Moderasi Beragama di Auditorium KH M Rasjidi Gedung Kementerian Agama Jl MH Thamrin No 6 Jakarta, Selasa (8/10).
 
“Buku ini perlu diekstrak atau dibuat lagi versi apanya begitu agar seoptimal mungkin diviralkan seluas-luasnya,” kata pendeta perempuan ini disambut aplaus hadirin.
 
Senada dengan Elga, Adian Husaini sebagai narasumber kedua mengaku sangat setuju dengan materi dalam buku tersebut. “Saya nyaris tidak bisa mencari celah kritik buat buku ini, termasuk moderasi yang dipakai mampu keluar dari term mainstream barat atau term ekstrem liberal lainnya,” kata dia.
 
Meski demikian, Adian mengatakan telah mencatat sejumlah poin terkait isi buku. “Catatan saya untuk buku ini lebih banyak dalam bentuk catatan-catatan,” ungkap dosen Universitas Ibnu Khaldun Bogor ini.
 
Moderator diskusi, Ulil Abshar Abdalla, kemudian melontarkan humor berkelas soal tanggapan Adian Husaini. “Kalau buku ini disepakati oleh Mas Komarudin Hidayat itu biasa. Tapi, kalau buku ini disepakati oleh Mas Adian Husaini berarti sudah sah. Buku ini sudah lolos sensor,” selorohnya disambut tawa hadirin.
 
Di tempat yang sama, Komaruddin Hidayat yang juga didaulat sebagai narasumber ketiga mengatakan, ada tren populisme global yang tengah menjadikan agama sebagai konsumsi politik. Misalnya, Hindu di India, Katolik di Filipina, Budha di Myanmar, Protestan di barat, dan Islam di Indonesia.
 
“Jadi, agama menjadi ‘gerakan politik’ sekarang. Bukan sebagai gerakan moral spiritual. Be aware, (Hati-hatilah),” tegas Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
 
Pewarta: Musthofa Asrori
Editor: Muhammad Faizin
BNI Mobile