IMG-LOGO
Nasional

Kiai Ishom Ajak Warga Lampung Sukseskan Muktamar NU 2020

Jumat 11 Oktober 2019 7:0 WIB
Bagikan:
Kiai Ishom Ajak Warga Lampung Sukseskan Muktamar NU 2020
Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin dalam sebuah acara di Jakarta (Foto: NU Online/Kendi Setiawan)
Pringsewu, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah menetapkan lokasi Muktamar ke-34 NU tahun 2020 adalah di Provinsi Lampung, berdasarkan Surat Keputusan Nomor 420/AII/04 D/10/2019.
 
Keputusan tersebut ditandangani Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan Katib Aam KH Yahya Cholil Staquf dan Ketua Umum KH Said Aqil Siroj dan Sekje Helmy Faishal Zaini Hasan, dan dipublikasikan Kamis (10/10). 
 
Sesaat setelah diputuskannya Lampung sebagai tempat penyelenggaraan Muktamar NU tersebut, Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin (Kiai Ishom) mengajak seluruh elemen yang ada di Lampung untuk dapat bekerjasama dan menyukseskan agenda akbar tersebut.
 
"Kerja keras dan kerja sama PBNU bersama PWNU Lampung diperlukan dan juga didukung oleh pemerintah provinsi dan kabupaten kota," kata Kiai Ishom yang juga berasal dari Lampung ini di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (10/10) seperti terlihat dalam tayangan video yang diunggah akun facebook-nya.
 
Dengan kekompakan ini Kiai Ishom berharap kepercayaan yang telah diberikan PBNU kepada Lampung bisa dilaksanakan dengan sukses dan tidak ada hambatan.
 
"Muktamar NU yang sukses akan menjadi indikator bagi suksesnya kehidupan berbangsa dan bernegara di negara kita Republik Indonesia," katanya.
 
Penentuan dan keputusan lokasi Muktamar 2020 terjadi setelah melalui proses panjang. Dalam menentukan lokasi Muktamar ini, PBNU menerima pengajuan dari PWNU. Tim PBNU kemudian melakukan kajian lapangan ke tujuh bakal lokasi. Tujuh lokasi kemudian mengerucut menjadi tiga, hingga PBNU menghasilkan lokasi Muktamar seperti saat ini, yakni di Lampung.
 
Keputusan ini pun langsung disambut bahagia oleh pengurus dan warga NU Lampung. Hal ini terlihat dari status berbagai media sosial yang mengucapkan selamat atas terpilihnya Sang Bumi Ruwa Jurai ini. Surat Keputusan PBNU tentang keputusan tersebut juga viral beredar di grup Whatsapp.
 
"Kini menjelang satu abad NU. Pilihan Lampung sebagi tuan rumah Muktamar adalah hal yang tepat. Atmosfer dan ghirah Nahdliyin di Lampung tidak kalah dengan Jawa Timur baik secara jamaah maupun jamiyah," ungkap Abdur Rauf, Pengurus NU Kabupaten Tanggamus, Lampung di akun Facebook-nya, Kamis (10/10).
 
Kultur NU di Lampung menurutnya sangat kuat. Bukan hanya itu Lampung adalah representasi dari Bhineka Tunggal Ika di mana ragam agama, etnis dan budaya dapat hidup rukun berdampingan. Tentu tidak lepas dari peran warga NU di Provinsi Lampung.
 
Adapun lokasi yang direncanakan akan digunakan di Provinsi Lampung adalah Pondok Pesantren Darussaadah di Mojoagung, Gunung Sugih, Lampung Tengah, Islamic Center/Asrama Haji di Rajabasa, Bandar Lampung, serta Universitas Malahayati di Jalan Pramuka, Bandar Lampung.
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

Jumat 11 Oktober 2019 23:45 WIB
Simac Dorong Santri Kembangkan Bisnis Digital
Simac Dorong Santri Kembangkan Bisnis Digital
Peluncuran Aplikasi Kopi Abah dan Coffee Moving di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (9/10) (Foto: Fuad)
Jakarta, NU Online
Di era teknologi digital saat ini, para santri diharapkan untuk dapat memanfaatkannya sehingga mendatangkan kemanfaatan. Dalam hal ini, hadir dan majunya teknologi digital, jangan hanya menjadi buaian para santri.
 
Hal itulah yang melandasi Santri Millenial Center (Simac) mendorong para santri memanfaatkan teknologi digital dalam mengembangkan bisnis berkolaborasi.
 
Direktur Utama Simac, Nur Rahman mengatakan saat ini, pihaknya telah memiliki program Gerakan Santri Usahawan (Gus Iwan) sebagai wujud nyata menjadikan para santri sebagai usahawan (santripreneur).
 
"Untuk menjadikan santri milenial sebagai salah satu tenaga penggerak ekonomi digital di Indonesia, para santri harus bisa memanfaatkan teknologi digital," kata Nur Rohman dalam peluncuran Aplikasi Kopi Abah dan Coffee Moving di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (9/10).
 
Untuk itu, lanjut dia, pihaknya menggandeng Telkomsel agar dapat mengoptimalkan pertumbuhan bisnis seperti usaha yang telah dirintis saat ini, yakni Kopi Abah, produk UMKM dari Simac lainnya.
 
Direktur Utama Telkomsel Emma Sri Martini menyampaikan Telkomsel selalu berupaya mendorong kesiapan Indonesia untuk menjadi negara digital secara menyeluruh dan berkelanjutan yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat di seluruh Indonesia.
 
"Peran milenial sebagai generasi muda yang mampu menciptakan karya dan inovasi nyata tentunya tidak boleh dilepaskan," tuturnya.
 
Hadirnya kolaborasi ini, Simac berharap dapat menjadikan santri sebagai sumber daya manusia yang dapat mengakselerasikan melalui perwujudan ekosistem digital yang berkesinambungan.
 
Para acara ini, Simac juga membangun kemitraan strategis melalui Memorandum of Understanding (MoU) dengan Telkomsel, Link Aja, Mobisaria, dan Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB).
 
Kolaborasi antara Telkomsel dan LinkAja dengan Simac juga ditandai dengan peluncuran Aplikasi Kopi Abah, sebuah produk UKM berbasis gerakan milenial yang bertujuan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi kerakyatan.
 
Wakil Presiden Terpilih yang juga Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin yang menghadiri acara tersebut, menyatakan hadirnya Simac merupakan wujud nyata peran santri dalam penguatan ekonomi umat.
 
"Saya mengapresiasi hadirnya Simac sebagai sebuah role model santri yang sukses dan keren, pemuda masa kini dan masa depan yang mempunyai visi dalam hal ekonomi, keagamaan, dan nasionalisme kebangsaan harus bisa memberikan kontribusi terhadap pembangunan nasional," ujarnya.
 
Editor: Kendi Setiawan
Jumat 11 Oktober 2019 23:0 WIB
RISET DIKTIS
Upaya Meningkatkan Kualitas Komunitas Rebana Perempuan Khairun-Nisa
Upaya Meningkatkan Kualitas Komunitas Rebana Perempuan Khairun-Nisa
Komunitas rebana di Temanggung (Foto: cropping video Seni Rebana Perempuan di Temanggung-Studi Komunitas Rebana Salaf Khairun-Nisa)
Komunitas Rebana Salaf Khairun-Nisa adalah salah satu komunitas rebana yang ada di Kecamatan Tembarak, Temanggung, Jawa Tengah. Komunitas ini beranggotakan kaum hawa, baik yang sudah menikah ataupun belum, dan menjadi wadah yang mampu menampung potensi mereka dalam bidang seni rebana.
 
Adalah Hidayatun Ulfa dari Dusun Mantenan, Temanggung, yang memprakarsai pendirian Komunitas Rebana Salaf Khairun-Nisa pada 2017 lalu. Ada tujuh grup rebana dari desa-desa di Kecamatan Tembarak yang tergabung dalam komunitas tersebut. Untuk menuju angka tujuh (grup) tersebut tidaklah mudah, mengingat ini adalah grup rebana perempuan atau ibu-ibu, yang sudah berkeluarga dan mempunyai kewajiban sebagai seorang istri dan seorang ibu.
 
Namun persoalannya, anggota Komunitas Rebana Salaf Khairun-Nisa memiliki pengetahuan yang minim tentang variasi ketukan dan vokal dalam dunia rebana. Mereka berlatih 'apa adanya'. Maksudnya, mereka belum pernah mendapatkan pelatihan khusus untuk vokal, yang penting menirukan lagu yang sudah ada. Begitupun dengan penabuhnya. Sehingga, kualitasnya masih di bawah standar karena rumus dasar ketukan yang dikuasiai masih sangat terbatas.
 
Di samping itu, ruang lingkup Komunitas Rebana Salaf Khairun-Nisa juga masih sangat terbatas. Yakni hanya di Kecamatan Tembarak saja, belum bisa merambah ke kecamatan-kecamatan lain di Temanggung. 
 
Oleh karena itu, dosen dan peneliti di STAINU Temanggung, Muh Baehaqi dan Eko Sariyekti, mengadakan penelitian sekaligus pengabdian yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas Komunitas Rebana Salaf Khairun-Nisa. Dengan menggunakan model pengabdian berbasis Participatory Action Research (PAR), mereka berusaha meningkatkan pengetahuan anggota komunitas tentang ketukan dan vokal dalam rebana. Penelitian yang dilakukan pada 2018 itu juga didukung oleh Diktis Pendis Kemenag.
 
Dalam laporannya, Muh Baehaqi dan Eko Sariyekti mengungkapkan setidaknya ada delapan strategi yang diterapkan untuk meningkatkan kualitas rebana komunitas ini. Pertama, Focus Group Discussion (FGD) bersama tim pengabdi sebagai langkah pemetaan awal. Melalui FGD, tim pengabdian merencanakan konsep yang tepat dalam meningkatkan kualitas komunitas dan komunitas menyampaikan kendala-kendala yang dihadapinya. Dari situ, muncul suatu konsep dan juga alternatif solusi dari program yang akan dilaksanakan.
 
Kedua, sosialisasi. Setelah ditemukan konsep yang tepat, tim pengabdian dan ketua komunitas bersama menyosialisasikannya kepada seluruh anggota Komunitas Rebana Salaf Khairun-Nisa. Pada tahap sosialisasi ini, dijabarkan juga kepada mereka bahwa akan ada pengembangan wilayah keanggotaan. Tidak hanya untuk Kecamatan Tembarak saja, tapi juga untuk kecamatan-kecamatan lainnya di Temanggung.
 
Ketiga, FGD bersama seluruh anggota komunitas. Setelah dikembangkan untuk kecamatan-kecamatan lainnya, jumlah anggota komunitas bertambah menjadi 17 grup. Ketua dan wakilnya dari 17 grup tersebut diundang untuk melaksanakan FGD bersama. 
 
Keempat, workshop rebana. FGD tersebut menghasilkan keputusan pelaksanaan workshop rebana yang dilaksanakan pada Ahad, 14 Oktober 2018. Workshop rebana sendiri dibagi ke dalam beberapa sesi, yakni sesi pendalaman vokal, pendalaman ketukan, dan penyelarsan masing-masing grup. Pada tahap ini, disiapkan pemateri dan pakar penabuh yang siap memandu mereka.
 
Di akhir acara workshop, ditandatangani Deklarasi Komunitas dengan formasi anggota yang baru, yakni Komunitas Rebana Salaf Khairun-Nisa Kabupaten Temanggung. Hal ini dikarenakan anggota komunitas berasal dari dari beberapa kecamatan di Kabupaten Temanggung seperti Tembarak, Tlogomulyo, Kandangan, Pringsurat, Gemawang, Kedu, dan Kranggan.
 
Kelima, evaluasi workshop dan FGD persiapan Gebyar Rebana. Tim pengabdian melakukan evaluasi workshop rebana. Apa-apa saja yang berjalan sesuai rencana dan mana yang tidak. Selain itu, mereka juga mempersiapkan pelaksanaan Gebyar Rebana. 

Keenam, pelaksanaan Gebyar Rebana. Untuk menjaga konsistensi masing-masing grup, disepakati pengadaan Gebyar Rebana setiap dua bulan sekali. Gebyar Rebana perdana dilaksanakan di Dusun Mantenan pada hari Jumat, 2 November 2018. Pelaksanaan Gebyar Rebana meningkatkan antusiasme ibu-ibu untuk untuk terus mengembangkan kemampuan dalam rebana, baik kualitas vokal maupun ketukan. 
 
Ketujuh, evaluasi Gebyar Rebana. Pada tahap ini, tim pengabdian juga mendengar masukan dan saram dari pihak masyarakat agar kegiatan Gebyar Rebana berikutnya dapat berjalan lebih baik lagi. Kedelapan, pendampingan. Tim pengabdian terus melakukan pendampingan agar kualitas dan kuantitas komunitas bisa terus berkembang dan meningkat. 
 
Penulis: Achmad Muchlishon
Editor: Kendi Setiawan
Jumat 11 Oktober 2019 19:0 WIB
Yusuf Mansur Jabarkan 3 Hal yang Bangkitkan Ekonomi Umat 
Yusuf Mansur Jabarkan 3 Hal yang Bangkitkan Ekonomi Umat 
Yusuf Mansur saat mengisi materi di Madrasah Kader NU (MKNU) LP Ma’arif NU di Hotel Bintang, Jakarta Pusat, Jum’at (11/10). (Foto: NU Online/A Ahdori)
Jakarta, NU Online
Pendakwah yang juga pengusaha sukses Ustad Yusuf Mansur memberikan tips agar ekonomi masyarakat bangkit. Menurut dia ada tiga fokus yang harus dilakukan oleh seseorang atau oleh organisasi masyarakat seperti Nahdlatul Ulama. 
 
Pendakwah yang memiliki nama lengkap Jam’an Nur Khatib Manshur itu menegaskan, tidak ada yang tidak mungkin masyarakat menguasai beberapa perusahaan yang menghasilkan keuntungan yang sangat besar, jika ada kemauan untuk terjun ke dunia enterpreneur. 
 
Kuncinya, lanjut ayah Wirda Manshur ini, pertama, penyatuan pengelolaan keuangan artinya dilakukan secara kolektif bersama masyarakat lain. Kedua, penyatuan kegiatan transaksi yakni memposisikan diri kita sebagai pelaku dan pengguna dari usaha yang dimiliki. Ketiga, investasi, uang yang dimiliki harus digerakkan agar berputar dan menghasilkan banyak keuntungan. 
 
“Bapak ini berapa juta, ibu berapa juta, disatukan. Kita investasikan untuk membeli perusahaan yang ada. Kemarin kami baru saja membeli BNI Syariah nilainya 1,5 triliun. Itu karena ada penyatuan pengelola keuangan, apalagi NU yang jumlahnya sangat banyak, apakah mungkin?, sangat mungkin,” kata Yusuf Mansur saat mengisi materi di Madrasah Kader NU (MKNU) LP Ma’arif NU di Hotel Bintang, Jakarta Pusat, Jum’at (11/10). 
 
Pria 45 tahun ini mengungkapkan, selama seseorang mau bergerak maka harus yakin akan melahirkan ekonomi yang bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat baik bermanfaat untuk agama bangsa dan negara.
 
Nahdlatul Ulama, kata dia, memiliki kekuatan yang berpotensi melahirkan ekonomi yang kuat. Untuk itu, harus ada yang menyatukan kekuatan tersebut. 
 
“Di kita padahal yang jadi ojek kita, penumpang kita, kenapa yang punya valuasi orang lain?, kenapa kita tidak bikin usaha sejenis Go-jek,” ujarnya.
 
Ia menyebut bahwa investasi menjadi peluang besar masyarakat untuk mengembangkan perekonomian kelompok maupun pribadi. Investasi, kata Yusuf Mansur, tidak harus dilakukan sendiri, bisa dilakukan secara kolektif. 
 
Kontributor: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Muhammad Faizin
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG