IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah
HARI SANTRI 2019

Muhtarom, Santri Pengusaha Batik dari Pekalongan

Jumat 11 Oktober 2019 4:0 WIB
Bagikan:
Muhtarom, Santri Pengusaha Batik dari Pekalongan
H Muhtarom di depan karya batiknya. (Foto: NU Online/Muiz)
Pekalongan, NU Online
H Muhtarom yang saat ini menekuni usaha batik di Kota Pekalongan, Jawa Tengah dengan brand 'Batik Faaro' sama sekali tidak memiliki trah pengusaha, apalagi batik. Jauh sebelum dirinya terjun di dunia batik di Pekalongan, Muhtarom pernah bercita-cita menjadi salah satu dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta usai menamatkan pendidikannya di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (kini UIN).

Pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah ini pernah menekuni belajar di Pesantren Al-Manshur Popongan Klaten, kemudian menuruskan kuliah di Yogyakarta mengambil Jurusan Sastra Arab pada Fakultas Adab sambil nyantri di Pesantren Wahid Hasyim juga di Yogyakarta.

Selama kuliah di Yogya, Muhtarom muda menekuni berbagai macam usaha, termasuk jualan beras di pasar Bringharjo di sela-sela kuliahnya, serta berbagai usaha lainnya sekedar untuk menambah uang jajan. 

Di Yogyakarta pula Muhtarom berkenalan seorang gadis asal Kota Pekalongan yang sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi farmasi juga memanfaatkan waktunya untuk berjualan batik. Dari situlah Muhtarom mengenal berbagai jenis batik serta motif yang aneka macam ragamnya.

Begitu asiknya menekuni aneka batik sambil membantu menjualkan batik, dirinya lupa akan cita-cita semula yang ingin menjadi seorang dosen yang gagah sambil membawa tas menuju ke kampus idaman setiap harinya.
 
Meski sempat mendaftar dan ikut tes, akan tetapi Allah berkehendak lain, pada saat tes penentuan yakni wawancara, justru Muhtarom muda malah lupa dan ketiduran di pondok, maka peluang menjadi dosen pun lenyap.

Meski peluang jadi dosen akhirnya lenyap, tetapi keberuntungan yang lebih besar dirainya, yakni dengan meminta sekaligus melamar gadis yang kuliah di farmasi asal Pekalongan dijadikan pendamping hidupnya. Dari sinilah usaha baru dan mengembangkan bakat terpendamnya sebagai pengusaha mulai dibangkitkan kembali.

Hijrah ke Pekalongan

Darah aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) begitu membekas pada dirinya. Meski tidak lagi menyandang mahasiswa, ketika mulai masuk Kota Pekalongan diminta oleh PCNU Kota Pekalongan bergabung masuk ke jajaran pengurus harian. Hingga pada Oktober 2017 menduduki posisi Ketua PCNU Kota Pekalongan.

Di tengah kesibukannya aktif di PCNU, Muhtarom bersama istri dan mertuanya mencoba mengembangkan usaha batik dengan motif-motif kekinian sesuai perkembangan zaman. Sehingga hasil kreativitasnya laku keras meski bisnis batik pernah dilanda kelesuan terutama ketika Pasar Tanah Abang Jakarta terjadi kebakaran pada tahun 2003. 

Tidak seperti pada umumnya pengusaha batik di Pekalongan yang melempar produknya batiknya ke Pasar Tanah Abang, Muhtarom dengan brand produknya 'Batik Faaro' justru memilih Yogyakarta dan Bali untuk tempat pemasaran batik karyanya, sehingga usahanya terus maju dan berkembang.

Pada Muktamar ke-32 di Kota Makassar Sulawesi Selatan tahun 2010, PCNU Kota Pekalongan mencoba merintis batik seragam NU dengan corak yang berbeda pada umumnya untuk ditawarkan kepada para muktamirin.

Dan untuk pengerjaannya diserahkan kepada Muhtarom dan batik yang didesainnya laku keras di arena muktamar. Selain batik seragam NU, dirinya juga membuat sarung aswaja dengan logo NU pada bagian belakangnya serta aneka batik NU dan badan otonomnya yang saat ini mewarnai pasar batik di Indonesia.  

Kepada NU Online dirinya mengaku, meski pasar batik terbuka lebar, akan tetapi yang diperlukan saat ini kreativitas, karena pasar terus berkembang pembeli baru terus berdatangan. Maka motif-motif baru harus diciptakan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

"Termasuk batik NU, maka meski saya pernah mondok yang berkutat dengan aneka kitab, mestinya usai mondok kitab-kitab yang pernah dipelajari diajarkan kepada masyarakat di lingkungannya. Akan tetapi ketika sudah masuk Pekalongan, kitab nya berubah menjadi batik, gak sempat ngaji, karena sibuk bisnis batik," pungkas ayah berputra 3 ini.

Saat ini Batik Faaro yang menjadi brandnya memproduksi aneka jenis pakaian batik pria, wanita, dewasa, anak dan remaja termasuk sarung dengan jenis batik cap, tulis maupun printing. Kapasitas hatian sekitar 250-300 pcs, jumlah omset hingga ratusan juta rupiah per bulan dengan area pemasaran di kota-kota besar di Indonesia, khususnya Yogyakarta dan Bali.

Penulis : Abdul Muiz
Editor: Fathoni Ahmad
Bagikan:

Baca Juga

Jumat 11 Oktober 2019 22:0 WIB
Ini Komitmen PKPT IPNU-IPPNU Unugiri Bojonegoro Lawan Narkoba
Ini Komitmen PKPT IPNU-IPPNU Unugiri Bojonegoro Lawan Narkoba
Penyuluhan seputar narkoba, PKPT IPNU IPPNU Unugiri Bojonegoro (Foto: NU Online/M Yazid)
Bojonegoro, NU Online
Peredaran narkoba di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur tidak bisa dipandang sebelah mata. Sehingga Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama - Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Univertias Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro, berkomitmen melawan narkoba dengan membekali pengetahuan kadernya.
 
"Kegiatan ini bertujuan untuk mengajak para mahasiswa NU berperan aktif dalam melawan narkoba," kata Ketua PKPT IPNU Unugiri Bojonegoro, Jawa Timur, Muhammad Na'im saat sosliasi bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, Rabu (9/10).
 
Kegiatan yang diikuti kader IPNU-IPPNU itu bekerjasama dengan Satreskoba (Satuan Reserse Narkoba) Polres Bojonegoro, di aula kantor PCNU Bojonegoro jalan Ahmad Yani, Rabu (9/10). Hadir sebagai pemateri dari Satreskoba Polres Bojonegoro, untuk memberikan pemahaman dan peredaran narkotika di Kota Ledre, sebutan lain Kabupaten Bojonegoro.
 
Menurut Na'im, ke depannya PKPT akan bermitra dengan Satreskoba Polres Bojonegoro untuk menggalakkan dan mensosialisasikan bahaya narkoba kesekolah-sekolah. 
 
"Karena siswa-siswi sekolah saat ini adalah sasaran empuk bagi para pengedar narkoba, jika mereka tidak dibekali dengan keilmuan umum yang baik dan tentunya ilmu-ilmu agama," terangnya.
 
Ketua PC IPNU Kabupaten Bojonegoro, Sukron Bajuri mengapresiasi kegiatan komisariat di Bojonegoro. menerutnya, kegiatan sosialisasi sangat bagus dan bermanfaat banyak. Sudah saatnya mahasiswa menjadi pelopor kebaikan bagi masyarakat banyak.
 
Sehingga PC IPNU-IPPNU Bojonegoro sangat mendukung penuh kegiatan ini. "Ke depannya kegiatan ini kita rutinkan dan menjadi agenda wajib bagi Lembaga Anti Narkoba (LAN) PC IPNU IPPNU Bojonegoro," ungkap Sukron.
 
Ditambahkan, peredaran narkoba tidak pandang usia, apalagi pelajar laki-laki maupun perempuan bisa menjadi pengedar dan pemakai. "Perempuan bisa menjadi sasaran empuk bagi kejahatan sekarang ini. Sudah saatnya perempuan memiliki senjata sendiri untuk menjauhi kejahatan-kejahatan tersebut," imbuhnya.
 
Satreskoba Polres Bojonegoro, Eddy Kurniawan menyampaikan beberapa materi termasuk pengertian narkoba, awal mula narkoba di Indonesia, sifat, efek, dan faktor penyebab pengguna narkoba. Termasuk bagaimana cara menghindari narkoba, sanksi hukum bagi penyalahguna narkoba, upaya pemerintah dalam menanggulangi narkoba di Indonesia, dan orang tua dalam mencegah anak agar tidak terjerumus kedalam penyalahgunaan narkoba.
 
Setidaknya di Bojonegoro berbagai kasus penyalahgunaan narkoba setiap tahun mengalami kenaikan jumlah. Pasalnya, diakhir tahun 2018 kasus yang terungkap sekitar 35 kasus dan dipertengahan tahun 2019 ini kasus tersebut mengalami kenaikan lebih dari 40 kasus.
 
"Tidak menutup kemungkinan akan selalu mengalami kenaikan jumlah kasus tersebut sebab masih banyak kasus yang masih belum terungkap dan terdeteksi," pungkas BA Satreskoba Polres Bojonegoro.
 
Kontributor: M Yazid
Editor: Abdul Muiz
Jumat 11 Oktober 2019 20:0 WIB
KH Khairuddin Tahmid: Lampung itu 'NU Jawa Timur' di Luar Jawa
KH Khairuddin Tahmid: Lampung itu 'NU Jawa Timur' di Luar Jawa
Ikon Provinsi Lampung. (Foto: Bambang Supyan)
Bandar Lampung, NU Online
Ditetapkannya Provinsi Lampung sebagai tuan rumah forum tertinggi Jam'iyyah Nahdlatul Ulama yakni Muktamar ke-34 NU disambut suka cita oleh warga masyarakat khususnya warga NU di Sang Bumi Ruwa Jurai. Baik pengurus ataupun warga NU bergembira dengan memviralkan surat keputusan PBNU Nomor 420/AII/04 D/10/2019 tentang hal tersebut.

Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah NU Provinsi Lampung KH Khairuddin Tahmid mengatakan kepada NU Online bahwa kepercayaan yang diberikan PBNU kepada Lampung merupakan harapan yang sudah lama dinanti. Pasalnya Lampung belum pernah menjadi tuan rumah ajang akbar lima tahunan NU ini.

"Selama ini, NU Lampung mendapat julukan sebagai NU Jawa Timur di luar Jawa. Jadi keputusan PBNU menetapkan Lampung sebagai tempat Muktamar disambut suka cita oleh elemen masyarakat Lampung, baik pengurus, warga NU, dan pemerintah daerah. Ini menjadi berkah tersendiri bagi Provinsi Lampung," ungkapnya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung ini menambahkan bahwa menjadi tuan rumah Muktamar NU akan menjadi keberkahan tersendiri bagi Lampung. Disamping keuntungan dengan banyaknya orang yang datang dari berbagai penjuru Indonesia dan juga dunia, Muktamar NU juga akan dihadiri oleh para kiai khas NU.

"Tentunya ini akan membawa keberkahan yang patut disyukuri kita semua," jelasnya tentang Muktamar yang dijadwalkan pada September 2020.

Untuk suksesnya acara tersebut, Kiai Khairuddin mengajak seluruh warga dan pengurus NU dan juga pemerintah daerah untuk bergandengan tangan menyambut para tamu dan memberi pelayanan terbaik. Kekompakan akan menjadi kunci suksesnya Muktamar NU di Lampung dan akan menjadi kesan baik bagi para tamu yang hadir.

Senada dengan Kiai Khairuddin, Wakil Ketua PWNU Lampung H Aom Karomani berharap Muktamar NU di Lampung akan menjadi washilah turunnya keberkahan di Lampung.

"NU tak kenal lelah membumikan kedamaian, kesejukan bagi umat manusia," ungkapnya tentang NU yang mampu berkontribusi bagi Indonesia serta dunia.

Dipilihnya Lampung dan direkomendasikannya oleh Tim Lima yang dibentuk PBNU ini memenuhi parameter yang sudah ditentukan.

Awalnya ada 9 provinsi yang mengajukan sebagai lokasi Muktamar. Setelah dilakukan survei, tiga provinsi dinilai layak jadi tuan rumah. Ketiga wilayah tersebut adalah Jawa Barat, Kalimantan Selatan, dan Lampung. Dan akhirnya, melalui keputusan sekaligus hasil istikharah Rais 'Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, pilihan lokasi Muktamar jatuh di Provinsi Lampung 

Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Fathoni Ahmad
Jumat 11 Oktober 2019 19:30 WIB
NU Jateng Dukung Lampung Lokasi Muktamar Ke-34 NU
NU Jateng Dukung Lampung Lokasi Muktamar Ke-34 NU
Sekretaris PWNU Jateng, KH Hudallah Ridwan Naim (Foto: NU Online/Samsul)
Semarang, NU Online
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah mendukung penuh keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang menetapkan Provinsi Lampung sebagai lokasi penyelegaraan  Muktamar  ke-34  NU pada September 2020 mendatang.
 
Sekretaris PWNU Jateng KH Hudallah Ridwan Naim mengatakan, demi kebesaran NU secara nasional, warga NU Jateng ikhlas, ridla, dan mendukung penuh Lampung dijadikan lokasi Muktamar ke-34 tahun depan.
 
"Keputusan PBNU tepat sekali, sudah saatnya NU memperkuat dan memperluas jaringannya di luar Jawa. Melalui muktamar ke-34 ini semoga NU semakin semarak di Sumatera khususnya," kata Gus Huda di sela rapat persiapan Lailatul Ijtima PWNU Jateng di Semarang, Kamis (10/10).
 
Menurutnya, penunjukan Lampung sebagai lokasi penyelenggaraan muktamar itu ditetapkan melalui Surat Keputusan PBNU Nomor 420/AII/04 D/10/2019 tentang tempat penyeleggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-34.
 
Jauh sebelum terbitnya keputusan itu lanjutnya, PWNU Jateng di arena Konferensi Besar dan Munas Alim Ulama di Jabar beberapa waktu lalu sudah mengusulkan agar muktamar ke-34 dilakasanakan di luar Jawa, meski Jateng sendiri masuk  dalam nominator bersama  delapan PWNU lainnya untuk ketempatan agenda muktamar.
 
Penyelenggaraan muktamar NU di Lampung tahun depan lanjutnya, memiliki makna strategis, selain untuk mendorong dinamisasi Nahdliyin di luar Jawa sekaligus untuk menunjukkan kebesaran NU secara nasional dan internasional, NU bukan organisasi lokal Jawa saja.
 
Dia menambahkan, dengan demikian Lampung tercatat sebagai daerah di luar Jawa ke-4 yang ditempati sebagai lokasi muktamar. Sebelumnya, Muktamar ke-9 tahun 1936 dilaksanakan Banjarmasin (Kalsel), Muktamar ke-21 di Medan (Sumut), dan  Muktamar ke-32 tahun 2010 di Makassar (Sulsel).
 
Penyelenggaraan muktamar di Lampung tuturnya, sekaligus sebagai wujud nyata  partisipasi NU dalam menjaga keutuhan NKRI dengan membesarkan jamiyah di wilayah luar Jawa, karena selama ini terjadi sejumlah konflik dan benturan isu SARA yang harusnya dihentikan agar tercipta perdamaian.
 
Dengan digelarnya Muktamar NU di luar Jawa, akan menguatkan ideologi kebangsaan yang secara jangka panjang akan melahirkan diplomasi ideologi untuk menjaga NKRI dari konflik yang merusak tatanan kehidupan beragama dan bernegara. 
 
"Terkait teknis, kami yakin Lampung mampu menyiapkan agenda besar ini dengan baik," pungkasnya.
 
Kontributor: Samsul
Editor: Abdul Muiz
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG