NU Backpacker Jember Gelar ‘Gathering’ Kupas Kiai Mahfudz Shiddiq

NU Backpacker Jember Gelar ‘Gathering’ Kupas Kiai Mahfudz Shiddiq
Suasana ‘gathering’ yang digelar oleh Komunitas NU Backpacker Jember di area pemakaman keluarga Bani Shiddiq di Condro, Kaliwates, Kabupaten Jember. (Foto: NU Online/Fathul)
Suasana ‘gathering’ yang digelar oleh Komunitas NU Backpacker Jember di area pemakaman keluarga Bani Shiddiq di Condro, Kaliwates, Kabupaten Jember. (Foto: NU Online/Fathul)

Jember, NU Online

Komunitas NU Backpacker Jember, Jawa Timur tak mau melewatkan begitu saja momentum peringatan Hari Santri 2019. Kali ini mereka mengadakan gathering di area pemakaman keluarga Bani Shiddiq di Condro, Kaliwates, Kabupaten Jember, Jum’at (1/11). Menurut Koordintor Daerah Komunitas NU Backpacker Jember, Umi Kulsum, gathering yang mengusung tema Refleksi Tokoh Millenial NU Jember di Era tahun 1937 itu memang sengaja ditempatkan di pemakaman tersebut agar sosok Bani Shiddiq lebih mengena dan menjiwai para peserta gathering.

 

Salah satu bani Shiddiq yang diangkat dalam acara tersebut adalah KH Mahfudz Shiddiq. Salah seorang putra KH Muhammad Shiddiq itu terpilih sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar NO ke-12 di Malang (1937).

 

Gus Afton Ilman Huda yang dihadirkan sebagai narasumber dalam acara tersebut mendedah kiprah Kiai Mahfudz dalam lintasan sejarah NU. Menurutnya, kakak dari KH Ahmad Shiddiq (Rois Aam PBNU 1984-1991) itu, merupakan sosok yang selalu berpikir jauh ke depan untuk kemajuan NU. Selaku tokoh NU, Kiai Mahfudz dikenal sebagai kiai yang modern, organisatoris dan ahli manajemen. Penampilannya tidak seperti kiai pada umummya. Pakaian rapi, klimis dan berdasi adalah ciri khas yang melekat pada sosok sang kiai. Hebatnya, ia menguasai 6 bahasa. Yaitu bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, Jepang, Arab, dan Mandarin.

 

“Di luar itu, ia juga sosok yang kontroversial, namun banyak juga tindakan beliau yang disetujui oleh kiai sepuh pada masa itu,” jelas Gus Afton.

 

Gus Afton menambahkan, sosok Kiai Mahfudz yang cerdas membuatnya menjadi idola banyak orang, tak terkecuali Gus Dur (KH Abdurahman Wahid). Dikatakannya, salah satu alasan mengapa Gus Dur mengidolakan Kiia mahfudz adalah karena pemikiran beliau yang sangat maju, terutama terkait dengan kondisi NU dan perkembangannya kedepan, dan kemampuan diplomasinya yang cukup mumpuni.

 

“Jadi belaiu memang sosok yang hebat, dan menjadi andalan NU di masanya,” lanjutnya.

 

Dalam kesempatan itu, Gus Afton juga mengajak peserta gathering untuk meneladani Kiai Mahfudz sebagai fugur yang telah mengabdi dengan jiwa, raga, dan pikirannya untuk membesarkan NU.

 

“Kalian sebagai generasi muda NU, perlu banyak tahu tentang beliau agar bisa mengambil hikmah sekaligus meneladani sepak terjang beliau,” pungkasnya.

 

Pewarta: Aryudi AR

Editor: Ibnu Nawawi

BNI Mobile