Mengenang KH Mahfudz Shiddiq, Tokoh Muda NU Milenial di Masanya

Mengenang KH Mahfudz Shiddiq, Tokoh Muda NU Milenial di Masanya
Pemuda Nahdlatul Ulama yang tergabung dalam NU Backpaker Jember, Jawa Timur diskusi mengenai salah satu tokoh muda NU, KH Mahfudz Shiddiq. (Foto: NU Online/Ahmad Naufa)
Pemuda Nahdlatul Ulama yang tergabung dalam NU Backpaker Jember, Jawa Timur diskusi mengenai salah satu tokoh muda NU, KH Mahfudz Shiddiq. (Foto: NU Online/Ahmad Naufa)
Jember, NU Online
Jangan sekali-kali menghilangkan sejarah (jas merah). Pidato Presiden Pertama RI, H Soekarno tersebut telah menggambarkan bahwa sebagai generasi penerus jangan sampai menghilangkan jasa dari orang-orang terdahulu.
 
Hal inilah yang menjadi wasilah para pemuda Nahdlatul Ulama yang tergabung dalam NU Backpaker Jember, Jawa Timur untuk mengadakan gathering dan diskusi mengenai salah satu tokoh muda NU, KH Mahfudz Shiddiq. Ia pernah menjadi ketua Tanfidziyah HBNO (sekarang PBNU) pada 1937-1942 M di usia 30 tahun.
 
Acara yang diadakan Kamis (31/10) ini bertempat di area pemakaman Bani Shiddiq, Condro, Kaliwates, Jember, dan diikuti oleh kalangan muda-mudi Nahdhatul Ulama setempat.
 
Gus Afton Ilman Huda sebagai pemantik diskusi ini mengungkapkan, bahwa sosok KH Mahfudz Shiddiq merupakan kiai muda yang sangat milenial ketika menjadi Ketua Umum. Beliau tidak pernah sama sekali memakai kopiah seperti para kiai pada umumnya. Padahal KH Muh Shiddiq, ayahanda beliau merupakan tokoh ulama yang sangat alim, dan dalam segi berpakaian juga sangat menjaga. Ayahanda Gus Pud, panggilan akrab KH Mahfudz Shiddiq terkenal sebagai sosok kiai yang disiplin dan tegas.
 
Sosok Gus Pud adalah salah satu orang yang sangat dikagumi oleh KH Abdurrahman Wachid (Gus Dur) dan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) karena kegeniusanannya dalam memimpin Nahdhatul Ulama. Gus Pud adalah Ketua PBNU yang sangat dikagumi oleh Gus Dur, hingga Gus Dur pernah menyampaikan, 'tidak ada tokoh yang saya kagumi selain KH Mahfudz Shiddiq'.
 
Pada zamannya, Gus Pud terkenal sebagai pemuda cerdas yang memiliki kemampuan diplomasi yang sangat bagus serta menguasai berbagai bahasa selain bahasa Indonesia, di antaranya bahasa Arab, Inggris, Belanda, Jepang dan Mandarin.
 
Salah satu contoh kemampuan diplomasi Gus Pud yang diungkapkan oleh Gus Afton adalah beliau mampu memfanatikkan Kiai Kholil Kasingan (Kakek Gus Mus) yang dulunya sempat men-syubhat-kan NU. 
 
Pendapat Kiai Kholil tersebut mempersulit kiai-kiai NU di daerah Rembang dan sekitarnya untuk berdakwah. Namun semua berubah sejak Gus Pud muda bertamu di kediaman Kiai Kholil. Terjadi perbincangan serius di antara Gus Pud dan Kiai Kholil, entah apa yang mereka perbincangkan kala itu, yang jelas setelah pertemuan tersebut Kiai Kholil menjadi sangat fanatik pada NU dan mengidolakan sosok Gus Pud. Kiai Kholil juga dawuh pada para santrinya 'kalau ada pengajian Gus Pud di sekitar Rembang kasih tahu saya, saya juga akan ikut pengajiannya'. 
 
KH Mahfudz Shiddiq meninggal dunia dalam usia 38 tahun, tepatnya pada 05 Muharram 1363 H/1 Januari 1944 M.
 
"Tentu tokoh seperti beliaulah yang harus banyak diangkat untuk diperkenalkan di media terutama media di Jember, karena sebenarnya di Jember terdapat tokoh muda PBNU yang memiliki kiprah sangat besar untuk Indonesia," imbuh Gus Afton.
 
Gus Afton juga berpesan kepada para kader muda-mudi NU untuk setidaknya bisa mengikuti jejak perjuangan dari KH Mahfudz Shiddiq yang banyak dikagumi oleh para ulama NU.
 
Kontributor: Ahmad Naufa
Editor: Syamsul Arifin 
BNI Mobile