Cara Minimalisir Penyebaran Hoaks menurut Gus Nadir

Cara Minimalisir Penyebaran Hoaks menurut Gus Nadir
Gus Nadir menyampaikan materi di Seminar Internasional dan Launching Buku Nasionalisme Santri di Unesa. (Foto: NU Online/Ahmad Hanan)
Gus Nadir menyampaikan materi di Seminar Internasional dan Launching Buku Nasionalisme Santri di Unesa. (Foto: NU Online/Ahmad Hanan)
Surabaya, NU Online
Penyebaran hoaks bisa menimbulkan banyak dampak buruk di tengah kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah perpecahan dan permusuhan di tengah masyarakat, merenggangnya hubungan sesama, dan masih banyak lagi lainnya.
 
Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia New Zealand (ANZ), Nadirsyah Hosen memaparkan tipsnya untuk meminimalisir penyebaran hoaks.
 
Pria yang akrab disapa Gus Nadir ini terlebih dulu mengurai, bahwa penyebar hoaks bisa dibagi menjadi dua macam. Pertama adalah orang yang melakukannya secara tidak sengaja atau ikut-ikutan saja. Kedua yaitu orang yang memang sengaja membuat atau menyebarkan hoaks secara sadar.
 
“Soal hoaks, ada dua hal. Pertama ada yang memang ikut-ikutan. Kecenderungan manusia itu kan mempercayai apa yang dia ingin percaya, jadi kecepatan jempolnya itu luar biasa untuk men-share. Tapi memang ada yang memproduksi berita hoaks,” jelasnya saat ditemui NU Online seusai Seminar Internasional dan Launching Buku Nasionalisme Santri, Kamis (31/10) di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Jawa Timur.
 
Untuk itu, seseorang tidak bisa menganggap sama terhadap pelaku penyebaran hoaks, sebab masih banyak pelaku yang menyebarkan hoaks karena ketidak mengertiannya sehingga hoaks bisa tersebar. Kasus semacam ini, putra KH Ibrahim Hosen ini mengatakan bahwa pelakunya masih memungkinkan untuk diberikan penjelasan.
 
“Orang yang karena ketidak mengertiannya atau miss information kemudian dia menyebarkan berita itu, mereka itu yang tidak bermaksud untuk menyebarkan berita hoaks. Untuk yang semacam ini, kita perlu memberikan penjelasan, bahwa kita harus melakukan verifikasi berita,” tukasnya.
 
Sedangkan untuk pelaku yang memang sengaja menyebarkan dan memproduksi hoaks, ia menekankan untuk melawan perilaku ini.
 
“Untuk yang memproduksi berita hoaks, itu yang harus kita lawan dengan keras. Karena bisa menimbulkan fitnah dan kebingungan di masyarakat,” ucapnya.
 
Termasuk juga kategori penyebaran hoaks adalah men-share informasi yang dianggap baik yang sebenarnya tidak sesuai fakta. Hal ini seringkali dialami seseorang, lantaran terburu-buru menyebarkan informasi tanpa cek dan ricek terlebih dahulu.
 
“Meskipun niatnya baik, tapi jika menimbulkan efek sosial yang buruk itu bisa dikatakan menyebarkan berita hoaks,” bebernya.
 
Selain memberikan pemahaman langsung kepada penyebar hoaks karena ketidak tahuannya, cara lain yang bisa dilakukan untuk meminimalisir penyebaran hoaks adalah dengan sering melakukan silaturrahim dan cara semacam ini dinilai sangat efektif.
 
“Salah satu cara untuk mereduksi adanya berita hoaks adalah dengan melakukan kopi darat atau silaturrahim secara langsung. Karena dengan itu, kita bisa melakukan pembuktian atau tabayyun kepada yang bersangkutan,” kata dosen di Monash University Australia ini.
 
Gus Nadir mengatakan, tentu ada upaya untuk menghentikan penyebaran hoaks. Salah satunya dengan memberikan konten yang bisa mengimbangi penyebaran konten hoaks itu.
 
“Kita tidak bisa mengatakan 'stop menyebarkan berita hoaks', yang bisa dilakukan itu adalah dengan memberikan perimbangan. Kita harus memperbanyak penyebaran konten positif, share tentang keilmuan,” tuturnya.
 
Ia melanjutkan, untuk melakukan penyebaran konten positif pun akan mengalami banyak tantangan, karena konten akan menyesuaikan dengan karakter media yang akan digunakan. Untuk itu, dirinya mengatakan bahwa perlu dibentuk adanya tim kreatif yang bisa merumuskan hal itu.
 
“Untuk menyebarkan konten pun tidak mudah, karena konten di tiap-tiap media itu berbeda-beda jenisnya. Jadi kalau mau serius ya harus membuat tim narasi sehingga berita yang bisa mencerdaskan masyarakat dapat membanjiri dunia maya,” ujarnya.
 
Kontributor: Ahmad Hanan
Editor: Syamsul Arifin 
BNI Mobile