ISNU dan Ma’arif NU di Sidoarjo Gelar Pelatihan Penyusunan Soal

ISNU dan Ma’arif NU di Sidoarjo Gelar Pelatihan Penyusunan Soal
Sholehuddin menjelaskan cara menyusun soal berbasis HOTS. (Foto: NU Online/Yuli R)
Sholehuddin menjelaskan cara menyusun soal berbasis HOTS. (Foto: NU Online/Yuli R)
Sidoarjo, NU Online
Higher Order Thinking Skills atau HOTS bisa bermakna kemampuan atau keterampilan berpikir tingkat tinggi. Dalam artian, pembelajaran atau kurikulum yang diberikan kepada siswa sebaiknya dapat memotivasi untuk berpikir kritis, logis dan sistematis, serta memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi. 
 
“HOTS termasuk menunjukkan pemahaman akan informasi dan bernalar, bukan sekadar mengingat kembali atau recall informasi. HOTS bukan berarti soal yang lebih sulit daripada soal recall,” kata Sholehuddin, Senin (11/11). 
 
Ada beberapa cara yang bisa dijadikan pedoman oleh penulis soal untuk menulis butir soal yang menuntut berpikir tingkat tinggi. 
 
“Yaitu materi yang akan ditanyakan diukur dengan perilaku sesuai ranah kognitif bloom pada level analisis, evaluasi dan mengkreasi, setiap pertanyaan diberikan dasar pertanyaan atau stimulus dan soal untuk mengukur kemampuan berpikir kritis,” ungkap
Ketua Pengurus Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Sidoarjo ini.
 
Penjelasan tersebut disampaikannya pada pelatihan teknik penyusunan soal berbasis HOTS. Kegiatan diselenggarakan Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Sukodono bekerja sama dengan Pengurus Wakil Cabang (PWC) ISNU Sukodono.
 
Pelatihan diikuti kepala sekolah dan para guru utusan dari 16 madarasah ibtidaiyah di bawah naungan LP Ma’arif NU setempat. Lokasi kegiatan di kantor MWCNU Sukodono Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur. 
 
Menurut Sholehuddin, kompetensi yang diharapkan dalam pembutan soal yaitu meningkatnya pemahaman guru madrasah tentang konsep penyusunan soal dan meningkatnya keterampilan menyusun butir soal HOTS. 
 
“Peserta juga diberikan penjelasan mengapa model asesmen di Indonesia diarahkan ke model asesmen HOTS,” terang Widyaiswara Madya Balai Diklat Keagamaan Surabaya tersebut. 
 
Selain itu peserta workshop juga diajak praktik langsung dengan satu paket lembar kerja serta membuat soal. 
 
“Sehingga diharapkan peserta yang telah mengikuti pelatihan ini, akan menularkan ilmu yang diperoleh ke lembaganya masing-masing,” harap Pengurus Wilayah LP Ma’arif NU Jawa Timur ini. 
 
Workshop dibuka dengan sambutan Suharsono selaku Kketua LP Ma’arif NU Sukodono. 
 
“Kami ingin membuat lembaga semakin berkualitas dengan melakukan pelatihan penyusunan soal HOTS,” katanya. Harapannya soal-soal yang diterbitkan oleh guru-guru madrasah di Sukodono lebih berbobot dan berkualitas, lanjutnya.
 
Ely Mufidah, panitia pelaksana yang juga Sekretaris PWC ISNU Sukodono saat dikonfirmasi NU Online mengemukakan bahwa  untuk kepanitiaan workshop kali ini adalah sinergi antara LP Ma’arif NU dan ISNU Sukodono. 
 
Tujuan diadakannya pelatihan ini untuk meningkatkan kemampuan guru yang ada di madrasah khususnya MI yang ada di Sukodono. 
 
“Setelah workshop ini dilakukan tindak lanjut dengan dibentuknya tim sendiri yang melakukan pendampingan pembuatan soal setiap mata pelajaran,” tandasnya.

Kontributor: Yuli Riyanto
Editor: Ibnu Nawawi
 
BNI Mobile