Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Gus Miftah: FPI bukan Musuh Banser

Gus Miftah: FPI bukan Musuh Banser
Gus Miftah di Bekasi (Foto: NU Online/Aru Elgete)
Gus Miftah di Bekasi (Foto: NU Online/Aru Elgete)
Bekasi, NU Online
Pengasuh Pesantren Ora Aji Yogyakarta, KH Miftah Maulana Habiburrahman pernah ditanya soal baik dan tidaknya seorang ustadz atau habaib yang kerap menuai kontroversi dalam ceramah-ceramahnya. 
 
"Semuanya baik, yang jelek siapa? Saya. Karena saya jelek, saya masih bergaul dengan anak-anak dunia malam, mengaji di cafe, di kelab malam, bahkan di lokalisasi," kata Gus Miftah, sapaan akrabnya, di Masjid Adz-Dzikra, Perumahan Galaxy, Bekasi Selatan, pada Jumat (22/11) malam.
 
Ia berpesan kepada Ansor dan Banser agar tidak perlu membeda-bedakan orang, termasuk kepada Front Pembela Islam (FPI). Semua harus dihormati, sekalipun tidak wajib ditaati. "Jangan sampai ada yang mengatakan, 'Saya suka habib ini, saya nggak suka habib itu'. Jangan begitu, dihormati saja," jelas Gus Miftah.
 
Kiai nyentrik berambut gondrong ini mengimbau agar jangan pernah menganggap musuh kepada orang yang berbeda pengajian. Dalam sebuah hadits dikatakan, "Kamu tidak akan masuk surga sehingga kamu beriman dan kamu belum mempunyai rasa iman ketika kamu belum memiliki rasa cinta dan kasih sayang".
 
Kemudian, Gus Miftah menuturkan bahwa beberapa waktu lalu ada berita yang muncul di Instagram bahwa dirinya membenci Reuni 212 di Monas. 
 
"Kapasitas saya membenci apa? Mereka mau kumpul di Monas maulid nabi, silakan. Bagaimana komentar Gus Miftah? Saya nggak akan komentar, karena saya bukan panitia. Anda datang itu hakmu, nggak datang juga hakmu," jelas Gus Miftah.
 
Sebab baginya, persatuan dan kerukunan jauh lebih penting daripada bendera apa pun. Berbeda agama atau organisasi keagamaan, harus tetap santai. Sebagai contoh, Kanjeng Nabi semasa hidupnya dimusuhi oleh Abdullah bin Ubay, tapi tetap santai dan tidak marah.
 
Saat Abdullah bin Ubay wafat, Nabi melayat. Setibanya di lokasi, anak Abdullah bin Ubay meminta Kanjeng Nabi agar memberikan syafaat kepada ayahnya.
 
"Lalu Kanjeng nabi meludahi jenazahnya Abdullah bin Ubay. Padahal itu musuhnya. Bukan ludah benci, tapi memberikan pertolongan kepada Abdullah bin Ubay. Maka itulah alasan kalau ketemu kiai, kita meminta tolong agar mau mendoakan air putih. Itu ada sejarahnya. Bahkan Rasulullah meludahi air yang diminum orang lain," jelas Gus Miftah.
 
Tak hanya itu, jubah Nabi pun diminta untuk dijadikan kain kafan bagi Abdullah bin Ubay. Kalau kafannya adalah jubah Nabi, maka akan terbebas dari pertanyaan-pertanyaan Munkar-Nakir di alam kubur.
 
"Anaknya minta lagi. Kanjeng Nabi diminta untuk menshalati jenazah Abdullah bin Ubay. Waktu itu belum ada larangan menshalatkan jenazah orang non-Islam. Hampir saja kanjeng nabi menshalatkan," kata sahabat Deddy Cobuzier ini.
 
Saat Nabi mau salat, turunlah satu ayat dalam surat At-Taubah ayat 84. Artinya, "Janganlah sekali-kali kamu Muhammad menshalatkan, mendoakan, orang yang mati salah satu di antara mereka. Dan janganlah kamu, berdiri di atas makamnya. Maka kanjeng nabi tidak jadi mensholatkan jenazah orang non-Islam".
 
Dijelaskan Gus Miftah, ayat tersebut adalah larangan untuk mendoakan dan menshalatkan jenazah orang non-Islam. Namun, banyak disalahartikan sehingga ayat itu dijadikan dalil untuk menolak tahlilan atau mendoakan orang yang sudah meninggal.
"Maka kalau di Bekasi, anda suka tahlilan silakan, nggak suka ya sudah biasa-biasa saja. Jangan ribut hanya gara-gara tahlilan," kata Gus Miftah.
 
Ia berpesan agar di Bekasi, terutama di Masjid Adz-Dzikra Perumahan Galaxy itu tidak ribut hanya karena persoalan qunut. Bagi Gus Miftah, qunut boleh tapi tidak qunut juga nggak apa-apa. 
 
"Tapi saya yakin di Bekasi atas kepemimpinan Pak Rahmat Effendi, sudah tidak ada yang ribut gara-gara qunut. Kenapa? Karena baik orang Muhammadiyah maupun orang NU di Bekasi sudah jarang yang shalat subuh," kata Gus Miftah, disambut tawa gemuruh hadirin.
 
Ia mengajak untuk meneladani akhlak Rasulullah, yang membangun peradaban penuh rasa cinta. Maka, rasa cinta ini sekarang di Indonesia, terasa sangat mahal. Semua orang dimusuhi, semua orang dianggap sesat, semua orang dikafirkan, bahkan banyak orang yang sudah tidak cinta dengan Indonesia.
 
"Plis deh. Kamu sudah nggak ikut berjuang, nggak ikut perang, makan dari Indonesia, hidup di Indonesia kok mengatakan Pancasila tidak cocok dengan Indonesia. Orang-orang yang seperti ini saya katakan, silakan minggat dari Indonesia," tegas Gus Miftah.
 
Kontributor: Aru Elgete
Editor: Abdul Muiz
BNI Mobile