IMG-LOGO
Nasional
RISET DIKTIS

Pentingnya Nilai Agama dalam Bentengi Agresivitas Siswa Remaja


Senin 21 Oktober 2019 14:30 WIB
Bagikan:
Pentingnya Nilai Agama dalam Bentengi Agresivitas Siswa Remaja
Siswa remaja di Jambi (Foto: jambi.kemenag.go.id)
Usia remaja adalah masa yang produktif dalam siklus usia manusia. Masa remaja juga masa yang ideal untuk sebanyak-banyak menyerap ilmu dan wawasan. Pada masa inilah, manusia memiliki waktu yang tepat untuk belajar dan melatih diri dari berbagai pengalaman. Tingkat kreativitas dan semangat masa remaja ini adalah modal utama kemajuan Negara kita.
 
Karenanya, masa seperti ini perlu mendapatkan perhatian serius bagi seluruh orang tua dan pemerintah. Ketidakmampuan dalam mengawal masa remaja ini, akan melahirkan dampak yang buruk. Tidak hanya bagi remaja tersebut, tetapi juga berimbas pada sekolah serta lingkungan yang terkecil berupa keluarga, bahkan menjadi permasalahan Nasional.
 
Sayangnya, secara faktual, hasil yang dicapai masih belum sinkron dengan tujuan yang diharapkan. Banyak peserta didik yang memperlihatkan perilaku menyimpang, misalnya adalah agresivitas yang menimbulkan keresahan di dalam masyarakat luas. Agresivitas di sini adalah suatu tingkah laku yang bertujuan untuk melukai individu lain baik secara fisik maupun nonfisik. Hasil yang biasanya tampak adalah tampilan berupa sikap kekerasan, perundungan (bullying), pergaulan bebas, maupun perilaku penyimpang lainnya. 
 
Penelitian tentang agresivitas siswa remaja pernah dilakukan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kemenag RI oleh Fitria Carli Wiseza dan Noviriani di beberapa sekolah di Jambi pada 2018. Dari sampel 263 siswa yang berasal dari tiga sekolah di Kabupaten Bungo menunjukkan hasil yang membuat kita perlu cepat mengambil langkah serius. Melalui judul Pengaruh Pengetahuan Agama dan Pertimbangan Moral terhadap Agresivitas Siswa MAN Kabupaten Bungo, Fitria dan Noviriani memetakan penyimpangan siswa yang banyak terjadi. Mulai dari siswa yang bolos sekolah, sampai yang berani berpacaran di muka umum.

Ada pula yang terlambat dalam mengikuti pelajaran, kurangnya disiplin peserta didik, melanggar peraturan sekolah dan kurangnya tanggung jawab akan kewajiban sebagai peserta didik seperti tugas yang diberikan guru, meninggalkan jam pelajaran dan berkeliaran di luar lokasi sekolah, berbohong dan bahkan kurangnya rasa sopan santun serta menghargai siswa terhadap gurunya. Karenanya, penelitian ini juga menemukan beberapa faktor-faktor apa saja yang memantik agresivitas siswa yang banyak terjadi di sana.

Faktor-faktor yang menyebabkan suatu perilaku agresi bisa karena memang sudah bertujuan untuk menyakiti atau mencelakai seseorang. Artinya anak yang melakukan sifat agresif beranggapan bawah bahwa dengan menyakiti ia menjadi lebih kuat dibanding yang lain. Atau bisa juga karena individu yang bertindak sebagai pelaku agresi. Maksudnya, anak yang memiliki agresivitas, pada hakikatnya bersifat individualistis. Namun dengan proses pergaulan, individu-individu itu menjadi satu kelompok dengan kesamaan sifat. 
 
Faktor lainnya yang memengaruhi sikap agresivitas adalah individu yang kerap kali menjadi sasaran korban. Pada faktor ini, perundungan (bullying) dan pengeroyokan siswa menjadi contoh yang sesuai. Siswa yang dianggap lemah, akan menjadi individu sasaran siswa lainnya yang berlagak superior (merasa lebih kuat dibanding yang lain). Hasilnya, ketidakinginan korban menerima perlakuan yang merugikan pun menghasilkan dendam yang ingin dibalas. Keributan acap kali terjadi karena faktor ini.

Dari sekian faktor di atas, penelitian ini menarik kesimpulan bahwa sekolah baik siswa, guru maupun orang tua adalah elemen penting yang harus saling kuat bersinergi. Termasuk di antaranya pula jajaran pemerintahan lingkungan sampai atas. Selain itu, peneliti juga memberikan saran, untuk memperkuat penyampaian nilai-nilai agama bagi siswa.
 
Dari hasil uji data yang dilakukan Fitria dan Noviriani, mereka mendapatkan hasil rata-rata agresivitas siswa 69,07, sedangkan standar deviasi 15,417. Kemudian rata-rata untuk pengetahuan agama sebesar 99.79 dan untuk standar deviasinya 14,152.  Rata-rata untuk pertimbangan moral adalah 82.97 dan standar deviasi adalah 14,662. Data yang ditemukan ini menunjukkan bahwa siswa yang memiliki pengetahuan nilai agama yang baik, sangat sedikit melakukan agresivitas dan bentuk penyimpangan lainnya. Sampel anak-anak tersebut juga rata-rata memiliki pemahaman moral yang cukup baik.
 
Penulis: Sufyan Syafii
Editor: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG