Kiai Said Kembali Jelaskan Tugas Umat Beragama Membangun Harmoni dan Keseimbangan

Kiai Said Kembali Jelaskan Tugas Umat Beragama Membangun Harmoni dan Keseimbangan
Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj menghadiri Konferensi Internasional Islam dan Kebebasan Beragama ke-7, Senin (11/11) di Jakarta (Foto: Firoh)
Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj menghadiri Konferensi Internasional Islam dan Kebebasan Beragama ke-7, Senin (11/11) di Jakarta (Foto: Firoh)
Jakarta, NU Online
Pimpinan Pusat Fatayat NU menggelar Konferensi Internasional Islam dan Kebebasan Beragama ke-7, Senin-Selasa (11-12/11) di  di Hotel Double Tree, Cikini, Jakarta Pusat.

Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj menegaskan, dalam Al-Qur'an disebutkan ummatan wasathon, sebagai perintah Allah agar umat manusia membangun harmoni dan keseimbangan.
 
"Nabi Muhammad Saw membangun Madinah juga bukan atas dasar agama maupun etnis. Karena itu, sangat berbahaya orang yang membela Islam dengan cara yang salah. Bahkan lebih berbahaya daripada orang yang memusuhi Islam," ujar Kiai Said.
 
Karena itu, ia menganjurkan agar semua umat beragama saling membangun keterbukaan agar dapat terjalin komunikasi dan kerja sama. "Saya tidak membahas teologi, tapi mari saling mu'asyaroh bil ma'ruf," kata Kiai Said.
 
Merespons isu pemurtadan, pimpinan puncak ormas terbesar dunia ini mengatakan jika orang pindah agama secara individual tidaklah menjadi soal. "Yang bermasalah itu kalau sudah menjadi gerakan, seperti yang pernah terjadi di era Abu Bakar As-Shiddiq," lanjutnya.
 
Sementara itu, Ketua PP Fatayat NU, Anggia Ermarini menegaskan kebebasan beragama sudah berlangsung lama di Indonesia, dan diperkuat ketika Pancasila menjadi kesepakatan bersama dalam berbangsa.
 
"Nilai-nilai Pancasila dan moderasi Islam yang mengakomodir budaya, menjadi bukti bahwa bangsa kita tidak alergi dengan kebebasan beragama," ujar Anggia Ermarini.
 
Anggia menyebutkan Fatayat NU dalam usianya hampir 70 tahun, telah mendorong kebebasan beragama melalui isu-isu perempuan. "Kami bekerjasama sangat erat dengan perempuan lintas agama, dan juga dengan minoritas dalam isu kesehatan, keadilan gender, dan isu sosial lainnya," kata Anggia.
 
Kebebasan beragama, kata Anggia, sudah diatur dalam UUD 1945, juga dalam Al-Quran. Sementara dalam nilai-nilai NU juga ditekankan tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), ta’adul (berkeadilan).
 
Konferensi menghadirkan para pembicara dari berbagai negara. Di antaranya Mohamed Azam Mohamed Adil (Malaysia), Ali Hassannia (Iran), Fida Ur Rahman dan Sumaira Batool (Pakistan), Amel Azzouz (Tunisia), Azeemah Saleem (India), AKM Iftekharul Islam (Bangladesh), dan masih banyak lagi.
 
Konferensi mengusung tema The Islamic Case for Religious Freedom terselenggara atas kerja sama dengan The International Institute of Advanced Islamic Studies (IAIS) Malaysia dan The Religious Freedom Institute (RFI) Amerika Serikat. 
 
"Kami berharap kita bisa maksimal berdiskusi, belajar dari pengalaman para pakar dan praktisi dari seluruh penjuru dunia terkait praktik kebebasan beragam," kata Anggia. 
 
 
Editor: Kendi Setiawan
 
BNI Mobile