IMG-LOGO
Nasional
RISET DIKTIS

Cara MA Sunan Giri Prigen Pasuruan Pacu Prestasi Siswa dengan Pendidikan Karakter


Sabtu 12 Oktober 2019 19:45 WIB
Bagikan:
Cara MA Sunan Giri Prigen Pasuruan Pacu Prestasi Siswa dengan Pendidikan Karakter
Siswa MA Sunan Giri Prigen Pasuruan dalam suatu kegiatan (Foto: Facebook MA Sunan Giri Prigen)
Sejumlah ikhtiar dilakukan Madrasah Aliyah Sunan Giri Prigen, Pasuruan, Jawa Timur agar peserta didiknya memiliki keunggulan. Di samping membekali dengan materi pelajaran seperti layaknya lembaga pendidikan formal lain, juga dengan memberikan kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan diri (life skills).
 
Penelitian berjudul Peran Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Pendidikan Karakter melalui Skill Day di MA Sunan Giri, Talang, Watuagung, Prigen, Pasuruan pada 2018 menemukan bahwa program kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan diri atau life skills sejak beberapa tahun yang lalu diberikan. Harapannya agar dapat mengurangi permasalahan yang terjadi.
 
Penelitian oleh Badiatul Hikmah, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Muhammadiyah Bangil, Pasuruan, merupakan salah satu penelitian berbasis pengabdian kepada masyarakat dengan dukungan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Dit PTKI) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama RI tahun anggaran 2018.
 
Pendidikan Karakter sebagai Solusi
 
Hasil penelitian Badiatul Hikmah, pada tahun 2015 di sekolah tersebut, diketahui dari 311 jumlah seluruh siswa diperoleh data adanya pelanggaran siswa, yaitu sebanyak 25 persen siswa pernah melihat gambar dan film tidak layak. Perilaku negatif yang yang lain juga menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan.
 
Karenanya, sangat mendesak dilakukan pendidikan karakter atau pendidikan nilai. Termasuk di dalamnya adalah pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak.
 
"Tujuannya mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik dan buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati," ungkap Badiatul dalam laporannya.
 
Badiatul menyebutkan, pendidikan karakter adalah upaya mengembangkan karakter (virtues) yang mencakup kebiasaan dan semangat yang baik. Sehingga, siswa menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan dewasa.

Karena itu, dirinya menggarisbawahi tentang fungsi pendidikan karakter di antaranya mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik. "Juga memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur, serta meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia," tulisnya.

Apalagi, lanjut peneliti, berdasarkan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan bahwa pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk watak peserta didik agar menjadi manusia bermartabat. Yaitu, manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
 
Ikhtiar Memulai 
 
Lantas, bagaimana cara atau ikhtiar yang bisa dilakukan dalam rangka pelaksanaan pendidikan karakter tersebut? Dalam pengembangan pendidikan karakter di tingkat Kementerian Pendidikan Nasional dilakukan melalui tiga cara yaitu: (1) melalui stream top down, (2) stream bottom up, dan (3) stream revitalisasi program. 

Badiatul menyampaikan data Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan, yang menyebutkan bahwa strategi pelaksanaan pendidikan karakter dalam satuan pendidikan merupakan suatu kesatuan dari program peningkatan mutu berbasis sekolah dalam pengembangannya, pelaksanaannya dan evaluasi kurikulum satuan pendidikan. Kegiatan yang dimaksud yakni, pertama kegiatan pembelajaran.
 
Kedua, adalah pengembangan budaya sekolah dan pusat kegiatan belajar melalui kegiatan pengembangan diri. Sedangkan ketiga kegiatan ko-kurikuler dan atau kegiatan ekstrakurikuler, serta keempat kegiatan keseharian di rumah dan di masyarakat.

Sejumlah nilai yang ingin diraih dari pendidikan karakter adalah sebagaimana telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan Pendidikan Nasional.
Secara lebih rinci, perilaku tersebut ditunjukkan dengan religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air.

Berikutnya menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab.
 
"Melalui 18 nilai pembentuk karakter bangsa satuan pendidikan dapat menentukan prioritas pengembangan karakter dengan cara melanjutkan nilai prakondisi yang diperkuat dengan beberapa nilai yang diprioritaskan dari 18 nilai tersebut. Dalam implementasinya jumlah dan jenis karakter yang dipilih dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah satu dengan yang lain," jelas peneliti.
 
Life Skills sebagai Solusi dan Kepemimpinan
 
Life skills dapat dinyatakan sebagai kecakapan untuk hidup. Istilah hidup, tidak semata-mata memiliki kemampuan tertentu saja (vocational job), namun harus memiliki kemampuan dasar pendukungnya secara fungsional seperti membaca, menulis, menghitung, merumuskan, memecahkan masalah, mengelola sumber daya, bekerja dalam tim, terus belajar di tempat kerja, dan mempergunakan teknologi.

Untuk dapat memulai kecakapan, dapat dilakukan dengan Skills Day yang mana diisi dengan kegiatan pengembangan diri sebagian besar adalah kegiatan ekstrakurikuler yang dipandu oleh guru pembina. 

Selain itu juga terdapat program pembiasaan yang mencakup kegiatan yang bersifat pembinaan karakter peserta didik dan penanaman nilai religius seperti Shalat Dhuha, istighotsah, amal Jumat (infak), dan kegiatan membaca Al-Qur’an. 

Juga dapat dengan kolaborasi olahraga bola voli, sepak bola maupun futsal, seni albanjari, seni lukis atau kaligrafi, paduan suara, musik band, karya ilmiah, wirausaha, English Club, Arabic Club, Pramuka, Palang Merah Remaja (PMR), dan musabaqal tilawatil Qur’an.
 
Namun, segala ide tersebut harus ditopang dengan kepemimpinan. Yakni setiap tindakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu atau kelompok lain yang tergabung dalam wadah tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Untuk kasus di Madrasah Aliyah Sunan Giri, Prigen, dan sekolah yang lain adalah sangat ditentukan oleh sosok kepala sekolah.
 
Kepala madrasah harus melakukan optimalisasi regulasi dan kebijakan dalam rangka merumuskan konsep pendidikan karakter, sehingga keabsahan kegiatan tersebut semakin menambah motivasi bagi para pembina kegiatan maupun para peserta didik. 

Hal ini, ungkap peneliti, diwujudkan dalam bentuk pemberian pendidikan dan pelatihan gratis bagi para pembina dan piagam penghargaan serta beasiswa bagi para peserta didik yang mampu berprestasi.
 
Penulis: Ibnu Nawawi
Editor: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG