Eks Teroris Ini Tulis Buku Hijrah dari Radikal ke Moderat

Eks Teroris Ini Tulis Buku Hijrah dari Radikal ke Moderat
Mantan narapidana teroris (napiter) Haris Amir Falah (paling kanan). (Foto: NU Online/Aru Elgete)
Mantan narapidana teroris (napiter) Haris Amir Falah (paling kanan). (Foto: NU Online/Aru Elgete)
Bekasi, NU Online
Mantan narapidana teroris (napiter) Haris Amir Falah mengungkapkan kisah hidupnya yang dekat dengan para tokoh radikal dan teroris. Kini, ia sadar dan berkomitmen hijrah dari radikal ke moderat. Bagi dia, Nahdlatul Ulama sudah tidak asing dalam hidupnya. Sebab, ia terlahir dari keluarga yang seratus persen Nahdliyin.
 
Hal tersebut diungkapkannya dalam Seminar Kebangsaan yang digelar Lembaga Dakwah (LD) NU Kabupaten Bekasi bekerja sama dengan Mabes Polri, di Pesantren An-Nadwah, Desa Lambangsari, Tambun Selatan, Bekasi, Sabtu (26/10).
 
“Sejak 1983 hingga 2010, saya sempat tersesat. Sehingga tidak bisa melestarikan budaya-budaya keislaman seperti keluarga saya. Tahun 1983 itu saya mulai berkenalan dengan kelompok radikal. Dua tahun kemudian saya jadi radikal,” kata Haris.
 
Perkenalannya dengan paham radikalisme bermula saat ia sekolah di SMAN 46 Jakarta. Dalam bukunya berjudul Hijrah dari Radikal ke Moderat, ia menuangkan pengalaman pribadinya hingga terjerumus ke dalam lingkaran terorisme. 
 
“Buku saya itu diberi kata pengantar oleh Imam Besar Istiqlal KH Nasaruddin Umar dan cendekiawan muslim moderat Prof Azyumardi Azra. Di situ saya tulis semuanya sebagai rekam jejak perjalanan saya. Buku itu juga menjadi sumbangsih untuk NKRI yang pernah saya nodai,” katanya disambut tepuk tangan meriah hadirin.
 
Dikatakannya, Sayyidina Umar bin Khattab ketika sudah memeluk Islam telah banyak menghapus jejak jahiliyah yang telah dilakukan. Maka itu pula yang dilakukan oleh Ustadz Haris saat memutuskan untuk keluar dari jeratan terorisme.
 
“Di akhir hidup saya yang saat ini berusia 54 tahun, saya ingin menghapus jejak radikalisme dalam hidup saya. Sebab, hampir semua gerakan radikal di negeri ini, saya adalah pendirinya. (Dan) itu saya tuangkan dalam buku,” ungkapnya.
 
Sehingga ia berharap, buku yang telah ditetaskan sebagai karyanya itu dapat dibaca seluruh anak Indonesia agar mampu mendeteksi seseorang atau kelompok yang memiliki pemikiran radikal. 
 
Pemikiran Picu Teror
Menurut dia, pemicu teror adalah pemikiran sang teroris itu sendiri. “Kita tidak sedang khawatir dengan aksi terorisme, karena sesungguhnya pemikiranlah yang sangat berbahaya. Saya tidak pernah membunuh, tidak pernah terlibat dalam perakitan bom,” jelasnya.
 
Ia mengaku terlibat dalam jejaring terorisme sehingga dirinya ditangkap dan ditahan pada 2010 dan bebas pada 2014. Hal yang menjadikannya ditangkap lantaran perannya bukan sebagai orang lapangan yang memegang senjata, tetapi peran yang lain.
 
“Sekali lagi, yang berbahaya adalah pemikiran-pemikiran seseorang yang terpapar radikalisme itu. Banyak pelaku terorisme yang bersentuhan dengan saya. Salah satunya pelaku bom di Jalan Thamrin beberapa waktu lalu. Pelaku itulah yang saya bina sejak muda,” akunya.
 
Namun, ia belum sempat mengajak pelaku teror bom di Jalan Thamrin itu untuk kembali ke dalam ajaran Islam yang ramah dan moderat. Menurutnya, pemikiran-pemikiran radikal itu harus dicegah dan menjadi tugas para ulama dari kalangan NU.
 
“Saya rasa, LDNU yang punya kemampuan di bidang agama harus punya peran luar biasa dalam mencegah pemikiran radikal. Ternyata setelah saya sempat jalani, mengobati itu tidak mudah. Maka ketika saya diminta untuk memberikan materi tentang potensi kelompok terorisme, saya merasa kesulitan karena tidak kompeten di situ,” katanya.
 
Ia memiliki sebuah yayasan bernama Hizbul Wathan Indonesia. Kini, ia sudah membina ratusan teroris yang kemungkinan besar tidak akan kembali. Selain itu, ia punya pesantren di Cianjur yang hingga saat ini masih dalam pengawasan dan binaannya.
 
“Jiwa da'i itu akan sangat berbunga bahagia jika para mad'u menerapkan berbagai hal yang disebarkan. Hal itu jauh membanggakan dari bayaran sebesar apa pun," pungkasnya.
 
Selain Ustadz Haris, pembicara lainnya adalah Intelektual Nahdlatul Ulama Gus Ulil Abshar Abdalla dan Ketua PP GP Ansor. Seminar kebangsaan ini dihadiri oleh Ketua PCNU Kabupaten Bekasi KH Bagus Lukhito, lembaga dan badan otonom NU Bekasi, serta komunitas atau organisasi kemahasiswaan di sekitar Bekasi.
 
Kontributor: Aru Elgete
Editor: Musthofa Asrori
BNI Mobile