IMG-LOGO
Daerah

Banyak Awam di Jakarta Diulamakan, Habib Hamid Al-Qadri Ceritakan Imam Abu Hanifah


Selasa 5 November 2019 08:15 WIB
Bagikan:
Banyak Awam di Jakarta Diulamakan, Habib Hamid Al-Qadri Ceritakan Imam Abu Hanifah
Ilustrasi (NU Online)
Jakarta, NU Online
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor DKI Jakarta Habib Abdul Hamid Al-Qadri mengajak kader Ansor di Jakarta untuk menguatkan diri dengan zikir dan mengaji sebagai aspek batin di samping pelatihan kepemimpinan dan diklat sebagai aspek lahir. Menurutnya, hal ini menjadi penting sebagai bekal kader Ansor di tengah keberagamaan di Jakarta yang khas.
 
"Kader Ansor mesti optimis dan percaya diri. Kalau bisa mengaji, jangan minder untuk memimpin masyarakat. Sebab, banyak juga orang-orang awam yang diulamakan di Jakarta ini," kata Habib Hamid di hadapan peserta PKL Angkatan IV PW GP Ansor DKI Jakarta di Rumah Perjuangan Gus Dur, Jalan Kalibata, Jakarta Selatan, Ahad (3/11) dini hari.
 
Habib Hamid mengisahkan apa yang pernah terjadi pada Imam Abu Hanifah. Imam Abu Hanifah mendengar ada seorang ulama besar akan menghadiri majelisnya. Suatu hari, orang itu datang dengan berpakaian ulama. Sepanjang pengajian, orang yang berpakaian ulama itu diam dan memperhatikan penyampaian ilmu oleh Imam Abu Hanifah. Imam Hanafi sempat grogi dan tidak percaya diri.
 
"Setelah mempersilakan jamaah bertanya, orang alim tanpa diduga mengajukan pertanyaan yang sangat ringan dan dasar yang menunjukkan rendahnya kapasitas keilmuan orang tersebut. Dari situ jamaah dan Imam Abu Hanifah mengerti bahwa kapasitas keilmuan orang itu tidak berkaitan dengan pakaian keulamaan yang dikenakannya," kata Habib Hamid.
 
Sebelumnya Ketua PW GP Ansor DKI Jakarta H Abdul Aziz menyatakan bahwa kondisi keberagamaan di Jakarta berbeda dari daerah lain. Menurutnya, situasi di Jakarta berbeda dari situasi keberagamaan di Jawa Barat, Jateng, dan Jatim.
 
"Di sini (Jakarta) butuh pendekatan khusus. Bayangkan saja, di sini orang pake sorban panjang dan jubah sudah dinilai sebagai ulama atau mengulamakan diri," kata H Aziz.
 
Sementara Bendahara PW GP Ansor DKI Jakarta H Ainul Yakin Simatupang mengatakan bahwa pakaian atau penampilan dapat mengecoh pandangan pihak lain kepada seseorang. Oleh karena itu, ia menyarankan kader Ansor untuk tampil rapi sesuai etika sosial. Tetapi, kader Ansor juga harus memiliki ilmu dan kapasitas intelektual yang cukup.
 
"Pakaian menghiasimu sebelum duduk, tetapi ilmu menghiasimu setelah duduk. Kalau belum bicara, orang memandang kita dari pakaian yang kita kenakan. Jangan sampai, anak Ansor pakai sandal jepit untuk bertemu dengan walikota dan gubernur. Tetapi setelah kita berbicara, orang akan tahu kapasitas keilmuan kita. Keduanya penting, kerapian pada penampilan dan keilmuan," kata Ainul Yakin mengutip sebuah pepatah Arab.
 
Tampak hadir pada PKL Angkatan IV PW GP Ansor DKI Jakarta Ketua PW GP Ansor DKI Jakarta H Abdul Aziz, Wakil Ketua GP Ansor DKI Jakarta Habib Abdul Hamid Al-Qadri, Sekretaris PW GP Ansor DKI Jakarta H Dendi Zuhairil Finsa, Bendahara PW GP Ansor DKI Jakarta Ainul Yakin Simatupang, Kasatkorwil Banser DKI Jakarta Abdul Mufid, Ketua Panitia PKL Angkatan IV PW GP Ansor DKI Jakarta Abdul Majid, Sekretaris PKL Angkatan IV GP Ansor DKI Jakarta, serta panitia dan pengurus harian PW GP Ansor DKI Jakarta.
 
 
Pewarta: Alhafiz Kurniawan
Editor: Kendi Setiawan
Bagikan:

Baca Juga

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG