Islam Indonesia Kedepankan Toleransi dan Perdamaian

Islam Indonesia Kedepankan Toleransi dan Perdamaian
Suasana menjelang pidato kebudayaan KH Said Aqil Siroj di Hari Santri 2019 di Gedung Kesenian Jakarta. (Foto: NU Online/Suwitno)
Suasana menjelang pidato kebudayaan KH Said Aqil Siroj di Hari Santri 2019 di Gedung Kesenian Jakarta. (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

Indonesia diharapkan betul menjadi kiblat Islam moderat dunia. Pasalnya, berbeda dengan praktik Islam di beberapa tempat lainnya, masyarakat Muslim Nusantara lebih mengedepankan toleransi dan penghormatan terhadap keragaman.

 

“Islam yang dipraktikkan di Indonesia adalah keberagaman Islam yang mengedepankan toleransi, perdamaian, dan penghargaan terhadap keragaman dan kebudayaan Nusantara,” kata Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) M Kholid Syeirazi di Gedung Kesenian Jakarta, Selasa (22/10).

 

Menurutnya, praktik Islam di Indonesia sejalan dengan nasionalisme. Bahkan semangat kebangsaan ini menjadi jargon dalam menumbuhkan semangat keberagamaan. “Islam yang kita laksanakan juga memiliki ikatan yang kuat terhadap nasionalisme. Bahkan diterima ajaran hubbul wathan minal iman, nasionalisme adalah bagian dari iman,” katanya.

 

Hal itu sebetulnya didasarkan atas sebuah ayat Al-Qur’an yang mengajak berislam dengan cara bijaksana atau hikmah. Pandangan yang seperti itu merupakan substansi dari dakwah Islam yang mengedepakan cara-cara yang elegan, lembut dan bijaksana.

 

“Praktik dan dakwah Islam di Nusantara dilaksanakan secara bijak, bil hikmah,” ujarnya.

 

Karenanya, Kholid meyakini bahwa pemahaman dan praktik keislaman umat Islam di Nusantara ini adalah wujud Islam yang didakwahkan oleh Rasulullah, Islam rahmatan lil ’alamin. “Islam yang dipahami dan dipraktikkan di Indonesia merupakan representasi visi Islam rahmatan lil alamin,” ucapnya.

 

Oleh karena itu, ia mengajak agar model keberagamaan seperti ini dijadikan sebagai rujukan dunia, agar Islam hadir sebagai kesejukan, bukan hadir dengan wajah yang menakutkan.

 

“Kita harus mendorongnya menjadi rujukan keberagamaan Islam yang moderat bagi negara-negara yang lain,” kata pria berusia 40 tahun itu.

 

Hal tersebut tak mengecualikan negara-negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim. Sebab, menurutnya, Indonesia adalah contoh baik dalam praktik hubungan negara dan agama sehingga melahirkan demokrasi yang matang.

 

“Termasuk bagi negara-negara non Muslim yang menerapkan sistem demokrasi. Indonesia adalah praktik nyata hubungan yang kompatibel antara negara dan agama Islam, yang menghasilkan praktik demokrasi yang matang, damai, dan menghasilkan perwakilan yang demokratis,” pungkasnya.

 

Pewarta: Syakir NF

Editor: Aryudi AR

BNI Mobile