Banjari, Bukan Sekadar Kesenian Bernuansa Agama 

Banjari, Bukan Sekadar Kesenian Bernuansa Agama 
Grup Banjari SMP Islam Al-Madinah, Jombang. (Foto: NU Online/Suci Aristanti)
Grup Banjari SMP Islam Al-Madinah, Jombang. (Foto: NU Online/Suci Aristanti)
 Jombang, NU Online
Kesenian musik rebana yang mempunyai keterkaitan sejarah pada masa penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga akrab disebut dengan banjari. Iramanya yang menghentak, variatif dan rancak membuat kesenian ini banyak digrandrungi masyarakat. Kesenian banjari juga sering dijadikan sebagai pembukaan kegiatan keagamaan maupun ajang perlombaan berbagai tingkat.
 
Sebagaimana keikutsertaan peserta didik SMP Islam Al-Madinah, Jombang, Jawa Timur, Kamis (31/10). 10 peserta didik sekolah ini mengikuti lomba keagamaan tingkat SMP di Diknas Pendidikan kota setempat. Sekalipun belum mendapatkan juara, peserta lomba banjari mendapatkan pembelajaran tentang nilai kerja sama antar anggota tim. 
 
Seusai lomba, Ustadz Saifur Rijal selaku Koordinator Bidang Keagamaan SMP Islam Al-Madinah menuturkan kepada peserta didik bahwa ekstrakurikuler banjari  melatih untuk kerja keras, saling kerja sama antartim serta membiasakan untuk senantiasa bershalawat. Meskipun musik banjari memiliki pukulan yang berbeda, namun mampu membentuk irama yang harmonis.
 
Ustadz Rijal menambahkan, ada banyak pelajaran dari kesenian banjari. Pertama, kerja keras. 
 
“Dalam memainkan alat musik banjari dibutuhkan berkali-kali latihan. Dalam hal ini perlu menyeimbangkan antara pemukul alat banjari dan vokal,” katanya. Sebagaimana dalam mahfudzat man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil, lanjutnya. 
 
Kedua, kerja sama. Banjari dimainkan oleh beberapa orang, seluruh anggota harus saling kerja sama. Tiap anggota bertanggung jawab atas tugas masing-masing. 
 
“Jika kerja sama terjalin, musik yang terdengar akan tampak harmoni. Kerja sama ibarat bangunan yang kokoh, saling menguatkan satu dengan yang lain. Jika satu bagian patah, bangunan tidak lagi nampak kokoh,” ungkapnya.
 
Ketiga, membiasakan untuk shalawat. 
 
“Lagu yang dibawakan dalam banjari adalah lagu religi seperti shalawat menyanjung Rasulullah,” terangnya. 
 
Dalam shalawat terdapat banyak keutamaan. 
 
“Salah satu keutamaan sebagimana hadits Rasul, barangsiapa yang bershalawat kepadaku sepuluh kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali,” tegasnya. 
 
Ustadz Abdul Mukhid, Kepala SMP Islam Al-Madinah mengungkapkan, turut senang melihat peserta didik percaya diri untuk tampil di depan umum. 

“Harapan untuk kegiatan berikutnya peserta didik dapat terus termotivasi untuk selalu berlatih serta mengembangkan potensi yang mereka miliki,” tandasnya. 
 
 
Kontributor: Suci Aristanti 
Editor: Ibnu Nawawi
 
BNI Mobile