IMG-LOGO
Daerah

Alumnus Pesantren Gunakan Limbah untuk Pakan Ternak


Kamis 31 Oktober 2019 19:30 WIB
Bagikan:
Alumnus Pesantren Gunakan Limbah untuk Pakan Ternak
Karyawan yang memproduksi pakan ternak. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Bondowoso, NU Online 
Salah satu kendala peternak adalah ketersediaan pakan, khususnya di desa.  Jika musim hujan, tentu tidak begitu sulit untuk mencari rumput, karena akan menghijau dengan sendirinya saat musim hujan tiba. Namun betapapun banyaknya rumput liar, tetap saja tidak bisa menjamin kelangsungan hidup peternakan. Sebab, rumput tidak bisa diproduksi secara massal, kecuali sengaja dibudidayakan, misalnya perusahaan peternakan berskala besar yang memang menyediakan lahan untuk ditanami rumput.
 
Tapi saat ini, petenak khususnya di Bondowoso, Jawa Timur bagian utara, tidak perlu risau karena khawatir ternaknya kekurangan pakan. Sebab, Koperasi Ternak Tani Syariah telah memproduksi pakan ternak. 
 
Adalah Ifan Kurniawan yang mendirikan koperasi yang bergerak di bidang peternakan tersebut tahun 2015. Lelaki kelahiran Jember, 10 April 1984 itu merupakan jebolan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Walaupun seorang santri,  namun ia mempunyai ‘hobi’ peternakan. 
 
 
Mendirikan Kampung Ternak
Untuk itu, Ifan membangun usahanya dengan mendirikan Kampung Ternak Modern yang berlokasi sekitar 4,5 kilometer ke arah barat laut dari alun-alun Kota Bondowoso, tepatnya di Desa Karanganyar, Kecamatan Tegalampel, Kabupaten Bodowoso. 
 
Kampung Ternak Modern yang dibangun di atas lahan seluas 2,5 hektare itu,  didirikan tahun 2011. Untuk pengelolannya dan demi kelancaran administrasi dengan pihak luar, maka Ifan kemudian mendirikan koperasi tersebut. Ada dua program yang ditangani, yaitu  breeding (pembibitan) dan fattening (penggemukan), khususnya untuk sapi dan domba.
 
Meski namanya kampung ternak, namun bukan kampung betulan, tapi hanya berupa deretan kandang untuk perawatan sapi dan domba. Domba dan sapi tinggal di situ, tidak lama. Hanya 15 hari untuk di-treatment (diobati dan dirawat). Selanjutnya hewan ternak itu dibagikan kepada petani (mitra) untuk diternakkan dan digemukkan. Begitu kandang kosong, didatangkan lagi sapi dan domba yang baru. Siklus ini berlanjut per 15 hari. 
 
Untuk memenuhi pakan ternak yang mencapai ribuan itu, Ifan memproduksi pakan sendiri. Awalnya memang menggunakan rumput untuk menghidupi ternaknya, namun akhirnya membuat pakan sendiri.  Pasalnya, alam tidak cukup menyediakan rumput yang terus-menerus disabit. Juga, di dalam rumput tidak ada kandungan vitamin yang dibutuhkan hewan ternak.
 
“Coba, cukup nggak. Setiap sapi paling tidak membutuhkan dua sampai tiga karung rumput dalam sehari semalam. Itu baru satu sapi. Kalau 100 sapi, berapa. Kesimpulan saya, untuk Bondowoso, rumput liar memang tidak mencukupi buat peternakan. Akhirnya sebelum saya mendirikan kampung ternak, saya memastikan untuk memproduksi pakan sendiri,” ucapnya kepada NU Online di kediamannya, Rabu (30/10).
 
Menurut Ifan, tidak susah untuk memproduksi pakan ternak. Sebab Bondowoso menyediakan banyak  limbah yang dibutuhkan untuk campuran pakan ternak. Total ada 15 macam limbah yang bisa dibuat untuk diolah menjadi pakan tenak. Di antaranya adalah limbah kulit kopi, kulit kacang, dan katul.
 
Limbah-limbah itu kemudian dimasukkan ke dalam mesin untuk dihancurkan dan dicampur-aduk. Namun bukan semata-mata limbah, ada campuran lain untuk kesehatan dan perangsang pertumbuhan ternak, misalnya tetes tebu dan sebagainya.
 
“Jadi pakan itu mengandung protein, karbohidrat, dan sumber energi untuk proses penggemukan ternak. Kapasitas mesinnya 5 ton perhari,” jelas Ifan.
 
Dengan mesin itu, Ifan mampu mencukupi pakan ternak di kandangya sendiri maupun ternak yang sedang dipelihara oleh mitra yang tersebar di tiga kecamatan, yaitu Grujugan, Sumberwringin dan Pujer. Di tiga kecamatan itu, Ifan bekerja sama dengan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) setempat untuk breeding dan fattening. Sapi dan domba di ketiga kecamatan itu disuplai dari Kandang Tenak Modren.
 
“Untuk sapi, jumlah pakannya adalah 3 persen dari berat badannya. Sedangkan untuk domba 5 persen dari berat badan. Itu yang ideal untuk sehari semalam,” ungkapnya.
 
Ifan menegaskan, membuat pakan ternak membutuhkan ilmu dan keterampilan. Jangan sampai pakan yang dibuat, malah membahayakan kesehatan ternak. Oleh karena itu, Ifan menyatakan bersyukur atas perhatian Dinas Peternakan Kabupaten Bondowoso, misalnya digelar pelatihan pembuatan pakan ternak dan cara penggemukannya. 
 
“Ini (penggemukan dan pembibitan) adalah aset Bondowoso juga. Pembuatan pakan ternak dan pemeliharaan ternaknya sekalian, tentu mempunyai kontribusi nyata bagi perputaran ekonomi warga,” urainya. 
 
Pakan ternak adalah bagian signifikan dari peternakan itu sendiri. Apa yang ditempuh oleh Ifan, jelas mempunyai makna penting bagi swasembada daging sebagaimana dicanangkan oleh Kementerian Peternakan RI. Hasil produksi pakan ternak yang diproduksi oleh Koperasi Ternak Tani Syariah, harganya terjangkau, dan terbuka untuk umum. Walaupun belum mempunyai lebel ‘laik jual’ namun setidaknya sudah dikonsumsi oleh ribuan ternak sejak tahun 2011, saat Kandang Tenak Modern berdiri.
 
“Alhamdulillah, ternak yang diberikan makan produksi kami, sehat-sehat. Tidak pernah ada kejadian, misalnya sapi mati.  Ini selalu dipantau oleh Dinas Peternakan,” katanya.
 
Ifan dengan pakan ternaknya adalah sebuah fenomena. Ia tak hanya menggerakkan roda ekonomi dengan peternakan dan produksi pakan ternaknya, tapi juga berhasil memanfaatkan limbah yang sesugguhnaya sudah dibuang, terutama kulit kopi dan kacang. Sebuah usaha yang laik diacungi jempol.
 
 
Pewarta: Aryudi AR 
Editor: Ibnu Nawawi
 
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG