Komitmen Mahasiswa Tarekat NU di UNJ Perkuat Aswaja Mahasiswa

Komitmen Mahasiswa Tarekat NU di UNJ Perkuat Aswaja Mahasiswa
Mahasiswa Ahli Thariqoh Al-Mu'tabara An-Nahdliyah (MATAN) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) (Foto: NU Online/MATAN UNJ)
Mahasiswa Ahli Thariqoh Al-Mu'tabara An-Nahdliyah (MATAN) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) (Foto: NU Online/MATAN UNJ)
Jakarta, NU Online
Mahasiswa Ahli Thariqoh Al-Mu'tabara An-Nahdliyah (MATAN) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) berkomitmen tinggi memperkuat ajaran Islam Ahlusunah wal Jamaah di lingkungan Kampus. Upaya itu dilakukan dengan menggelar berbagai kegiatan berbasis tradisi keagamaan.

Salah satu tradisi tersebut misalnya dilakukan dengan menggelar kegiatan 'kirab' yang dihadiri puluhan anggota MATAN UNJ. Kirab yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Santri dan Hari Pahlawan 22 Oktober 2019 dan 10 November 2019 tersebut diisi dengan doa bersama, istigotsah dan pendalaman ideologi Aswaja melalui diskusi dua arah antara pemateri dan peserta.

Pembina MATAN UNJ Andy mengatakan, sudah selayaknya mahasiswa MATAN melestarikan berbagai kegiatan yang mengarah pada penguatan Islam rahmatan lil alamin. Menurutnya, Islam yang dipahami Ahli Thariqoh Al-Mu'tabarah adalah Islam yang menguatkan kasih sayang dan tanpa memunculkan kekerasan di dalamnya.

Andy menilai, mahasiswa sebagai agent of change memiliki peran yang kuat di masyarakat. Apalagi kaitannya dengan merubah pola pikir dan ideologi anak-anak bangsa Indonesia.

"Kita harus bisa melestarikan kegiatan semacam ini untuk menyebarkan Islam Rahmatan Lil'alamin serta semangat para santri di ranah Mahasiswa" ujar Andy saat membuka kegiatan Kirah MATAN UNJ di Kampus UNJ, Jakarta Timur, Senin (11/11) malam.

Sementara itu, Ketua Matan UNJ Arif Suprasetio mengungkapkan Kirab Hari Santri dan Hari Pahlawan oleh MATAN UNJ sengaja dipadukan sebagai momentum mengingat kembali sejarah perjalanan santri dan rakyat Indonesia mengusir penjajah tahun 1945. Ia menegaskan peristiwa 10 November 1945 tidak dapat dilepaskan dari peran santri.

"Hari pahlawan tidak akan pernah terjadi jika tidak terjadi resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945," katanya.

Untuk itu sudah selayaknya mahasiswa Indonesia mengisi kemerdekaan ini dengan penuh tanggung jawab misalnya mahasiswa mengutamakan arus perdamaian dibandingkan permusuhan. Ia optimis, Indonesia semakin kuat jika mahasiswa meneladani para pahlawan yang berjuang 22 Oktober dan 10 November.

Kontributor: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Abdullah Alawi
 
BNI Mobile