Ibnu Batutah Kontemporer Bisa Lahir dari Buku Diaspora Indonesia

Ibnu Batutah Kontemporer Bisa Lahir dari Buku Diaspora Indonesia
Kapus Litbang Penda Badan Litbang dan Diklat Kemenag, H Amsal Bahtiar (Foto: Badarudin)
Kapus Litbang Penda Badan Litbang dan Diklat Kemenag, H Amsal Bahtiar (Foto: Badarudin)
Batam, NU Online
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Kapus Litbang Penda) Badan Litbang dan Diklat Kemenag, H Amsal Bahtiar kisah para diaspora Indonesia di luar negeri, bisa menjadi semacam Ibnu Batutah kontemporer. Hal itu terjadi ketika kisah dan hasil penelitian tentang para diaspora dituliskan dalam sebuah buku.
 
Pernyataan tersebut disampaikan Amsal, saat penutupan Workshop Penyusunan Buku Diseminasi Hasil-hasil Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan, Kamis (31/10) malam. Salah satu buku yang disiapkan dari hasil penelitian tersebut, memang berkisah tentang para diaspora di lima benua.

"Bayangkan, kira-kira seribu tahun silam, Ibnu Batutah tanpa kendaraan pesawat, hanya dengan onta dan kapal melaukan perjalanan dari Afrika Utara menuju Asia. Kemudian sampai ke Indonesia, memberikan catatan bahwa di Indonesia sudah ada peninggalan seperti kuburan Islam," kata Amsal. 
 
Menurutnya catatan Ibnu Batutah termasuk tentang Indonesia menjadi menarik dan terbukti menjadi pengetahuan bahwa Islam sudah masuk ke Indonesia, juga ke Asia Tenggara sejak lama. Selain itu, Ibnu Batutah mampu datang ke Asia Tenggara, tanpa ada fasilitas kendaraan pesawat terbang, berbeda dengan sekarang.

Para peneliti yang kemudian menuliskan tentang kehidupan keagamaan diaspora di lima benua, menjadi buku yang istimewa di era kontemporer. Pasalnya melalui buku tersebut, tersampaikan tulisan dan pikiran yang berbeda-beda dari semua benua.

Datangnya pengalaman dan pemikiran dari kisah-kisah para diaspora, lanjut Amsal, kemudian menjadi khazanah yang berbeda dan melengkapi dalam perkembangan keilmuan di dalam negeri. Misalnya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pengayaan khazanah pemikiran terjadi dengan banyaknya para mahasiswa asal Indonesia belajar di berbagai universitas di luar negeri, kemudian mengajar di UIN. 

"Sudah kelihatan warnanya di UIN Jakarta terjadi pertukaran pemikiran dari berbagai belahan dunia. Itu merupakan dinamika yang luar biasa," katanya.
 
Karena itu, penulisan buku hasil penelitian terkait diaspora sangat penting dan harus dikerjakan dengan serius. Di sisi lain, penulisan tersebut juga nantinya menjadi warisan yang bisa jadi akan sangat berguna di masa kini dan masa mendatang.
 
Selain tentang kehidupan keagamaan dan pendidikan agama para diaspora Indonesia di luar negeri, secara keseluruhan, workshop juga membahas enam naskah buku. Buku-buku tersebut nantinya akan terbit dalam bentuk bunga rampai.

Workshop dihadiri penulis, peneliti, editor, reviewer buku. Selain itu turut hadir perwakilan Kantor Agama Kota Batam, serta pimpinan sekolah tinggi keagamaan Islam di Kota Batam dan sekitarnya. 

Workshop berlangsung tiga hari sejak Rabu (30/10) di King’s Hotel Kota Batam, Kepulauan Riau.
 
 
Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Abdullah Alawi
 
BNI Mobile