Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download
RISET DIKTIS

Ajaran Akhlak dan Karakter Pencegah Kawin Lari di Bima

Ajaran Akhlak dan Karakter  Pencegah Kawin Lari di Bima
Para siswa di Bima NTB (Foto: ntb.kemenag.go.id)
Para siswa di Bima NTB (Foto: ntb.kemenag.go.id)
Anak-anak di Kota Bima, Nusa Tenggara Barat telah dibekali dengan berbagai ajaran akhlak dan karakter pendidikan Islam yang kuat. Ajaran-ajaran tersebut seperti dalam istilah atau kosakata setempat, di antaranya ngaji aka guru ngajinya atau belajar mengaji kepada ustadznya.
 
Ajaran lainnya yakni tentang sopan santun dari kecil seperti santabe atau permisi jika lewat di depan orang; pengenalan ntau dou dan ntau ndai atau milik sendiri dan orang lain sehingga tahu mana yang halal dan mana yang haram. Kemudian, hidup mori sama di kampora mporo, yaitu hidup bersama di tengah masyarakat.
 
Ajaran-ajaran tersebut seperti diungkapkan dalam hasil penelitian berjudul Londo Iha (Kawin Lari) dalam Pernikahan Adat Suku Mbojo-Bima; Menelusuri Konsep Londo Iha (Kawin Lari) dalam Perspektif Masyarakat Nitu Kota Bima Nusa Tenggara Barat oleh Masita, mahasiswa Institut Agama Islam Muhammadiyah Bima, NTB. Penelitian sendiri menggunakan bantuan dari ​​​​​​Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI tahun anggaran 2018.
 
Ajaran-ajaran itu untuk menggambarkan bahwa agama Islam dan adat wejangan lokal di Bima sesungguhnya melarag keras adanya londo iha (kawin lari). Londo iha atau kawin lari adalah perbuatan yang buruk. Peneliti yang mengungkapkan hasil wawancara dengan salah satu responden penelitian, bahwa anak-anak Bima telah diajarkan menghindari perbuatan aina nae loko ulu atau perbuatan zina.
 
Ajaran lainnya adalah tanaoku tupa, atau belajar disiplin dan bertanggungjawab; tanaoku caha atau belajar yang rajin; aina mpa’a karinggu dou atau jangan suka menipu orang lain, sehingga anak-anak sedini mungkin sudah dibekali dengan nggahi ra ruku ra rahi ma taho atau tingkah laku dan perbuatan yang baik, agar ada rasa maja labo dahu (takut dan malu) dan akhirnya mengurangi  salah satu perbuatan tidak baik yakni londo iha (kawin lari) tersebut. 
 
Penelitian menyebutkan bahwa Suku Bima atau Suku Mbojo kental dengan budaya dan tradisi yang sangat beragam, salah satunya adalah  kawin lari yang disebut londo iha. Londo Iha (kawin lari) dianggap merendahkan dan harkat dan martabat keluarga di mata masyarakat.
 
Secara umum londo iha (kawin lari) berarti turun rusak, melakukan selarian, membawa lari anak perempuan orang untuk dijadikan istri dalam rumah tangga. Biasanya hal itu terjadi karena tidak disetujui oleh kedua orang tua dari pihak perempuan. Sehingga, dengan londo iha (kawin lari) tersebut menjadikan kedua orang tua wanita atau perempuan menjadi setuju terhadap pernikahan kedua belah pihak.
 
Lokasi penelitian yakni Kelurahan Nitu, yang sangat berbeda dari masyarakat Bima umumnya, memandang bahwa londo iha (kawin lari) merupakan budaya dan tradisi yang sangat jelek, rusak, hina, merendahkan harkat dan martabat keluarga, status sosial dimata masyarakat menjadi turun atau rendah.

Londo iha (kawin lari) bisa juga berarti penculikan terhadap gadis di bawah umur atas persetujuannya, namun tidak disukai oleh orang tuanya. Ini juga bisa diartikan dengan menculik  atau mencuri pengantin wanita, baik dengan taktik, paksaan, maupun ancaman.
 
Di Indonesia kebiasaan ini masih ada di beberapa tempat, seperti di Lampung, Bali, Sumatera Utara, Aceh, dan lain sebagainya. Londo iha (kawin lari)  juga penculikan terhadap gadis atas keinginaannya sendiri bukan hanya gadis di bawah umur tetapi siapa pun masyarakat Bima-Mbojo yang merasa gadis tetapi melakukan londo iha (kawin lari), karena kedua orang tuanya tidak menyetujui calon suami pilihannya, sehingga melakukan londo iha (kawin lari) agar disetujui oleh kedua orang tua dan diterima oleh semua keluarga.
 
Londo iha (kawin lari) dilakukan oleh wanita atau perempuan karena merasa dalam pandangan orang tuanya bahwa si calon laki-laki tidak sesuai dengan derajat, harkat dan martabat keluarga mereka sehingga ditolak, tetapi oleh si anak wanita atau perempuan merasa bahwa si laki-laki ini cocok dan layak untuk dijadikan suami dalam keluarga, walaupun si laki-laki ini berasal dari keluarga yang miskin atau tidak berharta.

Londo Iha (kawin lari), bisa juga karena si perempuan dilirik serta disukai oleh si laki-laki walaupun perempuan tersebut tidak mengenalnya, sehinga laki-laki akan berkata kepada teman, saudara, handai tolan dengan kata-kata seperti ini taho ndi ndei pala sia re artinya perempuan ini cocok dan layak untuk dijadikan istri, maka dicarikan strategi dan cara supaya si perempuan yang disukai ini dibawa londo iha (kawin lari) tanpa diketahui oleh si perempuan yang bersangkutan.
 
 
Penulis: Kendi Setiawan
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile